Kuliah Itu Pilihan, (Sebuah Catatan Kaki)

ilustrasi; kuliah itu pilihan

 

Suatu malam, ada candaan menarik sewaktu saya berdiskusi dengan teman jurusan saya di sebuah warung kopi. Di tengah obrolan kami seputar persiapan menjelang masuk kuliah di semester genap ini, saya iseng bertanya “Kamu ngambil matkul pilihan apa, Bro?” tanya saya.

“Matkul pilihan?” teman saya malah balik bertanya sambil mengernyitkan dahi. “Lha iya, mulai semester ini kan ada matkul pilihannya, Bro,” kata saya meyakinkan pertanyaan tadi di awal. Agak lama untuk mendapatkan jawaban pertanyaan itu, sampai saya dikagetkan oleh nyala api korek api teman saya yang terlalu besar ukuran gasnya.

Dia menjawab dengan santai, “Bukannya semua mata kuliah itu pilihan, ya?” pertanyaan yang dibalas pertanyaan itu malah membuat saya tambah bingung. Saya coba sruput kopi saya yang pahit, masih juga kebingungan.

Setelah cukup lama mencerna jawaban itu, saya mulai berpikir ada benarnya juga jawaban teman saya ini. Semua mata kuliah sejatinya memanglah pilihan. Pilihan kita, untuk mengikutinya ataupun tidak. Pilihan kita untuk masuk demi absen 100 %, atau meninggalkannya untuk kegiatan yang menurut kita mungkin jauh lebih menarik. Pilihan untuk kita patuh kepada dosen dengan sendiko dawuh mengerjakan segunung tugasnya, atau malah mengkritik argumen sang dosen habis-habisan di kelas dengan konsekuensi nilai kita akan jeblok tentunya. Bahkan jika dipikir lebih luas lagi, masuknya kita ke jenjang pendidikan tingkat tinggi merupakan suatu pilihan bagi kita. Tegasnya, kuliah itu pilihan.

Pernah satu waktu, salah satu dari teman saya bilang, “Tapi kan, kita kuliah karena tuntutan,” ya, memang itu adalah tuntutan. Namun, nampaknya tuntutan itu tidak berasal dari dalam diri kita sendiri, melainkan faktor eksternal yang kemudian membuat kita ‘terpaksa’ kuliah. Sadar atau pun tidak, masyarakat kita hari ini akan memandang rendah orang yang hanya lulusan SLTA, dan derajat kita akan tinggi di mata masyarakat lantaran punya latar belakang pendidikan sarjana.

Hal-hal yang tidak timbul atas kemauan diri sendiri biasanya akan berat untuk dijalankan oleh setiap manusia. Alam bawah sadar seorang manusia sejatinya menolak akan hal-hal yang dilakukan bukan berasal dari kemauannya sendiri. Karena sejatinya manusia akan melakukan apa yang Ia kehendaki (Red; Bekerja) sesuai dengan keinginannya sendiri. Hal itu demi mengukuhkan eksistensinya sebagai manusia di mata manusia yang lainnya. Ini menurut pandangan Karl Marx lewat teori filsafat kerjanya.[i]

Dalam pandangan Marx, kerja bagi manusia adalah suatu keniscayaan. Tanpa bekerja, manusia tak akan bisa bertahan hidup. Tetapi, kerja yang dimaksud Marx bukanlah kerja layaknya yang terjadi pada kita hari ini. Melamar pekerjaan pada suatu lembaga/perusahaan milik orang lain, dan kita bekerja untuk si pemilik lembaga/perusahaan itu.

Di situ sejatinya ada penolakan dalam diri kita. Tetapi itu juga bukanlah merupakan murni kesalahan kita. Keadaan atau realita di masyarakatlah yang membuat kita seperti itu. Untuk dapat bertahan hidup di tengah masyarakat globalisasi hari ini, tentunya kita membutuhkan uang, dan uang itu hanya kita dapatkan jika kita bekerja, apapun pekerjaannya. Terlepas dari batas-batas hukum agama terkait halal dan haram.

