Ingin Melerai, Jurnalis LPM Suaka UIN SGD Justru Dihajar Polisi

Foto: Pikiran Rakyat

Niat melakukan kebaikan, justru dibogem oknum kepolisian. Pers Mahasiswa masih dipandang sebelah mata, bahkan nyaris dianggap tidak berguna.

lpmrhetor.com, Bandung – Oknum Polisi kembali memukul seorang jurnalis. Kini korbannya adalah Muhammad Iqbal, jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Suaka UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Kejadian penganiayaan tersebut terjadi saat ia meliput aksi penolakan penggusuran tanah akibat pembangunan rumah deret Kelurahan Taman Sari di Balai Kota Bandung, Kamis (12/09).

Peristiwa tersebut bermula saat massa aksi dan polisi tengah terlibat bentrok, tepatnya pukul 13.00 WIB. Sebagaimana laporan yang diterima lpmrhetor.com, seorang massa aksi dan seorang ibu tengah diseret oleh oknum aparat. Iqbal yang melihatnya sontak berlari untuk menyelamatkan mereka. Nahas, bukannya selamat, seorang oknum polisi justru mendorong Iqbal sembari membentaknya.

“Apaan kamu. Jangan sok tau kamu. Keluar sana!” bentak seorang aparat.

Saat itu Iqbal mengatakan bahwa ia adalah anggota pers yang sedang melakukan peliputan. Ucapannya tidak digubris oleh si aparat dan malah didorong ke luar gerbang balai kota.

Saat ia hendak masuk ke dalam lagi, ternyata gerbang sudah ditutup.

Tak kehilangan akal, Iqbal menemukan jalan masuk lain ke parkiran. Di sana ia melihat satu unit mobil Dalmas yang di dalamnya terdapat seorang massa aksi yang baru saja hendak ditolongnya. Dengan maksud untuk mendokumentasikan apa yang terjadi pada massa yang tengah ditahan tersebut, Iqbal mengarahkan mata kamera ke arah mobil Dalmas yang membawa si korban kekerasan.

Niatannya terlaksana, ia memotret dari jauh dan mendapatkan delapan  jepretan. Namun, itu tak berlangsung lama karena seorang polisi yang tidak mengenakan seragam melihatnya. Tak hanya sampai di situ, polisi tersebut bahkan menarik dan meminta identitasnya dengan paksa.

Iqbal kemudian menunjukkan kartu persnya. Lagi-lagi identitas kejurnalistikannya diabaikan. Tak disangka, polisi tersebut justru menariknya masuk ke mobil Dalmas dan mengambil kartu pers miliknya. Beberapa polisi mengintimidasinya dengan memaksa mengambil kamera Iqbal.

Iqbal menolak dan meminta kartu pers miliknya dikembalikan.

“Saat aku minta kartu persnya, pihak polisi ngasih syarat ‘Kartu pers balik, tapi, foto dihapus’. Aku tetep nolak, terus ada intel yang juga dosenku, beliau bilang ‘Udah sok kasih aja [kamera ke petugas], ini demi kebaikan kamu juga’ katanya,” kata Iqbal.

Meskipun demikian, Iqbal terus menolak dan mencoba menjelaskan bahwa itu merupakan hak pers. Bukannya paham, si polisi tak berseragam justru menjadi-jadi. Iqbal terus mendapatkan tekanan hingga dengan terpaksa ia menghapus hasil jepretannya di bawah tekanan intimidasi aparat.

Setelah kejadian tersebut, Iqbal dan massa yang ditahan dilepaskan. Tak berlangsung lama, selepas ia melaksanakan sholat ashar, bentrok kembali terjadi.

“Aku denger [ribut-ribut] waktu itu. Pagar itu didorong-dorong. Aku habis sholat langsung lari ke arah gerbang. Pas aku mau ke gerbang, udah ada dua massa yang ditarik, udah ditendang, dipukul, udah berdarah-darah lah. Akhirnya mereka ditarik ke pos. Aku ikut ke sana,” ucapnya.

