Molotov di Tepi Serayu

Ilustrasi: Dok. Pribadi

“Le, ngapain kau pulang?” laki-laki itu bertanya dengan nada sarkatis sambil mengambil sebatang rokok dari kotaknya. Jarinya mengapit batangan putih yang sarat tembakau itu dengan lihai, mengetuk-ngetuk ujungnya lalu menyulut api dari pemantik logam antiknya. Dengan seksama dan raut menikmati, seolah-olah asap dari dalam mulutnya itu hal terakhir yang bisa dia nikmati sebelum mati, lelaki itu mengintipku dari sipitan matanya.

“Hentikan itu, bajingan,” kibasku pada asap-asap yang sengaja dia hembuskan ke kepalaku, sebagian pasti meresap ke rambut dan lainnya mengalir lewat udara ke telinga hingga hidungku. Lelaki itu itu terkekeh lalu menarik kepalaku untuk dia bawa ke bawah ketiaknya.

“Kau ini,” katanya mengusak rambutku acak. Tanganku yang tidak terapit tulang rusuknya mencoba mengggapai tangannya, tapi gagal. Dia keburu melepaskan pitingannya yang main-main. “Apa di kota tidak ada orang merokok, eh?”

“Tentu saja ada, bodoh! Banyak, terlalu banyak malahan,” ucapku lirih di akhir kalimat. Kami diam selama beberapa saat, Wan sibuk dengan rokoknya, dan kakiku berayun-ayun menikmati angin kering yang mengalir di sela besi dan beton jembatan. Sesekali melempar kerikil kecil, yang kebetulan ada di dudukan besi tempat kami melihat asap-asap sisa ledakan molotov di lapangan tembak, ke sungai di bawah kami.

Tanpa sadar, pikiranku mulai mengawang-awang. Jika ini adalah tujuh atau sepuluh tahun lalu, maka tempat aku duduk sekarang berada di atas pelataran sungai Serayu yang penuh dengan batu kerikil bulat. Bukannya di atas air keruh dengan aliran lambat namun sangat dalam dan berpusar terlalu cepat di dasarnya, bekas ditambangi pasirnya.

Kalau ini bukan sekarang, maka warna air sungai di bawah jembatan peninggalan para kompeni ini begitu hijau hingga bebatuannya terlihat mengkilat sekalipun dilihat dari atas jembatan. Dan apabila ini bukan di bulan Juli tahun 2017, maka seharusnya tidak ada pagar berkawat besi setinggi dua setengah meter yang tertancap di sekeliling lapangan udara, atau plang milik PT KAI yang berisi klaim tanah dan garis batas kepemilikan mereka.

Aku menatapi satu dua burung dara yang melintas dengan suara peluit nyaring—terpasang di badan mereka. Lalu beralih menatap ke utara sebab suara ledakan granat terdengar menggema diikuti suara tembakan yang beraturan. Ulah para tentara di perbatasan.

“Kau belum menjawabku,” Wan menyenggol lengan atasku pelan, lalu menyesap rokoknya dalam-dalam. Kutatapi wajah teman kecilku yang sekarang jauh dari kata kecil. Tubuh separo cinanya itu bongsor, rambutnya lurus dan sengaja dipanjangkan sekitar sepuluh senti. Pipinya yang licin tanpa jerawat masih tembam dan dagunya, aku baru sadar kalau dia sedang beternak rambut jenggot. Ketika dia menonyor dahiku, aku tersadar bahwa sejak tadi mataku seperti bertamasya di wajahnya.

“Apa yang kau lihat, hah? jangan bilang kau jatuh cinta padaku sekarang, saat ini?!” matanya yang sipit dipaksa melotot dan itu sangat konyol. “Akhirnya kau dewasa juga, Le. Agh! Jantungku berdebar-debar!” dia terbahak-bahak sambil memegangi dada kirinya.

“Kalau pun aku jadi dewasa dan jatuh cinta, aku tidak mau menjatuhkan cinta semata wayangku pada bajingan macam kau.”

