May Day dan Perlawanan Rakyat Jogja

Mayday 2015 : Segenap elemen rakyat bersatu menuntut hak-haknya yang belum dipenuhi di Jl. Malioboro Yogyakarta.  
“Jogja Istimewa Lawan Pasar Bebas, Tegakkan Demokrasi Untuk Kesejahteraan Rakyat Pekerja

Pagi itu jalanan lengang menghiasi kota Yogyakarta. Suara knalpot dan klakson yang biasa membuat berisik kota kini berkurang. Lalu lalang kendaraan dan aktifitas jalanan masyarakat jarang terlihat. Jogjakarta menunjukan pukul 09.00 WIB. Hari itu, Jum’at 1 mei 2015 adalah tanggal merah. Tak seperti tanggal merah pada biasanya, ditanggal itu ribuan orang memadatai pelataran jalan Malioboro.
Tanggal 1 mei merupakan hari buruh internasional atau populer disebut May Day. Dalam sejarahnya, May Day diawali oleh demonstrasi besar-besaran di kawasan Amerika latin dan beberapa Negara di Eropa. Kala itu, ribuan buruh turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi terkait hak-hak normative mereka yang tak dipenuhi oleh perusahaan dan pabrik industri, salah satunya ialah soal jam kerja dan upah layak. Namun, disaat bersamaan demosntrasi tersebut justru diwarnai aksi represif dari pihak perusahaan yang sudah bekerjasama dengan Negara. Aksi represif tersebut menumbangkan banyak korban dipihak buruh. Tragedi itu kemudian menuai banyak aksi solidaritas dari jutaan buruh di dunia, hingga pada tanggal 1 mei ditetapkan sebagai hari buruh internasional. Berkat aksi itu, jam kerja yang awalnya 10 jam berkurang menjadi 8 jam.
Sampai sekarang, May day tetap dijadikan momentum besar para buruh di Dunia. Tak jarang, di tanggal itu, aksi serentak di hampir belahan dunia dilakukan guna mengevaluasi dan mengkritisi kebijakan perusahaan dan Negara yang dianggap belum berpihak bagi buruh, seperti upah layak, jaminan social, jaminan rumah tangga, pendidikan dan kebijakan ekonomi pemerintah.
Tak hanya oleh buruh, aksi memperingati May Day kerapkali juga dilakukan oleh mahasiswa. Seperti yang terjadi di Yogyakarta, puluhan Organisasi aliansi buruh, pejuang demokrasi seperti Serikat PRT Tunac Mulai, Serikat PRT KOY, Paguyuban Sayuk Rukun Buruh Gendong DIY, Kelompok Pekerja Rumahan DIY,  Kelompok Perempuan Buruh Industri, BENTOR DIY, SPTI, SBII, KASBI, , PPR AJI,  Yogya,  Forum LSM DIY, FPBI, ICM,  LBH Yogya, PSB, PKBI, Perempuan Mahardika, RTND, SP Kinasih, Samin, SAPDA, YASANTI, LSM Kembang, KPO PRP, PPI, BEM KM UGM, PBHI Yogya, SEKBER, SMI, FMPR, KBM UJB, AIMI, GARUDA Selatan, BEM IST AKPRIND, HMI MPO, LMND DIY, PLUSH, RHETOR, Cakrawala, Pembebasan, Sosial Movemant Institute, DEMA Justicia UGM, Mitra Wacana, Aksara, Sapda, Rifka Annisa.  Aksi yang dilakukan secara longmarch dari parkiran Abu Bakar Ali sampai depan gedung Agung itu berjalan damai.
Berangkat dari jalan Abu bakar ratusan aksi yang tergabung dalam aksi solidaritas perjuangan buruh mulai bergerak menuju titik gedung agung. Ratusan massa yang tergabung dalam aliansi tersebut ternyata mampu membuat kemacetan sepanjang jalan Malioboro. Teriakan- teriakan Orator diatas mobil bak terbuka memantabkan langkah aksi massa. Dua orang korlap saling bergantian memberikan instruksi kepada barisan massa. Sesampainya di depan gedung DPRD aksi berhenti dan mencoba memasuki gedung, namun akses menuju kedalam ternyata telah tertutup. Pintu gerbang tertutup rapat bergembok baja, bertali rantai besi serta berlapiskan pagar berseragam tersebut menghambat aksi untuk memasuki kantor DPRD DIY. Harapan aksi massa untuk bertemu dan berdialog dengan Pemkot Jogja harus terhadang.
Di barisan massa paling depan nampak seorang demonstran mengenakan kaos kusut sedang meluapkan kekesalan di depan penjaga gerbang berseragam. “Koe iki ngopo ngadang-ngadangi, iki wong cilik pengen ketemu karo wali kota (kamu ini ngapain menghadang-hadang, ini kita rakyat kecil mau ketemu walikota),” celetuknya menunjukan muka merah kemarahan. Ia bahkan sangat kecewa dengan pemerintahan Yogyakarta yang di anggap semena-semana karena tak memihak kepada rakyat kecil. “Satpol PP gak due pri kemanusiaan wong cilik di gusuri gon gawe golek pangane (Satpol PP tak punya peri kemanusiaan, rakyat kecil digusur tempat mencari nafkahnya),” tambahnya sambil mengacungkan jari tengah ke muka petugas yang berjaga. Cibiran serta teriakan dari massa lain menaikan tensi demonstrasi. Saling pandang antara demonstran dan polisi menjadi pemandangan bagi siapapun yang melewati jalanan Malioboro.
Perdebatan tersebut sempat mendapat perhatian dari aksi massa yang lain. Khawatir memicu gesekan antar polisi dan aksi mereka mencoba mengkondisikan seorang bapak-bapak berumur 40 tahunan tersebut.  Aksi jalan damai meneriakan aspirasi-aspirasi buruh itupun dilanjutkan atas satu intstruksi. Menjadi wajar bila ada yang pro-kontra menanggapi aksi damai tersebut. Bagi sebagian pedagang sekitaran Malioboro beranggapan aktifitas tersebut mengganggu perekonomian warga. Bagi yang lain bisa memaklumi toh ini terjadi setahun sekali dan memperjuangkan hak wong cilik.      
Ya, yang menjadi permasalahn bukan hanya perekonomian warga Malioboro dan sekitarnya. Yang lebih urgen daripada aksi tersebut ialah perekonomian masyarakat Indonesia kedepan, terutama buruh. Itulah alasan mendasar sebenarnya kenapa hari buruh ini perlu diperingati. Selain peringatan akan perjuangan juga sebagai desakan kepada pemerintah dan perusahaan untuk memberikan hak hak kaum buruh terutama jaminan sosial kepada buruh. 
Sempat melakukan shalat jum’at berjamaah dengan diisi khotbah perlawanan, para demonstran kemudian membacakan maklumat dan tuntutan-tuntutan meliputi.

