Bhayangkara, Militer Idaman Rakyat

ilustrasi rakyat majapahit. dokumen : istimewa

Bhayangkara mungkin lebih dari sekedar itu. Pasukan ini juga merupakan ‘Paspampres’ nya kerajaan. Dibentuk lewat sistem penyeleksian yang super ketat. Bertugas sebagai pengawal raja dan para kerabat istana

Bila kita menilik kepada masa lalu, sejarah bangsa ini di masa kebesaran imperium Majapahit, tentu semua individu dari kita tidak asing dengan seorang tokoh fenomenal bernama Gajah Mada. Seorang tokoh pengemban sumpah palapa yang dengannya, disatukanlah kerajaan-kerajaan kecil di kepulauan Nusantara dibawah naungan Majapahit.

Berbagai literatur masih belum mengetahui kejelasan, darimana sang jendral ini berasal. Tetapi yang pasti, lewat novel serial karya Langit Kresna Hariadi, setidaknya penulis sedikit tahu bagaimana sepak terjang seorang Gajah Mada. Bermulai dari seorang prajurit berpangkat Bekel (mungkin saat ini setara letnan), sampai menanjak pada jabatan mahapatih (perdana menteri) merupakan sebuah titian karir yang luar biasa.

Kesempatan kali ini, penulis tak akan terlalu fokus kepada profil sang jendral seorang. Melainkan, secara lebih lebar lagi penulis akan menilik tentang sepak terjang Gajah Mada bersama pasukan khususnya yang Beliau pimpin, yaitu Bhayangkara.

Seperti halnya komando pasukan khusus di Negara kita ini, Bhayangkara mungkin lebih dari sekedar itu. Pasukan ini juga merupakan ‘Paspampres’ nya kerajaan. Dibentuk lewat sistem penyeleksian yang super ketat. Bertugas sebagai pengawal raja dan para kerabat istana. Tentu, orang-orang yang dipilih sudah pasti memiliki tingkat kemampuan beladiri, keilmuan, dan kecerdasan diatas rata-rata para prajurit yang lain.

Semisal Gajah mada, seorang prajurit cerdas, cermat dalam menganalisis situasi, pandai mengendalikan keadaan, dan tentunya mempunyai kemampuan ilmu beladiri yang sudah mumpuni. Selain beliau, ada juga prajurit Gagak Bongol, Mahisa Kingkin, serta Lembang laut yang semuanya merupakan para prajurit pilihan.

Atas jasa mereka, negara berhasil selamat dari malapetaka kudeta, yang didalangi oleh Ra Kuti. Gajah Mada yang saat itu mengomandoi pasukannya, berhasil dengan sangat brilian menahan bahkan menghantam balik serangan-serangan makar Ra Kuti hingga berhasil di padamkan. Negara yang saat itu di adu domba satu sama lain, berhasil di netralkan kembali oleh mereka.

Pemberontakan Ra Kuti memang merupakan satu dari sekian pemberontakan di masa Kerajaan Majapahit yang paling berbahaya. Ditenggarai oleh rasa tidak puas atas hadiah lantaran jasanya ikut memadamkan pemberontakan Nambi yang diberikan sang raja, Ra Kuti yang awalnya seorang pembela Negara, berbalik menjadi sang pemberontak bersama para saudara sejawatnya. Di hasutnya pasukan Jala Ranggana untuk bisa ikut bersekongkol menyerang istana.

Benar saja, atas semua adu domba dan serangan dari Ra Kuti, pasukan kerajaan gagal dalam pertarungan, bahkan istana pun berhasil di jebol dan diambil alih oleh Ra Kuti beserta pasukannya mengakibatkan sang raja, Prabu Sri Jayanegara beserta seluruh kerabat kerajaan terpaksa melarikan diri menuju pengungsian. Berkat siasat cerdik dari Gajah Mada, pasukan khusus Bhayangkara berhasil mengamankan Prabu Jayanegara yang saat itu menjadi incaran utama Ra Kuti dalam melakukan pemberontakan.

Terlepas dari semua prestasi pasukan khusus ini, ada satu hal lagi yang menarik yang nampaknya tak bisa di pandang sebelah mata. Yaitu, bagaimana pasukan Bhayangkara selama melakukan pelarian keluar istana untuk pengamanan kepada Raja, serta kerabat istana, sangatlah peduli kepada nasib rakyat kecil yang saat itu porak-poranda tatanan kehidupannya akibat makar.

Di tengah bergerilya melawan para pemberontak, mereka tetap bersikap ramah, berusaha menenangkan dan mengayomi para rakyat jelata. Mereka turut membantu para petani untuk mengembalikan kesuburan sawahnya, ikut membantu membangun pemukiman warga yang hancur oleh perang, serta menyantuni para janda dan anak-anak korban perang. Hasilnya, jadilah mereka satu pasukan militer khusus yang dicintai sekaligus di hormati oleh rakyat mereka.

Hal ini mungkin bisa jadi bertolak belakang dengan keberadaan militer di negara ‘penerus’ Majapahit sekarang ini. Dimana, militer seakan-akan menjadi makhluk yang menyeramkan bagi rakyat sejak masa ORBA. Seakan-akan merekalah makhluk paling superior di negeri ini. Bisa di lihat dari bagaimana tindakan-tindakan represif mereka terhadap setiap apapun yang tidak senada dengan pemerintahan saat itu. Peristiwa MALARI, peristiwa semanggi, dan puncaknya pada kerusuhan ’98 akibat krisis moneter menjadi saksi bagaimana sang pembela negara ‘membela’ negaranya dengan cara membabi buta.

Mungkin pandangan akan hal seperti itu masih terwariskan sampai saat ini, 17 tahun pasca re-formasi. Mungkin pula bisa berubah, seiring dengan banyaknya media yang mencitrakan militer dengan segala ‘kebaikannya’. Tetapi, dalam benak penulis rasanya masih ada secercah rasa keoptimisan. Bahwa nantinya, akan ada pasukan militer pembela dan pelindung Negara sekaligus yang ikut ngopeni rakyat kecil. Menenangkan masyarakat di tengah-tengah  banyak ber-seliwerannya opini-opini hoax dewasa ini.

Ya, semoga saja akan lahir kembali para patriot pembela negara layaknya Bhayangkara yang menjadi idaman rakyat di masa mendatang. Semoga saja.[]