Relawan Ditangkap Saat Pengosongan Lahan Bandara NYIA

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Polisi kembali menangkap sejumlah relawan solidaritas penolak bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) saat lakukan pengosongan paksa lahan milik warga di Temon, Kulon Progo pada Selasa (9/1/18).

Tercatat ada tiga orang relawan solidaritas yang ditangkap dan saat ini berada di Mapolres Kulon Progo. Mereka adalah Haidar, Rozak, dan Zaki.

Kasatreskrim Polres Kulon Progo, Dicky Hermansyah, membenarkan informasi  tersebut. Dicky mengatakan bahwa pihak kepolisian memang melakukan penangkapan terhadap sejumlah relawan solidaritas.

“Kalau info [penangkapan] betul. Tapi, untuk kronologi belum tahu,” katanya kepada lpmrhetor.com melalui pesan Whats App.

Sebelumnya, pada pukul 10.35 WIB alat berat milik AP 1 merobohkan tegalan milik warga. Beberapa warga pun mencoba menghalangi alat berat perusak itu. Namun, karena aparat turut mengawal proses pengerusakan, terjadilah aksi dorong-dorongan antara warga dengan aparat.

Menurut kronologi yang dirilis oleh Aliansi Tolak Bandara (ATB), salah satu oknum aparat mengacungkan jari tengah ke hadapan warga. Hal itu memicu bentrok antara warga dan aparat.

“Sempat terjadi dorong-dorongan antara warga dan aparat. Salah satu aparat kemudian mengacungkan jari tengah mengarahkannya ke warga,” seperti tertulis dalam kronologi tersebut.

Beberapa relawan dan warga dijambak, diseret, dan diinjak-injak. Bahkan, salah satu relawan dipukul di bagian kepala hingga memar dan berdarah.

Beberapa warga dan relawan pun mengalami luka-luka. Di antaranya, Heron, Wahyu Tri, Sri Antoro, Medi, Rozak, Zaki, Haidar, Ponirah (warga), Arif (warga), dan Sumiyo (warga).

Tidak kalah beringas, sehari sebelumnya, lahan milik warga yang berada di areal pembangunan bandara NYIA juga disatroni PT Angkasa Pura 1 dan aparat gabungan.

Saat itu AP 1 beserta aparat melakukan pengerusakan kebun cabai milik Ustadz Sofyan, salah satu warga penolak. Sontak saja warga beserta relawan melakukan penghadangan karena lahan tersebut masih tercatat sah milik warga.

Namun nahas, aparat tidak bersikap kooperatif, beberapa warga ditendang, dicekik, lalu diseret.

Suyadi, salah satu warga, bahkan mengalami pingsan karena wajahnya terluka parah akibat ditendang menggunakan lutut oleh oknum kepolisian.[]

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Dyah R Utami

Fenomena Pengemis NIM dan Password Sebelum E-Voting Pemilwa UIN

Bisa saja NIM dipinta untuk kebutuhan pendataan E-Voting. Tapi password?

[divider][/divider]

lpmrhetor.com, UIN Sabtu (16/12/2017). Beberapa hari sebelum hari pemungutan suara, banyak oknum yang meminta-minta Nomor Induk Mahasiswa (NIM) lengkap dengan password-nya. Beberapa bahkan mengaku sebagai panitia KPUM. Entah apa maksud dan tujuan mereka. Pastinya, meminta NIM lengkap dengan password-nya merupakan tindakan yang jelas-jelas melanggar privasi. Mungkinkah manipulasi suara?

“Minta NIM sama password-mu buat daftar e-voting,” begitu kata sang pelaku lewat pesan WhatsApp kepada banyak mahasiswa, seperti diakui oleh salah seorang narasumber yang tidak mau disebutkan namanya (11/12/2017).

Dalih pendataan

Sebut saja Awang (bukan nama sebenarnya), salah seorang mahasiswa Ushuluddin. Ia menuturkan bahwa sang pelaku memintanya untuk mengumpulkan NIM dan password sebanyak-banyaknya dengan alasan membantu jika malas datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Pelaku mengaku bisa menitipkan NIM dan password itu pada panitia. Namun, Awang tidak menanggapi permintaan sang pelaku karena khawatir datanya bocor.

“Gak tak kasih lah. Coba dipikir, gak etis lah. Ya, cuma buat cari suara, sedangkan itukan privasi. Itu bisa diubah-ubah loh KRS (Kartu Rencana Studi-red) itu ketika orang lain tau [password]. Ya udah, gak saya bales lagi. Maleslah bales lagi, orang gak nggenah kaya gitu,” tuturnya kepada lpmrhetor.com (13/12/2017).

Nampaknya Awang bukan satu-satunya korban. Hendra, mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, bahkan memperlihatkan sejumlah screenshoot chat WhatsApp dari pelaku kepada lpmrhetor.com.

Hendra menuturkan bahwa sang pelaku meminta NIM dan password kepada mahasiswa yang pendiam dan tidak aktif berorganisasi dengan alasan untuk melakukan pendataan.

“Jadi, kebanyakan yang di-chat ini mahasiswa yang benar-benar ‘kupu-kupu’ doang. Itu yang diminta juga agak pendiam. Alasannya untuk mendata mahasiswa. Kan alasannya aneh. Setidaknya dosen yang melakukannya, masak ini,” katanya.

Tindakan melanggar

Apa yang dialami Awang dan Hendra patutnya tidak terjadi. Hal itu sebagaimana dikatakan oleh Shofwatul ‘Uyun, kepala Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (PTIPD).

Shofwatul mengatakan bahwa penyalahgunaan informasi dalam pemungutan suara elektronik merupakan tindakan yang dilarang.

“Prosesnya itu ketika mau aktivasi harus menunjukkan KTM. Jadi, kalau tanpa KTM, seharusnya gak boleh. Kalo panitianya ada yang kongkalikong kan kita gak tau. Misalkan, ada temannya yang masuk, dan gak bawa KTM, dia aktifkan aja NIM sama password-nya tanpa pengetahuan dia (pemilik KTM), sebenarnya kan tidak  boleh.”

Password patutnya rahasia

Nampaknya, para pengemis NIM dan password itu tidak paham betul bagaimana caranya berbohong. Alasan pendaftaran dan pendataan untuk kepentingan pemungutan suara elektronik dapat diterima jika hanya NIM yang dipinta. Namun, hal itu menjadi janggal saat password yang biasa digunakan untuk login Sistem Informasi Akademik (SIA) dimintai juga.

Wikipedia mengatakan, bahwa password atau kata sandi merupakan kombinasi kata rahasia yang digunakan untuk memverifikasi identitas pengguna agar tidak terjadi kebocoran data.

Dalam laporan Wall Street Journal, Fernando J Corbato, pencipta password, mengatakan bahwa password adalah mimpi buruk bagi para pencuri data (peretas).

“Password adalah mimpi buruk bagi peretas. Bahkan bagi pemiliknya sendiri,” katanya.

Apa yang Corbato katakan menyiratkan bahwa password merupakan benteng yang melindungi pengguna dari praktik pencurian data.

Dalam laporan yang sama, dijelaskan bahwa pada mulanya Corbato membangun sebuah jaringan komputer bernama time-sharing operating system di Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada 1960-an.

Jaringan tersebut dibangun agar sebuah komputer dapat terhubung dengan komputer yang lain dalam waktu yang bersamaan. Hal ini sama seperti konsep internet pada era sekarang. Namun, jaringan tersebut rentan terhadap pencurian data karena seorang pengguna dapat mengakses komputer pengguna lain dari tempat berbeda. Guna memberikan benteng terhadap kebocoran data, Corbato menciptakan password.

Sebelum Corbato, password telah digunakan oleh militer Romawi berabad-abad silam. Dikutip dari Okezone, tentara Romawi membuat password agar mampu membedakan mana kawan dan mana lawan. Mereka akan memperbolehkan tentaranya masuk ke markas apabila mampu menyebutkan password dengan benar.

Membuka kerahasiaan password pengguna kepada orang lain merupakan tindakan yang bodoh, karena tindakan yang demikian sama saja seperti membiarkan orang lain mengakses data pribadi yang dimiliki oleh pengguna. Demikianlah yang dikatakan Shofwatul.

“Kalo mahasiswa itu memberikan [password] akunnya ke orang lain, risiko akan ditanggung dia. Ya, akunnya [akan] diketahui temannya,” katanya.

Shofwatul juga tidak memungkiri dibukanya kerahasiaan password untuk login SIA dapat berakibat pada bocornya data-data pribadi dalam SIA.

“Data-data pribadi dia di Sistem Informasi Akademik (SIA-red) bisa dibaca oleh orang lain,” tandasnya.[]

 

Reporter Magang: Isti, Itsna, Diana, Naspadina, Darmawan

Editor: Fahri Hilmi

Warga Digusur, Kenapa Mahasiswa UIN Suka Sibuk Kampanye Pemilwa?

