Gun

Ilustrasi: cbsnews.com

Oleh: Majid Zaelan*

 

G UNAWAN menambah laju kecepatan sepeda motornya, kilauan lampu jalan nampak seperti kilatan cahaya. Ia tak sadar kecepatan motornya sudah mencapai angka seratus.

“Aku harus cepat pulang,” gumamnya.

Seribu kegelisahan hinggap di dadanya. Tubuhnya membungkuk menantang memeluk badan sepeda motor layaknya seorang joki handal. Jalanan gelap dan sepi seakan jadi miliknya malam ini.

***

 

Sendok perlahan mengaduk tumpukan nasi putih di piring. Sesekali ia mencuatkan kepalanya melihat acara yang berlangsung di televisi. Deretan botol limun berjejer sekitar dua jengkal dari hadapan wajahnya. Tangan kanannya teratur mengangkut nasi ke mulut. Ia melahap suap demi suap, mengunyah nasi dengan sedikit potongan acar.

Tret..tret.. Tiba-tiba ponsel kecil di sebelah siku bergetar. Namun tak sedikitpun ia hiraukan. Ia terlampau fokus dengan suapan nasi di piringnya. Habis sudah seporsi nasi di piring, pemuda itu lantas menyulut sebatang kretek. Mulutnya meniup pelan menikmati hembus halus asap beraroma khas tembakau. Sekarang ia matikan batang rokok ke dalam asbak kumal di depannya, ia tak terlalu suka berlama-lama di warung makan. Mungkin jika terlalu lama, uang di dompetnya bisa habis perlahan untuk membeli batang demi batang. Ia harus berhemat, masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting dari sekadar batang tembakau. Apalagi sekarang ia hidup di tanah perantauan.

“Pak, berapa semuanya?” Tanya Gun pada si pemilik warung.

“Delapan ribu mas,” jawab si pemilik warung.

“Ini, pak. Suwun, pak,” Gun lantas menjulurkan uang pecahan seribu lecek dari dompetnya.

Sekarang ia berjalan pulang ke arah kontrakannya sembari melihat ponsel jeleknya. Jempol tangan lincah membuka pola layar di ponsel, dibukanya pesan masuk.

“Hah… Sialan. Ternyata, errkhh…” Matanya melotot geram membaca sebuah pesan masuk di ponselnya, ia masukan kembali ponsel itu ke dalam saku. Sejurus saja ia langsung berlari ke kontrakan.

***

 

Gunawan menurunkan kecepatan kuda besinya, perlahan ia menepi ke sebuah gang. Ia turun dari motornya itu, ia dorong perlahan. Takut menggangu jam tidur warga sekitar yang masih terlelap, ia hentikan dorongannya di sebuah halaman rumah bercat putih. Kakinya melangkah pasti ke arah pintu rumah itu, sekarang ia berdiri tegak sambil menurunkan ransel di punggunnya, jari tengah tangannya mencul menonjol mengetuk pintu.

“Assalamualaikum,” ucapnya dengan nada pelan.

Tak lama berselang, pintu itu perlahan terbuka. Seorang perempuan paruh baya menyambut mengenakan daster tampak masih dengan keadaan belum sadar penuh, nampak baru bangun.

“Gun? Beneran ini kamu?” Perempuan itu menggisik matanya.

“Iya bu, ini aku, Gunawan,” jawabnya.

Ia raih tangan perempuan itu, ia cium sebagai tanda penghormatan seorang anak pada orang tuanya.

OalahNaha teu ngabaran bade mulang teh? Nya entos buru lebet.

(Kenapa tidak memberi kabar kalau mau pulang? Ya sudah, segera masuk).

***

 

“Pokoknya pak, untuk pembangunan itu harus secepatnya,” ujar seorang lelaki bermata sipit.

