Ihwal PBAK, Saat Elit Kelas Teri Rebutan Lahan Basah

Mahasiswa Baru mengikuti rangkaian OPAK

Senayan sedang ribut-ribut soal RUU Pemilu dan Pansus KPK. Ada juga yang mencak-mencak gara-gara Perppu Ormas. Asudahlah, biarkan itu menjadi urusan para bapak dan ibu yang terhormat disana. Semoga mereka segera mendapat hidayah dan benar-benar berpihak kepada rakyat. Well lebih baik kita membahas kampus UIN Sunan Kalijaga, tempat naung kita.

Barang tentu sudah menjadi hal yang umum diketahui, bahwa sebentar lagi kampus akan menyelengarakan acara rutin tahunan. Acara bagi para dedek Maba (Mahasiswa Baru) sebagai pesertanya, dan kakak senior garang (walaupun garangnya dibuat-dibuat) yang menjadi panitia. Sebagai mahasiswa yang pernah mengalami mangkelnya diteriaki, disuruh-suruh, berbaris bak bebek sambil panas-panasan, bahkan ikut-ikutan tersulut esmosi pada acara syuper special tersebut. Saya akan coba berkomentar terkait ini.

Tahun ajaran baru 2017-2018 telah bergulir. Dimana banyak perguruan tinggi mulai sesak oleh mahasiswa barunya. Masa puncak setelah serangkaian promosi dan marketing project dilancarkan mayoritas perguruan tinggi di Indonesia, demi menarik banyak peminat. Tak terkecuali yang dilakukan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Satu-satunya Perguruan Tinggi Islam Negeri di kota Yogyakarta.

Sudah sejak awal tahun 2017, UIN Sunan Kalijaga begitu gencar melakukan build up promotion. Memasang banner info jadwal tes masuk, mengabarkan info-info seputar regulasi tes, dibarengi dengan berbagai macam tawaran program dan keunggulan kampus yang begitu menggiurkan. Agar dapat memikat para calon mahasiswa yang saat itu sedang berburu kampus untuk melanjutkan jenjang pendidikan tingkat tinggi.

Selesai melewati masa-masa di atas, bagi mereka yang dinyatakan lulus seleksi akan secara resmi menjadi mahasiswa UIN, setelah digiring untuk registrasi ulang, lantas mengantongi kartu tanda mahasiswa. Namun ada satu ritual khusus yang harus bin wajib diikuti oleh semua mahasiswa baru. Ya, di UIN kita mengenalnya dengan sebutan Orientasi Pengenalan Akademik Kampus atau OPAK.

OPAK seakan-akan menjadi acara pembuka yang monumental bagi para mahasiswa baru UIN. Sebagaimana pula yang dilakukan di kampus-kampus lainnya, OPAK menjadi semacam pengenalan sekaligus pemahaman awal bagaimana seharusnya mahasiswa bertindak, bersikap, bahkan pengarahan nalar berpikir. Dalam acara OPAK sendiri, terdapat berbagai rangkaian acara yang mengharuskan para pesertanya (baca : Mahasiswa Baru) menjadi objek dari semua materi dan doktrin-doktin yang diarahkan kepada peserta OPAK untuk mau tak mau (bahkan dipaksa) memahaminya. Peserta OPAK seperti dicekoki oleh seruan-seruan, teriakan yang isinya menyeru mahasiswa untuk sadar menjadi Agen Of Change, Agen of Control dan lain sebagainya.

Kegiatan OPAK tak jarang banyak disusupi oleh kepentingan golongan tertentu yang masuk dalam tubuh kepanitiaan. Ya, sudah menjadi rahasia umum, OPAK memang kerap dijadikan sebagai ajang penjaringan kader dan anggota baru dari banyak organisasi ekstra maupun intra kampus.

Namun di tahun ini, perubahan regulasi OPAK bedasarkan SK Dirjen no. 4962 th. 2016 membuat para panitia OPAK sampai pemangku kekuasaan Organisasi Mahasiswa(ORMAWA) UIN Sunan Kalijaga, beramai-ramai mendatangi istana rektorat guna memprotes regulasi tersebut. Pasalnya dalam regulasi OPAK yang kemudian ikut mengubah nama OPAK menjadi PBAK (Pengenalan Budaya Akademik Kampus), menjadikan susunan kepanitiaan lebih berwarna.