Kehidupan itu sangatlah luas, beragam pemaknaan dan penafsiran tentangnya pastilah berseliweran di tiap masing-masing kepala. Baik di kehidupan masyarakat maupun di kehidupan kampus. Jika dikaitkan dalam roman Pramoedya Ananta Toer, seorang mahasiswa diposisikan sebagai Kaum Terdidik dan Kaum Terpelajar.

Apa itu terpelajar? Apa itu terdidik? Belajar dan terpelajar, mendidik dan terdidik. Saya kira itu adalah kata-kata yang saling berkaitan maknanya. Bagaimana bisa menjadi kaum terpelajar? Salah satu caranya yaitu belajar. Haruskah? Pastilah harus.

Baiklah, mari kita tengok kehidupan seorang mahasiswa yang dikatakan sebagai kaum terpelajar. Bagaimana berperilaku yang seharusnya? Pastinya berlaku adil sejak dalam pikiran, demikian kata-kata yang dituturkan oleh Pramoedya. Ya, menjadi seorang akademisi yang mencerminkan kewibawaan, dalam pemikiran maupun dalam segala laku perbuatan.

Pun juga dengan kaum terdidik, yang mana ia harus mau dididik, dan nantinya akan mendidik para generasi selanjutnya. Tak ayal jika apa yang terjadi pada tingkah laku dan tindakan seseorang juga tidak jauh dari didikan yang ia peroleh. Sebab esensi dari pendidikan yang diberikan oleh seorang pendidik kepada anak didiknya tak lain adalah agar menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia lainnya, baik dari cara berpikir maupun dalam tindakannya.

Ya, sangat rumit sekali kehidupan ini. Manusia hanya bisa memilih, menjadikannya semakin rumit, atau malah tidak memperumit kerumitan itu.

Berdoa saja semoga ini bukan tulisan yang rumit untuk dibaca. Walaupun si penulis sendiri sedang memperumit sebuah benang merah yang semula tak dimiliki tapi mencoba untuk memilikinya. Walhasil, marilah berpikir dan merenung.  Selesai? Tidak akan pernah selesai.

Mari bernostalgia sejenak, tepatnya hari senin 4 Desember 2017

Saat itu saudara kita di Kulon Progo sedang berada pada posisi di ujung tanduk. Tanah, sebagai modal dan sumber kehidupan mereka yang mayoritas petani, tengah terancam. Mereka hendak digusur dan pemukiman akan diratakan oleh PT. Angkasa Pura 1 untuk dijadikan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA). Mereka juga manusia yang sedang bertahan hidup, tapi justru mendapat perlakuan yang itu tidak mencerminkan sebuah kemanusiaan (baca beritanya di lpmrhetor.com).

Nah, sebenarnya siapa yang berhak disalahkan di sini? Perlukah kita mencari kambing hitam dari tindak kesewenang-wenangan tersebut?

Yah, tidak begitu juga. Coba kita tilik sistem dan pola pendidikan yang diterapkan, terutama di negara Indonesia ini, sudah ramahkah? Sudah merakyatkah? Sudahkah memanusiakan manusia kah?

Jika belum, bisa jadi itu adalah salah satu akar penyebab pola pikir manusia yang menghewankan diri. Terkait masalah penggusuran Kulon Progo, atau NYIA, kita bisa berselancar di beberapa media atau silahkan pilih lpmrhetor.com yang itu cukup untuk menjelaskan terkait kronologi peristiwa dan hal-hal yang menimpa para warganya maupun para relawan solidaritas yang berada di sana.

Tepat pada hari di mana Kulon Progo ‘diancam’ (4/12), Kampus UIN Sunan Kalijaga yang digadang-gadang sebagai kampus putih, kampus rakyat, dan  kampus perlawanan, sedang menyelenggarakan sebuah kampanye partai. Pada agenda ‘simulasi politik’ itu, seluruh partai sedang mengusung calon-calonnya, yang nantinya bakal menduduki kursi-kursi kekuasaan.

Para pembaca barangkali mampu menyimpulkan apa harmoni dari dua kejadian di atas. Saat di luar sana sedang diguncang kemanusiaannya, mahasiswa yang dikatakan sebagai agent of change, harus bersikap seperti apa? Kampanye-kampanyean kah?

Di saat seperti ini seharusnya pendidikan politik bermain. Kata politik di sini barangkali bermakna politik secara substantif. Lain lagi dengan politik secara praktis. Keduanya adalah hal yang berbeda yang tak bisa dicampuradukkan.