Sebuah ruangan tak terlalu luas, sebuah meja bundar bercokol di tengah-tengahnya,  sisi meja melingkar empat kursi. Setiap kursi diduduki satu orang yang sedang rapat serius. Satu orang bermata sipit dengan pakaian berjas hitam lengkap dengan dasi duduk di sana. Di sebelah kanannya duduk seorang lelaki berkumis tebal yang mengenakan beberapa lencana khas aparat di dadanya. Lelaki berkumis itu menghadiri rapat mengenakan seragam rapi lengkap dengan sebuah tongkat komando tergeletak di depan dekapan sikunya. Dua orang lagi di hadapan lelaki-lelaki itu menatap ke arah berlawanan. Di kepala mereka peci hitam lurik bertengger masing-masing.

“Iya, persoalan itu semua serahkan pada saya,” seorang dari dua lelaki berpeci itu menjawab seraya tersenyum kecil.

“Baiklah, saya serahkan semuanya kepada anda. Tapi…” Lelaki bermata sipit itu berhenti di tengah jawabannya. Sementara lelaki aparat serius memerhatikan kata demi kata yang keluar dari lelaki bermata sipit disampingnya itu. Matanya memburu seakan-akan sedang menghayati percakapan mereka. Sepertinya tak boleh satu katapun ia lewatkan, karena ia sadar hasil obrolan mereka merupakan bagian dari tugas baginya. Salah-salah memahami, fatal akibatnya di lapangan nanti.

“Oh… Jangan khawatir,“ Lelaki berpeci hitam itu tersenyum lebar.

“Masalah warga kampung sekitar, sudah saya siapkan betul,“ tatapannya berubah arah terhadap lelaki di sebelah kirinya.

“Haha… Memang betul ternyata, apa yang saya dengar selama ini, anda memang orang yang bisa diandalkan,” lelaki bermata sipit itu tertawa puas mendengar jawaban lawan bicara dihadapannya. Sekarang mereka berdiri, mereka bersalaman, rapat singkat nan serius selesai. Lelaki bermata sipit itu berjalan keluar diikuti lelaki dengan seragam lengkap berkumis tebal. Sekarang hanya tinggal dua lelaki berpeci hitam di dalam ruangan.

“Kamu sudah paham apa tugasmu, kan?“ Tanya lelaki bertubuh gempal sambil berdiri. Tangan kirinya menekuk ke pinggang.

“Iya pak, saya paham.”

“Ingat! Jangan sampai timbul penolakan,” lelaki gempal itu mulai menekan.

“Pemilihan semakin dekat,” imbuhnya.

“Maksud bapak?” Lelaki kurus itu keheranan mendengar ucapan lelaki di depannya.

“Ah… Apa yang barusan aku ucapkan?”

“Bukan apa-apa. Ya sudah, sekarang kamu pulang saja, sana!” Balasnya.

“Saya pamit, pak,” lelaki kurus itu beranjak dan pulang.

***

 

“Gun… Gun… Bangun nak, sudah pagi,“ Ibu Gunawan menepuk-nepuk punggung putranya.

Sambil menggeliat Gunawan bangun dari baringannya. Ia duduk dengan rambut acak-acakan dan wajah semrawut.

“Langsung mandi ya nak. Habis itu langsung temui tamu di depan, kasian, gak baik membiarkan tamu menunggu lama,” titah sang ibu sambil berjalan menuju keluar kamar.

“Tamu? Siapa, bu ?” Tanya Gun.

“Lihat aja langsung, kayanya kamu bakal langsung senang,” jawab ibunya dari luar kamar.

Gunawan langsung beranjak dari kamarnya menuju depan rumah. Ia penasaran dengan tamu yang disebutkan ibunya itu.

“Jal… Kamu ternyata,“ Gunawan sumringah.

Ternyata tamu yang dimaksud ibunya ialah Rijal, sahabat dekatnya semasa SMA.

“Aku gak sendirian Gun, tuh,” telunjuk Diki, teman Gun juga, mengarah ke halaman.

Terparkir sebuah motor dan seorang berperawakan sedang, dengan senyum lebar.

“Haha… Anas,” Anas datang menghampiri.

Mereka duduk melingkar di teras rumah, dibalut dengan obrolan yang memang sudah jauh-jauh hari disiapkan.

“Seperti yang aku kirim kemarin melalui SMS, kekhawatiran kita perihal pembangunan pasar modern itu ternyata benar adanya, bukan lagi menjadi omong kosong belaka,” kata Anas membuka obrolan.

