Mencari-Cari Ruang Publik

Bebagai macam persoalan yang timbul akibat dari pembangunan gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) di area kampus timur UIN Sunan Kalijaga seakan tidak pernah berhenti. Sempitnya lahan parkir, maraknya kasus kehilangan helm dan kendaraan, dan terhambatnya akses untuk mahasiswa penyandang disabilitas menjadi sekian dari banyaknya persoalan-persoalan yang hingga hari ini masih belum dapat terselesaikan.

Apalagi yang sangat menjadi perhatian kalangan mahasiswa kebanyakan adalah semakin sempitnya ketersediaan ruang publik. Salah satunya penggusuran Panggung Demokrasi (pangdem) yang hingga kini menyisakan banyak kenangan. Sejak dibangunnya pangdem beberapa tahun lalu, mahasiswa sangat menggantungkan segala kegiatan kemahasiswaan yang bersifat non-akademis di bangunan yang berukuran kurang lebih 30 meter persegi itu.

Penggusuran bangunan pangdem tentu menimbulkan banyak kerugian di kalangan mahasiswa. Pangdem sebagai sebuah simbol Dialectical Consentration sejauh ini selalu menjadi wahana yang bebas bagi mahasiswa untuk dapat mengekspresikan eksistensinya sebagai mahasiswa. Terbukti berbagai macam kegiatan kemahasiswaan selalu dapat dilaksanakan tanpa hambatan apapun di bangunan tersebut. Baik itu kegiatan-kegiatan seremonial, diskusi-diskusi, ataupun hanya sekadar nongkrong-nongkrong sepulang kuliah.

Saat ini mahasiswa seakan-akan kelabakan wara wiri tidak jelas mencari-cari ruang alternatif baru di sekitaran kampus yang semakin sempit ini. Hanya untuk dapat sekadar berkumpul ngrumpi saja mahasiswa kebingungan, apalagi untuk dapat melakukan kajian-kajian dialektis semacam diskusi-diskusi mahasiswa.

Mahasiswa dalam melihat persoalan ini tentu tidak dapat serta merta menilai bahwa ini sebuah kebetulan. Bila kita meminjam sebuah paham filsafat strukturalismenya Simon Blackburn, yang mengamini adanya hubungan yang lebih besar terhadap sebuah persoalan, tentu kita akan mengatakan persoalan ini diakibatkan oleh adanya sebuah sistem. Dalam memandang pembangunan FEBI dan penggusuran pangdem, mahasiswa harus dapat menelusuri jejak sistematis yang kemudian mengakibatkan timbulnya persoalan tersebut, hingga akhirnya menimbulkan pula banyak persoalan turunan seperti apa yang disebutkan di awal tadi.

Layak tentunya kita mencurigai adanya upaya pemberangusan ruang-ruang kebebasan berpendapat di kampus UIN Sunan Kalijaga. Jika timbul sebuah pertanyaan mengapa, tentu jawabannya hanya satu: agar pihak-pihak penguasa kebijakan dapat melenggang bebas dengan tanpa adanya berbagai macam critic-counter atas kebijakan yang selalu merugikan mahasiswa.

Kita mengamini bahwa pangdem merupakan sebuah Dialectical Consentration, tapi kemudian wilayah konsentrasi massa dialektis itu justru dihilangkan oleh struktur. Tentu keberadaan tangan-tangan yang menginginkan adanya pemberangusan kebebasan patut dipertanyakan. Bila hari ini mahasiswa justru melihat hal tersebut dari frame yang lain, tentu pihak penguasa kebijakan akan jingkrak-jingkrak kesenangan dengan tenang.

Mahasiswa sebagai seorang rakyat terdidik, yang selalu haus akan kajian-kajian keilmuan, tentu sangat merindukan keberadaan pangdem. Bangunan FEBI yang semakin kokoh berdiri tentu tidak akan lagi dapat ditolak keberadaanya, tapi kemudian apakah setelah bangunan itu kokoh berdiri akan tersedia lagi sebuah Dialectical Consentration yang lain. Bila memang ada, di mana dan bagaimana bentuk fisiknya nanti, tentu harus selalu kita kawal kepastiannnya. Jangan sampai mahasiswa membiarkan birokrasi dengan nikmatnya mengulur-ngulur waktu lagi, sehingga timbul kepastian yang tentu tidak diinginkan: UIN tidak punya ruang publik.

 

Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *