Irmalia Nurjanah ; “Saya akan menjadi cahaya di manapun saya berada”

Dok : Pribadi
“Saya akan menjadi cahaya di manapun saya berada”
          Pagi itu, cuaca tampak cerah. Hiruk pikuk dan keramaian mahasiswa yang memadati pelataran kampus, turut mencerahkan suasana hati seorang gadis difable. Namanya ParIrmalia Nurjanah, dia adalah Mahasiswi Baru Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Gadis tunanetra kelahiran Yogyakarta  10 Januari 1994 silam tersebut memang terlihat berbeda dengan mahasiswa lain pada umumnya. Tongkat lipatnya senantiasa menjadi teman karib Mahasiswa jurusan PMI Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut.
          Dia memang berkebutuhan khusus. Saat ditanya bagaimana kesan kuliah di UIN Sunan Kalijaga, tanggapan yang diberikan ia sudah mulai memahami bagaimana kampus ini.  Irma yang gemar mengunyah es batu ini mengaku sudah melakukan taktik khusus agar tidak mudah tersesat saat berada dikampus. Yakni dengan menghafalkan dulu setiap sudut fakultas dakwah. “Susahnya itu kalau ke PPTD, muter-muter, ” celetuknya.
          Selain aktif di radio komunitasnya saat di SMA Muhammadiyah 4 Jogja, ia memang mengikuti kegiatan Pusat Pengembangan Teknologi Dakwah (PPTD), tepatnya di Rasida FM, stasion radio UIN. Namun, Karena kesusahan serta jarang mengikuti training, sekarang ia memutuskan untuk tidak mengikuti terlebih dahulu.
          Bagi Irma sendiri, dia tidak merasa berbeda dengan mahasiswa lain.  Apalagi  dengan semboyannya, “ saya akan menjadi cahaya dimanapun saya berada , “ ia berusaha menyamakan diri dengan mahasiswa lain. Gadis berair muka ceria ini,  sekarang sedang sibuk bersama teman-teman mahasiswa penyandang difable lainnya mendirikan organisasi untuk sesama penyandang difable di kampun UIN SUKA, yakni ITMI (Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia).  Dengan banyaknya pengalaman organisasi semasa SMA, yakni Palang Merah Remaja, Dewan Penggalang serta HI Foundation, kiranya cukup untuk bekal Irma mendirikan ITMI.
          Mungkin ini salah satu bentuk pembuktian kalau menyandang difabilitias bukanlah suatu halangan untuk berkarya. Penulis menemukan goresan tinta Irma saat berada dibangku SMA, mari kita baca.
Ya Sudahlah
Kulangkahkan kaki dalam-dalam,
Masuki masa yg belum mampu kucerna
Mencoba acuhkan memori yang menahanku
Ingin kupejamkan mataku pada aliran waktu yang pernah membelengguku
Dan sungguh aku kan tutup tirai itu rapat-rapat
Sepeti aku mengadu pada tuhanku
Bilakah masa kan membuka pintu kesempatan bagiku
Bukan aku meragu pada diriku,
Namun bisakah ku lepas dari cengkraman yang mencengkram hingga akar -akar memoriku
Huhhhhhhhhhhhh,,,,,
Desahku makin parah terarah seakan penat tak mampu lagi terkuak
dan pikirku yang menjelajahi waktu telah berbatas dinding-dinding lara yang menjulang
Yasudahlahhh………!!!
Kalolah masihku diambang dilema biarlah begini sajalah aku
Hingga datang sesosok yang kelak mengajakku.
Entah kemana,
Yang akupun tak  ingin tahu sebab aku hanyalah pasrah yang dimana jalan tuhan ku akan berserah.
Hmmmmmm,,,
Bahkan bila waktu memburuku dan nyawa tak lagi menyatu.
Tak jadilah sosok itu meraih hidupku maka ku takkan menyalahi pada ZatNya yang dengannya aku tercipta…