Cinta dan Bangku Sekolah

Gambar: Bintang.com

Oleh: Lian Ahmad F*

Dia adalah Andrianti, seorang perempuan yang menurut teman-temanku yang selalu seksis itu; cantik. Banyak orang yang suka padanya mulai dari adik kelas sampai kakak kelas, dari yang jelek sampai yang ganteng , dan aku termasuk kategori pertengahan yang  bisa kemana saja tergantung situasi dan kondisi.

Memang, kuakui dia adalah sosok perempuan yang berbeda dibanding teman sepermainannya. Sebagai seorang perempuan Sunda, Andrianti cukup mempesona. Katakan saja standar kesempurnaan masyarakat Asia Tenggara yang khas; kulit putih, rambut yang sedikit bergelombang, mata yang terlihat cukup minimalis, bibir tipis, semua lengkap dimilikinya. Ah Andrianti!

Meski begitu dia tidak suka memilah-milih teman. Dia bisa berbaur dengan siapapun, tanpa melihat latar belakang seseorang.

Kali ini aku belum tertarik padanya karena aku siswa dengan segudang prestasi kenakalan. Tiada hari tanpa masuk ruang BP/BK, dan menjadi anak nakal itu adalah pekerjaan yang sangat mulia, karena setiap hari bisa bersilaturahmi dengan guru-guru yang baik hati dan ikhlas menasihatiku setiap hari.

***

Ketika  itu hari Selasa, bel berbunyi tepat jam 07.00 pagi. Bagi sebagian orang, bunyi itu adalah tanda masuk kelas. Tapi, karena aku ini special, aku masih bermalas-malasan di atas kasur tipis tanpa sprei. Seperti biasa, banyak sms dan telpon yang masuk.

“Kriing… Kring…” bunyi panggilan yang terakhir. Baiklah kali ini aku jawab siapa tau dari ayahku yang ingin menambah uang jajan. Nahas, ternyata temanku yang menelpon, kandas sudah. Namanya Baihaqi, pria pengguna setia motor Jupiter MX berwarna merah dipadukan dengan sedikit stiker di bagian motornya agar terlihat keren tentunya.

“Udah jam berapa nih, dasar kebo!” dengan nada yang keras.

“Jam berapa yaa?” jawabku

“Ayo bangun! Ngopi dululah molor mulu, Yan. Dasar pengangguran.”

“Berisik ah. Bawa kopi ama rokok ke atas.”

Dan dia pun datang ke kamarku membawa secangkir kopi yang masih panas dan beberapa batang rokok yang biasa ia bawa.

Tiba-tiba perbincangan kami mengarah pada perempuan yang sedang ramai diperbincangkan teman-teman di sekolah.

“Udah tau belum ada murid baru yang sekelas sama kita itu?”

“Iya tau.”

“Kamu kenal?”

“Nggak, emang kenapa? Kena masalah?” jawabku dingin.

Sebenarnya aku pun penasaran tentang si anak baru ini. Tapi ku biarkan saja Baihaqi bercerita. Dia memang teman dekat sekaligus informan ku urusan sekolah

“Banyak yang ngomong sih jomblo, Yan. Udah gitu ya, baik lagi anaknya. Terus.. Hehe… Banyak duit, Yan! Kamu sih pasti betah, soalnya kemakmuran dan kesejahteraan perut terjamin. Hahaha…” dia memang suka bercanda.

“Duit mulu otaknya. Eh tapi boleh juga, ya. Hahaha…”

Kami pun terus ngobrol kesana kemari, sampai tak terasa bel istirahat pun berbunyi. Aku mulai mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, tiba-tiba ada yang memanggilku dengan nada yang cukup membuatku kaget.

“Yan, sekarang ke ruang BP, ditunggu!” kata bu Euis yang waktu itu menjabat sebagai guru BP. Aku heran kenapa guru-guru BP tak dapat menahan rindunya walau sehari saja. Bayangkan saja, aku baru datang ke sekolah sudah disuruh ke ruang BP.

“Iya bu, ada apa ya bu?” sebenarnya aku sudah tahu, pasti gara-gara masuk sekolah pas jam istirahat.

“Nanti ibu jelasin di kantor. Mmasukin bajunya, pake dasi yang bener!”

Di kantor, Pak Dedi, yang juga guru BP, menyuruhku untuk duduk di kursi berwana coklat  yang cukup keras, karena busa  didalam kursi itu menipis.

