Korupsi dan Sosok Ibu

Oleh Fikry Fachrurrizal*

ilustrasi (punchenk.com)

Sudah tak ada yang meragukan lagi peran dan posisi ibu dalam kehidupan seseorang. Agama apa pun itu, bangsa mana pun itu, semua memiliki penghormatan tinggi terhadapnya. Tak kan pernah habis pula kata-kata mutiara yang menyanjung dan memuliakan sosok ibu. Tanpa menggugat kenyataan-kenyataan tersebut, pertanyaannya adalah: penghormatan seperti apa yang diberikan bagi seorang ibu, jika ia seorang kriminal?. Apakah ibu seperti demikian yang dimaksud?. Sekali lagi pertanyaan ini tidak akan mengeser kehormatan sosok ibu.
Tanpa mengurangi hormat kepada sosok ayah dan tanpa pula mengurangi perannya, penulis awali tulisan ini. Seorang Nabi Muhammad SAW, tokoh nomor satu paling berpengaruh versi Michael H.Hart, sampai tiga kali menegaskan kalimat ibu sebagai jawaban atas pertanyaan sahabat tentang siapa yang harus dihormati. Lalu baru setelah itu ayah.
Seiring meningkatnya kehadiran perempuan di panggung kekuasaan negeri ini, beberapa tergoda oleh apa yang ada di dalamnya. Meningkat pula kehadiran perempuan menjadi pesakitan politik: koruptor, nepotis, manipulator. Yang perlu dicatat, tidak sedikit di antara mereka yang telah menyandang peran sebagai seorang ibu. Tidak sedikit pula barangkali, sedikit banyak hasil dari apa yang mereka lakukan tiada lain untuk membesarkan sang anak. Diakui maupun tidak. Pelajaran dapat kita ambil ialah sebanyak apapun kita (melalui media juga tentunya) menghujat mereka sebagai maling negara, satu hal: kodrat mereka yang tulus terhadap buah hatinya tidak pernah hilang.
Sejarah memang terus bergulir. Jika dulu kita hanya mengenal laki-laki, melalui figur sebagai ayah, sebagai pesakitan politik macam pemimpin yang korup. Hari ini, perempuan melalui figurnya sebagai ibu ikut ambil bagian. Jika sejarah berbicara bahwa peningkatan eksistensi perempuan di panggung kekuasaan adalah buah dari ide emansipasi wanita. Penulis tidak setuju jika menjadikan alasan ini sebagai alasan yang sama untuk menjelaskan fenomena turutnya ibu-ibu ke dalam lembah hitam kekuasaan. Fenomena demikian murni masalah individu. Tidak menjamin ide yang baik akan berbuah kebaikan, jika dilakukan oleh orang yang salah dan motivasi yang keliru.
Sebagai orang tua, sosok ibu merupakan teladan. Teladan bagi anak-anaknya, juga bagi muridnya jika ia seorang guru juga. Teladan yang perilakunya akan ditiru. Contoh-contoh positif dalam bermasyarakat seperti dalam etika menghadapi orang lain, mengambil keputusan, menyikapi rezeki sangat diharapkan muncul dari seorang ibu agar menjadi inspirasi bagi anak-anaknya kelak. Sebagai pengawas, sosok ibu tiada lain adalah seorang hakim yang harus selalu menegur anaknya ketika berperilaku tidak baik. Melalui kedua fungsi inilah, benih-benih dan mental-mental korupsi bisa dihilangkan sejak dini. Melalui “program jangka panjang” ini, sosok ibu juga dapat menjadi ujung tombak anti-korupsi. Hebat bukan?. Disinilah salah satu kemuliaan seorang ibu terletak.
Tentu masih banyak ibu yang sanggup menjadi teladan dan pengawas yang baik. Juga bagi yang merasa dan dirasa sebagai ibu yang belum layak menjadi teladan, waktu masih terlalu panjang untuk dijadikan ajang perbaikan diri. Karena terlepas dari itu semua, penulis meyakini sepenuh hati apa yang dikatakan Nabi di atas. Aku cinta kamu, ibu.

*Pemimpin Redaksi LPM RHETOR