Organ Ekstra yang Senang Bertengkar

Ilustrasi: merdeka.com

Oleh: Abdul Majid Zaelan*

Mendengar kata mahasiswa, yang terpikir dalam benak kita mungkin sesosok idealis dan heroik. Mungkin padanan itu tepat-tepat saja kalau kita membaca mahasiswa semacam Sukarno atau Hatta, yang di masa penjajahan dahulu sudah banyak berjuang. Tapi, bagaimanakah padanan tersebut dapat dikatakan tepat saat kita padankan terhadap “pemuda terdidik” itu hari ini? Seperti yang dikatakan Tan Malaka, kemewahan terakhir seorang pemuda adalah idealisme. Masihkah kemurnian idealisme tersebut melekat dalam kedirian setiap mahasiswa?

Tahun ajaran baru telah tiba. Mungkin bagi sebagian mahasiswa, tahun ajaran baru adalah sebuah awal untuk membuka lembaran akademik baru, semangat baru, dan pengetahuan baru. Atau bagi sebagian lain, tahun ajaran baru adalah sebuah wahana untuk mereka mengenang masa lalu (baca: mengulang mata kuliah yang telah lalu). Secara telanjang, semua memang selalu terlihat normal.

Dalam sudut pandang mainstream, tahun ajaran baru mungkin akan terlihat demikian. Namun, tahukah kita, bahwa selama ini tahun ajaran baru menjadi sebuah arena pertarungan sengit antara mereka yang berbalut bendera organisasi untuk menjaring adik-adik baru agar masuk ke dalam organisasi mereka.

Guna penjaringan tersebut berjalan efektif, maka berbagai strategi pun dilancarkan. Mulai dari membuka stand pendaftaran hingga membranding organisasi melalui pamflet atau sejenisnya.

Atmosfir persaingan ketat perekrutan anggota baru lebih terasa bagi organisasi ekstra seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Entah sebab apa dan sejak kapan perang dingin persaingan itu berlangsung. Padahal, jika ditilik lebih dalam, organisasi ekstra kampus memiliki banyak kesamaan, misalnya, sama-sama memiliki ruang gerak yang tidak terbatas, sama-sama membaca persoalan sosial, sama-sama mengkaji wacana-wacana kritis, dan sama-sama sepakat untuk menjadi antitesa birokrasi. Lalu apa yang dipertarungkan?

Ketika masa perekrutan anggota baru setiap organisasi ekstra tiba, maka sinisme antar organisasi mudah sekali muncul. Berbagai macam bombardir propaganda dilancarkan, mulai dari isu penyalahgunaan wewenang, isu liberalitas agama, hingga isu kesesatan moral. Dari yang bersifat dialogis, hingga yang konfrontatif, semua dilakukan.

Memang tak bisa dipungkiri, bahwa setiap organisasi memiliki kebutuhan terhadap regenerasi kader. Hal itu memang harus dilakukan sebagai salah satu upaya mempertahankan keberlangsungan hidup organisasi. Sama seperti hewan, melakukan reproduksi guna mempertahankan keberlangsungan hidup spesiesnya agar tidak punah.

Selain agenda penjaringan anggota baru, organisasi ekstra masih harus saling bergaduh lagi dalam agenda pemilwa, yang jelas-jelas produkan orde baru. Kemenangan dalam pemilwa betul-betul diidam-idamkan. Karena bukan rahasia umum lagi, siapa pemenang pemilwa, mereka digdaya. Obsesi terhadap kedigdayaan itu menjadi penyebab utama pertarungan antar-organ ekstra terjadi. Semuanya dibutakan, semua tidak sadar bahwa pola konflik seperti itu telah direkayasa puluhan tahun lalu. Melalui NKK/BKK, mahasiswa dibuat berputar-putar di dalam kampus oleh orde baru. Fenomena konflik antar-mahasiswa seperti saling bertarung, saling mem-fitnah, dan saling menjatuhkan, bukan semata-mata disebabkan oleh pertarungan ideologi.

Pasca keruntuhan orde baru, organisasi mahasiswa seperti dibuat impoten, terninabobokan dengan ilusi penguasaan kampus. Kontestasi pemilu kampus membuat mahasiswa terjebak dalam zona peperangan yang tidak seharusnya terjadi. Persaingan yang sudah tidak sehat itu hanya melahirkan konflik horizontal antar mahasiswa ber-organ.

Sejarah hanyalah tinggal sejarah. Heroisme mahasiswa sebagai agent of change dan agent of social control tidak menutup kemungkinan hanya akan menjadi fosil belaka. Semangat perjuangan yang diestafetkan oleh para mahasiswa pendahulu hanya akan menjadi bahasan warung kopi belaka.

Dari sini, dirasa perlu adanya pembaharuan reformulasi gerakan bagi setiap mahasiswa (tanpa embel-embel organisasi) untuk merumuskan kembali kemana lajunya arah gerak perjuangan. Namun, sebelum jauh kesana, harus terlebih dahulu muncul kesadaran kolektif setiap oganisasi untuk mengesampingkan kepentingan kelompoknya masing-masing dan mengedepankan persatuan.

 

*Mahasiswa PMI yang malah ikut nimbrung dalam pertarungan di atas.