Kapitalisasi Media dan Keadaan Jurnalis Hari Ini

Oleh : Septia Annur Rizkia

 

Kondisi media pada saat ini telah banyak mengalami distorsi sehingga berakibat pada informasi yang diterima masyarakat. Seiring dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi, informasi pada era ini merupakan komoditas primer yang dibutuhkan orang. Informasi bukan hanya kebutuhan, melainkan juga dapat menjadi sumber kekuasaan. Teknologi informasi dapat menjadi alat terpenting untuk memanipulasi dan alat kendali.

Menjadi pendapat umum, siapa yang menguasai informasi, dialah penguasa masa depan. Dinamika media pada saat ini yaitu banyaknya peristiwa anti demokrasi, semisal; seringnya tindakan represifitas, penunggangan politik terhadap media, media yang dikuasai oleh beberapa pemilik modal, maraknya tindakan intimidasi dan masih berkelanjutan lagi.

Terkait persoalan demokratisasi, yang menjadi harapan yaitu loyalitas seorang wartawan kepada masyarakat sepenuhnya. Tetapi realita yang ada, media sudah dikooptasi oleh para pemilik modal. Lalu, bagaimana dengan pers pada saat ini. Pers pada sat ini bak berada di ketiak konglomerat/pemodal. Kalau sudah begini, pemberitaannya pun jauh dari nilai-nilai jurnalistik dan lebih mementingkan kesenangan semu.

Pers yang ideal demi tegaknya kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang demokrasi yaitu pers bebas yang difungsikan oleh jurnalis-jurnalis profesional. Profesionalisme yang menjadi esensi jurnalis dalam institusi pers bebas itu berfungsi untuk menjaga kehormatan hak setiap warga masyarakat (tanpa terkecuali) supaya tidak dimobilisasi melainkan berpartisipasi di dalam setiap proses politik.

Di era demokrasi seperti sekarang, kapitalisasi media massa menjadi sesuatu yang tidak asing lagi. Dan konsekuensinya, ideologi media massa sudah mengalami pergeseran. Pada kondisi ini, seorang jurnalis sering dihadapkan pada posisi yang sangat dilematis. Di satu sisi, ingin mengedepankan idealismenya tetapi di sisi lain juga harus memenuhi kebutuhan untuk hidup.

Akibat pergeseran ideologi yang terjadi, tak jarang mengakibatkan dis-orientasi seorang jurnalis. Terkooptasinya media oleh pencarian rupiah, tanpa adanya pertimbangan akan nilai-nilai dan moralitas, juga bagian dari proses pembodohan bagi masyarakat, atau juga bagi diri sendiri. Akibat terjadinya disorientasi ideologi dalam konteks media massa, nilai-nilai moral kemudian bukan lagi menjadi hal penting, melainkan nilai-nilai nominal rupiah yang kemudian menjadi ‘ideologi’.

Perlu diketahui, berapa banyak jurnalis yang kemudian harus menyembah kapitalis, dengan tanpa mengindahkan ideologi media massa, yang sudah terpatri di dalam hati nuraninya. Sulit memang, menghadapi hantaman kapitalisme di tengah krisis ideologi. Dan menjadi realitas yang menyedihkan jika kemudian kapitalisme ini lebih menjadi jalur ideologi sebuah institusi media atau bagi para jurnalisnya sendiri, dari pada harus tetap mengedepankan informasi yang mendidik, menghibur dan mengontrol sebuah kebijakan.

Diakui atau tidak, media massa merupakan alat strategis untuk mencerdaskan masyarakat, tetapi seiring dengan itu media massa juga menjadi alat yang strategis pula untuk melakukan pembodohan masyarakat.  Media massa, tak lebih menjadi alat dari kapitalis atau menjadi kuda dari kepentingan politiknya.

Sebagai generasi terdidik yang disertai dengan pengetahuan yang memadai, pastilah harus memiliki keberpihakan yang jelas. Guna menjadi insan yang tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum tentu kebenarannya. Sebab, media bukan hanya sebagai media informasi saja. Melainkan sudah menjadi ladang bisnis kaum korporat yang tidak bertanggung jawab.

Jadi, perlu dibedakan pula antara media propaganda dengan media investigasi.  Mana media yang bisa menyalurkan aspirasi rakyat dan mana media yang hanya menjadi ladang pengganjal perut. Biarpun sudah banyak terjadi interfensi media oleh golongan politik tertentu, semoga menjadikan manusia menjadi lebih kritis, humanis dan solutif.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *