Memaknai May Day

Aksi memperingati hari buruh, 01/05 2015.

Oleh: Nur Rifqi*

Tanggal 1 Mei 2016 diperingati sebagai Hari Buruh Internasional atau biasa disebut May Day. May Day  lahir dari perjuangan panjang dan sengit kaum buruh dalam memperjuangkan kondisi kerja dan syarat-syarat kerja yang pada saat itu berada dalam belenggu perbudakan industri.  Berbagai sumber menyebutkan, tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of  Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1986. Penetapan tersebut bertujuan untuk memberikan momen tuntutan delapan jam sehari dan memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif pada era tersebut.

Untuk peringatan hari buruh 2016 di Indonesia, kaum buruh mengajukan empat tuntutan, yakni: pertama, menolak upah murah, pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) No. 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, dan menaikkan upah minimum pada 2017 sebesar Rp650.000,00,  kedua, menghentikan kriminalisasi buruh dan aktivis sosial, serta menghentikan pemutusan hubungan kerja (PHK), ketiga, menolak penggusuran dan RUUTax Amnesty (pengampunan pajak) yang dianggap merugikan buruh. Sementara kaum buruh dikendalikan dengan sistem upah murah melalui PP 78/2015, para pengemplang pajak justru diampuni, dan yang keempat deklarasi organisasi masyarakat buruh sebagai kekuatan politik atau kelompok penekan yang terdiri dari kalangan buruh, guru, honorer, mahasiswa.

Hari buruh kali ini tampaknya masih akan diwarnai dengan aksi demonstrasi. Isu atau inspirasi yang hendak diusung pun masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Terutama menyangkut hak-hak buruh agar mendapatkan gaji yang layak, penghapusan sistem outsourching maupun jaminan kesehatan.

Di Yogyakarta, ratusan mahasiswa dan buruh dari berbagai elemen memenuhi Kota Yogyakarta. Simpang empat Tugu Yogya dijadikan titik awal pergerakan. Selanjutnya konvoi menuju Malioboro, berorasi di halaman gedung DPRD DIY dan berakhir di Titik Nol Kilometer.

Masalah Perburuhan

Masih banyak masalah perburuhan yang perlu mendapat perhatian lebih. Di antaranya yakni masalah PHK massal yang terus terjadi, minimnya lapangan pekerjaan yang tersedia, rendahnya perlindungan atas resiko kerja dan kualitas jaminan sosial serta kesehatan yang masih sangat rendah.

Terlepas dari masalah di atas, masalah krusial lain dalam potret perburuhan di Indonesia tidak lain adalah masalah pengupahan. PP No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan bertentangan dengan Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, bahwasanya setiap buruh atau pekerja berhak memperoleh penghasilan untuk memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, dan juga pengupahan harus melindungi pekerja atau buruh. Namun dalam peraturan pemerintah tentang pengupahan yang disahkan ini, pemerintah tidak memenuhi prinsip penghidupan yang layak bagi buruh dan tidak melindungi pekerja.

Komite Persatuan Rakyat menyerukan kepada pemerintah untuk membatalkan PP No. 78 tahun 2015 tentang Pengupahan ini. Menurutnya lahirnya PP tentang Pengupahan ini menjadi salah satu paket kebijakan ekonomi jilid IV Jokowi yang lebih berpihak kepada kepentingan pemodal dan mengorbankan nasib buruh untuk mendapatkan upah layak.

Indonesia pernah mengajukan alternatif “Sistem Hukum Pancasila,” “Hubungan Industrial Pancasila,” dan lain-lain. Sayangnya, ide-ide tersebut hanya melayang-layang di pikiran dan manis di bibir saja. Mungkin kita masih ingat, pada 8 Mei 1993 adalah saat meninggalnya Marsinah, seorang aktivis dan buruh pabrik yang tewas akibat disiksa dan dibunuh secara keji. Tak luput pula permasalahan “buruh dijemur” yang telah terjadi. Barangkali bila ingin melihat keberhasilan Hubungan Industrial Pancasila, bangsa Indonesia harus menilik terlebih dulu ke Jepang, sekalipun negeri itu tidak menerapkan Pancasila.

Memaknai May Day

Menghormati jasa para buruh karena dengan adanya mereka sebuah negara menjadi maju dan memiliki taraf kehidupan yang lebih baik merupakan makna yang tepat untuk memaknai hari buruh. Tanpa mereka, semua pekerjaan yang ada dalam kehidupan suatu negara tidak akan terselesaikan sebagaimana mestinya. Oleh sebab itu sepatutnya bagi kita mamaknai hari buruh dengan memberikan apresiasi bagi mereka yang menyebut dirinya sebagai golongan buruh. Peringatan may day merupakan penghormatan yang luar biasa karena hari ini dijadikan sebagai hari libur nasional bahkan dunia. Sudah semestinya para buruh menghormati sebuah penghormatan yang telah diberikan dunia dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif dan tidak merugikan khalayak umum.

 

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta