Demo Hari Buruh di Pertigaan UIN, Semua Pihak Mendadak Beringas

Oknum mahasiswa bakar pos polisi, warga rusak fasilitas kampus dan pukuli mahasiswa, polisi keroyok kuasa hukum mahasiswa.

[divider][/divider]

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Sejak siang ratusan mahasiswa yang menggabungkan diri ke dalam aliansi bernama Gerakan Satu Mei (Geram) sudah berkumpul di pertigaan Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta, atau sering disebut pertigaan UIN Sunan Kalijaga pada Selasa (1/5/2018). Dengan membawa berbagai macam tuntutan, massa yang tidak diisi oleh satupun elemen buruh itu sedikit-sedikit menyicil pengerusakan terhadap berbagai fasilitas umum yang ada di hadapannya.

Rambu lalu lintas, trotoar jalan, hingga pos polisi menjadi korban amukan massa yang mengenakan pakaian serba hitam, mengenakan ciput, dan penutup wajah bak suporter klub sepakbola Italia itu. Beberapa di antaranya bahkan melemparkan bom molotov ke arah pos polisi. Alhasil, pos polisi yang malang itupun hancur berantakan.

Seperti mengajak berkelahi

Tidak sampai di situ, salah seorang massa aksi berteriak menantang ke arah barisan polisi. Berbekal megaphone di tangannya, ia berteriak “Mohon perhatian, kepada Polres Sleman, agar segera menambah anggotanya. Sekali lagi, kepada Polres Sleman, agar segera menambah anggotanya,” katanya.

Teriakannya tidak digubris oleh polisi. Mereka pun melanjutkan aksi beringasnya.

Tidak lama kemudian, jajaran polisi bermotor dari Polda DIY sudah berbaris di arah timur dan siap membubarkan mereka. Bukannya semakin kondusif, massa aksi justru menyalakan kembang api seakan-akan senang dan justru menyambut kedatangan satuan detasemen anti anarkis itu.

“Hore… Happy May Day…!” teriak seorang massa aksi.

Konsentrasi massa pun beralih ke arah timur seakan siap mengadang barisan polisi bermotor tersebut. Tiba-tiba, seorang massa aksi bertubuh kekar melemparkan bom molotov ke arah pos polisi. Sialnya, api menyebar dan mengenai beberapa warga yang menonton.

Warga pun marah. Warga kemudian membubarkan massa aksi. Berbekal tongkat dan batu di tangan, puluhan warga mengejar sambil berteriak-teriak kasar ke arah massa aksi yang berlarian kocar-kacir.

Pertigaan yang tadinya diduduki oleh massa aksi berpakaian hitam kini diambil alih oleh warga. Ternyata, warga sama beringasnya dengan massa aksi. Bukan hanya membubarkan kerumunan aksi, warga juga mengepung kampus UIN yang kebetulan dekat dengan lokasi unjuk rasa.

Salah satu massa aksi tertangkap dan dipukuli

Beberapa saat kemudian salah seorang massa aksi tertangkap oleh warga. Ia menjadi sasaran amuk warga. Ia kemudian diamankan oleh polisi dan dibawa ke dalam pos yang sudah terbakar dengan keadaan wajah berlumuran darah. Beberapa warga dan oknum kepolisian mendaratkan pukulan di bagian wajahnya.

“Ngerusak Jogja yang kaya gini nih,” kata seorang warga.

Bukan hanya massa aksi, beberapa fasilitas kampus pun menjadi korban amuk warga. Gapura, motor-motor mahasiswa, dan bahkan beberapa mahasiswa yang belum terbukti terlibat dalam aksi unjuk rasa tidak terlepas dari aksi persekusi warga yang mulai kesetanan itu.

Salah seorang mahasiswa yang juga seorang pengemudi ojek online yang kebetulan sedang melintas pun menjadi korban salah sasaran.

Salah tangkap dan main hakim sendiri

Warga kemudian melakukan aksi sweeping ke seluruh penjuru kampus. Beberapa orang yang tidak terlibat pun menjadi korban persekusi warga.

Seorang mahasiswa yang sedang bersantai di depan gedung Student Center kemudian dikerumuni oleh puluhan warga yang membawa-bawa kayu dan batu. Mahasiswa tersebut bahkan sudah mengaku bahwa ia bukan bagian dari massa aksi, namun warga yang terlanjur emosi tetap melontarkan kata-kata kasar ke arahnya. Ia pun diamankan polisi.

