Menjaga Selokan Dengan Budidaya Ikan

[highlight] [/highlight] lpmrhetor.com – Partisipasi untuk menjaga bumi agar tetap asri tentunya menjadi kewajiban setiap penghuninya. Inisiatif dan kepekaan terhadap lingkungan sangat memengaruhi bagaimana keadaan bumi saat ini. Salah satu bagian terpenting dari ekosistem bumi adalah sungai.

Besar atau kecil, sungai tetap menjadi sumber penting untuk menunjang kebutuhan makhluk hidup, khususnya manusia.

Setiap daerah tentu memiliki sungai dan saluran air, begitu juga dengan Yogyakarta yang memiliki lebih dari 15 kali (sungai) besar.

Pembangunan dan kemajuan industri yang terus saja terjadi di daerah “ISTIMEWA” ini telah membawa konsekuensi terhadap bumi sendiri: sungai menjadi kotor.

Degradasi alam dan lingkungan telah memengaruhi kualitas hidup masyarakat kota. Pengalihan lahan untuk dijadikan bangunan padat penduduk membuat masyarakat dan pemerintah harus memikirkan resapan air dan tempat pembuangan air limbah yang teratur. “Selokan” begitu sebutannya, yang masih belum mendapat perhatian serius.

Dwi Indrawati dalam jurnalnya yang bejudul Upaya Pengendalian Pencemaran Sungai yang diakibatkan oleh Sampah mengatakan bahwa timbunan sampah dari hari ke hari cenderung meningkat dan bervariasi, sehingga sampah acapkali menjadi masalah karena pengelolaannya yang belum baik.

Pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang masih keliru terhadap sampah juga telah menimbulkan permasalahan sosial, lingkungan, dan kesehatan.

Berkaitan dengan semua hal buruk yang telah terkonstruksi dalam pikiran mengenai sungai, atau mungkin “selokan”, warga Ngentak Sapen, Papringan, Yogyakarta mempunyai caranya sendiri untuk mengatasi permasalahan ini. Yaitu dengan menggalakkan budidaya ikan.

Warga berbondong-bondong membangun sebuah komunitas bernama Mina Sejahtera, yang menurut Mukhlis, salah seorang warga, Mina berarti ikan.

Orientasinya adalah menjaga kebersihan sungai, sekaligus memberdayakan masyarakat dengan merawat dan membudidayakan ikan dalam keramba-keramba yang sengaja dibuat di selokan yang ada di lingkungan sekitarnya.

“Dengan begitu masyarakat jadi rajin membersihkan sungai. Karena jika tidak, maka ikan-ikannya mati,” kata Mukhlis pada Kamis (9/8/2018).

Keramba-keramba sederhana itu dibuat dari kayu dan jaring-jaring yang dipasang di sebagian mulut selokan. Kemudian di dalamnya diisi ikan-ikan yang dibudidayakan oleh warga. Isinya beragam, ada nila, lele, mas, dsb.

Keramba-keramba tersebut tentunya tidak menghambat arus aliran selokan. Karena selain ukurannya yang tidak begitu besar, juga warga selalu menjaga kelancaran aliran selokan tersebut setiap hari dengan mengangkat sampah-sampah yang mengalir dari hulu dengan menggunakan jaring.

Setiap harinya warga juga berkumpul di sekitar selokan untuk menjaga ikan-ikan dan aliran selokan, sembari meminum kopi dan merokok bersama. Beberapa bahkan menggelar tikar dan makan bersama persis seperti sedang pelesir di pinggir pantai.

Ketua Paguyuban Mina Sejahtera, Bibit Santoso, juga menuturkan hal sama. Ia mengatakan bahwa kegiatan yang diikuti oleh 45 anggota ini sebagai bentuk pemberdayaan warga, dan telah berjalan 4 bulan. Selain untuk meningkatkan perekonomian warga, hal tersebut juga berguna untuk menjaga kebersihan sungai.

“Memang harus bersih-bersih setiap hari. Sampah diangkat nanti ditaruh di situ (menunjuk pinggir jalan) lalu dibakar. Kita menjaga kebersihan dan kelancaran air, yang jelas tidak merugikan persawahan juga,” katanya saat ditemui di sekitar karamba (9/8/2018).

Beberapa warga juga menuturkan, bahwa selokan di Ngentak Sapen selalu kotor saat sebelum ada program swadaya ini. Baunya tak sedap, salurannya sering tersumbat, dan ilalang-ilalang liar yang sering menghinggapi dinding-dinding rumah warga.

Salah satunya Sakir, pemilik keramba. Sakir mengaku bersyukur setelah keramba-keramba memenuhi selokan di Ngentak. Katanya selokan menjadi bersih dan terawat karena warga terpaksa harus membersihkan selokan agar ikan-ikannya juga terawat.

“Kemarin di sini ditumbuhi dengan ilalang. Dulu sebelum ada keramba enggak ada yang bersihin, kan enggak ada yang mau. Semenjak ada keramba kan jadi terjaga kebersihannya,” katanya (9/8/2018).[]

Reporter: Isti Yuliana

Editor: Fahri Hilmi

Soal Wajib Mondok, Waryono Akhirnya Angkat Bicara

lpmrhetor.com, UIN-Waryono Abdul Ghafur selaku Wakil Rektor (WR) III Bagian Kemahasiwaan dan Kerjasama menjelaskan bahwa dari 42 prodi yang ada di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hanya 17 prodi yang mengharuskan mahasiswa barunya menempuh program pesantren selama 2 semester.

