Ketika Tuhan Jadi Tukang Kayu

Oleh Sarjoko
Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN SuKa

Beberapa saat yang lalu, Indonesia dihebohkan dengan dikenalnya pemilik nama-nama kontroversial. Nama tersebut cukup nyentrik karena tidak biasa digunakan sebagai nama manusia, mulai Tuhan, Malaikat, hingga Saiton. Karena pemberitaan di media massa dan media sosial begitu kencang, tanggapan dari berbagai kalangan pun terus mengalir.
Beberapa kalangan menilai tidak ada masalah dengan nama tersebut. Toh, pemilik nama-nama nyentrik itu pun sudah lama menyandangnya. Sebagai contoh, Tuhan lahir pada tahun 1973. Sudah hampir setengah abad nama itu melekat pada dirinya. Nama apapun akan menjadi baik jika pemilik namanya baik, sementara nama menjadi buruk jika pemiliknya juga tidak baik. Hal ini sesuai dengan kalimat William Shakespeare yang sangat terkenal, “Apalah arti sebuah nama?”
Namun beberapa kalangan yang lain menilai bahwa nama tidak bisa dilepaskan dari segi etika, baik etika agama maupun etika sosial. Apalagi nama dianggap sebagai doa dan harapan dari orang tua terhadap anaknya. Nama Tuhan misalnya dianggap bertentangan dengan etika agama karena sifat-sifat ketuhanan tidak bisa disamakan dengan sesuatu apapun. Sementara nama Saiton, selain tidak etis secara agama, juga tidak etis secara sosial. Saiton atau setan adalah makhluk Tuhan yang menggoda manusia untuk melakukan hal-hal keburukan. Di masyarakat, setan dikenal sebagai sosok antagonis yang harus dimusuhi. Dalam berbagai doa, seseorang juga dianjurkan membaca ta’awudz, doa memohon perlindungan dari godaan setan yang terkutuk.
Para pemilik nama mengaku dilematis untuk menggantinya dengan nama lain. Sebab nama-nama tersebut merupakan pemberian orang tuanya. Namun di sisi lain, tekanan juga mereka alami di masyarakat karena nama yang digunakan tidak wajar, bahkan dianggap menyalahi etika agama yang berujung pada klaim syirik atau menyekutukan Tuhan, sebuah dosa tak terampuni dalam ajaran agama Islam. Terlebih setelah nama tersebut tenar di media sosial dan menjadi pembicaraan di level nasional. Tuntutan agar mengganti nama pun dikemukakan banyak tokoh, terutama tokoh agama.
Dalam kamus bahasa Indonesia, Tuhan diartikan sebagai sesuatu yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai yang Mahakuasa. Dalam bahasa Arab, Tuhan biasa disebut dengan kata illah atau Allah. Dari segi etika agama memang tidak etis jika Dzat yang Mahaesa dijadikan nama seorang manusia, walau sebagian kalangan menilai nama tidak perlu diartikan. Namun, sekali lagi, ini hanya menyangkut soal etika.
Bagi pemilik nama Tuhan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar pemilik nama tersebut mengganti namanya, atau memberi tambahan agar tidak menyamai sifat-sifat ketuhanan. Misalnya dengan menambahinya dengan kata Hamba, menjadi Hamba Tuhan. Tambahan nama ini membuat masalah pada nama tersebut selesai. Seperti halnya ketika menggunakan kata Allah dalam nama seseorang diimbuhi dengan kata Abdu yang berarti hamba juga.
Sebagai catatan, nama yang baik tidak lantas menjamin seseorang menjadi bersikap baik pula. Para koruptor, teroris dan pelaku kejahatan lainnya banyak yang memiliki nama-nama baik nan indah. Sebaliknya, banyak orang yang memiliki nama kurang baik dan cenderung tidak etis, namun melakukan berbagai kebaikan. Mungkin ini yang membuat para pemilik nama kontroversial bergeming tidak mau mengganti namanya. Apalagi sehari-harinya mereka tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Patut dinantikan apa yang akan dilakukan oleh Tuhan menyikapi gelombang protes yang dilakukan berbagai pihak kepadanya.