Layangkan SK DO, Kajur IKS di Demo

Solkhan, salah satu massa aksi, menerima semprotan tabung pemadam kebakaran oleh pihak keamanan kampus UIN.

lpmrhetor.com, UIN – Massa yang menamakan diri sebagai Keluarga Besar Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (KBMU) melakukan aksi pada Rabu (16/3) di gedung Rektorat, menuntut pencabutan Surat Keputusan (SK) Drop Out (DO) yang diberikan Arif Maftuhin, Kepala Jurusan (Kajur) Ilmu Kesejahteraan Sosial (IKS) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, kepada mahasiswa IKS angkatan 2013, Yeni Novita Sari. Pemberian SK-DO ini dinilai tidak prosedural karena tidak melalui tahap-tahap sebagaimana ditetapkan dalam pedoman akademik.Surat peringatan bahkan telepon pun tidak pernah dilayangkan. Intinya, saya tahu itu bukan melalui surat, tapi saya tahu dari kajur dan kajur lalu menyatakan bahwa saya sudah out dari sini,” kata Yeni.

Yeni dilaporkan sakit sejak semester satu. Hal itu dibuktikan dengan Rekam Medis yang dikeluarkan oleh rumah sakit tempat Yeni dirawat.

Beberapa hari sebelumnya sudah pernah dilakukan audiensi antara Yeni dengan Arif, akan tetapi segala bentuk dialog dan audiensi tidak pernah sampai pada titik temu. Kebuntuan ini yang memaksa mahasiswa melakukan aksi solidaritas di gedung rektorat. Aksi ini terpaksa dilakukan sebagai jalan terakhir demi tercapainya kesepakatan.

Namun, aksi yang semula direncanakan damai justru ternodai dengan tindak represif pihak keamanan kampus. Saat massa aksi memaksa masuk gedung rektorat pihak keamanan dibantu pegawai justru memukuli dan mengusir massa aksi. Tindakan represif ini mengkibatkan mahasiswa banyak mengalami luka-luka. Salah satunya Anam, salah seorang mahasiswa Fakultas Adab, yang dikeroyok oleh beberapa pegawai dan keamanan rektorat.

“Kita juga akan lapor karena pihak birokrasi melakukan tindakan represif,” kata Solkhan, Koordinator Umum Aksi.

Salah satu pegawai bahkan menyatakan bahwa perlawanan ini terpaksa mereka lakukan karena mereka merasa terganggu oleh aksi demonstrasi yang sering dilakukan mahasiswa. Saat ditanyakan siapa yang menginstruksikan perlawanan ini, pegawai tersebut menjawab bahwa perlawanan ini hanyalah inisiatif pegawai saja.

“Kita ya kerja disini mas, kan nggaktahu apa-apa. Tiba-tiba kok mereka marah-marah tanyain pimpinan dimana, kita kan nggak paham,” tutur seorang pegawai yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Bentrok mereda setelah Dekan, Nurjanah, dan Wakil Dekan III, Alimatul Qitbiyah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi menemui massa aksi. Nurjannah dan Alim menjanjikan bahwa pada hari Selasa depan (22/03) akan dilakukan pertemuan tindak lanjut antara mahasiswa dan birokrasi.

“Masalahnya ini kan sistem mas, apalagi sistem dari Dikti yang memang rumit. Kita gak bisa apa-apa,” kata Nurjannah di hadapan massa aksi.

Sementara itu massa aksi mengatakan akan bergerak kembali jika memang hari Selasa nanti masih belum menemui kesepakatan. Solkhan menegaskan tidak akan berhenti dan akan terus mengawal kasus ini.

“Kita tidak akan berhenti sampai target ini tercapai. Karena kita memang sudah melakukan negosiasi sejak Januari lalu. Bahkan surat permohonan pun sudah kami layangkan, namun tidak ditanggapi,” kata Solkhan.

Hingga berita ini diturunkan, KBMU masih terus melakukan pembacaan-pembacaan dan akan melakukan aksi lanjutan.[]

 

Reporter Magang: Fahri Hilmi

Editor: Eko S.