Susunan kepanitiaan yang ikut diisi oleh para karyawan/staf dan dosen tersebut, agaknya ditolak oleh panitia mahasiswa bentukan DEMA yang cenderung menginginkan panitia seluruhnya diisi oleh mahasiswa seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka menyatakan tak ingin diintervensi para dosen dan pegawai dalam penyelenggaraan PBAK. Rektor pun menyatakan, akan ada Join Leadership antara dosen, pegawai, dan mahasiswa dalam acara PBAK tersebut. Hal ini menarik, menjadikan OPAK seakan menjadi sebuah bahan rebutan antar birokrasi kampus dan ORMAWA.

Penyelenggaraan OPAK sarat kepentingan kah?

OPAK memang merupakan kegiatan paling awal yang dilaksanakan secara formal di UIN Sunan Kalijaga. Sebelum dilanjutkan oleh acara Sosialisasi pembelajaran (SOSPEM), stadium general, OPAK yang diakhiri oleh masa keakraban (Makrab) ini, mengawali rentetan dari semua kegiatan pra-kuliah. Sebelumnya, memang secara penuh, penyelenggaraan ini diserahkan kepada Dewan Eksekutif mahasiswa (DEMA) UIN Sunan Kalijaga. DEMA menentukan tanggal, konsep acara, susunan panitia, bahkan sampai kepada isu apa yang akan diangkat dalam acara tersebut. DEMA sebagai Lembaga Eksekutif Mahasiswa  di wilayah universitas pun tak sendirian bekerja. Pada turunannya di wilayah Fakultas, acara ini secara detail ditangani oleh DEMA-Fakultas beserta SEMA-Fakultas sebagai eksekutornya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, ketika elemen mahasiswa benar-benar menjadi pengisi tunggal dari kepanitiaan. OPAK dilaksanakan dalam waktu 3 hari, biasanya di tengah pekan sampai akhir pekan yang lantas ditutup dengan acara makrab. Namun bukan itu permasalahannya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa selama ini kepanitiaan OPAK disusun oleh DEMA dianggap tidak demokratis. Alih-alih merangkul semua elemen mahasiswa dari latar belakang yang berbeda, kepantiaan justru banyak diisi oleh orang-orang yang berasal dari ‘rahim’ yang sama. Tak jarang mereka yang berasal dari ‘rahim’ berbeda mengeluh lantaran tidak masuk dalam kepanitiaan OPAK, walaupun sudah mendaftar dan melengkapi semua persyaratan yang ada. Sekalipun diterima masuk dalam kepanitiaan, hanya ditempatkah pada bagian sepele, bukan strategis. Bahkan parahnya, pada OPAK tahun kemarin, Panitia OPAK disalah satu fakultas diisi oleh mahasiswa yang dalam status cuti. wow!

Sudah sejak dulu kala, UIN tempat bernaung kita ini sangat kental oleh nuansa politik identitasnya. UIN dijadikan sebagai ajang perebutan dalam kancah pertarungan politik di wilayah ORMAWA. Dari sini terbaca jelas bahwa OPAK sebagai acara paling awal di kampus, betul-betul dijadikan sebagai lahan kaderisasi para mahasiswa baru yang masih lugu, menjaring kader, menebar doktrin dan banyak lainnya. Hal ini tentu digunakan sebaik-baiknya oleh DEMA yang mereka tentu punya latar belakang ‘rahim’ tadi.

Tahun ini, lahan basah itu nampaknya terusik oleh kehadiran birokrasi kampus yang rupanya juga memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan ini, sebagai pemegang otoritas tertinggi terkait semua regulasi yang ada di UIN. SK Dirjen PTKI no. 4962 th. 2016 seperti anugerah terindah yang diterima oleh birokrasi. Dengan dalih sendiko dawuh atas turunnya SK Dirjen PTKI tersebut, birokrasi kampus dengan mudahnya mengubah regulasi dan penetapan susunan kepanitiaan OPAK serta mengganti nama OPAK menjadi PBAK.

