Hura-Hura Hari Pers, dan Tirto Tenggelam

R.M. Tirto Adhi Soerjo. Sumber: Istimewa.

Mengenang dan merefleksikan; Memukuli penguasa. Bebas dan berani. Diperalat. Bebas dan liar.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Sabtu (10/2/2017). Profesi wartawan (seharusnya) merupakan profesi yang terhormat dan mulia. Apalagi jika sang wartawan selalu memegang teguh kejujuran. Hal itu disampaikan oleh Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, yang juga seorang contributor tetap harian Kedaulatan Rakyat, Hamdan Daulay.

Hamdan mengatakan, bahwa tugas seorang wartawan ialah memberitahukan dan mencerdaskan masyarakat melalui tulisan-tulisannya.

Andreas Harsono dalam Agama Saya Adalah Jurnalisme juga menyebutkan bahwa jurnalisme merupakan satu-satunya senjata mematikan yang dapat memengaruhi opini masyarakat. Pengaruh tersebut pada dasarnya merupakan sebuah kebaikan, meskipun tak sedikit pelaku media yang memanfaatkannya untuk kepentingan lain.

Andreas juga menyebutkan, bahwa menjadi wartawan tak akan membuat orang kaya. Meskipun hanya masuk koran, namun ada semacam kebahagian kecil yang tidak dapat diukur dengan uang.

Hari Pers Nasional, sekadar hura-hura?

Jika berbicara mengenai wartawan dan jurnalisme, maka juga akan berbicara mengenai media dan pers. Peran serta fungsi strategis yang dimiliki oleh pers nampaknya mendapatkan apresiasi dari penguasa. Walupun penguasa yang memberi apresiasi adalah rezim anti-kebebasan pers, orde baru.

Pemerintahan orde baru menetapkan 9 Februari sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Hal ini didasarkan pada Keputusan Presiden No 5 Tahun 1985.

Penetapan tersebut berawal dari tuntutan masyarakat pers yang menginginkan penetapan satu hari bersejarah untuk memperingati peran dan keberadaan pers secara nasional.

Tuntutan ini disampaikan dalam Kongres ke-28 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di Kota Padang, Sumatera Barat (1978) pada tanggal 19 Februari 1981. Kehendak tersebut disetujui oleh Dewan Pers dalam sidangnya yang ke-21 di Bandung.

Perlu diketahui, 9 Februari juga bertepatan dengan hari lahir PWI, organisasi wartawan bentukan pemerintahan orde baru.

Sayangnya, penetapan Hari Pers Nasional sama sekali tidak menyinggung napak tilas dan perjuangan yang dilakukan oleh Bapak Pers Nasional, R.M. Tirto Adhi Soerjo. Sosok yang pertama kali menggunakan pers sebagai alat perjuangan melawan penjajahan.

Pramoedya Ananta Toer dalam pengantar Sang Pemula bahkan mengatakan bahwa Tirto sepertinya tenggelam dalam lautan sejarah Indonesia, atau cenderung terlupakan.

“Ada sejumlah pelopor dan perintis dalam sejarah modern Indonesia, baik yang dimasukkan dalam kategori ‘asli’ maupun ‘keturunan asing’, belum mendapatkan tempatnya yang sesuai dalam penyusunan sejarah modern kita, atau lebih tepatnya; belum mendapatkan keadilan sejarah. Salah seorang di antaranya adalah R.M Tirto Adhi Soerjo,” katanya.

Agar tidak larut dalam hura-hura Hari Pers Nasional (hari lahir PWI, lpmrhetor.com akan menyajikan sedikit biografi perjuangan R.M. Tirto Adhi Soerjo.

Berita bukan hanya berita

Tirto Adhi Soerjo lahir di Blora pada tahun 1880. Ia dikenal sebagai bangsawan Jawa pertama yang dengan sadar menggunakan jurnalistik sebagai sarana perjuangan melawan penjajahan kolonial.

Ia juga merupakan pendiri organisasi modern pertama yaitu Sarikat Prijaji (1906), namun akhirnya organisasi itu pun mengalapi kegagalan. Tirto merupakan cucu dari R.M.T Tirtonoto, seorang bupati Bojonegoro yang sebelum tahun 1827 bernama Rajegwesi, Keresidenan Rembang.

Beberapa kali dalam kariernya sebagai seorang jurnalis, Tirto dengan gagah berani mengolok-olok perilaku buruk para pejabat.

Kasus yang juga sempat “dipukul” oleh Tirto adalah Skandal Residen Madiun, JJ Donner. Alkisah, Donner ingin menurunkan Bupati Madiun, Brotodiningrat. Ia pun melakukan persengkongkolan dengan Patih dan Jaksa-Kepala Madiun, Mangoen Atmodjo dan Adipoetro.