Di depan gedung Multi Purpose (MP), seorang mahasiswa yang belum terbukti melakukan pengerusakan juga mengalami penganiayaan. Ia ditarik, ditendang, dan dipukuli dengan tongkat kayu. Tak hanya itu, mahasiswa yang belakangan diketahui sebagai Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa Poros Universitas Ahmad Dahlan itu dilontari kata-kata kasar.

Melihat warga yang melakukan penganiaayaan dan pengerusakan, Kapolda DIY, Brigjen Pol Ahmad Dofiri, justru memberikan ucapan terimakasih.

“Ya terimakasih kepada warga masyarakat. Tanpa kita perintahkan ‘tarik’ juga mereka sudah melakukan pembubaran,” katanya.

Hingga menjelang maghrib, warga masih melakukan sweeping di lingkungan kampus UIN. Petugas gabungan dari Polda DIY dan Polres Sleman kemudian membubarkan warga dan mengambil alih sweeping. Warga pun membubarkan diri saat hari menjelang gelap.

Giliran polisi yang beringas

Tak lama kemudian, puluhan petugas yang mengenakan pakaian anti huru-hara melakukan sweeping ke arah gedung Pusat Pengembangan dan Teknologi Dakwah (PPTD). Ternyata, di dalam gedung yang berada di belakang gedung MP itu telah bersembunyi puluhan massa aksi berpakaian hitam-hitam.

Puluhan petugas kemudian menangkap puluhan massa aksi dan tidak sedikit melakukan penganiayaan. Padahal, beberapa rekannya sudah mengingatkan agar tidak melakukan aksi kekerasan terhadap mahasiswa. Namun, sepertinya beberapa oknum petugas tidak dapat menahan emosi dan tetap melakukan aksi beringasnya.

Menurut pengakuan reporter lpmrhetor.com, Siti Halida Fitriati, yang kebetulan berada di lokasi sweeping, beberapa massa aksi dilontari kata-kata kasar, ditendang, diinjak, dan diperintahkan untuk berjalan jongkok sejauh ratuasan meter. Beberapa massa aksi perempuan terlihat menangis karena tidak tahan dengan perlakuan kasar tersebut.

Saat Halida hendak merekam, beberapa warga melarangnya. Halida mengatakan, sebelum ia datang warga pun sudah berupaya mengabadikan momen tersebut. Namun demikian beberapa oknum petugas melarangnya. Akhirnya warga menyarankan Halida untuk tidak merekam kejadian tersebut.

Dari aksi sweeping tersebut polisi menangkap 69 massa yang diduga terlibat dalam unjuk rasa yang berujung ricuh itu. Sepuluh di antaranya adalah perempuan. Mereka kemudian diangkut ke Mapolda DIY untuk dilakukan pemeriksaan.

Mekanisme hukum yang dinodai

Sesampainya di Mapolda, kisah beringas belum berakhir. Mahasiswa kemudian menghubungi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta dan PBH LBH untuk melakukan pendampingan hukum terhadap mahasiswa yang ditahan oleh kepolisian. Emmanuel Gobay dan seorang dari PBH LBH kemudian berangkat ke Mapolda untuk melakukan pendampingan hukum.

Sesampainya di sana, kedua kuasa hukum justru tidak diizinkan untuk menemui mahasiswa dengan alasan tidak ada surat kuasa. Beberapa jam kemudian, Yodi Zul Fadhli, salah seorang anggota LBH tiba di Mapolda dengan membawa surat kuasa.

Namun upaya itu masih dihalang-halangi oleh polisi dengan alasan pendataan mahasiswa yang belum selesai. Pihak LBH pun bersikap kooperatif dan menunggu di teras depan aula Mapolda DIY atas izin petugas.

Beberapa menit kemudian, seorang polisi datang ke aula dan berteriak mengusir warga sipil dan siapapun yang dinilai tidak memiliki kepentingan untuk meninggalkan lokasi, termasuk kuasa hukum yang bermaksud mendampingi mahasiswa.

Emmanuel dan Yogi lantas mempertanyakan landasan hukum mengapa mereka sebagai kuasa hukum tidak dapat mendampingi langsung mahasiswa yang ditangkap. Namun demikian, pihak kepolisian tetap bersikukuh melarang kehadiran mereka.