“Aku tau, ya Tuhan. Kau ini kenapa, hah? serius banget, lagi menstruasi?”

Meh! Sepertinya punya saudara perempuan sekali pun kau akan tetap bodoh soal perempuan.” Kataku sambil menarik betis kemudian menumpukan kaki di paha Wan dan bersandar di pagar besi kotak singgah jembatan.

“Aku pulang mau ngebom markas TNI, puas?!” Dia hanya geleng-geleng, menyentil puntung rokoknya ke sungai lalu bersiap mengambil batang rokok yang kedua. Aku mendengus keras lalu mencondongkan badan, berusaha menarik rokok dari sela bibirnya.

“Terakhir, aku janji…” jarinya menepis tanganku.

“Cih, pembohong! Nanti juga bakal ngerokok,”

“Denganmu, aku belum selesai—demi Tuhan—dengarkan dulu! Ini terakhir kali aku merokok di depanmu. Oke?” kami mengadu pandangan sengit, lalu dengan kompak memundurkan badan setelahnya. Bersaing dengan angin, Wan buru-buru menyulut rokoknya.

“Katanya kau dapat kerjaan di Jakarta?” kataku memastikan, dan dia mengangguk, jari-jarinya menarik batang rokok dari bibir. Torsonya yang berisi tercetak di balik kaos singletnya, memperjelas lipatan lemak yang aku berharap bisa memilikinya barang satu.

“Ikut Mbak Elin, sih,” ucap Wan merujuk pada kakak pertamanya. “Jualan gorengan. Haha,” Wan merebahkan punggungnya untuk menggapai bungkusan berisi kaleng-kaleng soda dan camilan di undakan belakangnya. Aku menyerobot satu kaleng soda yang baru dia buka tanpa peduli dengusannya terlihat mengeluarkan asap seperti animasi banteng marah.

“Iya, gorengan yang seporsinya bisa dituker HP,” sindirku yang membuatnya terkekeh geli.

“Kapan balik ke Jogja, Bu Dokter?” dia bertanya setelah menenggak sodanya, tapi aku yang tersedak.

“Dokter?!” dia mengangguk afirmatif lalu aku tergelak sampai sakit perut. “Sejak kapan orang yang kuliah jurusan komunikasi bakal lulus jadi dokter? Jangan bikin lelucon baru, deh.”

“Tapi kau kan pengin jadi dokter?” dia menyesap rokoknya, iris mata di dalam kelopak matanya yang paling hanya setinggi mata ngantukku itu seperti meminta kepastian. Aku tidak berani menantang matanya jika seperti ini, Wanjarang serius. Dia itu kakak laki-laki yang tak pernah kupunyai dengan statusku sebagai seorang anak pertama. Elwan Sandik, manusia yang jelas mengerti apa mimpi zaman kecilku dulu dan sedang mencoba mengungkitnya.

“Wan, kenapa orang desa banyak yang betah ke kota, hidup di sana, bergaya seperti orang kota? Malah kadang enggak mau balik ke desa?” tanyaku yang enggan membahas cita-cita.

“Sekarang aku tanya, karena kau sudah dua tahun di kota. Kenapa orang kota banyak yang ingin ke desa? Beli tanah lalu bangun rumah di desa? Bergaya seperti orang desa yang kaya raya?”

“Astaga, kau! jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan!”

“Itu jawabannya, bodoh…” Wan melesakkan puntung rokoknya pada sudut besi di sisi kirinya. “Kau lihat itu?” telunjuknya yang panjang dengan tato kecil ‘N’ dari rangkaian ‘ALONE’ di pangkal ruas jarinya itu mengarah pada lapangan tembak di utara delta sungai.