Saat di pos, Iqbal melihat satu massa lagi ditarik-tarik dan dipukuli. Ia pun tidak hanya diam saja, ia berusaha melerai, namun nahas, lagi-lagi Iqbal diintimidasi. Seperti kesetanan, beberapa oknum aparat justru memukuli bagian pelipis Iqbal sebanyak dua kali hingga menimbulkan luka memar.

Belum puas memukuli, oknum polisi tersebut juga menahan Iqbal.

Hampir 45 menit dikurung, Iqbal dan beberapa massa aksi yang sudah terluka parah itu tidak kunjung dilepaskan. Hal itu membuat massa lainnya lainnya geram. Mereka terus menuntut agar aparat segera melepaskan kawan-kawannya yang sedang kesakitan akibat dipukuli itu.

Negosiasi itu berjalan alot. Setelah berlansung lama, akhirnya Iqbal bersama massa yang ditahan dapat dibebaskan meski dengan keadaan babak belur.

“Oki (massa aksi-red) sampai dirawat di rumah sakit, bibirnya dijahit. Kalau Fadli (massa aksi-red) ditendang-tendang bahunya, tulang suruk depan, sampe salah urat gitu. Si Aang (massa aksi-red) enggak terlalu parah, tapi, dia juga kaya shock gitu,” kata Iqbal menyayangkan.

Tim Advokasi Jurnalis Independen (TAJI) sangat mengecam tindak kekerasan yang dilakukan oleh Aparat kepolisian, terutama apa yang telah dilakukan terhadap salah seorang jurnalis mahasiswa.

Juru bicara TAJI, Ari Syahril Ramadhan, mengatakan bahwa tindakan tersebut merupakan pemberangusan terhadap kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat. Bahkan kejadian itu mengakibatkan sejumlah massa aksi harus mendapatkan perawatan medis di RS. Sariningsih.

Menurutnya, tindakan polisi tersebut telah melanggar Undang-undang Pers Nomor 40 Pasal 8, yang menyebutkan bahwa wartawan mendapat perlindungan hukum dalam melaksanakan profesinya. Selain itu, dalam UU Pers Pasal 18 juga menyebutkan bahwa pihak yang menghalang-halangi tugas seorang jurnalis masuk dalam pelanggaran hukum pidana.

“Itu bentuk pelanggaran hukum pidana, sebagaimana tertuang dalam Pasal 18 UU Pers, di mana setiap orang yang menghalangi kebebasan pers diancam penjara maksimal dua tahun, dan denda maksimal Rp500 juta,” ujarnya.

TAJI yang terdiri dari Lembaga Bantuan Hukum Bandung, Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Jawa Barat, serta Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung menuntut kepolisian untuk mengusut tuntas kasus kekerasan tersebut, baik yang terjadi terhadap masyarakat sipil, maupun terhadap jurnalis yang sedang melakukan tugas peliputan.

Pimpinan Umum LPM Suaka, Rendy M Muthaqin, juga menegaskan bahwa perbuatan tersebut merupakan tindakan yang sewenang-wenang. Menurutnya, kekerasan yang dilakukan oleh perangkat negara seperti aparat kepolisian mencerminkan bebasnya pemberangusan hak berekspresi dan merupakan pelanggaran terhadap hukum dan hak asasi manusia.

“Tak berbeda dengan pers pada umumnya, aktivitas pers mahasiswa adalah kerja jurnalistik; mencari, mengumpulkan, mengelola, dan menyampaikan informasi. Dan kebebasan pers hanya omong kosong tanpa ada kebebasan berekspresi,” tuturnya melalui pesan Whats App.

Ia pun menambahkan bahwa seluruh anggota dan alumni LPM Suaka sudah mengambil sikap yang sama dengan TAJI. LPM Suaka menuntut Kepolisian Republik Indonesia untuk segera bertaubat dengan menghentikan segala tindakan represif.[]

Reporter Magang: Isti Yuliana

Editor: Fahri Hilmi