Indonesia Harus Punya “Khas” Film Sendiri

Dok : Pribadi
Dandanannya matching, gayanya khas anak muda gaul jaman sekarang. Celana Jeans, jaket atau kemeja, dan topi, membuatnya terlihat seperti anak hip hop namun tetap rapi. Beginilah tampilan mahasiswa kreatif bernama Thibburuhany. Namun, siapa sangka berjuta ide kreatif meletup di otaknya.
Thibburuhany, mahasiswa KPI angkatan 2010 telah lama bergelut dengan bidang broadcasting.  Beberapa kali ia dan teman-temannya mengikuti lomba film pendek. Dari sekian film pendek yang ia buat, salah satunya yang berjudul “Sesajen” masuk nominasi Festival Film Syair tahun 2013. Film pendek berdurasi 6 menit 15 detik ini masuk nominasi karena sangat berbeda dengan nominasi lain yang rata-rata berlatar belakang kehidupan kota.
Film pendek dengan latar belakang desa, “Sesajen” mengangkat cerita seorang anak laki-laki penderita HIV/Aids yang hidup berdua dengan ayahnya. Sedang ibunya tinggal dikota sebagai pekerja seks. Sang Ayah yang sangat percaya akan kekuatan gaib leluhur lebih memilih terus membuat sesajen untuk meminta kesembuhan anaknya, daripada membiarkan anaknya berobat ke dokter.
Mantan Ketua OSIS SMA N 1 Depok yang hobi menggambar ini awalnya tertarik dibidang desain grafis dan grafiti saat SMA. Ia dan teman-temannya pernah membuat grafiti di tembok dan jendela-jendela sekolahnya. Semasa SMA, Thibbur juga pernah menyabet juara 3 pada lomba lukis tingkat Sleman.
Dilihat dari akun Instagramnya, hasil jepretan mahasiswa kelahiran  Lampung Selatan, 07 Oktober 1992 ini tidak bisa dianggap biasa saja. Foto-foto hasil jepretannya bak hasil jepretan seorang professional. Ketika dikonfirmasi manakah yang lebih ia senangi, fotografi atau film, ia mengaku dunia film adalah passionnya.
Bermula dari senang membuat slideshow dari foto-foto akhir masa SMA, ia mengaku mulai tertarik pada dunia film. Film-film pendek yang dibuatnya terdorong dari rasa iri yang muncul ketika sering berkumpul dan bertukar-pikiran tentang film dengan teman-teman di komunitas film. “Namun iri yang positif, karena iri itu yang menjadi motivasi untuk berkarya. Dia saja bisa, masa’ saya enggak.”, ujarnya ketika ditemui di kantin Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Selain itu, keprihatinannya terhadap film-film Indonesia yang dari segi isinya masih kurang mendidik saat ini juga memacu semangatnya untuk lebih kreatif berkarya film pendek.
Sambil menyelesaikan kuliahnya, Thibburruhany kini fokus menekuni bidang editing film. Kerumitan pada settingdan angle yang diambil saat membuat film itu hasilnya lebih greget baginya. “Berbeda dengan fotografi, dengan kerumitan setting ruang dan penentuan angle, hasilnya hanya 1 yang dipilih yang paling bagus, gak sepadan dengan usaha dan keringatnya. Kalau film kan hasilnya lebih memuaskan, gak “oh mung ngono tok”.”, tambahnya.
Kopi-Nesia, salah satu film iklan karya Thibbur dan timnya yang meraih penghargaan “Silver” dalam Pinasthika Award tahun 2012, kategori Young Film Director. Kopi-Nesia mengajak kepada seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan bergabung dalam semangat ke bhinekaan. Terinspirasi dari manifesto kekayaan negara Indonesia, yakni kopi dan keragaman cara menikmati secangkir kopi di setiap daerah di Indonesia.
Tentu karya mahasiswa yang meraih penghargaan ini patut di apresiasi oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Namun sayangnya, Fakultas tidak begitu memberi penghargaan yang mampu memacu semangat, hanya banner ucapan selamat yang terpampang bergambar foto Thibbur dan dua orang tim lainnya. Thibbur berharap, agar Fakultas lebih memberikan apresiasi terhadap hasil karya mahasiswa-mahasiswi. Karena apresiasi tersebut yang akan memacu semangat dan memotivasi mahasiswa-mahasiswi dalam berkarya.
Tidak akan rugi jika Fakultas maupun Universitas mau member penghargaan pada karya mahasiswa, karena karya yang membanggakan seperi ini akan membawa nama UIN Sunan Kalijaga untuk lebih dikenal. Bahwa UIN Sunan Kalijaga mempunyai mahasiswa-mahasiswi yang mampu berkarya kreatif dan membanggakan.
Ia juga berharap kepada mahasiswa-mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi agar terus semangat berkarya. Jangan malu untuk mempublikasikan hasilnya.
Mahasiswa yang dulunya bercita-cita menjadi arsitek ini berharap agar Indonesia memiliki genre filmnya sendiri. Jika Korea selalu lekat dengan dramanya, India khas dengan tarian-tarian dalam filmnya, maka Indonesia seharusnya memiliki sesuatu yang khas pada film Indonesia. “Mungkin khas film Indonesia bisa dilekatkan dengan sejarahnya, semangat ke Indonesia-annya, seperti film Garuda di Dadaku. Kalau budaya sih bisa, cuma takutnya malah jadi rasis nantinya.”, ucap laki-laki bermata sipit ini.[Amita Meilawati & Anindia Eka Puspitasari]