Eksistensi Perempuan dan Pemahaman Feminisme

Eksistensi Perempuan dan Pemahaman FeminismeIlustrasi : jeunes-communistes.org
Oleh : Septi An-Nur Rizkia
Berbicara mengenai perempuan, tidak akan habis-habisnya. Perempuan, bukan hanya sekedar tentang perasaan, pengabdian, ketidak setaraan, apalagi hanya tentang analogi manusia dan bunga. Terlalu picik pula jika hanya perempuan disimbolkan sebagai pemuas nafsu belaka. Terlalu lemah jika hanya diperkenankan berdiam diri. Terlalu patuh jika hanya dimanfatkan sebagai pengabdi. Sudah saatnya perempuan melegitimasi keberadaannya. Bergerak, bersuara, berlari, berjuang  dan beteriak pada dunia bahwa perempuan memiliki tempat atas kuasa muka bumi ini. Banyak para pejuang perempuan hebat yang telah menghebatkan dunia ini. Tapi mereka memiliki porsi dan tataran masing-masing. Dunia ini keras dan akan semakin keras jika perempuan hanya tunduk dan patuh pada rezim kapitalisme yang semakin membelenggu  eksistensi perempuan. Hidup bukanlah khayalan semata, tapi realitas yang harus dibangun dan digerakkan.
              Perlu diketahui, sebelum adanya sistem patriarki, sistem matriarki juga pernah menduduki atas kuasa dunia ini. Jika dikatakan bahwasanya laki-laki itu lebih rasional dari pada perempuan, itu salah besar. Perempuan juga bisa lebih rasional dari pada laki-laki, hanya saja sistem pariarki yang sudah mengakar dan membudaya hingga membentuk perempuan menjadi lebih condong pada emosionalnya. Itu adalah bentukan dari stereotip masyarakat yang hegemoni bukan sesuatu yang disebut dengan nature (alami). Lebih ironisnya lagi, labelisasi pada perempuan bahwa perempuan adalah objek sex maupun kekerasan.
           Berbicara mengenai feminisme, berarti berbicara kesadaran. Kesadaran yang sudah ada tetapi  kalah dengan arus  kehidupan yang sudah menggerakkan dan menyuarakan perempuan. Bukan semata-mata kesadaran dibidang ilmu, lebih kepada semangat dan cara pandang bagi penulis. Feminisme bukanlah sesuatu yang dihasilkan oleh satu cara pandang sedemikian sehingga menimbulkan produk pengetahuan dan cara mengetahui yang tunggal saja. Disini, penulis lebih mengartikan sesuatu yang lebih bersifat cair dan jamak. Feminisme juga tentang kesetaraan sosial entah perempuan maupun laki-laki. Karena tidak hanya perempuan yang berada dikelas bawah dan tertindas oleh sistem kapitalis laki-laki pundemikian.  Karena yang dimaksud dengan feminisme yaitu ideologi yang menyadari ketimpangan konstruksi dan kemudian mengarahkan dirinya kepada perubahan atas ketimpangan. Pemahaman yang mengarahkan feminisme mendorong perempuan untuk single parent merupakan stereotip kecurigaan dan paranoia semata.  
              Sedang femininitas dan gender adalah konstruksi sosial budaya yang diatribusikan pada perempuan. Yang bukan merupakan biologis manusia maupun female yang mengarah pada perempuan atau  betina yang sudah kodrati atau alamiah. Jadi, penulis lebih menekankan bahwa antara biologis manusia dan gender itu harus dibedakan agar tidak rancu dan tidak saling bertabrakan maupun saling campur aduk yang akhirnya gagal paham dan lagi-lagi mengatas namakan agama untuk menolak gerakan feminisme.
                     Perlu diketahui pula, asumsi-asumsi yang mengatakan kalau feminisme adalah pengaruh  dari barat itu harus bisa dipertanggung jawabkan. Karena feminsme ini masuk ke Indonesia sebelumnya juga melewati ruang-ruang tertentu pula. Juga sudah banyak dikonstruk oleh  pemikiran-pemikiran dari berbagai pihak yang mendalami, menekuni, bahkan melakukan observasi pada faham itu sendiri.
                 Jika dikaitkan dengan agama, Islam adalah sistem kehidupan yang mengantarkan manusia untuk memahami realitas kehidupan. Islam juga merupakan tatanan global yang diturunkan Allah sebagai Rahmatan lil’alamin. Sehingga sebuah konsekuensi logis bila penciptaan Allah atas makhluknya (laki-laki dan perempuan) memiliki missi sebagai khalifatullah fil ard, yang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan peradaban manusia. Dengan demikian, perempuan dalam Islam memiliki peran yang komprehensif dan kesetaraan harkat yang sebagai hamba Allah serta mengemban amanah yang sama dengan laki-laki. Perempuan memiliki peran yang sangat strategis dalam mendidik anak bangsa, memperbaiki masyarakat dan membangun peradaban.
                Bisa dikatakan, feminisme dengan konsep gendernya tidak ada dalam Islam. Namun sebagai perempuan yang mumpuni dalam sektor peradaban, kita di tuntut untuk mampu menjelaskan peran perempuan itu sendiri. Baik dengan paradigma Agama manapun, maupun dalam ranah pergerakan. Semua itu berangkat dari kesadaran untuk berperan aktif dalam dinamika kehidupan masyarakat yang terbangun dari sebuah pemahaman. Karena sejarah juga pernah menjadi saksi atas perjuangan para perempuan Indonesia dahulu bahwasanya perempuan dapat menyampaikan anspirasi maupun kontrol dan juga mampu melakukan perubahan. Dan tidak mesti dalam ranah yang sama. Sebab semua itu juga butuh proses, apalagi dengan pribadi manusia yang memiilki tataran dan porsi yang berbeda-beda. Di era saat ini, perempuan juga harus mampu menyalurkan anspirasi  maupun gagasannya ke arah perubahan walaupun dengan cara yang berbada-beda.
               Penulis menegaskan, jangan dengan mudah men-judge suatu faham sebelum mempunyai pemahaman yang pasti akan ideologi yang dibangun suatu komunitas atau kelompok. Dan pada intinya, sebagai spirit untuk perempuan agar bergerak dalam ranah apapun. Jangan hanya mau berada dalam wilayah domestik saja. Dunia ini luas dan sangat membutuhkan kehadiranmu untuk membangun sektor negara yang maju serta berdaulat atas masyarakat laki-laki maupun perempuan yang saling berbaur dan bahu membahu. Untuk para perempuan hebat yang akan menghebatkan dunia yang kadang menyepelekanmu, semangat dan terus berjuang  untuk Negeri Indonesia tercinta ini.