Menghancukan Hambatan Ide Dalam ‘Tiga Bayangan’

Lel, salah satu lakon dalam pentas Tiga Bayangan. Sabtu (3/3). Dok. Rhetor/Fahri.

Pertarungan ide, gagasan, dan pemikiran dalam kehidupan mampu disuguhkan oleh para pemeran. Hambatan-hambatannya coba dihancurkan dalam satu malam

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Tiket pementasan teater Tiga Bayangan sudah banyak dipesan sejak jauh-jauh hari. Sisanya juga laku terjual tepat di hari pementasan pada Sabtu malam (3/3/2017). Kurang lebih setengah jam sebelum pentas dimulai, puluhan orang sudah berjejalan di loket tiket yang didesain mirip gerobak angkringan. Semua ludes.

Tiga Bayangan merupakan pentas teater yang sejak 2013 sudah dipentaskan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Eska, UIN Sunan Kalijaga, sebagai bagian dari studi tingkat lanjut para anggota UKM tersebut.

Seperti biasa, pentas teater Tiga Bayangan digelar di Gelanggang Teater Eska, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Dengan menampilkan konsep tiga pertunjukan dalam satu panggung, Tiga Bayangan selalu berakhir dengan gemuruh tepuk tangan hadirin dan selalu mampu mendulang pujian dari berbagai kalangan. Termasuk pada edisi tahun ini.

Di tahun ini, Tiga Bayangan mengangkat kegelisahan kaum muda, terkhusus mahasiswa, yang masih sibuk bertarung dengan perfeksionitas ide dan mimpi-mimpinya untuk masa depan.

Sengaja berbicara ide, karena Tiga Bayangan memang memiliki prinsip di mana sebuah pertunjukan dapat mengkomunikasikan ide-ide dan pemikiran kepada penonton.

“Tiga Bayangan tidak hanya memproduksi pertunjukkan, tetapi juga berkisah tentang pergulatan pemikiran serta bagaimana ide-ide dikomunikasikan kepada penonton,” seperti tertulis dalam rilis yang diterima lpmrhetor.com.

Kekerasan karena ambisi

Pelajaran Bab Dua karya Habiburrahman menjadi pengawal pertunjukan. Seorang aktor mengajak salah seorang penonton terlibat dalam lakon tersebut.

Seorang perempuan berkacamata beruntung terpilih dan langsung dikagetkan dengan adegan kekerasan khas seorang ibu kepada anaknya. Skenario tersebut kontan mengajak penonton larut dalam suasana tegang.

Nampak seorang perempuan memukul-mukulkan sapu kepada anaknya. Ia marah besar lantaran anaknya tak kunjung menuruti perintah orang tuanya. Seorang pria berbaju putih terlihat kesakitan. Ia berdiri di sudut lain sembari menggerak-gerakkan tubuhnya seperti dipukuli oleh sesuatu.

Nampaknya adegan itu adalah perlambangan seorang anak lelaki yang merasa kesakitan akibat dipukuli orang tuanya. Dua adegan terpisah itu begitu terkoneksi dengan baik. Ciamik!

Ketegangan tak berhenti kala Ahmad, tokoh utama, keluar dengan mata tertutup kain putih dan meracau soal kejenuhan. Katanya ia jenuh lantaran hidupnya terjebak dalam kekerasan.

Ahmad kemudian berubah menjadi sesosok pria kejam. Dalam salah satu segmen, sang tokoh memperlihatkan adegan seperti memukuli seseorang.

Seperti adegan pertama, kali ini seorang perempuan bergerak-gerak kesakitan di sudut lain, sedangkan Ahmad memukul-mukulkan tongkatnya ke ruang kosong. Keduanya berkoneksi dengan baik.

Pelajaran Bab Dua memang bermaksud menampilkan fenomena kekerasan dalam mendidik anak. Habiburrahman, sang sutradara, mengatakan bahwa naskah lakon tersebut diangkat berdasarkan realita.

“Naskah ini diangkat dari pengalaman kecil bagaimana dididik di dalam keluarga, terkhusus pengalaman mendapat perlakuan keras,” katanya pada saat saresehan di akhir pentas.

Ia berasumsi bahwa laku kekerasan yang terjadi sejak dalam keluarga menjadi salah satu faktor yang turut melestarikan perilaku kekerasan dalam masyarakat.

“Lingkaran kekerasan sudah dimulai sejak dalam keluarga, akibatnya lingkaran kekerasan itu awet,” katanya lagi.