Politik secara substantif berarti cara berpikir dan bertindak. Alat untuk melakukan suatu hal dan taktik untuk bertahan hidup. Jadi, hidup ini tidak bisa terlepas dari yang namanya politik. Berbeda dengan yang praktis, yang itu sifatnya lebih ‘politis’. Politik di tataran praktis ini lebih pada soal pemangkuan posisi tertinggi wilayah, atau kursi-kursi kekuasaan, baik yang ada di negara maupun yang ada di kampus.

Pendidikan politik sangatlah penting untuk dipelajari dan dipahami oleh seluruh elemen. Baik mereka yang akan dan sedang memangku kursi jabatan, maupun masyarakat [kampus] pada umumnya. Bagi para aktor politik, agar ia mampu bersikap dan bertindak secara bijak, mampu membedakan antara hak dan kewajiban, mana yang kemanusiaan, dan mana yang kerusakan.

Itulah pentingmya, agar politik itu tidak dijadikan alat untuk saling menikam, serta mampu membuat kebijakan yang ramah kesamping dan tajam ke atas. Lain halnya dengan masyarakat. Masyarakat luas sangatlah perlu memahami politik. Agar ia tidak mudah dibohongi, dibodohi, ataupun dengan mudah dimanipulasi oleh kebijakan-kebijakan yang hanya mementingkan segelintir orang ataupun golongan. Pun agar mereka mampu pula melawan kebijakan-kebijakan yang itu sewenang-wenang terhadap kelas yang kecil.

Nah, itulah yang terjadi pada UIN Sunan Kalijaga, khususnya pada pemerintahan mahasiswa. Mereka seolah bangga selenggarakan kampanye tiga hari berturut-turut. Di saat saudara kita yang ada di Kulon Progo sedang menangisi tanahnya yang akan dirampas oleh orang-orang bermodal tak bertanggungjawab. Yang tak memiliki rasa empati dan simpati sama sekali.

Sebelum meyelenggarakan yang dinamakan pesta demokrasi, seharusnya oknum-oknum yang terlibat di dalamnya harus paham dahulu terkait apa itu demokrasi? Apa itu politik? Apa itu pemerintahan?  Dan yang terpenting, apa itu kemanusiaan?

Karena kita adalah seorang akademisi yang sedang belajar politik di kampus, bukan seorang politisi yang sedang memperebutkan tampuk kekuasaan.

Sudah seharusnya kita dapat membedakan kedunguan karena kurangnya pemahaman terhadap pengetahaun yang harus digali, bukan sebatas eksistensi atau malah upaya pelanggengan kekuasaan itu sendiri.

Perlu digarisbawahi pula, berpikir dahulu sebelum bertindak. Mampu membedakan mana yang untuk kepentingan umum, dan mana pula yang hanya untuk kepentingan golongan. Laiknya seorang akademisi.

Jika saja suatu pemikiran yang ditanam dalam otak sudah keliru dan malah terus dipraktikkan dalam tataran kecil, yaitu di pemerintahan kampus itu sendiri, lantas seperti apa jika sudah benar-benar terjun pada politik pemerintahan yang sebenarnya di masyarakat? Kebijakan yang baikkah, atau lebih buruk lagi? Mampukah menjadi pohon kelapa yang tiap bagianya bermanfaat bagi segi kehidupan? Atau malah menjadi benalu yang hidup di tengah hiruk-pikuknya kehidupan?

Selanjutnya, marilah kita berpikir bersama. Merenunglah besama. Apa yang sudah kita perbuat? Untuk apa dan untuk siapa tindakan tersebut? Apakah benar-benar ril untuk pembebasan kehiduan bersama atas rasa kemanusiaan, atau malah untuk memperpanjang garis penindasan? Atau malah hanya sebatas untuk eksistensi diri dan golongan semata?

Wallahua’alam.

*Septia Annur Rizkia. Penulis merupakan pegiat pers mahasiswa di LPM Rhetor. Menggawangi bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di dalamnya. Ia juga aktif di UIN Sunan Kalijaga sebagai Mahasiswi KPI.

Danto Sisir Tanah Berharap Dukungan Untuk Menolak Bandara Makin Meluas

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Ratusan pengunjung memadati Kedai Kebun Resto pada Kamis malam (14/12). Padatnya pengunjung hingga ke sisi jalan Tirtodipuran ini dalam rangka menghadiri acara solidaritas dan do’a bersama kepada para petani Kulon Progo yang menolak pembangunan bandara baru Kulon Progo dalam gelaran “Gugur Bumi, Gugur Pertiwi”.