Namun Marx menolak pola seperti itu. Bagi Marx, manusia sejatinya bekerja untuk menciptakan suatu karya bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi untuk mengukuhan eksistensi dirinya sebagai manusia. Hal ini yang kemudian membedakan antara manusia dan hewan. Misalnya, hewan diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk dan susunan organ yang berbeda-beda dan untuk ditempatkan di tempat yang berbeda-beda pula.

Beruang kutub bisa saja kuat hidup di daerah kutub, karena dianugerahi bulu-bulu yang tebal, demi mencegah cuaca yang sangat dingin di dataran kutub. Tetapi, belum tentu si beruang itu akan mampu hidup di dataran tandus macam gurun sahara dengan alam yang hanya berisikan gunungan pasir.

Sementara manusia diciptakan oleh Tuhan dengan bentuk tubuh yang sama. Tidak ada keistimewaan atau perbedaan tertentu pada organ manusia, seperti mempunyai bulu yang tebal, paruh, tanduk ataupun insang. Tapi dengan struktur tubuh yang sama, manusia dengan kerjanya mampu untuk bertahan hidup dibelahan bumi manapun. Sejarah membuktikan bahwa manusia telah menciptakan berbagai peradaban di hampir seluruh belahan bumi.

Hewan akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri dari keadaan alam, sementara manusia tidak. Manusia haruslah lebih dulu mengubah alam agar bisa memenuhi kebutuhannya. Pekerjaanlah yang membedakan antara manusia dan hewan. Seorang manusia yang tinggal di dataran kutub akan mampu bertahan dari cuaca dingin dengan menciptakan pakaian tebal dari kulit hewan dan rumah kutubnya. Manusia di dataran gurun pun demikian, dia akan membuat rumah dari tanah liat untuk berlindung dari gansanya sengatan panas matahari.

Lebih dari itu, pekerjaan bagi manusia adalah sebuah bentuk dari perealisasian dirinya sendiri. Seorang pelukis misalnya, Ia belum dinamakan sebagai pelukis jika hanya ada ide yang masih berkutat dikepalanya. Ia akan dinamakan sebagai sebagai pelukis jika ide dalam kepalanya itu Ia realisasikan Ia kedalam secarik kanvas yang Ia beri goretan berupa gambar dan macam-macam warna. Seorang jurnalis akan dikatakan bahwa dia adalah jurnalis kalau dia melakukan liputan dan punya produk berupa tulisan jurnalistik. Tidak hanya sibuk dengan konsep-konsep yang ada di pikirannya, dan banyak pembacaan tanpa hasil.

Selain itu juga, pekerjaan bagi Marx merupakan suatu tanda bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia tak akan bisa hidup tanpa manusia yang lainnya. Sebagai makhluk sosial, manusia butuh adanya sebuah pengakuan (eksistensi). Kemampuan yang dimiliki oleh seseorang butuh pengakuan oleh manusia yang lainnya. Tanpa pengakuan, manusia tidak dapat bahagia.

Karya seorang pelukis di atas tadi, akan mampu membuat orang lain bisa melihat karyanya. Ketika orang lain kagum akan karya si-pelukis, si pelukis pun akan senang. Di situlah si pelukis merasa diakui sebagai bagian dari masyarakat sebagai seorang pelukis.

Hal ini berlaku pada semua bidang. Manusia tidak mampu bekerja sendiri untuk dapat hidup. Makanan, pakaian, tempat tinggal, pendidikan, dan lain sebagainya. Maka setiap bidang pekerjaan manusia akan saling melengkapi satu sama lain bagi manusia lainnya. Itulah sedikit-banyaknya paparan pekerjaan menurut pandangan Marx.