Habib melanjutkan, bahwa praktik kekerasan yang dilakukan kebanyakan orang tua dengan dalih pendidikan diakibatkan oleh tuntutan cita-cita yang terlampau tinggi.

Ia mengatakan bahwa kebanyakan orang tua menginginkan anaknya ‘hebat’ di masa depan. Sehingga menggunakan cara kekerasan agar ambisi tersebut tercapai.

“Hal itu karena dituntut oleh cita-cita,” lanjutnya.

Pentas pertama sukses mendulang deru tepuk tangan hampir 200 orang penonton yang hadir malam itu.

Aktivis versus seniman

Mata penonton kemudian beralih 180 derajat. Maklum, pentas kedua dimulai ‘tanpa basa-basi’ tepat di belakang mereka. Ya, panggung untuk Kepleset Eiy sengaja di-setting di belakang penonton. Semua penonton kemudian membalikkan badan memburu muka pentas. Lakon kedua dimulai.

Mbel, seorang pelukis yang selalu gelisah terlihat mengotak-atik kanvasnya. Gadis itu bingung perihal apa yang hendak dituangkan dalam lukisannya. Nampak ia bosan dengan beribu ide yang begitu-begitu saja.

Salek, temannya yang juga seorang aktivis memberikan ide. Tingkah lakunya memang konyol, tapi ia serius. Mula-mula ia acungkan jari kepalan tangannya ke udara sembari mengatakan, “Bagaimana kalau begini?”

Adegan itu mengundang tawa penonton.

“Ah… Kau ini selalu bercanda, lek. Aku serius,” timpal Mbel.

“Ya sudah, kalau begitu… Begini!” Salek berikan ide kedua. Kali ini bukan kepalan tangan, melainkan acungan dua jari tengah ke arah penonton. Tingkah konyolnya lagi-lagi mengundang tawa.

Ternyata ‘jari tengah’ tidak sekonyol yang dipikirkan penonton. Mbel justru terlihat bingah. Katanya itu ide bagus.

“Benar, lek! Polisi acungkan jari tengah ke arah mahasiswa yang dituduh sebagai provokator karena melakukan penolakan bandara!” Mbel bergairah. Tepuk tangan terdengar semakin kencang dari setiap sudut gelanggang.

“Bandara New Yogyakarta Internatinal Airport,” Mbel melanjutkan. Penonton berteriak seru lengkap dengan cuitan khas perayaan besar.

Pentas kedua memang menampilkan kegelisahan mahasiswa yang seringkali mempertarungkan ideologi dengan ekspresi kediriannya. Dalam hal ini, jati diri Mbel sebagai seorang pelukis ‘dipertarungkan’ dengan tugas moralnya sebagai seorang terpelajar.

Kepleset Eiy menyuguhkan pertanyaan sekaligus pernyataan ideologi antara aktivis dan seniman tentang yang lebih berguna bagi kehidupan,” seperti tertulis dalam rilis.

Neneng H. Maryam, sang sutradara, mengatakan bahwa pertarungan ide dalam kehidupan senantiasa terjadi. Terutama bagi mereka yang sedang berada di usia ‘mahasiswa’. Seringkali jiwa muda terjebak dalam kegalauan akan kebergunaan dirinya.

“Naskah ini diambil dari kegelisahan seseorang yang gelisah atas kebergunaan dirinya terhadap hidup. Apa yang lebih baik dilakukan untuk hidup ini,” katanya.

Penokohan Mbel memang memperlihatkan maksud tersebut. Kerapkali Mbel ragu-ragu dengan langkah yang ia ambil. Walaupun ia sering sepakat dengan Salek, namun lebih banyak ia meragukan kemudian.

Seringkali ia berdebat dengan Salek tepat setelah ia menyepakati ide teman lelakinya itu.

Perdebatan paling seru ditunjukkan saat Mbel nampak tidak sepakat dengan saran Salek yang mengatakan bahwa tidak cukup jika penderitaan rakyat hanya dipamerkan ke dalam lukisan. Menurut Salek, si pelukis pun harus turut terlibat secara fisik ke dalam persoalan tersebut.

Namun, Mbel lain sikap. Baginya, hal itu adalah kerjaan aktivis, bukan kerjaan seniman seperti dirinya.

Salek lalu mematahkan argumennya.

“Ya sudah. Kalau begitu, jangan libatkan aktivisme dalam lukisan mu,” kata Salek.

