Kawula Alit : Babak Baru PKL UIN SuKa

Kawula Alit : Babak Baru PKL UIN SuKaKawula Alit : Babak Baru PKL UIN SuKa
          ” Kami PKL juga ingin mengais rejeki mas, walau hasilnya tak terlalu banyak, tapi komitmen kami yang penting halal,” kata Widiyanto.
 
Widiyanto merupakan salah satu Pedagang Kaki Lima (PKL)  yang saat ini menetap di UIN SuKa. Ia perantau dari purbalingga. Pria berambut tipis bergelombang tersebut jadi PKL di UIN SuKa sejak 2009 silam. Menurut pengakuannya, ia bekerja jadi PKL sebab bujukan kakaknya yang juga PKL. Ia dan kakaknya sama-sama berdagang siomay. yang berbeda adalah, kakak widiyanto  yang bekerja sejak tahun 1997an adalah PKL keliling dan berpindah-pindah, UIN Suka salah satu lokasi persinggahan untuk menjajakan dagangannya. Seperti kebanyakan PKL keliling, sepeda onthel menjadi pengangkut utama pria tersebut.
          Ya, dari waktu-kewaktu, PKL selalu identik dengan pedagang yang berkelompok. Biasanya, mereka menjadikan area-area strategis di kota besar untuk menjajakan dagangannya, walau kadang terlarang ditempati. Jorok, kumuh serta semrawut, kadangkala menjadi label bagi mereka. Sehingga tak heran, jika aparat sering main kejar-kejaran untuk menertibkan, bahkan tak segan menggusurnya.
          Hal itu diakui widiyanto. Menurutnya, dalam kurun tahun 2009 sampai  2012 lalu, ia dan kawan-kawannya sesama PKL sering ditegur, dibentak bahkan sempat kejar-kejaran dengan satpam UIN SuKa. Selain para PKL tak memiliki izin, mereka juga menempati area terlarang, yakni di bundaran bawah pohon yang cukup rindang, depan gedung Multi Purpose. Tempat tersebut memang strategis, sebab selalu ramai dengan lalu lalang mahasiswa yang pulang atau menuju kampus. Termasuk mahasiswa yang suka nongkrong.
          Kondisi demikian direspon para  PKL dengan perasaan was-was, mereka khawatir jika pihak birokrasi memberikan perintah penggusuran melalui petugas Kamtib. Kekhawatiran mereka tentu sangat mendasar, selain menjadi PKL, pekerjaan lain sulit mereka dapat. Mencari lahan barupun juga tak mudah, sebab, Yogyakarta sudah sangat padat dengan PKL.
          Kewas-wasan para PKL-pun akhirnya terjawab. Tepat pada tanggal 23 september 2012, muncul surat edaran Kepala Biro Administrasi Umum (Kabiro ADUM) UIN SuKa nomor 1609 tahun 2012 berisi pemberitahuan tentang larangan berjualan dilingkungan kampus serta perintah agar segera pindah dari lokasi lingkungan kampus UIN SuKa.
          Saat itu, mereka hanya bisa berharap ada kemurahan hati dari pihak birokrasi kampus untuk mencabut larangan tersebut. Namun, harapan itu nampaknya sulit diwujudkan pihak terkait. Beruntung waktu itu, ada salah satu pedagang berstatus mahasiswa yang berinisiatif melakukan audiensi, guna mewujudkan proses legitimasi berdagang di lingkungan kampus.
          Bertepatan dengan  saat itu pula, salah satu organisasi ektra kampus bernama Keluarga Mahasiswa Pecinta Demokrasi (KMPD) turut ambil bagian menjadi mediator guna menyampaikan inisiatif diatas. Surat edaran dari Kabiro ADUM akhirnya direspon oleh organ tersebut dengan surat pula. Surat bernomor 001/A-2/ Sek- KMPD/XI/2012 tersebut berisi rasionalisasi penolakan penggusuran dan permohonan tetap menempati lahan di lingkungan kampus untuk dijadikan tempat berjualan para PKL. Namun, surat yang ditujukan langsung kepada Rektor UIN SuKa tersebut lama tak mendapat respon. Tak adanya kepastian, membuat pihak KMPD dan para PKL geram. Pada tanggal 20 November 2012, melalui surat bernomor 004/A-2/Sek-KMPD/XI/2012, KMPD kembali melayangkan surat penegasan untuk tuntutan surat  pertama. Bahkan, jika dalam jangka 7X24 surat tersebut tak kunjung mendapat respon, organisasi tersebut bersama-sama dengan seluruh PKL UIN SuKa mengancam akan melakukan aksi demonstrasi didepan gedung rektorat.

          Melayangnya dua surat tersebut, nampaknya cukup membuat pihak rektorat gentar.  Kabiro ADUM yang sebelumnya memberikan perintah larangan berjualan bagi para PKL secara langsung, akhirnya pada tanggal 11 Desember 2012 memberikan surat tanggapan berisi undangan audiensi bagi KMPD dan para PKL. Pada hari yang telah ditentukan tersebut, beberapa orang dari pihak KMPD bersama-sama dengan para PKL berbondong-bondong mendatangi tempat audiensi di ruang sidang PAU Lt.1. Muttaqin Subrata yang saat itu menjabat sebagai kepala suku KMPD serta salah satu dari tujuh PKL UIN SuKa, membacakan rasionalisasi penolakan penggusuran PKL serta tuntutan agar PKL dilegalkan berdagang di lokasi semula.

