Menumbuhkan Jiwa Nasionalisme; Refleksi Hari “Sumpah Pemuda”

Oleh : Septia Annur Rizkia

Untuk membakar semangat pemuda, Soekarno sering menggaungkan sebuah kutipan dalam orasinya. “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”

Kutipan kalimat itu mampu menjadi pemantik untuk membangkitkan semangat juang para pemuda Indonesia. Pemuda-pemuda yang sadar akan mampu mengubah dunia, karena kualitas dapat mengalahkan kuantitas. Begitu juga dengan jumlah pemuda, biar sedikit tapi mampu berkomitmen dari awal, maka tak ada yang mustahil di dunia ini.

Pemuda adalah masa depan suatu bangsa, sebagai generasi penerus yang memikul beban amanah dari masarakat. Apalagi pemuda yang berlatar belakang sebagai mahasiswa, dia tak boleh melupakan lingkungan yang telah mendidik terutama pengabdian kepada masyarakat menjadi suatu kewajiban.

Prosedur kelahiran Bangsa Indonesia ini adalah buah perjuangan rakyat yang selama bertahun-tahun ditindas oleh kekuasaan para kolonial. Penindasan inilah yang akhirnya mampu mendorong para pemuda hingga berhasil mencapai kemerdekaaan pada 17 Agustus 1945. Keputusan para pemuda untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat manusia Indonesia, menjadi motivasi untuk menghantam senjata perlawanan kolonial.

Begitu pula kejadian pada tanggal 28 Oktober 1928, yaitu Sumpah Pemuda yang menjadi bukti otentik bahwa bangsa Indonesia dilahirkan dengan penuh semangat perjuangan. Seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober juga sebagai  lahirnya bangsa Indonesia. Selaku prosedur kelahiran bangsa dengan penuh semangat juang dari rakyat.

Berangkat dari 28 Oktober1928 yang diperingati sebagai hari Sumpah pemuda ini pula lah, semangat perjuangan terus bergaung pada perjuangan masyarakat hingga mampu mencapai kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Semangat yang dipelopori oleh para pemuda Indonesia untuk bangkit dari ketertindasan.

Perlu diketahui, hari sumpah pemuda tidak lahir begitu saja. Banyak hal yang melandasi para pemuda yang bertekad untuk bersatu. Mereka juga berpikiran bahwa tidak akan dapat membikin Indonesia terbebas dari belenggu kolonial jikalau berjuang dengan sendiri-sendiri.

Sesuai dengan namanya, yaitu Sumpah Pemuda dirumuskan pula oleh para pemuda. Mereka menjadikan momen perjuangan itu sebagai dasar untuk membangkitkan jiwa nasionalisme. Perjuangan yang tidak lagi individual, melainkan bersama-sama untuk kemerdekaan Indonesia.

Sumpah pemuda menjadi tonggok utama dalam sejarah pergerkan kemerdekan bagi indonesia. Sumpah yang diucapkan menjadi janji ikrar setia yang terkristalisasi pada semangat untuk mambawa masa depan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaan.

Perlu diingat, hari Sumpah pemuda bukanlah sekedar momentum yang sifatnya sekedar euforia. Jangan pula hanya dijadikan sebagai ajang eksistensi diri bahkan pencitraan semata. Tapi, ghiroh perjuangan yang harus dijadikan acuan dan teladan bagi generasi selanjutnya untuk melawan segala macam bentuk kolonialisme.

Pemuda harus mampu membumi hanguskan segala macam penjajahan dan penindasan di muka bumi ini. Karena apa? Musuh nyata bangsa saat ini bukan lagi menjajah secara fisik, tapi ideologi idealisme terus digerogoti oleh para pemegang kekuasaan.

Ekonomi, politik, pendidikan maupun budaya bangsa ini telah diracuni oleh pihak-pihak yang hanya mengambil keuntungan semata, hingga berakibat pada penjajahan secara material bukan lagi secara fisik. Hegemoni kekuasaan telah menjadikan masyarakat terlena akan persoalan sosial, dan mengubur kesadaran kan hal itu.

Sebagai generasi yang terdidik, membangun masyarakat yang sadar sangatlah perlu guna meneruskan cita-cita berdirinya Indonesia pada awal mula. Memahami sejarah bangsa dengan seksama, seharusnya diwajibkan bagi setiap warga Indonesia. Dengan harapan agar pemahaman masyarakat tidak mudah diplintir oleh sejarah yang masih terbawa orde baru.

Pemuda adalah tonggak suatu bangsa, jantung bagi masyarakat dan harapan baru bagi suatu keluarga untuk meneruskan cita-cita para pahlawan revolusioner. Belajar menjadi kewajiban bersama, tak memandang status, latar belakang, ras, agama maupun budaya. Belajar, dengan harapan mampu mebawa perubahan untuk negeri tercinta, tanah air pusaka, Indonesia Raya.

*Septia A.R. merupakan mahasiswi KPI semester 3, dan aktif di divisi PSDM LPM Rhetor.