Tidak sampai di situ, beberapa oknum petugas justru mendorong, mengerubungi, bahkan mengeroyok Emmanuel. Beberapa pukulan mendarat di tubuh Emmanuel. Akhirnya, pihak LBH terpaksa keluar area Mapolda dan tidak dapat melakukan pendampingan hukum.

Saat dikonfirmasi, pihak LBH melalui direkturnya, Hamzal, mengatakan bahwa pihak LBH akan menyikapi persitiwa tersebut. Namun, saat ditanya sikap apa yang dikeluarkan, Hamzal mengatakan masih mendiskusikan dengan jajaran LBH yang lain.

“Kita akan sikapi lebih lanjut terkait kasus ini. Tapi ini masih jadi didiskusikan,” kata Hamzal.

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Fiqih Rahmawati

“Muda-Mudi Membumi” Kritisi Pembangunan Hari Ini

lpmrhetor.com, Yogyakarta – ‘Pembangunan’ yang masif serta penggunaan sumber daya alam yang tak terkendali telah menyebabkan ketidakseimbangan kondisi alam yang justru menjadi bencana buatan bagi manusia itu sendiri. Hal tersebut seperti yang tercantum dalam press rilis aksi “Muda-Mudi Membumi: Peringatan Hari Bumi 2018,” yang melakukan longmarch dari Parkiran Abu Bakar Ali pukul 15.00 WIB hingga area Nol KM, Minggu (22/4).

Aksi tersebut dilaksanakan sebagai ajang kepedulian terhadap kondisi alam bumi yang tengah terancam oleh berbagai macam pembangunan yang pada akhirnya mereduksi keseimbangan alam yang ada. Mulai dari pembangunan gedung-gedung bertingkat yang banyak menguras air hingga pada penggusuran lahan pertanian.

Hal tersebut berkaitan dengan yang diungkapkan oleh Oden, Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa Muda-Mudi Membumi.  “Dengan banyaknya pembangunan-pembangunan di Indonesia, kemudian apakah pembangunan itu membicarakan tentang bumi itu sendiri. Berkaitan dengan banyaknya hotel-hotel dan apartemen yang tumbuh subur di Jogja, membuat bagaamana kondisi air di Jogja, yang sudah tidak layak lagi untuk dikonsumsi.”

Aksi tersebut diharapakan mampu menyadarkan masyarakat terhadap pentingnya kondisi bumi yang tengah mengalami berbagai macam persoalan. Mulai pada persoalan alam hingga pada krisis air sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia dan anak cucu di masa depan.

” Tujuan kegiatan untuk mengkampanyekan kepada masyarakat umum, bagaimana menyebarkan isu bahwa ada persoalan di bumi tentang krisis alam dan krisi air bahwa itu penting untuk kita perjuangkan bersama,” ungkap Hirmawan Kurnadi selaku Koordinator Umum, saat di tanyai lpmrhetor.com.

Perlunya peringatan satu sama lain terhadap kesadaran masyarakat tentang persoalan-persoalan terkait dengan kerusakan alam dan kehidupan pun di ungkapkan oleh Elanto salah satu masyarakat yang menyaksikan aksi tersebut.

“Warga memang wajib untuk saling memperingatkan satu sama lain ketika ada momentum-momentum tertentu, walaupun sebenarnya isu ini tidak hanya digaungkan ketika hanya ada momentum tertentu saja tetapi ketika ada hari-hari yang disepakati secara nasional untuk merespon isu-isu tertentu, jadi mengapa tidak kita gunakan juga” pungkasnya.

Melalui aksi Peringatan Hari Bumi 2018 tersebut, Muda-Mudi Membumi mengajukan lima tuntutan dan ajakan untuk bersama-sama menjaga bumi, di antaranya:

  1. Hentikan segala bentuk perusakan lingkungan di berbagai tempat di Indonesia atas kepentingan bisnis dan korporasi,
  2. Hentikan kriminalisasi pejuang lingkungan,
  3. Hentikan alih fungsi lahan oleh korporasi dan negara,
  4. Hapuskan UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah, karena UU tersebut sering disalahgunakan oleh korporasi untuk keuntungan segelintir orang dengan dalih ‘Kepentingan Umum,’
  5. Bumi bukan milik orang kaya, pengusaha, apalagi penguasa, sebab bumi ini milik bersama. []

 

Reporter: Siti Halida dan Itsna Nur

Editor: Fiqih Rahmawati

Penutupan Jalan Daendels Ancam Isolir Warga

Setelah hancurkan lahan dan rumah milik warga, Bandara NYIA kembali membawa petaka. Kini Jalan Daendels, satu-satunya akses yang tersisa, akan ditutup. Anak-Anak dari 86 kepala keluarga terancam tidak bisa berangkat sekolah.

