Kecam Tragedi Intan, Masyarakat Gelar Aksi Diam

Doc : Rhetor - Massa aksi menutup mulut dengan lakban sembari membawa poster seruan.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Meningkatnya tindak kekerasan yang menodai nilai kemanusiaan dengan mengatasnamakan ideologi, agama, platform politik, serta kepentingan ekonomi tertentu, terus membawa korban yang tidak bersalah. Seperti yang dialami oleh Intan Olivia Marbun, korban pelemparan bom molotov di sebuah gereja di Samarinda, Kalimantan Timur. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh koordinator umum aksi, Heronimus Heron.

Aksi diam yang dilanjutkan dengan prosesi tabur bunga dan penyalaan lilin itu dilaksanakan sejak pukul 15.00 WIB hingga malam hari di perempatan Tugu Pal Putih, Yogyakarta. Rabu (16/11).

Aksi yang dipelopori oleh Koalisi Masyarakat Untuk Udin (K@MU) dan Komite Bersama Reformasi (KBR) tersebut diikuti oleh berbagai kalangan, baik mahasiswa, aktivis ataupun masyarakat luas. Heron mengatakan, aksi ini merupakan suatu bentuk sikap atas ketidakseriusannya pemerintah dalam menangani kasus-kasus kemanusiaan yang terus bermunculan.

“Kami melihat belum tuntasnya kasus Udin dan itu menunjukkan bahwa negara tidak becus dalam menanganinya. Itu menjadi catatan jangan sampai terulang kembali di kasus Intan,” papar Heron.

Heron juga menambahkan, aksi diam tersebut bertujuan untuk mengajak seluruh elemen masyarakat agar dapat turut serta dalam menghormati nilai-nilai kemanusiaan yang sesuai dengan sila kedua Pancasila yakni, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

“Kami berharap masyarakat dapat membangun gerakan bersama, yakni gerakan menghormati kemanusiaan dengan tidak melihatnya sebagai suatu ideologi tertentu, namun tentunya hanya berdasarkan ideologi Pancasila,” kata Heron.

Pada sore hari, puluhan massa aksi berdiri mengelilingi Tugu Pal Putih dan mulut ditutup lakban dengan mengusung foto Intan, Udin, dan berbagai poster yang berisi seruan-seruan untuk kemanusiaan. Kemudian, menginjak malam hari, aksi dilanjutkan dengan prosesi penyalaan seribu lilin dan tabur bunga. Pembacaan doa dari berbagai agama kemudian menjadi penutup aks.[]

 

Reporter Magang : Fiqih Rahmawati

Editor : Fahri Hilmi