Gelaran acara yang yang dipenuhi oleh ratusan pengunjung ini, turut dihadiri oleh drummer Superman Is Dead (SID) Jerinx, Fajar Merah, Melanie Subono, Iksan Skuter, Frau, juga Danto Sisir Tanah.

Mereka mengajak hadirin untuk bernyanyi bersama lagu-lagu mereka diselingi oleh lagu-lagu wajib nasional. Selain itu, turut pula hadir Gunawan Maryanto dan Dodok Putra Bangsa.

Baca juga: Selasa yang Panjang di Kulon Progo

Bagus Dwi Danto atau Danto Sisir Tanah yang turut tampil di acara tersebut mengatakan, bahwa acara ini digelar dalam rangka penggalangan dana dan dukungan untuk para petani Kulon Progo yang sampai hari ini menolak pembangunan bandara baru.

“Acara ini dalam rangka menggalang dukungan kepada mereka (warga penolak bandara-red) untuk tetap bertahan pada keyakinan mereka,” ujar pelantun lagu Konservasi Konflik ini.

Selain itu Danto pun berharap perjuangan petani Kulon Progo dalam menolak pembangunan bandara dapat didukung oleh banyak seniman lainnya.

“Aku pikir harusnya begitu. Acara ini memang dalam rangka ke situ (menggalang dukungan-red).”

Ditanya soal rencana pembangunan NYIA, dirinya mengaku tidak punya kebutuhan yang akut terhadap pembangunan bandara baru di Yogyakarta.

“Untuk pembangun NYIA, menurut aku nggak punya kebutuhan yang akut sih. Apalagi [bagi] para petani di sana. Jadi, ada skema yang lebih merugikan warga di sana. Apalagi ada nilai-nilai kemanusiaan yang diabaikan,” tuturnya.

Baca juga: Bantuan Dana Solidaritas Terus Mengalir ke Kulon Progo

Selain itu, pria kelahiran 28 Oktober 1978 itu pun berharap kepada semua yang datang dalam acara itu bisa lebih memahami isu tentang penolakan pembangunan bandara baru oleh para petani Kulon Progo.

“Harapannya teman-teman yang hadir bisa semakin memahami isu ini dan tidak ragu-ragu untuk menyatakan dukungan,” tandasnya kepada lpmrhetor.com usai acara.

Selain itu, Leilani Hermasih, atau Frau, turut menyuarakan bahwa isu ini sudah sepantasnya untuk dihadapi bersama.

“Saya pikir ini mungkin satu titik di mana kita jadi bisa melihat isu ini [dan] harus dihadapi bareng-bareng,” kata Frau dikutip dari Tirto.

Baca juga: Warga Bantah Tuduhan Polisi Sebut Aktivis Solidaritas Sebagai Provokator

Rangkaian praktik perampasan tanah dan ruang hidup memang telah lama terjadi di desa Palihan, Temon, Kulon Progo. Pada 27 November 2017 lalu, PT Angkasa Pura 1, BUMN yang bertanggungjawab atas pembangunan NYIA di Kulon Progo, melakukan penghancuran terhadap rumah dan lahan pertanian warga. Warga setempat yang mayoritas berprofesi sebagai petani tentu saja menolak.

Namun, penolakan tersebut justru ditanggapi dengan perlakuan represif dari kepolisian. Sedikitnya, 15 relawan solidaritas yang membantu perjuangan warga ditangkap polisi karena dituduh sebagai provokator. Hingga kini, warga dan relawan solidaritas masih bertahan di lokasi penggusuran untuk mempertahankan tanahnya agar tidak dirampas oleh PT Angkasa Pura 1 yang dikawal aparat.[]

 

Reporter: Ikhlas Alfarisi

Editor: Fahri Hilmi

Warga Bantah Tuduhan Polisi Sebut Aktivis Solidaritas Sebagai Provokator

Angkasa Pura 1 dan sekutunya anggap relawan solidaritas sebagai provokator. Warga bilang kalau penolakan terhadap penggusuran sudah ada sebelum para relawan tiba.

[divider][/divider]

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Jumat (8/12/2017). Polisi telah menangkap 15 relawan solidaritas tolak bandara pada selasa lalu (5/12/2017). Penangkapan ini berawal dari ratusan aparat, yang terdiri dari kepolisian, Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP), dan TNI yang merangsek masuk ke dalam lahan warga yang menolak untuk menjual tanah dan bangunannya untuk kepentingan bandara.