“Dan bagaimanapun kita harus tetap bergerak, warga kampung yang sebagian besar pedagang menyambung hidup dari pasar itu,“ tambah Gunawan.

“Kalau pasar itu berubah jadi pasar modern, otomatis para pedagang harus membayar pajak untuk setiap lapak dengan harga yang lebih mahal. Hah… Dasar… Mentang-mentang pejabat maen sikat aja,” Anas mulai Geram.

Sudah tiga bulan lebih mereka bertiga berusaha keras mendatangi setiap warga kampung dari rumah ke rumah untuk ikut serta menolak pembangunan pasar. Menurut mereka, adanya pembangunan pasar modern bukan saja merenggut pendapatan warga kampung, tapi juga membunuh perdagangan tradisional dan akan timbul persaingan yang ketat.

“Hah? Pejabat juga ikut di dalamnya? “

“Pantauan kita selama ini hanya pada pembangunan dan dampaknya saja. Coba kits lihst keadaan lebih jauh lagi. Masa kamu belum paham maksudku, Gun,” Anas menahan rasa jengkel di dada. Ia mampu memahami keadaan yang berlangsung selama ini dari apa yang dijelaskan Gunawan.

“Coba kamu jelaskan lebih rinci,“ pinta Gunawan.

“Begini, Gun, Jal,“ telapak tanggannya ia angkat.

“Proyek pembangunan pasar itu bukan hanya permainan investor ataupun kebijakan pemerintah, dibaliknya ada akal-akalan politisi yang beberapa bulan lagi akan naik. Sejatinya, mereka butuh dukungan materil. Nah, dari mana lagi mereka dapatkan itu kalau bukan dari investor?“

“Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?” Rijal menimpal. Jelas nampak sekali ia masih bingung dengan langkah selanjutnya yang harus diambil.

“Tetap kekuatan massa,” imbuh Gun dengan dahi mengkerut serta tangan terkepal kencang.

Urat-urat dahinya timbul menarik kenyataan yang terjadi.

“Masyarakat tetaplah butuh makan, dan cara mereka memenuhi hajat itu hanya didapat dari berjualan di pasar. Pasar tradisional pasarnya rakyat, bukan pasar investor,“ Gun berbicara dengan mantap penuh keyakinan

“Warga kampung yang kita kumpulkan beberapa waktu lalu sebagian memilih pasrah. Bahkan, di antara mereka ada yang sudah teken kontrak. Sisanya masih bersikukuh menolak. Nah, sekarang jangan buang-buang waktu, mereka harus kita temui,“ kata Anas.

Sebelumnya Anas sudah mengumpulkan warga kampung di rumah kuwu. Mereka hanya tinggal menggerakan massa. Mereka bertiga pun berangkat dengan penuh keyakinan.

Sekali lagi, mereka membuat nasib warga kampung benar-benar ada dalam segala keputusan yang mereka tentukan.

***

 

“Saya ini pemerintahmu, jadi rakyat harus tahu apa yang saya lakukan semata-mata buat kebaikan mereka, termasuk kamu. Saya kan sudah bilang, apapun yang terjadi, pembangunan pasar akan tetap berjalan,” ujar seorang lelaki dalam balut cahaya lampu melempem.

Di belakang pinggangnya terkepal kekar sebuah amplop dengan tangan melingkar. Dagu terangkat, tatapannya tajam membelakangi seorang bertubuh kurus yang sedang berdiri dengan kepala agak menunduk.

“Enya, pak,“ balas si kurus menanggung beban.

***

 

Rumah kuwu penuh disesaki warga kampung. Gunawan duduk sejajar bersama dua teman beserta petinggi kampung. Mereka bergantian melontarkan keluh kesah. Bagi Gun, segala keluh kesah tersebut merupakan jerit kekesalan akibat permainan pemerintahan yang egois.