Tirto Adhi Soerjo yang mengetahui persekongkolan itu menghimpun cukup data tentang ketidakbenaran tindakan Donner. Beberapa koran putih akhirnya juga mengecam Donner. Tirto berseru pada pemerintah agar segera dilakukan penyelidikan.

Pembongkaran berturut-turut pun diterbitkan olehnya dalam Pembrita Betawi di bawah rubik Dreyfusiana. Hal itu telah menciptakan kegemparan di tengah masyarakat. Akhirnya, sehubungan dengan pembongkaran skandal demi skandal, untuk pertama kali ia diperiksa oleh pihak yang berwajib.

Saat diinterogasi, Tirto tak mengkhianati sumbernya. Namanya pun mencuat sebagai jurnalis muda yang berani, tabah, dan informasinya benar.

Fungsi seharusnya

Di dalam Sang Pemula ditunjukkan tujuh guntingan karya jurnalistik dalam kacamata khas Tirto. Potongan tersebut telah menunjukan babak baru dalam sejarah Indonesia. Pertama, penggunaan pers untuk membentuk pendapat umum. Kedua, penggunaan pers sebagai alat memperjuangkan hak dan keadilan. Ketiga, menyalakan keberanian menghadapi alat kolonial tingkat tinggi bangsa Eropa. Tiga hal tersebut adalah Jasa Tirto Adhi Soerjo pada bangsa dan negerinya.

Tirto Adhi Soerjo memang dikenal sebagai orang pertama yang berani menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan alat untuk membentuk pendapat umum. Ia juga berani menulis kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda.

Ia menggunakan media sebagai corong suara rakyat, bahkan sedikitpun ia tak gentar atas hal yang telah ia lakukan. Hingga akhirnya hal itu jugalah yang membuat Tirto ditangkap dan diasingkan ke pulau Bacan dekat Halmahera.

Setelah selesai masa pembuangannya, Tirto kembali ke Batavia, dan meninggal pada 7 Desember 1918. Namun, tak ada iring-iringan besar, tak ada pidato-pidato sambutan, tak ada yang memberitakan jasa-jasa dan amalannya dalam hidupnya yang tak begitu panjang itu.

Sang Pemula melanjutkan, meskipun di akhir hidupnya, Tirto tak begitu banyak diberi penghormatan, namun jasanya teramat besar. Ia mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa saat itu mereka sedang dijajah. Kesadaran itu ia salurkan melalui tulisan-tulisannya.

Tirto telah memberikan modal pertama untuk menghadapi penjajah yaitu keberanian. Dengan keberanian itu dimulailah pergulatan baru, meninggalkan perlawanan bersenjata yang selama ini telah dipatahkan, menggantinya dengan perlawanan baru, yaitu melalui gagasan dan strategi-strategi perlawanan yang bahkan belum pernah dikenal.

Tulisan-tulisan yang telah ia terbitkan juga sangat jelas terlihat bahwa ia mempunyai sebuah tujuan, yaitu menaikkan tingkat pengetahuan bangsanya di berbagai bidang. Sehingga bangsa ini dapat terbebas dari belenggu penjajahan.

Sudah seabad lamanya bapak pers meninggalkan dunia yang fana ini. Namun, tulisannya masih abadi dan tercatat dalam sejarah peradaban manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa Tirto memiliki andil yang cukup besar dalam dunia Pers Indonesia.

Jadi kuda liar

Sejarah hidup Tirto terkubur bersama dengan seluruh manifest perjuangannya. Pers dan media nasional setelahnya malahan lupa dengan apa yang seharusnya menjadi tugasnya.

Anugerah kebebasan pers yang hari ini diberikan justru membuat pers-pers nasional seperti kuda yang kehilangan arah, menabrak sana-sini. Hingga sulit dibedakan mana berita yang bohong dan berita yang benar. Hal itu dikatakan oleh Hamdan Daulay.

“Tapi, inilah persoalannya, ketika terjadi kebebasan pers yang luar biasa itu, bisa diibaratkan dengan kuda yang kebablasan, nabrak sana nabrak sini, seperti berita-berita yang hoax-hoax itu. Tidak ada lagi yang bisa dipertanggungjawabkan [kebenaran dari] pemberitaannya,” katanya.

Meskipun arus pemberitaan yang terjadi saat ini sulit untuk dipertanggungjawabkan muatannya, namun, Hamdan masih melihat bahwa kontrol sosial yang dilakukan oleh media masih sangat memiliki peran dan posisi yang strategis.

Media masih memiliki harapan untuk memberikan informasi tentang situasi yang benar-benar terjadi yang kemudian dapat mencerdaskan masyarakat.[]

Reporter Magang: Isti Yuliana

Editor: Fahri Hilmi