1. Tolak kenaikan BBM dan Turunkan harga Bahan pangan
2.  Upah layak bagi pekerja
3.  Hapus sistem kerja Out courcing dan kotrak
4.  Terbitkan peraturan daerah yang melindungi Bentor
5.  Hentikan razia Bentor dan libatkan bentor dalam revitalisasi kawasan malioboro
6.  Sahkan UU Perlindungan PRT & Ratifikasi Konvensi ILO NO. 189 Kerja Layak PRT
7. Perlindungan terhadap Pekerja Rumahan & Ratifikasi Konvensi ILO  No. 177 dan rekomendasinya No. 189 Tahun 1996
8. Pemerintah mengakui Buruh Gendong sebagai Pekerja dan menerbitkan kebijakan daerah terkait kerja layak dan akses terhadap sumber daya ekonomi bagi Buruh Gendong, termasuk upah layak.
9.  Pemerintah, pengguna jasa dan perusahaan memberikan Jaminan social/BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan, serta Jaminan atas K3 bagi rakyat Pekerja formal dan Informal
10. Pemerintah menjamin hak atas akses informasi dan anggaran bagi rakyat Pekerja formal dan informal
11. Pemerintah dapat menjamin pengguna jasa&perusahaan untuk memberikan Kebebasan Berorganisasi dan Berserikat bagi Pekerja formal dan informal
12. Menolak PHK dan Pekerjakan kembali ketua serikat pekerja di PT. SGI (Godean Glove), Sdr. Candra Setiawan dan departemen Advokasi serikat pekerja,Sdr. Aji.
13. Laksanakan putusan inkracht kepada seluruh pekerja PT Jogja Tugu Trans dan halte Trans Jogja
14. Berikan status tetap, hak-hak normatif pekerja PT JTT,
15.  Kawal Jaminan Sosial bagi Jurnalis dan Tuntut Upah Layak Pekerja Media.
16.  Tolak Penggusuran hak tanah rakyat (petani dan PKL)
17.  Tolak  Kriminalisasi petani Kulonprogo yang menolak pembagunan bandra dan pasir besi
18. TOLAK KAPITALISASI PENDIDIKAN; cabut UN, berikan kesejahteraan guru honorer, cabut permendikbud
19.   Tolak Kasasi Ervani (istri buruh) mbah Harso (petani gunung Kidul)
20.   Menolak kekerasan atas nama agama
21.   Tahan seluruh Tersangka Korupsi di DIY dan nasional
22.   Tuntaskan Kasus kasus kekerasan yang macet di DIY
23.   UU KEISITIMEWAAN tidak mensejahterakan rakyat
 Reporter dan Fotografer : Eko Citro