Mahasiswa Terus Kawal UMK Rendah

situasi aksi massa di pertigaan UIN Sunan Kalijaga

lpmrhetor.com, Yogya – Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Yogyakarta (FMY) melakukan aksi mengawal rendahnya Upah Minimum Kota (UMK) Yogyakarta di pertigaan UIN Sunan Kalijaga, Senin (13/3). Nilai UMK yang hanya sebesar Rp. 1,5 juta tersebut dinilai sangat tidak manusiawi, karena tidak sesuai dengan kebutuhan hidup buruh yang terus mengalami lonjakan.

Melalui Koordinator Lapangannya, Adit, FMY mengatakan bahwa kebijakan penetapan UMK tersebut dilakukan Gubernur DIY dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 78 tahun 2015.  Menurutnya, kebijakan tersebut hanya akan memotong ruang bagi buruh untuk dapat menyesuaikan nilai UMK-nya sendiri.

“Kebijakan ini memotong ruang buruh untuk menetapkan UMK-nya sendiri, karena sebelum PP 78 ini dijalankan, kebijakan tentang upah itu mangacu pada survei KHL (kebutuhan hidup layak) buruh. Namun, setelah kebijakan ini berjalan, buruh tidak mempunyai kesempatan untuk menentukan UMK-nya sendiri,”  katanya.

Selain itu, FMY juga mengecam tindakan korupsi pengadaan KTP Elektronik yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp. 2,7 trilyun. Dalam press release-nya, FMY mengatakan bahwa jumlah kerugian negara tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup 150 ribu orang buruh di Yogyakarta selama setahun.

“Uang sebanyak itu bisa menghidupi 150 ribu buruh DIY selama satu tahun atau Rp. 1,8 juta untuk setiap buruh per bulan,” seperti apa yang tertulis dalam press release tersebut.[]

 

Reporter: Nadia Nur Hasanah

Editor : Fahri Hilmi