[divider][/divider]

lpmrhetor.com, Yogya – Rencana pemasangan portal dan pengalihan arus lalu lintas yang dilakukan secara sepihak oleh PT Angkasa Pura 1 (AP 1) di ruas Jalan Daendels untuk kepentingan pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) yang rencananya akan dilakukan bulan ini mengakibatkan 86 kepala keluarga di Temon, Kulon Progo terancam terisolir.

Jalan Daendels merupakan satu-satunya akses yang tersisa setelah seluruh jalan di perkampungan milik warga dihancurkan oleh AP 1. Akibatnya, warga harus kehilangan jalan yang biasa digunakan untuk bekerja dan mengantarkan anak-anaknya ke sekolah.

Salah satunya Sutrisno, seorang warga terdampak yang merasa sangat dirugikan jika jalan utama di kampungnya harus diportal dan diberlakukan pengalihan arus lalu lntas.

“Pemortalan yang akan dilakukan AP beserta aparat pemerintah jelas merugikan kami sebagai warga. Merampas hak-hak kami sebagai warga negara. Menyulitkan saat akan bekerja dan [menyulitkan] anak-anak kami yang akan pergi sekolah,” sesal Sutrisno pada konferensi pers di kantor Walhi Yogyakarta pada Kamis (22/3/18).

Sejalan dengan Sutrisno, warga lainnya, Agus Widodo, juga menyesalkan rencana tersebut. Agus mengatakan bahwa upaya pemortalan akan menambah penderitaan warga setelah selama 4 bulan listrik di rumah warga dicabut oleh PLN secara sepihak.

“Pemortalan jelas merugikan warga. Karena akses kami dan anak-anak menjadi terganggu. Ini menambah penderitaan kami setelah listrik dicabut hampir 4 bulan,” katanya.

Dilansir dari Tirto, Kepala Dinas Perhubungan Kulon Progo, Nugroho mengatakan pihaknya memang akan melakukan penutupan dan memberlakukan pengalihan arus lalu lintas di Jalan Daendels untuk mempermudah proses pembangunan Bandara NYIA.

“Jalur Jalan Daendels mulai dari Dukuh Glagah di sisi timur akan ditutup dengan portal, sedangkan dari sisi barat ditutup mulai perempatan Glaheng, tepatnya di depan MIN Sindutan,” kata Nugroho, Sabtu (3/3/18).

Terlepas dari upaya pemortalan dan pengalihan arus lalu lintas tersebut, warga tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak pembangunan bandara.

“Sikap warga untuk rencana pembangunan NYIA tetap menolak dan akan terus menolak tanpa syarat,” kata Sutrisno.

Selain itu, Sutrisno juga menilai proses konsinyasi yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri Wates tidak berpihak kepada warga. Menurutnya, ia dan warga lainnya masih menjadi pemilik lahan dan rumah yang sah.

“Warga tidak pernah dan tidak akan mau mengikuti putusan konsinyasi, karena kita masih pemilik sah lahan dan rumah,” lanjut Sutrisno.

Agus Widodo juga mengatakan hal yang sama. Ia dan seluruh warga akan tetap menolak seluruh proses pembangunan bandara baik yang dilakukan oleh AP 1 maupun pemerintah.

“Kami tidak akan mengikuti proses apapun yang dilakukan oleh Angkasa Pura dan pemerintah selama itu untuk merampas hak milik kami,” kata Agus.[]

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Dyah Retno Utami

Sambut Hari Raya Nyepi, Pawai Ogoh-Ogoh Digelar Di Malioboro

lpmrhetor , Yogya – Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1940, yang akan jatuh pada tanggal 17 Maret 2018, belasan ogoh-ogoh dengan berbagai rupa dan ukuran menyusuri Jalan Malioboro, Sabtu (10/03).

Berbagai ogoh-ogoh dari naga berkepala 3, raksaksa-raksasa hingga tokoh Mahabarata dan Ramayana (Rahwana, Sugriwa Subali, Rama, dll) diarak dari gedung DPRD DIY melewati titik nol kilometer dan berakhir di Alun-Alun Utara. Selama pawai budaya dilaksanakan, akses sepanjang Jalan Malioboro ditutup dari pukul 14.30 WIB hingga acara berakhir.

