Beda Tuli dan Tunarungu

Seorang tuli menggunakan bahasa isyarat. Sumber Gambar: halomalang.com

lpmrhetor.com, Yogya – Sebagian dari kita jika mendengar atau membaca kata tunarungu dan tuli akan menafsirkan dua kata itu bermakna sama: orang yang tidak bisa mendengar. Namun, bila kita coba memverifikasi keduanya, maka akan ditemukan makna yang jauh berbeda.

Beberapa orang mengganggap bahwa kata tunarungu adalah sebuah kata yang berkonotasi lebih halus ketimbang tuli. Padahal keduanya memiliki maksud yang berbeda. Bahkan, Arief Wicaksono, salah seorang mahasiswa tuli mengaku lebih nyaman dipanggil tuli ketimbang tunarungu.

“Saya lebih nyaman disebut tuli daripada tunarungu, sebab saya tidak mau disebut rusak,” kata mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga tersebut saat menjadi pemateri pada acara diskusi publik bertema “Polemik Bahasa Isyarat dan Pola Komunikasi Penggunanya” yang diselenggarakan oleh LPM Poros UAD beberapa waktu lalu, (10/04).

 

Tunarungu Sebuah Diagnosa Medis

Kebanyakan orang memang memahami tunarungu adalah sebutan bagi penyandang disabilitas yang tidak dapat atau sulit dalam mendengar, baik secara ringan maupun total. Kebanyakan menganggap tunarungu adalah sebutan yang lebih halus dibanding dengan tuli. Ya, anggapan seperti itu tidak sepenuhnya salah, namun dapat dikatakan salah jika mengatakan bahwa tunarungu sama dengan tuli.

Kata tunarungu berasal dari dua kata berbeda, yakni tuna dan rungu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tuna memiliki arti rusak atau luka, sedangkan rungu, berarti pendengaran. Artinya, secara bahasa kata tunarungu dapat diartikan kerusakan pada indera pendengaran.

Dalam prespektif medis, tunarungu merupakan sebuah kelainan atau kerusakan pada indera pendengaran. Kerusakan maupun ketidakmampuan mendengar tersebut disebabkan oleh beberapa faktor fisikal, seperti sakit, kecelakaan, bertambahnya umur, kelainan syaraf, dan hal-hal yang erat kaitannya dengan masalah fisik pada indera pendengar.

Jadi, dapat dikatakan bahwa kata “tunarungu” merupakan sebuah diagnosa medikal yang mendiagnosis kerusakan pada indera pendengaran.

 

infografik ina

 

Tuli, Bahasa Isyarat, dan Identitas Sosial

Lain dengan tunarungu, yang bermaksud kerusakan, lain pula dengan tuli yang lebih dalam lagi maknanya. Tuli merupakan sebuah identitas sosial tersendiri bagi mereka yang menggunakan bahasa isyarat sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Penggunaan kata tuli bahkan tidak sekedar digelarkan pada penyandang disabilitas indera pendengaran saja, melainkan bagi siapapun yang memahami dan mengerti penggunaan bahasa isyarat.

Adanya orang-orang yang menggunakan kebahasaan tersebut memunculkan sebuah identitas yang baru. Terjalinnya komunikasi tersebut justru dapat menimbulkan identitas-identitas lain seperti kesenian, nilai, sejarah, dan lain-lain.

Bahasa isyarat yang dipakai di komunitas tuli ada dua jenis, SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia) dan BISINDO (Bahasa Isyarat Indonesia). Dalam sejarahnya, SIBI dibuat oleh pemerintah untuk memperlancar komunikasi sesama tuli tanpa melibatkan tuli dalam pembuatan sistem bahasanya. SIBI dibuat pada tahun 1990 kemudian baru disebar luaskan tahun 2001.

Sedangkan BISINDO merupakan bahasa isyarat yang secara alami tumbuh berkembang di komunitas tuli, untuk mereka mempermudah dalam komunikasi keseharian. Sudah ada sejak 1960, namun kata BISINDO baru muncul pada tahun 2012.

Arief Wicaksono mengatakan, dengan menyebut mereka tuli berarti menganggap mereka adalah bagian dari orang-orang normal yang berkemampuan berbeda. “Mereka berbicara, sama dengan kita yang kesehariannya melakukan komunikasi dengan berbicara, oral. Tapi, komunikasi yang tuli lakukan adalah dengan menggunakan bahasa isyarat,” kata Arief.

Lain halnya dengan menyebut penyandang tuli sebagai tunarungu, hal tersebut malah membuat para tuli merasa didiskriminasi, karena merujuk kepada sebuah kerusakan. Menariknya, para tuli juga menganggap tidak normal ketika orang yang bisa mendengar tidak memahami bahasa isyarat.[]

 

Reporter: Ina Nurhayati

Editor: Fahri Hilmi