Mengintip Nasib Pendidikan Sambil Berpagi Ria di Lereng Gunung Arjuna Probolinggo

Siswa-siswa Nurul Mubtadi’in yang sedang bercengkrama sebelum memasuki kelas. (Dok. Rhetor/Irfan).

“Pernikahan dini bukan menjadi hal tabu di sini. Ia menjadi faktor kurangnya minat bersekolah. Saat-saat menikmati masa belajar, malah sudah sibuk mengurus keluarga.”

 

Pagi nampak sepi di sebuah desa yang indah, di Lereng Gunung Arjuna. Sekolah sudah terata rapi dengan segala keindahannya sebelum para siswa dan siswi sekolah berdatangan. Untuk menuju sekolah Nurul Mubtadi’in ini tidak mudah, kita harus melewati jalan yang naik turun. Beruntung, masih bisa diakses menggunakan kendaraan roda empat. Tepatnya di Dusun Mello’an, Desa Betek, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, lokasi ini termasuk desa yang jauh dari pusat kota. Maklum, daerahnya masih terpencil.

Sebenarnya, jadwal rutin masuk kelas adalah jam tujuh, namun sudah jam setengah delapan kelas masih sunyi dari kehadiran siswa, ketika dua anak laki-laki terlihat bersemangat dari arah timur menuju sekolah. Dua anak kecil itu terus saya ikuti sampai menuju kelasnya. Mereka sangat bersemangat, ketika kami ajak ngobrol, mereka selalu memberikan jawaban yang sumringah dan optimis dalam belajar, meskipun mereka hanya berempat dalam sekelas di kelas 6 MI. Kemudian hampir mendekati jam delapan para siswa dan siswi lainnya berduyun-duyun datang ke sekolah.

Gedung sekolah Madraah Ibtidaiyah ini terlihat sangat memprihatinkan, dari gentengnya banyak yang menerawang, juga dindingya banyak yang retak. Saking lamanya tidak direnovasi. Gedung sekolah yang ada pun belum memadai,  masih ada satu kelas yang menumpang di selasar masjid.

Namun demikian tidak menyurutkan semangat para siswa untuk bersekolah. Gedung Madrasah Ibtidaiyah yang sudah perlu untuk direnovasi ini, sangat membutuhkan dana, karena pada awal pembangunannya masih menjadi tanggungan keluarga Kyai Suhar Muhammad Ismail (Alm.). Namun setelah beliau meninggal, yang mengurus pondok pesantren tidak ada, jadi para santri yang juga siswa pun menjadi agak berkurang.

Muhammad Abdullah Rifqi, selaku penerus warisan Ayahnya. Ia menyayangkan ketika anak yang masih usia belajar enggan untuk menikmati pendidikan. Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia memang tak ada habisnya, apalagi mengenai kebijakan dan perundang-undangan tentang pendikan yang berlaku. Namun di sisi lain ada hal yang kurang dirasakan secara mendalam mengenai pentingnya mengenyam ilmu  oleh masyarakat dan remaja usia pelajar untuk membangun ghirah  bersekolah.

Padahal kalau dilihat dari layanan yang sediakan, fasilitas sekolah ini sangat mendukung, biaya sekolah gratis tanpa syarat, seragam sekolah dikasih secara cuma-cuma, peraturan sekolah pun tidak begitu menekan. Tidak memakai seragam sekolah pun jika mau dan asalkan mau bersekolah tidak masalah, mereka yang rumahnya agak jauh dari lokasi, ada yang menjemput. Namun yang menjadi persoalan lagi-lagi kemauan orang tua untuk menyekolahkan anaknya kurang begitu sadar. Juga kemauan anak untuk bersekolah masih minim.

Kebanyakan dari mereka lebih memilih kerja di sawah, membantu orangtuanya mencari duit, karena menurut mereka yang tidak bersekolah, sekolah itu hanya membuang waktu dan menghabiskan duit.

Kalau kita lihat sekelilig desa ini masih banyak rumah warga, dan remaja usia sekolah, namun yang mau untuk bersekolah ini yang masih sangat minim. Seperti paparan Rifqi, saat mengobrol dengan lpmrhetor.com disela-sela pagi sambil meninjau lingkungan sekolahnya.

Di sisi lain, gedung sekolah ini dibangun di atas tanah wakaf (pemberian seseorang) pada tahun 2000, kemudian dibangun gedung sekolah Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 2009. Keberadaan gedungnya pun terpisah-pisah antara ruang kelas yang satu dengan kelas yang lainnya. Hal ini dikarenakan lokasiya yang terletak dilereng gunung, jadi membutuhkan tenaga ekstra yang lebih hati-hati untuk membangunnya. Tumpukan bebatuan yang tidak merata, justru membuat keindahan tersendiri, indah dan mengagumkan.

Sekolah ini terlihat indah ketika anak sekolah mulai berduyun duyun ke sekolah, mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang menjadi menarik ketika kami melewati gedung ini banyak ibu-ibu yang mengantarkan anaknya, bahkan mereka rela menunggu sampai anaknya pulang. Namun ketika mereka sudah memasuki usia Sekolah Dasar, kebanyakan dari mereka sudah berani berakat ke sekolah sendiri. Tak hanya ramai anak-anak saja, lingkungan ini juga sudah sampai pendidikan MTs dan MA. Madrasah Aliyah yang kelas IX (sembilan) ini pun baru pertama kalinya di tahun ini.

Rifqi berharap, suatu saat nanti pesantren dapat dibangun kembali, karena yang sangat mendukung di daerah ini adalah pesantren. Harapannya supaya anak-anak tidak telat pergi ke sekolah, dan juga malamnya bisa mengikuti ngaji. Semenjak meninggalnya abah, santri yang mondok di samping rumah sempat pulang dulu, mereka menunggu harapannya ada pengganti abahnya dalam memimpin pondok pesantren ini, dan mereka nanti akan kembali lagi. Juga sekolahnya dapat ramai lagi, banyak anak yang akan bersekolah lagi.

 

*Irfan Asyhari, seorang videografer lpmrhetor.com yang sedang berusaha mengeja angan-angan semu. Sungguh mulia!