Puisi Siti: Aku yang Tak Suka Baca Tulis

Aku tak tahu apa-apa

Tapi tak mau baca

Ku diminta berpikir kritits?

Sudahlah, jawabku hanya diam

 

Suka baca saja tidak bisa

Apalagi meramu kata

Tulisanku jauh dari milik mereka

Hanya susunan kata tanpa makna

Dibaca untuk dilupa

Atau malah jangan-jangan tidak ada yang mau baca?

Kecuali aku sendiri, haha

 

Ada yang bilang, menulis adalah bekerja untuk keabadian

Menulis yang seperti apa?

Apakah tulisan tanpa makna termasuk di dalamnya?

Tulisan milikku, contohnya

 

Oh, aku tahu…

Mungkin jika dikaitkan tulisanku, maknanya adalah

‘Seorang yang tak pandai menulis’

Ya, ungkapan itu bisa melekat abadi pada diriku

 

Ah sudahlah, lebih baik ku hentikan bualanku

Sebab, nampaknya aku mulai berlagak tahu

Maaf jika membuat kalian membaca sejauh ini

Membuang waktu, tidak menarik

Puisi Isti : Rumit

Aku meninggalkanmu..

Namun sebelum itu, ku meminta bertemu

Ya, untuk yang terakhir kali kataku

Lantas kau datangi aku

Aku mengungkapkan emosiku

Aku membencimu

Pergi adalah pilihanku

 

Namun setelah itu,

Aku mengatakan Rindu

Aku datang menghampirimu

Kita bertemu

Aku menangis di depanmu

Aku mengatakan, Aku mencintaimu

 

Kau mulai acuh lagi padaku

Aku membencimu

Aku meninggalkanmu

Kau datangi aku

Aku kembali padamu

Puisi Halida : Pilu

Kupijaki langkah seribu malam

Menatap langit dibawah naungan petang

Semerbak angin menyayat malam

 

Ku rebahkan mata  seribu pandang

Menatap pedih dibawah jalan

Semerbak tangis menggerumuh petang

 

Sekian hari terkuak sudah

Deretan tangan mengadah atas

Mereka layu menguap takdir

 

Setiap cerita tersimpan tangis

Pedih kian terukir sudah

Wajah mungil terkikis lapar

Mereka layu terselimut jalan

Hingga tubuh lemas terukir derita

 

Tuhan..  lihatlah bibir centil mereka

Sekian detik menggerutu lapar

Mengadah tangan meminta rizki

Walau kadang terusir kecewa

Walau hujan menguap dingin

 

Namun, demi sesuap nasi

Mereka berlayar menyusuri duri

Dengan do’a ribuan harapan

Kepada-Mu Sang Ilahi

Puisi Diana : Bunda

Krik…krik…krik…

Terdengar nyanyian jangkrik

Hening ditemani gemercik hujan

Senyap begitu dingin

Membuahkan kata-kata rindu

Bunda…

Jauh didalam hati dan pikiranku

Bersama cinta yang bergemuruh damai

Masih terukir jelas namamu

Tersimpan begitu lembut di hati ini

Bunda…

Disini begitu riuh, tapi…

Terasa sepi tanpamu

Tak ada satupun yang kulupakan darimu

Terbayang sempurna dalam khayalku

Mencetak  mimpi ingin membahagiakanmu

Bunda…

Disini begitu indah, tapi…

Terasa begitu buruk tanpamu

Terima kasih telah mengukir banyak mimpi

Terima kasih telah menjadi mutiara dalam mimpi

Terima kasih telah menjadi sahabat terbaikku

Bunda…

Puisi Annisa : Malu

Tuhan, Aku malu…

Wajahku selalu basah dengan sabun muka yang kukenakan,

dan selalu belapiskan bedak agar timbul kecerahan darinya

Bukan… Bukan  basah dan cerah karena air wudhu

Mukenaku kini telah jarang  ku pakai pada 5 waktu-Mu,

Apalagi diwaktu-waktu sunnah-Mu..

Sajadahkku kini tak lagi menjadi saksi setiap  tetesan do’aku disepertiga malam-Mu

Bibirku selalu basah dan bergerak sesukanya karena membicarakn aib orang lain

Memebicarakan kesia-siaan belaka,

Bukan komat kamit berdzikir pada-Mu

Mataku tanpa sengaja sering melihat ketidakbaikan

Telingaku juga tak jarang kubiarkan mendengar kemaksiatan

Tangan ini, tak jarang digunakan hanya untuk perbuatan sia-sia

Hanya demi kepupleran dunia maya

Namun…

Aku masih Mengeluh dengan ujian yang Kau berikan

Menginginkan selalu diberi kesehatan

Menginginkan selalu diberi keselamatan

Menginginkan rezeki yang berkecukupan

Menginginkan kebahagian

Menginginkan kesuksesan

Mengingkan dimaafkan

Aku, hambamu yang masih terus terusan meminta ini itu

Aku malu, tapi sebenarnya tak  punya malu