Dosen Ikut-Ikutan Jadi Panitia, Mahasiswa Dikekang


lpmrhetor.com, UIN – Pengenalan Budaya Akademik Kampus dan Kemahasiswaan (PBAK) menjadi kegiatan awal bagi mahasiswa baru di perguruan  tinggi. Agenda yang bermula dari SK Dirjen Pendidikan Islam No. 4962 tahun 2016 itu menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk saling mengenal, menjalin komunikasi, dan mempererat tali silaturahmi satu sama lain.

Pada mulanya, agenda awal tahunan tersebut dilaksanakan sebagai usaha penyadaran mahasiswa, seorang insan akademik, agar lebih merasa memiliki tanggung jawab sosial terhadap sekitar. Sebagaimana tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian kepada masyarakat.

Namun nahas, proyeksi agenda yang menjadi medium bagi mahasiswa untuk menumbuhkan nalar kritis tersebut, justru berubah seiring dengan perubahan pola pelaksanaannya. Hal itu ditandai pula dengan perubahan nama OPAK menjadi PBAK. Radikalnya perubahan agenda begitu kentara ketika masuknya pihak dosen dan karyawan ke dalam struktur kepanitiaan eksekutor.

Dengan dalih menghindari praktik bullying, kekerasan, dan senioritas, pihak birokrasi merasa memiliki legitimasi untuk turut campur dalam kegiatan yang seharusnya murni milik mahasiswa itu. Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Abdur Rozaki, Ketua Panitia PBAK dari kalangan dosen.

“Ketua PBAK Universitas dan Fakultas memang harus dari dosen untuk menghindari praktik bullying, kekerasan, dan hal-hal yang tidak mendidik lainnya,” ujarnya ketika ditemui oleh lpmrhetor.com (25/08).

Kebijakan tersebut dinilai justru mengekang kebebasan mahasiswa. Mahasiswa jelas-jelas merasa terkekang karena tidak bebas mengekspresikan dirinya secara total. Keadaan ini dirasakan oleh Rani, Koordinator Lapangan Kegiatan. Rani mengatakan bahwa ia tidak bisa merasa bebas ketika melakukan orasi-orasi di depan para mahasiswa baru.

“Kita sebagai korlap agak was-was juga. Apalagi ketika diawasi Pak Rozaki,” kata Rani (25/08).

Lain dengan Rani, Ridho Prabowo, Sekretaris Umum PBAK, mengaku merasa diintervensi oleh pihak dosen yang menjadi panitia. Ridho mengatakan ada indikasi pembatasan ruang-ruang dialektis yang selama ini menjadi budaya di dalam lingkungan akademik. Wacana pengetahuan mahasiswa hanya dibatasi kepada pengetahuan tentang Islam dan Indonesia.

”Oke, kita sama-sama Indonesia dan tahu Islam. Tapi ada hal lain yang perlu sekiranya diketahui oleh mahasiswa baru. Seperti realita pendidikan sekarang, degradasi karakter mahasiswa, dan nalar kritis mahasiswa,” ujar Ridho (25/08).

Kepanitiaan PBAK di Fakultas Dakwah dan Komunikasi sendiri mencantumkan enam nama dosen di dalam struktur kepanitiaan. Termasuk Abdur Rozaki sebagai Ketua Panitia Umum Universitas yang merangkap juga sebagai Ketua Panitia Fakultas.[]

Reporter: Jamali

Editor: Fahri Hilmi