Ratusan aparat itu masuk ke areal lahan warga sembari melindungi ekskavator dari PT. Angkasa Pura 1 (AP 1) yang coba merobohkan pepohonan milik warga.

Penangkapan ini diklaim oleh Kapolres Kulon Progo, AKBP Irfan Rifa’i dikarenakan polisi menganggap para aktivis ini sebagai ‘provokator’ warga penolak bandara.

Sebelumnya, AKBP Irfan Rifa’i menyampaikan bahwa sebelumnya warga penolak bandara memang sudah berpikiran untuk bersedia memberikan asetnya kepada apraisal. Namun, setelah para aktivis solidaritas berdatangan, para warga kembali menolak pembangunan bandara. Irfan menganggap ini merupakan ‘provokasi’ terhadap warga.

Selain itu, Irfan juga membantah kepolisian melakukan tindak kekerasan terhadap warga maupun aktivis solidaritas. Ia mengatakan di hari pertama dirinya sudah menekankan untuk tidak terjadinya kekerasan.

“Saat itu terjadi dorong-mendorong. Sehingga terkesan ada aktivis yang tercekik dan warga terluka,” bantahnya seperti dikutip dari Tribun Jogja (7/12/2017).

Di lain pihak, tuduhan provokasi terhadap aktivis solidaritas dibantah langsung oleh warga penolak bandara. Agus, salah satu warga penolak bandara menampik adanya provokasi yang dilakukan para aktivis solidaritas. Agus menyampaikan justru para aktivis yang berdatangan tujuannya untuk membela warga yang mempertahankan warga dari perampasan secara paksa oleh AP 1.

“Wong warga itu menolak bandara bukan karena relawan (aktivis solidaritas-red). Sebelum mereka datang, warga memang sudah menolak pembangunan bandara. Nah, mereka datang sebagai pejuang-pejuang untuk membela warga yang dirampas haknya oleh Angkasa Pura,” tegas Agus saat ditemui lpmrhetor.com disela-sela merapihkan bongkahan pepohonan yang dirusak AP 1 Selasa lalu (5/12/2017).

Warga lain, seperti Suminem, juga tidak membenarkan tuduhan polisi tersebut. Ia mengatakan, bahwa dirinya justru bangga melihat kehadiran para aktivis yang datang berbondong-bondong untuk membela hak warga atas tanah sendiri.

“Provokasi apanya? Justru yang provokasi itu mereka (AP 1 dan sekutunya-red). Membuat yang menolak bandara semakin sedikit.  Kalo para relawan di sini malah membantu kami. Dan saya doakan semoga terus bermanfaat bagi nusa dan bangsa,” kata Suminem pada Kamis (7/12/2017).

Klaim polisi yang kukuh tidak merasa melakukan kekerasan saat pengosongan lahan, dibantah oleh salah satu korban yang juga mengalami penangkapan oleh polisi Selasa lalu. Syarif Hidayat, mahasiswa yang turut bersolidaritas, mengatakan, bahwa ia mengalami pukulan oleh polisi ke arah wajah sehingga keluar darah cukup banyak di bagian hidung.

“Saat saya hendak mencegah niat aparat untuk masuk ke lahan warga yang menolak, justru malah saya dikeroyok oleh puluhan polisi. Mereka membuat lingkaran lalu memukuli saya. Lingkaran itu dibuat agar tak ada yang bisa merekam aksi mereka,” tuturnya pada Jumat (8/12/2017).

Selain itu, Fajar, salah satu warga yang telibat chaos pada Selasa kemarin, juga mengaku mengalami luka-luka akibat diseret dan juga dikunci lehernya dari arah belakang.

“Saya diseret dan dicekik oleh mereka (aparat kepolisisan-red). Dan ini ada bekas lukanya,” kata Fajar sembari memperlihatkan bekas lukanya pada Jumat (8/12/2017).

Peristiwa pemukulan warga dan aktivis, dan penangkapan 15 aktivis yang kemudian dibebaskan pada Selasa malamnya, membuat  kepolisian dan AP 1 mendapatkan banyak kecaman dari berbagai pihak.

Sebagaimana pantauan lpmrhetor.com sesaat setelah 15 aktivis ditangkap, segera banyak terposting berbagai kecaman di media sosial atas tindakan represif yang dilakukan AP 1 dan sekutunya kepada warga penolak bandara dan para aktivis solidaritas.[]

 

Reporter: Ikhlas Alfarisi

Editor: Fahri Hilmi