Walau sering berdebat, dua sejoli itu kerapkali menunjukkan harmoni persahabatan di akhir perdebatan.

Kepleset Eiy tentu saja tidak kalah oleh pentas pertama. Gemuruh tepuk tangan penonton lagi-lagi menjadi bumbu di akhir pementasan.

Terjebak waktu

Lampu pertunjukan kemudian menyorot sebuah jam besar yang berdetak perlahan. Di tengahnya terdapat kepala seorang pria yang sepertinya terjebak di dalam jam raksasa itu. Itulah penanda dimulainya pertunjukan ketiga, Lel.

Lakon karya Abdul Ghofur itu menaruh panggung tepat di sebelah utara panggung pertama. Seluruh penonton pun rela membalikkan lagi badannya ke posisi semula. Lakon dimulai.

Seorang gadis yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga di sebuah keluarga kelas menengah terlihat curhat kepada penonton. Katanya ia adalah pembantu rumah tangga yang selalu menuruti perintah majikannya yang sangat sibuk.

Suara seorang pria yang terdengar begitu berat kemudian menyahut. Nampaknya ia si majikan. Lel namanya. Pria yang gila dengan ambisi-ambisinya untuk berkhotbah tentang kebaikan. Sehingga membuatnya lupa terhadap kehidupannya.

Lel memerintahkan pembantunya menaruh buku-buku di ruangannya. Perlambangannya begitu filosofis. Buku-buku itu ditaruh di sekeliling kepala pria yang tidak lain adalah sudut-sudut jam dinding raksasa.

Abdul Ghofur memang bermaksud demikian. Ia ingin memperlihatkan bagaimana repotnya ketika seseorang terjebak dalam kesibukannya. Sehingga ia lupa akan tugas-tugasnya sebagai seorang manusia normal.

Lel yang ditampilkan terjebak di tengah jam dinding raksasa adalah perlambangan seorang manusia yang terlalu sibuk dengan segala keinginannya. Ia terjebak waktu.

Bahkan saking terhimpitnya, Lel mengorbankan berbagai kebutuhan dasarnya, termasuk kebutuhan dasar bersenggama dengan istrinya.

Kerap ia terlihat adu mulut dingin dengan istrinya. Hal itu kurang lebih diakibatkan oleh beribu ambisinya tentang dunia.

“Dingin dan kegilaan itu berangsur-angsur muncul oleh Lel; kesibukan dan segala keinginannya yang tamak untuk menjadi apapun,” seperti tertulis dalam rilis.

Abdul Ghofur mengatakan bahwa naskah yang ia tulis diambil dari problema eksistensi yang sering terjadi di kalangan mahasiswa. Bagaimana hasrat mahasiswa selalu merasa tidak cukup dengan apa yang dicapainya sehingga harus kalah oleh waktu karena terlampau sibuk mengejar hasrat-hasratnya.

“Problem ini sering terjadi di kalangan mahasiswa. Di mana mahasiswa sering memikirkan masa depannya dan hasratnya yang tak pernah sampai. Yang hasratnya senantiasa kalah oleh waktu,” katanya.

Realita itu kemudian ia angkat ke dalam Lel dengan mengambil latar keluarga. Sengaja ia angkat melalui latar keluarga, karena baginya problem di dalam keluarga adalah problem yang paling rumit.

Diakhiri dengan lantunan instrumen bernuansa dingin, Lel mengakhiri pentasnya persis seperti dua lakon sebelumnya: dengan gemuruh tepuk tangan penonton.

Penonton terajak

Misbahul Munir, salah seorang penonton, mengatakan bahwa pentas Tiga Bayangan selalu membuatnya tersanjung. Kali ini ia larut dalam pertarungan ide-ide dan pemikiran seperti yang diinginkan Tiga Bayangan.

“Ya bagus sekali, ya. Apalagi tadi saya diajak berpikir di setiap pentas. Yang terakhir benar-benar bikin saya mikir. Tapi semuanya bagus. Benar-benar menyentuh apa yang saya rasakan selama ini,” katanya ditemui di akhir acara.

Ia begitu antusias. Misbahul mengaku telah membeli tiketnya sejak Kamis malam.

“Saya sudah booking waktu hari kamis, malam-malam,” tutupnya.

Tiga Bayangan kemudian diakhiri dengan saresehan para pemeran dan sutradara dengan penonton.[]

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Dyah Retno Utami