Dalam SK dirjen tersebut, tercatat bahwa penetapan panitia dari kalangan dosen dan karyawan ditetapkan oleh Wakil Rektor (WR) 3. Sementara panitia dari kalangan mahasiswa di ajukan (bukan ditetapkan) oleh DEMA kepada WR 3. Ini yang menjadikan para petinggi ORMAWA dan kawanannya berunjuk rasa di Rektorat kamis (20/7) lalu. Rasanya, pada PBAK tahun ini mereka tidak akan bisa leluasa membuat semua settingan dan hanya akan dijadikan jongos atau “Tukang angkat kursi”, menurut pernyataan Kordum dalam unjuk rasa kemarin.

Akan tetapi memang jelas terlihat, birokrasi nampaknya mempunyai kepentingan untuk menjauhkan para maba dari berbagai macam pemahaman yang bersifat aktivisme. Dan lagi, mereka Nampak ingin memutus satu generasi agar tidak punya daya nalar kritis sebagai mahasiswa, demi langgengnya mega proyek mereka : Komersialisasi Pendidikan.

Dari semua macam kepentingan diatas, kita bisa lihat sudah tentu antar-keduanya sedang rebutan lahan basah untuk masing-masing kepentingannya.

OPAK/PBAK penuh Racun, Benarkah?

Setelah kita melihat masalah diatas, bisa kita ketahui bersama bahwa OPAK/PBAK memang sejak dulu hanyalah sebagai proyek tahunan, bagi siapapun yang mempunyai otoritas untuk menyelenggarakannya. Entah dari ORMAWA ataupun birokrasi. Bagaimana tidak, mahasiswa baru yang masih bersih bak bayi yang baru lahir, harus dinodai oleh berbagai macam intervensi pemahaman dan doktrin sarat kepentingan golongan tertentu yang dilancarkan pada acara OPAK di setiap harinya. Ini jelas racun atau zat adiktif bagi mereka para mahasiswa baru. Kebanggaan mereka karena telah berhasil lolos seleksi kampus impian akan pudar seketika pasca OPAK.

Lihat saja, OPAK yang diselenggarakan barang 3 tahunan yang lalu. Mereka diinstruksikan untuk memakai berbagai atribut yang sangat tidak substansial terhadap esensi layanknya seorang ‘Mahasiswa’. Umur mereka yang sudah dibilang memasuki usia dewasa, masih saja diteriaki oleh senior-seniornya. Dibariskan, dijemur ditengah terik matahari, juga otak mereka dirusak oleh berbagai macam racun doktrin sarat kepentingan tadi. Pada akhirnya mereka akan menjadi penerus tradisi buruk di kampus UIN ini ; Terjebak dalam politik identitas atau menjadi apatis akibat trauma pada acara OPAK/PBAK tersebut.

Hal yang tak jauh berbeda akan terjadi jika pun ditangani oleh birokrasi positivistik iniKawan-kawan Maba akan betul-betul dicekoki oleh paradigma positivistik yang begitu kosong terhadap nilai-nilai keberpihakkan kepada masyarakat. Kesadaran mereka mungkin akan jadi naif, bahkan magis. Kemudian, mereka akan digiring untuk menganggap bahwa meraih nilai tinggi diperkuliahan dan lulus S1 dengan cepat adalah sebuah prestasi yang tiada bandingannya sebagai mahasiswa. Jikalau hal tersebut terus berlanjut dalam beberapa generasi ke depan, niscaya akan terjadi kematian nalar dan pemikiran-pemikiran kritis pada setiap mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Innalillahi wa Inna ilaihi rooji’uun.

Dalam kondisi diatas, dapat disebut sebagai sebuah pertarungan elit kelas teri dalam kancah ruang sempit kampus. Entah sampai kapan UIN tempat naung kita, terus-terusan sarat oleh nuansa politik identitas di kalangan mahasiswa bahkan birokrasinya. Atas semua yang terjadi, pastilah akan menimbulkan potensi perang dingin bahkan jotos-jotosan antara semua pihak yang diboncengi kepentingannya masing-masing. Cita-cita UIN ingin menjadi World Class Universiteh nampaknya masih jauh di awang-awang. Sekian!

wihh ngeri syekaleh tulisan diatas kakak.. kopi mana kopi? 😀

Jakarta, 26-07-17, disela-sela mengais UKT.

Oleh Ikhlas Alfarisi