Kedua temannya, Anas dan Rijal sibuk berdialog dengan warga kampung. Sekarang Gun benar-benar meresapi kepayahannya. Dua tahun ia kuliah, berdiskusi membahas tatanan masyarakat, membaca segala persoalan, dan melakukan segala kegiatan akademik, kesemuanya menjadi agenda kesehariannya di tanah orang. Kehebatannya mencerna buku-buku tebal harus ia pertanggung jawabkan dengan kondisi yang ia hadapi kini. Berat ia rasakan.

“Ya Allah, kaula nyuhun dikuatkeun tina sadaya cocoba. Tempokeun jalan anu sakuduna pikeun kasalametan sarta kasajahteraan warga kampung. Mugia Gusti nangtayungan,“ ucapnya dalam hati dengan segenap penuh harap pada tempat mengadu tunggal.

“Gun, ayo semuanya sudah siap,“ ucap Anas dengan segala kesiapan warga kampung, berikut alat-alat yang sejak semalam ia siapkan bersama Warga kampung.

Warga kampung serta petinggi kampung berbondong-bondong menuju pasar. Semua mata di pinggir jalan riuh melihat arak-arakan warga. Ada pula yang acuh tak acuh, buat mereka itu masalah pedagang bukan masalah bagi petani, peternak, ataupun buruh pabrik. Di sepanjang jalan, rombongan arak-arakan itu meneriakan berbagai tuntutan.

“Tolak pembangunan pasar modern!”

Spanduk-spanduk bertuliskan penolakan ikut bergentayangan naik turun.

Sampai di pasar, aparat sudah menunggu. Warga kampung silih berganti meneriakan penolakan mereka layaknya demonstran berpengalaman. Tiba giliran Gunawan.

“Assalamualaikum.wr.wb… Warga kampung sekalian, setiap pagi kita membuka lapa-lapak di pasar ini dengan harapan bisa mendapat sedikit rezeki buat makan anak-istri dan keluarga di rumah. Pemerintah juga tahu itu kerena kita rakyatnya. Namun, mereka buat sumber penghidupan kita jadi sulit dan jadi sempit. Padahal, bukan ini yang kita inginkan. Tanpa perlu bangunan pasar yang megah, pasar tradisional saja sudah cukup buat kita semua makan sehari-hari.“

Dengan suara teratur Gunawan berseru ditengah-tengah kerumunan warga kampung. Semuanya membisu mendengar setiap tutur ucap Guanawan.

“Sungguh harus kita tanyakan buat siapa mereka membangun pasar. Buat kita rakyatnya kah? Atau buat kepentingan pribadinya saja?” Lanjut Gun meninggi.

Selepas semua keresahan disampaikan, warga kampung pulang teratur ke rumah masing-masing. Mereka berharap suara mereka didengar pemerintah.

***

 

Gunawan yang sedang duduk termenung memikirkan rencana kedepannya, seandainya warga kampung terus mundur satu persatu semuanya akan sia-sia saja. Saat diam ia termenung, tiba-tiba dari luar gang Anas muncul diikuti sekitar lima orang berseragam aparat. Tidak salah lagi, Anas bersama polisi.

Gunawan melotot tapi tidak sedikitpun ia beranjak dari tempat duduknya. Anas serta polisi di belakangnya semakin dekat, tampak dari wajahnya kekesalan, tidak percaya sekarang tangannya harus diborgol seperti seorang kriminal.

Polisi yang sekarang di hadapan Gunawan menjelaskan bahwa ia harus ikut ke kantor untuk menjelaskan kejadian di pasar tadi pagi. Sang ibu yang baru keluar dari dalam rumah hanya melongo meneteskan air mata melihat putranya didatangi aparat penegak hukum. Jantungnya serasa copot. Tubuhnya mendadak lemas, seketika saja ia ambruk di tempat itu juga.

“Sial… Apa maksud semua ini, Nas?“ Dalam keadaan diborgol keduanya semakin marah.

“Kita dituduh provokator. Kamu tahu siapa yang melaporkan kita?“ Anas mendekatkan mulutnya ke kuping Gunawan, ia berbisik: “Rijal!“

Sejurus kemudian polisi di belakang mereka mendorong paksa masuk ke dalam mobil.

 

*Mahasiswa PMI. Kontributor setia lpmrhetor.com.