          Meski alot, audiensi yang dihadiri oleh beberapa jajaran Rektorat tersebut akhirnya menghasilkan beberapa kesepakatan. Kesepakatan itu diantaranya berupa legalitas tujuh pedagang PKL untuk berdagang di lingkungan kampus. Meski keinginan para PKL untuk tetap menempati lokasi semula tak tercapai, yang jelas mereka telah merasa lega. Sebab, kini keberadaan PKL UIN SuKa telah dilegalkan oleh pihak rektorat. Para PKL kini mendapatkan lahan legal di sayap timur gedung MP.
Membentuk Paguyuban
          Setelah resmi mendapatkan izin dari rektorat, para PKL sepakat untuk membentuk paguyuban PKL UIN SuKa secara formal. Meski tak seformal organisasi pada umumnya, paguyuban tersebut juga berinisiatif membentuk struktur kepengurusan guna menjaga keutuhan serta harmonisasi antar PKL.
          Melaui musyawarah, pada pertengahan bulan Desember lalu, para PKL resmi membentuk kepengurusan. Hasil musyawarah menetapkan Bagiyo (pedagang Es Cincau) sebagai Ketua, Mamat (Pedagang Bakwan Malang) sebagai Wakil Ketua, Muttaqin Subrata (Pedagang Es Kencur), sebagai sekjend, Sugiyanto (Pedagang Rujak Buah) sebagai Bendahara. Sedang Mukaddam (Pedagang Kopi), Arno (Pedagang Tempura), Lukiyanto, Widiyanto (keduanya Pedagang Siomay) adalah sebagai anggotanya. Setelah struktur terbentuk, mereka sepakat untuk menjadikan Kawula Alit (Rakyat Kecil) sebagai nama organisasi mereka.
          Layaknya sebuah organisasi, paguyuban Kawula Alit juga memiliki agenda maupun pertemuan rutin, hal itu dituturkan Muttaqin Subrata, ” kalau agenda, biasanya berupa kumpul rutin tiap sebulan sekali, pembahasannya sih beragam, kadang evaluasi kerja selama sebulan. Kadang ya, cerita-cerita tentang omzet dagangan, ” kata PKL yang akrab disapa Broto itu. Untuk menunjang serta mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan paguyuban dikemudian hari, Broto menambahkan, bahwa paguyuban Kawula Alit melestarikan tradisi bantingan tiap hari pada tiap-tiap pedagang. Bantingan dapat juga disebut Iuran, hanya saja, biar tak terkesan memaksa, bantingan lebih sering dipakai kaum-kaum menengah kebawah.” Awalnya, kita rutin bantingan dua ribu rupiah, sekarang dinaikkan jadi tiga ribu rupiah,”
          Kesamaan nasib sebagai PKL membuat membuat para pedagang di paguyuban tersebut bak keluarga baru. Keluarga yang dipertemukan sebab kepentingan yang sama, mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Sehingga, saling membantu, memahami serta menjunjung tinggi kebersamaan di paguyuban itu menjadi pemandangan yang sulit ditemui pada PKL-PKL lain di kota besar. ” Awalnya sih, saat belum di legalkan, semua PKL masih individualistik, tapi, sekarang sudah nggak, para PKL disini solidaritas serta soliditasnya sudah kuat, tambah Broto dengan logat ngapaknya.
          Tingginya solidaritas antar individu didalam paguyuban tersebut juga diakui oleh Bagiyo, menurutnya, sejak direlokasi dan dizinkan berjualan ditempat itu, sifat-sifat individualis dari PKL perlahan mulai hilang. Bahkan kata Bagiyo, kini para PKL sudah saling percaya dan memahami satu sama lain,” sesama PKL, disini kita saling membantu. Misal ada Shalat atau Kuliah, maka yang lain bantu menjaga dagangan yang bersangkutan,” tutur Ketua Paguyuban yang mengaku jadi PKL sejak era IAIN itu.
Mahasiswapun Mengaku Senang
          Keberadaan Paguyuban PKL Kawula Alit cukup mendapatkan Apresiasai dari mahasiswa, banyak dari mahasiswa mengaku senang dan nyaman akan keberadaanya. Hal itu di ungkapkan oleh Cika, Mahasiswi FDK yang mengaku sering jajan di sana. ”Biasanya saya suka jajan yang Siomay Sepeda, sebab murah dan lumayan enak, apalagi pelayanan para PKL juga menyenangkan,” katanya.
          Kenyamanan jajan di PKL tersebut juga diungkapkan oleh Ahmad Syaifuddin, Mahasiswa IKS. Ia menuturkan bahwa dirinya sering ketempat PKL untuk sekedar ngecer rokok dan ngopi. Tak jarang, menurutnya, juga untuk nongkrong dan diskusi. Selain itu, mahasiswa yang akrab disapa disapa Udin itu mengatakan bahwa pelayanan para PKL juga sangat ramah pada mahasiswa,” kayak yang jualan Bakwan Kawi, meski saya punya uang Dua Ribu lima Ratus Rupiah, olehnya tetap dilayani, gak ada patokan harga gitu,” ungkapnya. [Ahmad Haedar & Fullah Jumaynah]