Bantuan Dana Solidaritas Terus Mengalir ke Kulon Progo

Afi, mahasiswi UIN, bersama sejumlah kawannya menggalang dana untuk korban penggusuran Kulonprogo di pertigaan UIN (7/12). Dok. Rhetor/Fahri.

Dituding memprovokasi, ditangkapi, dianggap tidak punya urusan, mahasiswa yang bergabung ke lingkaran solidaritas justru bertambah dari hari ke hari.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Tomi, Afi, dan lima sampai enam orang teman-temannya membawa kardus-kardus donasi bertuliskan #Savekulonprogo di sekitaran pertigaan UIN Sunan Kalijaga pada Kamis sore (7/12). Mereka berkeliling ke setiap kendaraan yang berhenti untuk menggalang bantuan.

Tomi dan kawan-kawan merupakan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang sedang menggalang donasi untuk membantu warga korban penggusuran akibat pembangunan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

“Sebagai manusia, kami gak tega melihat di sana itu [area pembangunan NYIA]. [Warga] ditendangi sama polisi,” kata Tomi.

Tomi mengatakan, bahwa kegiatan penggalangan dana yang dilakukannya itu bukan merupakan kegiatan komunitas atau organisasi apapun. Tomi dan kawan-kawannya hanyalah sekumpulan persekawanan yang peduli terhadap warga korban penggusuran.

“Yasudah, sama teman-teman yang [saling] kenal, kita galang dana,” imbuhnya.

Tomi mengaku baru kali pertama melakukan penggalangan dana untuk korban penggusuran di Kulon Progo. Namun, kegiatan penggalangan dana untuk Kulon Progo yang dilakukan Tomi bersama kawan-kawannya bukanlah kali pertama.

Hal serupa pernah juga dilakukan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Tolak Bandara (ATB) Sayap Universitas Ahmad Dahlan (UAD) sehari sebelumnya (6/12). ATB Sayap UAD membuka posko penggalangan dana di lantai dua kampus UAD.

Fair Naza, salah satu anggota ATB Sayap UAD, mengatakan bahwa aksi penggalangan dana ini dilakukan bukan semata-mata untuk mencari uang saja. Namun, dengan membuka posko di kampus-kampus, Fair berharap konflik agraria yang terjadi di Kulon Progo dapat diketahui banyak orang.

“Secara pribadi, penggalangan dana ini bukan semata untuk mendapat duit belaka. Poin pentingnya adalah agar semua orang tahu bahwa konflik agraria sedang terjadi saat ini di mana pun,” katanya.

Dalam waktu beberapa jam saja, kegiatan yang dilakukan ATB Sayap UAD berhasil menggalang lebih dari satu juta rupiah. Arfani, anggota ATB Sayap UAD lainnya, mengatakan bahwa uang itu akan diberikan kepada warga korban penggusuran di Kulon Progo.

“Mereka membutuhkan dana ini untuk bertahan dalam perjuangan ini. Jumlah itu saya pikir masih kurang, tapi kita akan terus menggalang dana ke kampus-kampus UAD lainnya,” kata Arfani.

Dua aktivitas yang dinilai positif itu seperti membantah pernyataan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Seperti dilansir dari Detik, sehari setelah peristiwa bentrok aparat dengan warga dan massa solidaritas, Sri Sultan menuding bahwa mahasiswa yang hadir di lokasi penggusuran tidaklah memiliki urusan apa-apa.

“Urusannya opo mahasiswa? Wong itu [rumah yang digusur] sudah dibayar [ganti rugi], sudah kosong. Dihancurin kan boleh,” kata Sri Sultan dalam sebuah kesempatan di Istana Bogor (6/12).

Selain Sri Sultan, Dedi Suryadarma, Wakapolres Kulon Progo, justru menuding bahwa mahasiswa seringkal memprovokasi warga agar menolak konsinyasi dan pembebasan lahan.

“Kami sinyalir mereka [mahasiswa] memprovokasi warga agar bersikukuh mempertahankan lahannya,” katanya di hadapan awak media. []

 

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Fiqih Rahmawati