Khayalan Pojok Kampus (Bagian 1)

Ilustrasi: deviantart.com

Oleh: Doel*

M UNGKIN bagi laki-laki pada umumnya tak ada yang menarik dari dirimu, walau dilihat dari sudut manapun. Iya, akupun mengamininya kalau caraku melihatmu dengan nafsu, tak ada yang menggairahkan dari dirimu. Tapi aku tak mau disebut naif memang begitulah adanya lelaki, pertama ia akan melihat dari paras wajah terlebih dahulu cantik atau tidak, mancung atau tidak kalau itu sudah nampak, baru mata lelaki akan turun ke bawah dari payudara sampai pinggang lengking dan lengkungnya diukur dengan imajinasinya, dari sini lelaki baru bisa memutuskan layak atau tidaknya seorang perempuan dijadikan tambatan hati padahal itu hanya motif dari lelaki untuk lebih bisa leluasa mewujudkan dorongan hasratnya.

Namun tidak kali ini, mataku seperti melihatmu lebih daripada itu bukan dari menarik tidaknya parasmu, hasratku tidak menunjukankan itu semua. Oh… Apa aku sudah tidak normal sebagai seorang lelaki.

Aku masih ingat tadi pagi kau menghampiriku di sudut kampus, kau ulurkan tanganmu dengan senyuman manis seraya berkata:

“Bagaimana kabarmu pagi ini?” diriku seakan dibuat setengah sadar, nafasku tertahan sejenak kutatap matamu yang sayu itu sungguh memberi ketenangan bagi jiwaku yang selalu merasa sendiri.

“Hei, kok diem, masih pagi jangan melamun,” teguranmu membangunkan lamunanku. Syaraf lidahku terbata kaku, oh, betapa pengecutnya aku hanya di hadapanmu.

“Ba.. baik Sinta.” Sekarang matanya melirik ke arah tanganku.

“Hei, jangan melamun, tanganku kok gak dilepas.” Oh, Tuhan, kenapa tingkahku semakin bodoh.

“Oh, iya maaf.” Sekali lagi ia tersenyum padaku, mungkinkah ia juga merasakan hal yang sama aliran darah yang mengalir kencang, degup jantung tak beraturan.

Selepas kau tersenyum padaku kau duduk dengan teman-temanmu, yang menurutku mereka berbeda dari dirimu Sinta, mereka seperti melihatku sebelah mata hanya karena aku dinilai pemalas, jarang kuliah, sehingga mereka memilih-milih dalam pertemanan, itu suatu hal yang paling kubenci dari mereka padahal aku tahu betul keseharian perempuan macam mereka hanya sibuk membicarakan budaya pop, hanya sibuk mengikuti tren terkini dan dikelas hanya bisa membebek pada dosen demi nilai yang tinggi.

Tapi Sinta sungguh dirimu tidak seperti mereka, budimu sungguh hangat. Penampilanmu juga tak berlebihan, kau terlihat anggun dengan balutan baju berwarna merah muda itu. Kerudungmu, kerudungmu sederhana tak kau lipat macam tren hari ini seperti ular meliliti leher. Tapi aku hanya bisa melihat dari sini dari sudut kampus, jongkok menunggu dosen tiba pertanda jam kelas akan dimulai.

Sesekali kuberharap pandanganmu kau arahkan kemari, walau saat kau menatapku aku tak kuasa menatap balik mata indahmu.

Dari sudut kampus ini ingin aku berdiri dan berteriak sekeras mungkin bahwa ‘Aku mencintaimu, aku ingin kau menyapa di setiap pagiku, aku ingin melihat senyummu disetiap pagiku. Sehingga aku benar-benar merasa semangatku hidup kembali, dan merasa bahwa aku mempunyai teman.’

Tapi mana mungkin diriku yang pengecut ini mampu berucap sejauh itu. Keberanian saja tidak ada, lagi pula siapa aku ini? Hanya mahasiswa yang tidak pernah tahu aturan, sandalan, gondrong, kumal pula. Sedang dia, semuanya sudah tahu dia mahasiswi rajin, cerdas dan orang tuanya punya kedudukan yang diperhitungkan di kampus ini. Tidak terbayang kalau orang sepertinya menerima cinta dariku yang hanya anak dari petani miskin, mungkin nasibnya seperti “Laila Majnun’’ roman karangan Syaikh Nizzami pada masa bani Umayyah, yang kaumnya dibuat malu karena menerima cinta dari Majnun lelaki gila karena cinta yang tak sampai, hingga orang tua Laila memilih mengurung Laila seumur hidupnya demi mempertahankan martabat kaumnya, karena aturan masyakat Arab ketika itu pantang untuk membangun ikatan kekeluargaan dengan kelas sosial yang tidak sebanding alias miskin

Dan dimensi zaman menjawabnya Laila dan Majnun mati sebelum keduanya benar-benar mewujudkan mimpi untuk hidup bersama.

Hah, sudahlah khayalanku terlalu tinggi, terlalu lama aku berkhayal tak terasa dosen sudah datang dan masuk ke ruangan. Sekarang aku berjalan menuju ruang kelas, aku duduk di bangku paling belakang supaya bisa tidur, ya, sudah kebiasaanku tidur di saat jam kelas berlangsung itu karena waktu malamku sering kuhabiskan di warung kopi ketimbang tidur jadi bagiku ruang kelas adalah tempat tidur paling nyaman meski harus tidur dengan posisi duduk.

Namun sepertinya tidak kali ini, waktu tidurku harus kutunda terlebih dahulu, ternyata Sinta tepat duduk didepanku, nampaknya mataku lebih memilih mengikuti kata hati daripada harus terlelap untuk sekarang ini, seakan matakupun ikut merasakan apa yang ada ada dalam dadaku bahwa perempuan yang membelakangiku sekarang adalah orang yang digandrungi hati. Hah! Sekarang aku mengerti mengapa Qais sampai disebut Majnun (gila) atas cintanya terhadap Laila bukan hanya karena Laila perempuan tercantik seantero tanah Arab ketika itu, tapi karena ketulusan hatinya. Kutarik nafasku perlahan, mungkin ini pula kenapa Rumi berkata “Semuanya atas dasar cinta.”

Semoga ia membacanya.

 

*mahasiswa PMI.