Mahasiswa Punya Urusan Kemanusiaan di Area Pembangunan NYIA

Sejumlah relawan solidaritas sedang duduk santai di halaman rumah seorang warga dan dijaga polisi (4/12/2017). Dok. Rhetor/Fajril.

Keberadaan mahasiswa di lokasi penggusuran adalah untuk membantu warga bertahan hidup.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Jumat (8/12/2017). Sebuah ekskavator milik PT. Pembangunan Perumahan (PP) yang dikomandoi oleh PT. Angkasa Pura 1 (AP 1) merangsek masuk ke halaman belakang rumah milik Hermanto, salah satu warga Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PPWP-KP) di Kampung Kragon II, RT 19, RW 8, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo pada Selasa pagi (5/12/2017).

Ekskavator tersebut merusak sejumlah pohon besar milik keluarga Hermanto yang berada tepat di belakang kediamannya. Pengerusakan itu tentu saja mengundang warga dan beberapa relawan solidaritas untuk mengadang.

“Tiba-tiba ada backhoe [ekskavator] masuk ke belakang rumah saya. Ada pohon-pohon mau dirobohkan. Waktu itu saya bilang ‘Ini milik saya, tanah saya,’ tapi tetap saja mereka merusak,” kata Fajar, adik Hermanto, yang juga tinggal bersama Hermanto kepada lpmrhetor.com pada Rabu (6/12/2017).

Fajar beserta warga dan beberapa relawan solidaritas mengadang ekskavator tersebut untuk mempertahankan pohon milik keluarga Hermanto. Namun nahas, ratusan tim gabungan polisi, TNI, dan Satpol PP yang mengaku mengamankan proses penggusuran justru memukuli warga dan beberapa relawan solidaritas.

Dibantu aparat, ekskavator milik PP dan AP 1 melanggeng bebas merusak pepohonan dan beberapa bangunan di sekitar kediaman Hermanto. Sejumlah pohon jati, mahoni, dan pisang hancur berantakan.

Sedangkan, Fajar terluka dan 12 relawan solidaritas ditangkap. Hermanto bahkan mengalami pendarahan di pelipisnya karena benturan benda keras.

Dianggap provokasi dan dituding tidak punya urusan

Menanggapi kejadian tersebut, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang juga Gubernur DIY justru menganggap warga tidak lagi mempunyai hak milik atas tanah dan bangunan yang diserang ekskavator.

Sultan bahkan mengatakan, bahwa relawan solidaritas yang mayoritas terdiri dari mahasiswa tidak punya urusan apa-apa di sana.

“Urusannya opo mahasiswa? Wong itu [rumah yang dirusak] sudah dibayar [ganti rugi], sudah kosong. Dihancurin kan boleh,” kata Sultan seperti dilansir dari Detik.

Selain itu, Wakil Kapolres Kulonprogo, Kompol Dedi Suryadarma, mengatakan bahwa keberadaan mahasiswa di lokasi penggusuran adalah untuk melakukan provokasi terhadap warga agar menolak penggusuran.

“Kami sinyalir mereka (mahasiswa-red) memprovokasi warga agar bersikukuh mempertahankan lahannya,” katanya di hadapan awak media.

Bersolidaritas untuk kemanusiaan

Apa yang dikatakan Sri Sultan dan Dedi dinilai tidak tepat. Mahasiswa yang berada di sana sama sekali tidak melakukan provokasi, atau malah dituding tidak berurusan.

Keberadaan mahasiswa di area penggusuran adalah bentuk solidaritas dan aksi kemanusiaan kepada warga korban penggusuran. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Heronimus Heron, salah satu relawan solidaritas yang tergabung dalam Aliansi Tolak Bandara.

“Mahasiswa yang berada di lokasi rencana bandara adalah mahasiswa yang bersolidaritas mendukung perjuangan warga PWPP yang tidak mau tanahnya dijual untuk proyek bandara,” kata Heron (7/12).

Heron juga mengkonfirmasi, bahwa relawan solidaritas dan mahasiswa hanya melakukan kegiatan seperti bersih-bersih, kerja bakti, hingga menjadi teman belajar anak-anak warga. Keberadaan mahasiswa hanya membantu warga bertahan hidup.

“Juga termasuk menemani anak-anak belajar dan menjadi teman ngobrol warga,” imbuh Heron.

Dikonfirmasi di lain tempat, Yunarto, salah satu warga PWPP-KP, menerangkan, bahwa penolakan warga terhadap penggusuran adalah murni berasal dari keinginan warga sendiri, bukan akibat diprovokasi mahasiswa.

“Dari awal ya, kami tidak mau melepaskan [lahan kami], dan gak mau ada bandara di sini. Semua yang ada kaitannya dengan Angkasa Pura (AP 1) kami tolak. Apapun itu,” katanya (5/12/2017).

Pernyataan Yunarto ditimpali oleh Suparjiman, tetangganya yang juga warga PWPP-KP. “Sudah nyaman, sudah tenteram, sudah makmur di sini. Sawah punya, kebun punya. Kalau cari makan mudah,” kata lelaki paruh baya itu.

Saat berita ini ditulis, puluhan mahasiswa yang bersolidaritas sedang melakukan kerja bakti bersama warga di halaman depan Masjid Al-Hidayah. Kerja bakti tersebut dilakukan untuk membersihkan halaman masjid dan memperbaiki akses jalan masjid yang sempat dirusak eskavator sehari sebelumnya.[]

 

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Fiqih Rahmawati