“Kamu tahu ini jam berapa, Yan?”

“Gak  tau pak, gak punya jam tangan.”

“Hampir tiap hari kamu ke sini, Yan. Gak ada kapok-kapoknya. Bapak capek ngadepin kamu itu. Udah, sekarang saya kasih surat pindah!”

Aku  kaget mendengarnya, karena aku sudah betah sekolah di sini.

“Saya janji deh, pak, gak kesiangan lagi.”

Aku meyakinkan pak Dedi dengan wajah penyesalan. Sampai-sampai hampir saja kupegang tangannya dan berlutut sambil memberikan bunga mawar merah. Tapi, ku urungkan niatku, karena aku takut pak Dedi mengatakan “Yes I do”.

“Arkhh..  saya sudah bosan dengan janji-janji kamu itu!”

Beruntungnya, tak lama Pak Dedi mengubah pikirannya. Dia tidak akan memindahkanku ke sekolah lain, melainkan mempertimbangkan negosiasiku untuk tetap sekolah di sini.

“Ya sudah, saya kasih satu kali lagi kesempatan buat kamu, sekarang kamu pergi ke depan tiang bendera, sambil hormat jangan berhenti sampe saya suruh berhenti!”

Aku pun mengikuti apa yang disuruh Pak Dedi, dan mulai berangkat ke lapangan upacara yang panas dengan menghadap ke tiang bendera yang di atasnya berkibar bendera merah putih.

Banyak orang menertawaiku, tapi tak kuhiraukan karena aku sedang kesal dan kepanasan di tempat itu.

Ketika sedang hormat, ku melihat  seorang perempuan yang memperhatikanku dari lantai dua gedung sekolah.

Dia adalah Andrianti, menatapku sambil menggenggam sebuah handphone. Dengan sedikit senyuman di bibirnya. Entah apa yang dia pikirkan, tapi aku cuek, aku bukan malah jatuh cinta padanya. Aku malah kesal, karena harus hormat di bawah panasnya terik matahari.

“Panas? Pegel?”  Pak Dedi mendekatiku dengan sedikit gaya meledek.

“Nggak, pak. Biasa aja.”

“Ya sudah, sekarang kamu masuk kelas. Jangan bolos lagi!”

“Iya pak, tapi saya haus pak, beli minum dul, ya.”

“Saya kasih waktu lima menit buat beli minum, saya tunggu!”

“Iya, pak”

Aku berlari ke belakang masjid menuju gerbang sekolah. Karena di sana banyak yang berdagang di depan sekolah.

Sambil membeli es, aku santai sejenak, sambil meluruskan kaki yang lumayan pegal. Lalu kunyalakan sebatang rokok yang ku bawa.

Tak terasa sebatang rokok pun habis, dan aku langsung berlari menuju ruang kelas.

Tok… Tok…

“Permisi, bu. Saya boleh masuk?”

“Kamu lagi. Abis dari mana?”

“Ruang BP, bu,” jawabku ketus.

“Ya sudah masuk cepat.”

Aku masuk, lalu duduk di kursi belakang paling pojok sebelah kanan. Ku lihat di sudut kursi paling depan, ada yang diam-diam memerhatikan, sambil tersenyum. Ya, dia Andrianti.

***

“Kamu kenapa senyum-senyum?”

“Nggak kenapa-napa, emang?” dia menjawab dengan sedikit kerutan di dahinya.

“Kulihat kamu kayaknya bahagia gitu. Lihat aku dihukum!”

“Oh.. Itu. Gak apa-apa sih. Cuma tadinya pengen ngingetin kamu biar sekolah bener,” sambil tersenyum.

“Aku gak bener? Kata siapa?”

“Banyak tuh yang bilang kamu nakal.”

“Ah jangan dipercaya.”

“Kok jangan?” Andrianti heran.

“Percaya sama Allah, bukan sama mereka.” jawabku dengan tersenyum, tapi dia malah asik membereskan  buku di mejanya. Aku tahu dia sedang berusaha menahan ketawa.

“Semua orang bilang gitu tuh, biar kamu  gak suka sama aku. Hahaha…”

“Siapa juga yang suka sama kamu?! Ihh…” jawabnya sambil mengalihkan pandangannya

“Liatin aja, nanti juga kamu jadi suka ko sama aku. Hahaha…”

Aku pun pergi meninggalkan Andrianti.

Lian Ahmad F. Mahasiswa PMI 2015.