Pawai yang berjalan tidak lebih dari dua jam ini diikuti oleh berbagai kalangan. Baik itu dari KMHD (Keluarga Mahasiswa Hindu Darma), Pemeluk Agama Hindu seluruh Indonesia yang menetap di Yogyakarta, Dinas kebudayaan Bantul yang menampilkan Dimas-Diajengnya, serta dari Dinas Kebudayaan Sleman.

Bima, selaku panitia acara pawai tersebut menjelaskan bahwa kegiatan yang diikuti dari berbagai kalangan ini dilakukan selain untuk memperingati Hari Raya Nyepi, juga untuk menumbuhkan rasa persaudaraan.

“Kegiatan ini kan dari berbagai kalangan ya, jadi untuk menumbuhkan rasa persaudaraan yang sejati dan menambah kerukunan antar pemeluk agama.”

Ketua Mahatma, Yoga Ganathika juga menjelaskan bahwa ogoh-ogoh merupakan bentuk simbolik untuk menggambarkan sebuah raksasa. Raksasa-raksasa ini akan membuat unsur-unsur negatif di sepanjang jalan masuk ke dalam ogoh-ogoh tersebut. Setelah ogoh-ogoh tersebut diarak, mereka (ogoh-ogoh) akan di lebur, dikembalikan ke alam sana dengan di bakar.

Salah satu ogoh-ogoh yang diarak bertema Taru Pule. Tema ini diusung oleh Keluarga Mahasiswa Hindu Darma (KMHD) Mahatma Universitas Atmajaya.

Yoga Gunathika juga menambahkan bahwa Taru Pule sendiri diambil dari Taru yang berarti Tumbuhan dan Pule yang merupakan tumbuhan dari Bali yang memang di sakralkan, karena bisa digunakan sebagai obat, menjadi sandang, pangan, papan. Tema ini diambil atas dasar agar manusia dapat berkomunikasi kepada tiga aspek; Manusia pada Manusia, Manusia pada Alam, dan Manusia pada Tuhan.

Rini, warga yang menonton pawai budaya tersebut pun turut memberikan komentarnya, “Asik, keren abis. Totalitas semuanya. Soalnya aku baru pertama liat pawai tentang keagamaan gitu beda agama pula. Semoga budaya dan toleransi selalu dipertahankan.”[]

Reporter Magang : Isti Yuliana

Editor: Fahri Hilmi

Yu Sanah Sinih, Potret Kehidupan Termarginalkan

lpmrhetor.com, Yogakarta – Dua hari berturut sejak Jumat (9/3), Badan Otonom Mahasiswa Fakultas (BOM-F) Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sanggar Nuun, menggelar pertunjukan teater bertajuk Kemah Seni VI. Dengan mengangkat dua naskah berbeda dalam dua hari, pertunjukan teater Sanggar Nuun sukses menghibur penonton tanpa pungutan biaya.

Pertunjukan teater Sanggar Nuun tersebut merupakan bagian dari proses regenerasi suatu organisasi. Para lakon di dalamnya merupakan anggota baru yang diteguhkan menjadi “keluarga” di Sanggar Nuun.

Pukul 19.30 di parkiran terpadu Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, tim kreatif  telah menyulap sebuah panggung pertunjukan. Tanpa menyewa gedung atau memakai gelanggang kampus, lahan parkir diubahnya menjadi panggung yang memanjakan visualisasi artistik yang aduhai dilihat dari penataan cahaya dan property panggung.

Penampilan teater perdana pada Jumat (9/3) diangkat dari naskah Ratna Sarumpaet dengan judul “Pelacur dan Sang Presiden”. Dengan  disutradarai Solihul Akmalia, naskah tersebut menceritakan seorang pelacur bernama Jamila Maharani. Bukan pelacur biasa, melainkan pelacur yang memperjuangkan hak asasi (pelacur) perempuan. Melalui jalan yang dipilihnya, ia ingin membuka mata dunia bahwa ada kebobrokan moral oleh para kaum yang seharusnya bermoral. Ia coba membuktikan melalui perkataan dan perbuatan.