“Orang desa macam kita mungkin terbiasa dengan suara ledakan, letusan proyektil laras panjang, atau ribut-ribut helikopter. Karena kita dekat dan hidup di sekitarnya, di perbatasan. Orang desa terbiasa dengan lahan pertanian, rombongan bebek, apalagi suara katak di sawah. Begitu juga orang kota yang betah dengan suara derum mesin mobil, juga klakson padahal masih pagi tapi sudah macet. Mereka terbiasa dengan makanan cepat saji dan obrolan tengah malam,” aku mengangguk-angguk ragu sambil memikirkan mau ke mana dia membahasnya. Mataku memerhatikan tangan gempal Wan yang sibuk membuka bungkus camilan.

“Tapi manusia itu gampang bosen, yang pinter keblinger, yang bodoh macam kau sama aku ini malah sok tau,” lanjutnya sambil menyodorkan keripik kentang berperisa rumput laut.  “Makanya mereka, kita juga—apa ya bahasanya?—Penasaran, nah! Abis itu bikin eksperimen, yang kota ke desa, yang desa ke kota. Yang kebanyakan teori malah suka bad judging, orang yang doyan makan buku tapi enggak diwadahi realita. Dan, Le, demi apapun, jangan gitu.”

Lelaki yang lahir dua bulan lebih awal dariku itu terkekeh saat aku hanya menatapnya dengan kerutan di tengah dahi. “Le, gini ya. Simpel aja, kau tau kan kalau manusia itu susah puasnya?” aku manggut-manggut, terlalu cepat sampai tangannya menahan dahiku.

“Sekarang aku tanya lagi, siapa yang paling tau batasan diri kita masing-masing?”

“Tuhan?” kepalaku meneleng ke kiri, ragu tapi juga penasaran.

“Ya, dan diri sendiri pastinya,” dia mengangkat kakiku dari atas pahanya lalu memutar badan untuk bersila menghadapku. “Saat kau tau kalau batasanmu terbatas batasan,”

“Tunggu! Gunakan kosa kata lain, tolong.”

“Dih, dasar mahasiswa lemot!” aku mendelik dan dia tertawa kecil. “Gini, Le. Kalau kau udah tau seberapa jauh kemampuanmu, dan itu ternyata terhambat oleh beberapa hal misal, lingkungan? Apa yang bakal kamu lakuin?”

“Cari cara, lah?”

Yes. Duh pinternya, Adek Manisku,” dia menoel daguku sambil menaik turunkan alisnya meledek.

“Sialan!” umpatku sambil menepis tangannya, “aku takut dibilang lupa asal.”

“Oleh?”

“Orang-orang kota,” kataku setengah tertawa. “Kau tau, jawabanmu itu penjabaran yang rinci buat sikapku, yang kadang aku susah ngomongnya,” tanganku mencomot keripik kentang dengan bungkus yang separuhnya berisi gambar cengiran di wajah entah siapa. “Kau benar, aku hanya perlu tau di mana batasku dan mengujinya sampai batas itu benar-benar mentok,” aku menghela nafas sebagai jeda, lalu menyumpal mulutku dengan beberapa keripik sekaligus. “Thafii merekha mehlih—uhuk!”

“Telan, bodoh!” Wan menitah sambil menyodorkan air mineral setelah menabok pipiku.

“Tapi mereka, Wan, kau harus tau, dengarkan baik-baik. Mereka melihat itu sebagai pelarian, seolah-olah kita sengaja lupa, tutup mata dari mana kita ada. Tapi enggak gitu.

“Dan kau sungguhan lari dari itu?” dia menyindirku, telak. Seperti melempar bom di wajahku sampai rasanya kebas karena malu. “Le, kita orang desa. Sama kayak kau yang jadi mahasiswa, aku juga haus bakat. Pengin tau sebenernya aku bisa apa buat disebut orang, dan cara kita sama. Pergi dari desa.”

“Bedanya, Le. Aku ke kota nyari duit, kau minta duit ke Mama,” dia tertawa lalu mencubit kedua pipi sampai mulutku kebas dan liurku hampir jatuh saking lamanya mendowerkan bibir. Aku tidak marah padanya karena apa yang dia ucapkan itu realita.