Lalu, mengapa hari ini umat manusia hanya bekerja untuk mendapatkan uang semata? Pekerjaan yang dilakukan semata-mata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari saja, tanpa sadar apa yang dikerjakannya bukan dari keinginan hatinya yang paling dalam. Atau bahkan ada yang rela banyak mengorbankan waktunya untuk bekerja untuk orang lain, dan mendapatkan upah tidak setimpal dari hasil bekerjanya ketimbang keuntungan yang diperoleh si pemilik pekerjaan. Pekerjaannya justru malah memisahkannya dari masyarakatnya. Posisi manusia dalam struktur masyarakat terkesan abstrak.

Nampaknya kita tidak bisa melupakan sejarah begitu saja. Revolusi industri yang terjadi di Inggris pada abad ke-18 nyatanya telah menentukan pola kehidupan masyarakat dunia sampai saat ini. Sejak saat itu proses produksi masyarakat dipusatkan kedalam pabrik-pabrik yang didalamnya memiliki mesin-mesin uap, yang akan meningkatkan jumlah produksi lebih banyak. Masyarakat pun menjelma menjadi masyarakat industri yang terbagi dalam kelas-kelas. Hanya orang-orang yang mempunyai modallah (Kelas Borjuis) yang bisa menguasai proses-proses produksi. Mereka mampu membeli alat produksi dan menguasainya. Sementara, Mereka yang tak punya modal dan alat produksi (Proletar), terpaksa harus bekerja kepada para pemilik modal demi upah untuk bertahan hidup. Ini yang kemudian mengasingkan manusia dari hakikat pekerjaannya.[ii]

Hari ini, dalam masyarakat industri global dewasa ini, kita tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa, segala sesuatu akan melulu diukur dengan materi. Materi berupa uang yang bernominal, maupun materi dengan bentuk lainnya. Kata mutiara “uang bukanlah segalanya” dan “bahagia itu sederhana” hari ini, bagi saya hanyalah seonggok quote dari kita untuk menghibur diri karena sampai saat ini mungkin kita belum merasa sejahtera pada kebutuhan paling mendasar kita (Red; Ekonomi). Hal itu disebabkan oleh pola produksi masyarakat yang tidak lagi bergantung antar sesama manusia satu sama-lain, tetapi bergantung kepada pasar bebas.

Kembali lagi ke topik awal. Jika pandangan filsafat kerja Marx kita kontekstualisasikan dengan keadaan kita sebagai mahasiswa, maka jelaslah pekerjaan sebagai mahasiswa bukanlah kehendak atas kesadaran dari kita sendiri. Sebagai mahasiswa kita merupakan kelas yang tidak mempunyai alat produksi  untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar kita. Maka, kita berusaha mencari cara untuk memenuhi itu. Karena kita tidak mempunyai alat produksi untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari, maka kita harus bekerja guna mendapatkan uang. Dan untuk mendapatkan pekerjaan, tentunya diperlukan skill untuk kita diterima di suatu pekerjaan.

Konstruk dan logika seperti itulah yang akhirnya memaksa untuk memilih. Seseorang akan kuliah maka Ia akan dapat posisi hidup dan pekerjaan layak, atau tidak kuliah dengan konsekuensi beban berat. Sulit mendapatkan pekerjaan dan rela dipinggirkan dari struktur masyarakat karena dipandang rendah.

Dari paparan diatas, setidaknya kita sadar akan keadaan masyarakat kita hari ini. Di dalamnya, kita akan selalu dihadapkan sebuah pilihan yang berasal dari luar kemauan kita. Sama sekali bukanlah pilihan atas dasar keinginan kita sebagai manusia yang merdeka.

Kuliah itu pilihan. Ya. Untuk apa dan untuk siapa?

 

[i] Baca : Sejarah Marxisme, (Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno) Hlm. 16-21

[ii] Baca : Sejarah Marxisme, (Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno) Hlm. 21-29