Yu Sanah Sinih

Pertunjukan kedua (10/3) diangkat dari naskah Agung Widodo dengan judul “Koran”. Mengisahkan seorang pedagang kecil pinggir jalan, Sanah, yang warungnya terancam digusur karena rencana pembanguanan bandara. Padahal warung Sanah merupakan tempat berkumpulnya pedagang sayur keliling, loper koran, sampai pengamen. Sebelum adanya pemberitahuan langsung, koran sudah memberitakan bahwa lokasi Sanah bermukim dan berdagang akan dihilangkan. Permasalahan yang diadaptasi dari naskah Agung Widodo ini menampilkan permasalahan-permasalahan sosial yang sering kita dengar dan jumpai di masyarakat dan media massa. Ironisnya, media massa seperti koran justru menutup mata dengan realitas yang dirasakan warga tergusur seperti Sanah.

Sanah digambarkan sebagai seorang perempuan, ibu sekaligus istri yang memiliki liku pahitnya kehidupan. Memiliki anak laki-laki semata wayang penyandang disabilitas, dan suami yang merantau tak kunjung pulang. Berita dari koran tersebut menambah hancur hidupnya yang hanya bergantung pada warung kecilnya.

Sikapnya yang lemah lembut dan parasnya yang menarik membuatnya disukai banyak orang. Salah satunya, seorang aki-aki bernama Kang Raken. Melihat peluang bahwa Karta, suami Sanah, tidak pernah pulang, Kang Raken mencoba mengambil hati Sanah. Di sinilah kesetiaan Sanah sebagai isteri diuji.

Hari ketika berita penggusuran muncul di koran, semua orang menjadi riuh kacau. Tidak ada yang bisa menerima berita penggusuran itu. Mulai dari lopper koran, pedagang sayur, Sanah, hingga pengamen menginisiasi untuk mendemo di depan kantor pemerintah. Berbeda dengan Kang Raken yang mengganggapnya bukan masalah besar. Ia bisa membelikan Sanah lahan apabila warungnya digusur.

Belum selesai masalah penggusuran, masalah berikutnya muncul kepada Sanah. Koran yang memberitakan penggusuran malah memuat berita yang berisi gambar Sanah sedang bersama Kang Raken di warungnya. Lagi-lagi Sanah menjaga hati Karta agar tidak marah mengetahui gambar yang dimuat tanpa mengetahui persoalannya. Namun terlambat, sebelum Sanah menjelaskan apa yang terjadi, Karta sudah mendengar dari Joko, pedagang sayur keliling. Perselingkuhan yang dibingkai itu seolah menjadi isu pengalihan dari penggusuran.

Pemilihan Naskah

Ilham Nawai sebagai sutradara mengadaptasi naskah “Koran” dengan melihat adanya sesuatu yang luput dari kehidupan manusia di media massa. Seperti pada kehidupan Sanah, adanya penggusuran lahan artinya sama juga menggusur kehidupannya. Tapi tampaknya media dan pihak yang berkepentingan tidak peduli bagaimana nasib orang-orang seperti Sanah itu, mereka tidak memikirkan apa yang telah mereka hancurkan demi kepentingannya.

Sebelum Kang Asep, sapaan akrab sutradara, memilih naskah “Koran”, ia beberapa kali mengunjungi desa Temon, Kulon Progo yang kondisinya seperti terlupakan begitu saja. Padahal nasib seorang seperti Sanah benar-benar terjadi di desa Temon. Lahan, penghidupan, ekonomi, masa depan di desa Temon, Kulon Progo hancur karena pengusuran untuk pembangunan bandara (NYIA). Penampilan teater dengan naskah “Koran” ini memang mengkritik apa yang sedang terjadi di Kulon Progo.

“Ya, beberapa kali saya main ke Kulon Progo dan melihat apa yang saya dengar dari teman benar-benar terjadi di sana,” ujarnya saat sesi diskusi setelah pementasan.

Melalui tangan sutradara, hal-hal yang menegangkan seperti adu mulut, gulat, kisruh, demo, diracik dengan epik hingga menciptakan tawa renyah penonton. Habiburrahman, seorang penonton merespon teater yang ditampilkan Sanggar Nuun ini mampu mengocok perut hingga akhir pertunjukan. “Humor yang ditawarkan [dalam teater] banyak humor ‘kelas bawah’, dan dari segi penontonnya juga mampu membuat mereka jenaka hingga akhir pertunjukan.” []

 

Reporter: Ina Nurhayati

Editor: Fiqih Rahmawati