“Kau ini memang kurang ajar, sialan! Pipiku sakit, bodoh!” aku menggeplak kepalanya dan dia tambah tergelak sambil menggumamkan maaf berkali-kali. Setelahnya kami diam sambil mengatur nafas, kebanyakan tertawa.

“Aku, Wan, enggak mau abis kuliah langsung nikah,” tandasku beralih topik, yang dibalas raut meremehkan di muka Wan. “Aku enggak suka sama Kaki, dia liat perempuan ya seperti perempuan—jaman koloni dulu—budak! Makanya kadang aku pikir di kota, yang gendernya abstrak itu, aku ketemu sama diri aku sendiri. Aku bakal pulang saat udah punya bekal, enggak ngabisin duit aja terus pulang asal nikah. Bodo amat sih jadi perawan tua, tapi jangan, ding.” Laki-laki itu tergelak lalu merangkulku, membuat badanku ikut bergetar seiring tawa yang menghebohkan seluruh lemak badannya.

“Tapi, Wan,” aku menyingkirkan lengannya supaya bisa bernafas lega,  “cowok itu pada berengsek semua,” lanjutku, dan Wan diam saja dengan generalisasi yang kuucapkan terkait kaumnya. Dia toh paham alasanku. “Tapi kalo nikah sama cewek juga ogah, gini-gini aku perempuan normal, kok.”

“Iya, iya, astaga Aleid! Santai, sister. Kau ini, diajari apa sih sama dosenmu?” aku mengedikkan bahu acuh, Wan membuka satu kaleng soda lagi dan menyodorkan padaku.

“Jangan lari, Le.” Ucap dia kemudian meminum sodanya sendiri. “Realita enggak bakal bohong, kok, kalau kau benci pembohong.” Dia kembali duduk menghadap bibir kotak singgah jembatan, menatapi asap molotov yang membumbung mencapai pucuk mahoni. Kami sama-sama diam menatapi sebuah helikopter yang melintas rendah di atas jembatan, penerbangan terakhir sepertinya. Lalu membiarkan kebut sisa anginnya mengaburkan ujung kemeja masing-masing. Sodaku yang kedua sudah tandas lagi, membuat kerongkonganku serasa terbakar dan perutku seperti diisi gas-gas yang meletup-letup kecil.

Pulang itu perlu, tapi pergi untuk waktu yang lama juga bukan sesuatu yang salah. Kau punya rumah, itu sebabnya kau mesti balik. Seberapa lama atau bagaimana pun kau bersikap ketika pergi, pada akhirnya yang akan menyambut bukan mereka yang pergi denganmu. Tapi orang-orang yang menunggu kau pulang, Le.” Ada jeda cukup lama sebelum kami nyengir sama-sama, baru sadar dengan apa yang kami obrolkan.

“Wan, kau kesurupan Kyai mana?”

“Kayaknya arwah Raden Adipati tadi mampir, deh. Duh brengsek, lewat doang, Le! Sialan emang. Kau sendiri, Nyai mana yang mampir barusan?” Kami tergelak untuk ke sekian kalinya, membiarkan tatapan penasaran beberapa orang yang lewat di belakang kami.

Suara bom masih berdebum statis mengisi udara, proyektil-proyektil peluru juga terus melesat jauh—terdorong ledakan propelannya, meninggalkan selongsong-selongsong kosong untuk jatuh ke bumi. Serombongan burung terbang berputar di atas sungai, mengiring senja yang merekah di ujung mocong pesawat di sisi barat lapangan.

Itu senja langka, yang paling terjadi setahun sekali karena aku dan Wan akan saling sibuk di waktu lain. Setidaknya, kami pernah membahasnya meski dengan umpatan-umpatan sadis atau selingan candaan tidak bermutu. Membahasakan alasan kepergian, dan meminta Tuhan menyimpan kesempatan terbaik untuk kepulangan nanti.

 

 

 

Purbalingga, 9 Juli 2017.

 

*Penulis adalah Sekretaris Umum LPM Rhetor yang juga seorang mahasiswi KPI. Kini ia sedang berlibur.