Deklarasi Organ Ekstra; Niat Baik yang Mengganggu

Massa Deklarasi Korp Batara, PMII, FDK, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta sedang melaksanakan longmarch di jalanan kampus timur (9/11). Dok. Istimewa.

Bukannya membangun kesadaran kolektif mahasiswa, aksi deklarasi yang digelar saat jam perkuliahan sedang berlangsung malah mengganggu sivitas akademika yang lain. Sudah usangkah model aksi yang demikian?

lpmrhetor.com, UIN – Sabtu (11/11). Sejak pagi, segerombolan mahasiswa bersiap mengelilingi kampus sembari membawa berbagai macam atribut demonstrasi; pengeras suara, spanduk yang bertuliskan berbagai tuntutan, dan segala pernak-pernik pelengkap seperti kostum dan bendera organisasi. Gerombolan tersebut adalah kader-kader baru organisasi ekstra yang berencana mengelilingi kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta seharian penuh dalam rangka mendeklarasikan diri agar seantero jagat kampus mengetahui keberadaan mereka.

Setidaknya, dalam pantauan lpmrhetor.com telah ada dua kelompok yang berbeda yang menggelar deklarasi dalam kurun waktu yang berbeda pula. Mereka adalah Korp Golden, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), UIN Sunan Kalijaga (selanjutnya ditulis Korp Golden), yang menggelar deklarasi pada Rabu (8/11), dan Korp Batara, PMII, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), UIN Sunan Kalijaga (selanjutnya ditulis Korp Batara), yang menggelar deklarasi sehari setelahnya (9/11).

Gelaran deklarasi, baik yang dilakukan oleh Korp Golden maupun Korp Batara, dilakukan sebagaimana aksi demonstrasi pada umumnya. Di setiap fakultas yang mereka singgahi, mereka menyampaikan berbagai orasi politik dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan mahasiswa bak Reformasi 1998.

 

Deklarasi juga membawa tuntutan

Selain motif deklarasi, gelaran tersebut juga dilakukan sebagai bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap realita yang sedang terjadi di sekitar. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Azizi, salah satu massa deklarasi Korp Batara.

“Deklarasi dari Korp Batara sendiri bertujuan untuk [membangun] persatuan Korp Batara. [Selain itu, gelaran ini] juga menunjukan gerakan kolektif kita untuk menanggapi degradasi yang ada di kampus; terkait fasilitas dan UKT (Uang Kuliah Tunggal-red) yang semakin mahal dan tidak sesuai dengan ekonomi keluarga,” katanya saat ditemui lpmrhetor.com (9/11).

Selain Azizi, Koordinator Umum Deklarasi Korp Golden, Izzy, juga menyampaikan hal serupa sehari sebelumnya (8/11). Ia mengatakan bahwa gelaran deklarasi diselenggarakan tidak hanya sebagai alat untuk memproklamirkan golongannya saja, namun juga sebagai medium penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap berbagai isu yang terjadi.

“Kita mengambil banyak isu terutama terkait isu kampus. Terus isu pemuda, keagamaan, juga kebudayaan,” kata Izzy.

Korp Golden, PMII, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta gelar orasi politik di Taman Fakultas Dakwah dan Komunikasi (8/11). Dok. Rhetor/Ravi Ardiansyah.

Waktu yang tidak pas hingga kemasan yang tidak menarik

Namun sayang, idealita kedua kelompok tersebut, sebagaimana yang dikatakan Izzy maupun Azizi, tidak disesuaikan dengan konteks realita. Mereka menggelar deklarasi, plus demonstrasi tersebut, tanpa memerhatikan waktu penyelenggaraannya yang dilakukan saat jam perkuliahan sedang berlangsung. Alhasil, bukannya kesadaran kolektif mahasiswa yang didapat, justru kedua kelompok ini mendapat berbagai macam kritikan.

“Kalau menurutku sih waktu. Harusnya jangan mengganggu [jam] pembelajaran,” ujar Neng Sulastri, mahasiswa FEBI (8/11).

Beberapa mahasiswa menilai kebaikan yang coba disampaikan oleh kedua kelompok massa deklarasi menjadi tidak tersampaikan dengan baik. Hal itu disebabkan karena gelaran deklarasi mengganggu aktivitas sivitas akademika yang lain.

Yuyun, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi menyampaikan bahwa mahasiswa memang memiliki hak untuk menyampaikan aspirasinya. Namun, pemilihan cara dan penempatan waktunya harus benar-benar tepat dan sesuai dengan kebutuhan publik.

“Ya sebenernya sah-sah saja sebagai mahasiswa. Cuma, mungkin kaya cara dan waktunya harus dipasin lagi deh. Kaya gini kan malah cenderung mengganggu sebenarnya,” katanya (9/11).

Selain waktu, kemasan aksi yang ditampilkan juga terbilang kolot dan belum cukup menarik perhatian publik. Beberapa mahasiswa mengatakan bahwa gelaran tersebut belum cukup mewakili hak setiap mahasiswa.

Salah satunya Arik, mahasiswa Fakultas Ushuludin. Arik menilai bahwa aksi tersebut kurang menarik dan sarat dengan politik identitas. Sehingga, mahasiswa yang lain seakan tidak memiliki tempat untuk turut serta menyampaikan aspirasinya.

“Kurang menarik sih menurutku, kurang strategis. Bagaimana bisa membuat mahasiswa merasa kalau mereka juga ada hak di sana. Seolah [gelaran] demikan hanya untuk kepentingan organ mahasiswa tertentu,” katanya (8/11).[]

 

Reporter Magang: Indra Gunawan dan M. Muadz

Editor: Fahri Hilmi