Mahasiswa Baru ‘Mondok’, DEMA Siap Terima Keluhan

Surat Keputusan Rektor terkait program pesantren bagi mahasiswa baru 2018/2019. (Dok. Rhetor/Itsna)

lpmrhetor.com, UIN – Rabu (18/7), Menanggapi turunnya Surat Keputusan Rektor bernomor B-3810/Un.02/R/PP.00/07/2018 tentang kewajiban mengikuti program pesantren untuk mahasiswa baru, Romli Mualim, Presiden Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam wawancaranya menyatakan siap untuk menjadi penyambung lidah mahasiswa.

“DEMA akan siap untuk memfasilitasi atau pun menyambungkan keberatan mahasiswa-mahasiswa yang mempunyai kendala. Nanti kita akan cari solusi yang terbaik, bagaimana menyikapi itu,” ucap Romli saat ditemui di warung kopi oleh lpmrhetor.com.

Program pesantren tersebut lantas menjadi perbincangan hangat, terutama di beberapa grup Whatsapp dedek-dedek mahasiswa baru (maba). Mereka mengaku risau dan galau dengan adanya program wajib ‘mondok’ yang diadakan UIN Sunan Kalijaga di tahun akademik 2018/2019. Salah satu yang menjadi kegelisahan mahasiswa baru tersebut adalah masalah finansial.

Seperti yang dikeluhkan oleh Luluk Anisa Muafiah yang merasa keberatan karena sudah membayar uang kuliah, masih ditambah dengan membayar uang pondok pesantren.

“Semisal kita bener-bener nggak mampu ada keringanan nggak gitu. Misal segi uang pembayaran pondok,” ujarnya di grup Whatsapp Maba Saintek UIN Suka 2018.

Kegelisahan serupa juga banyak dipertanyakan oleh maba di grup-grup lain, “Pengajuan keberatan boleh nggak, seumpama orangtua nggak sanggup membiayai pondok?” tanyanya.

Berbagai ketidaksetujuan dan keluhan pun timbul dari berbagai kalangan mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga, padahal menurut Romli program wajib pesantren tersebut mempunyai tujuan yang baik, yakni untuk mencetak siswa, murid, santri yang progresif, kompetitif dan juga mampu berdaya saing.

“Sekarang pesantren itu pasti mencetak siswa-siswa, murid, santri yang progresif, kompetitif, dan juga mampu berdaya saing,” ujarnya.

Selain itu Romli juga menegaskan bahwa jika ada mahasiswa baru yang merasa keberatan dan kurang mampu dalam perekonomian dapat langsung ngobrol dengan DEMA selaku penyambung lidah dalam memperjuangkan hak-hak kemahasiswaan.

“Orang-orang yang kurang mampu secara finansial, nanti maba itu bisa dikumpulkan ketemu dengan DEMA. Secara keseluruhan kita akan mencari solusi yang terbaik. Bagaimana menyikapi mahasiswa ataupun mahasiswi yang kesulitan dalam ekonomi. Ketika harus membayar lagi program pesantren kampus. DEMA siap menyambungkan keluhan keluhan itu kepada Rektor,” ungkapnya.

Mengapa hanya 17 jurusan yang mondok?

Surat keputusan wajib ‘mondok’ yang dikeluarkan oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi pada 5 Juli lalu tersebut rasa-rasanya memang terkesan diskriminatif. Hal ini terlihat dari 17 jurusan yang diwajibkan mengikuti program tersebut. Mengapa tidak semua jurusan? Mengapa hanya lulusan SMK dan SMA? Mengapa hanya mahasiswa dari jalur SNMPTN, SBMPTN, dan Mandiri saja?

Hal tersebut justru menjadi keluhan mahasiswa baru yang merasa keberatan dan terdiskriminasi. Hal itu diungkapkan oleh Dhini Sintia Putri, salah satu mahasiswa baru yang lolos dari jalur SNMPTN “[Program Pesantren-Red] Sangat memberatkan dan sangat pilih-pilih menurutku,” tegasnya melalui pesan Whatsapp kepada Isla, reporter Arena, Kamis (12/07)

Rupa-rupanya Program Pesantren yang terkesan parsial tersebut dikarenakan fasilitas kampus yang masih kurang, sehingga Program Pesantren hanya diperuntukkan bagi program studi umum.

“Kenapa hanya 17? Kok tidak semuanya? Karena faslitas Ma’had Al-Jami’ah itu masih belum memungkinkan. Jadi hanya dipilih sebagian jurusan yang basic-nya itu umum dan itu hanya jalur sbm, snm, dan mandiri. Padahal di UIN itu ada 5 jalur  jurusan,” jelas Romli

“Karena jalur ini inilah yang basic nya adalah basic umum. Sehingga penting dan harus bagi mahasiswa baru untuk tinggal di pesantren, hanya 2 semester. Bagi saya itu bagus dan saya sangat mendukung. Ini sebagai pengalaman dan pemahaman Islam yang sangat baik.” ungkapnya.

18 pondok pesantren yang sudah di tetapkan UIN Suka

“Temen-temen ini beneran kita disuruh mondok? Sapa yang udah cari pondokan?” tanya Octia Putri, salah satu maba prodi Ilmu Perpustakaan dalam grup Whatsapp.

“Emang cari pondokan sendiri?” jawab Zurriyatun Thayyibah dalam grup yang sama.

Perihal prosedur Program Pesantren tersebut, ternyata maba akan di tempatkan di 18 pondok pesantren yang sudah di tetapkan oleh UIN Suka. Hal itu dijelaskan pula oleh Romli bahwa   mekanisme pembagian pondok itu akan diatur oleh bagian kemahasiswaan.

“Yang jelas nanti akan ada 18 pondok yang nanti itu mahasiswa akan di bagi-bagi, prosesnya saya kurang paham tapi nanti yang mengatur itu bidang kemahasiswaan. Tentang mekanisme pembagian pondok-pondok itu,” tutup Romli. []

 

Reporter: Itsna Rahma N.

Editor: Fiqih Rahmawati