17 prodi yang dimaksudkan adalah prodi umum seperti yang telah tercantum dalam surat keputusan yang ditandatangani oleh  rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi, melalui nomor surat: B-3810/Un.02/R/PP.00/07/2018

17 prodi itu adalah orang menyebutnya prodi umum. Misalnya saintek ilmu hukum kalau di dakwah itu IKS, gitu lho,” tegas Waryono kepada lpmrhetor.com saat di temui di ruangannya (02/08).

Program wajib pesantren ini diadakan berdasarkan Surat Keputusan Sekertaris Jendral Kementrian Agama yang mengintruksikan kepada seluruh PTKIN se-Indonesia mendirikan pesantren kampus (ma’had al-jamiah).

Bahwa berdasarkan Surat Sekertaris Jendral KementrianAagama tanggal 30 september 2014. Itu kan ada intruksi agar setiap kampus PTKIN itu menyelenggarakan mahad al-jamiah. Karena UIN Sunan Kalijaga itu belum punya mahad maka mekanismenya kita bekerja sama dengan pondok pesantren yang dipilih berdasarkan kriteria,” imbuh Waryono.

Penempatan khusus untuk mahasiswi Saintek, Ilmu Hukum, dan Fishum

Waryono menegaskan sesuai amanat dari Rektor Yudian Wahyudi, mahasiwi dari Fakultas Saintek, Fishum dan Ilmu Hukum akan ditempatkan pada pesantren yang telah ditentukan. “Sesuai yang diamanatkan rektor, mahasiswi baru berjumlah 200-500 nantinya akan ditempatkan di pesantren Nawesea,” ungkap Waryono lagi.

Selain itu Waryono juga menambahkan, untuk mahasiswa dan mahasiswi yang selain di sebutkan di atas boleh dan dapat memilih pesantren yang akan dipilihnya sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.

Jadi sebenernya mahasiswa itu diberikan pilihan mau pesantren di mana, gitu lho. Tapi khusus untuk Saintek, Ilmu Hukum, dan Fishum itu yang perempuan di Nawaisea. Dan kalau yang lainnya itu silahkan milih gitu lho ke pesantren yang sudah ada daftarnya.

 

Pesantren arus utama

Sejauh ini program wajib pesantren menargetkan mahasiswa baru agar tidak terpengaruh paham radikalisme. Oleh karenanya mereka ditempatkan di pesantren arus utama. “Maksudnya pesantren arus utama itu pesantren yang selama ini di bina oleh organisasi NU, Muhammadiyah,” tutur Waryono. Hal ini karena organisasi tersebut dinilai menjadi bagian dari organisasi yang betul-betul mendukung negara.

Selain itu Waryono juga menegaskan bahwa program wajib pesantren ini bukan menjadi syarat bagi mahasiswa untuk meraih gelar sarjananya di kampus.  “Yang menjadi syarat kelulusan itu adalah sertifikat baca tulis Al-Quran,” tegas Waryono. Pesantren yang nantinya ditempati mahasiswa telah bekerja sama dengan pihak kampus dimana pengajaran utama adalah mengenai baca tulis Al Quran.

 

Biaya pesantren tidak termasuk Uang Kuliah Tunggal (UKT)

Program wajib pesantren yang mulai diberlakukan tahun ini, mengharuskan mahasiswa baru terpilih untuk menentukan sendiri pesantren mana yang ia kehendaki tanpa terkecuali, dengan asumsi biaya pesantren tidaklah termasuk UKT.

“Mondok nanti itu ya akan ditanggung sendiri-sendiri.”

Menurutnya, bertempatnya mahasiswa tersebut di pesantren sama halnya kos untuk biaya kebutuhan tempat tinggal. ”Anak-anak itu seandainya tidak pesantren ya kos tho? Artinya bayar kos.”

Tarif pesantren yang berbeda-beda menurutnya nanti akan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing mahasiswa, bilamana ada mahasiswa yang bener-benar kurang mampu. Pihak kampus pun dinilainya telah menyiapkan petugas (Pusat Layanan Terpadu) yang sudah dibekali mengenai informasi sejumlah pondok pesantren. Oleh karenanya Waryono menekankan peran aktif mahasiswa baru sendiri untuk mau bertanya.

“Nah sekarang mahasiswa mau bertanya nggak, kita itu punya alat komunikasi tapi tingkat bertanya orang semakin minim.”

 

Belum adanya pesantren mahasiswa “Mahad Al-Jami’ah”

Keseluruhan total UIN Sunan Kalijaga menyediakan 42 program studi dengan mahasiswa baru lebih dari 3500 orang. Adanya kebijakan wajib pesantren ini belum memungkinkan seluruh mahasiswa baru untuk menetap di pesantren karena pihak kampus belum menyediakan fasilitas pesantren khusus mahasiswa (mahad al jamiah).

“Karena UIN Sunan Kalijaga itu belum punya mahad maka mekanismenya kita bekerjasama dengan pondok pesantren” ujar Waryono.

Pesantren yang sudah regular dinilai tidak memungkinkan akan menerima 3500 lebih mahasiswa UIN karena pesantren sudah terisi dengan santri yang sudah menetap.

Menurut keterangan Waryono nantinya akan diadakan pengecekan dari pihak kampus ke pesantren yang bersangkutan untuk meninjau apakah mahasiswa benar-benar menetap di situ. Jika memang tidak demikian maka mahasiswa akan mendapati pembinaan lebih dari pihak kampus.

“Ya, sanksinya mungkin tidak dikeluarkan (blacklist) atau apa itu tidak. Sanksinya ya dia akan mendapatkan pembinaan lebih.”

 

Tindak lanjut UIN SUKA terhadap pengajuan surat keberatan mahasiswa

Terhadap adanya program wajib pesantren UIN Sunan Kalijaga memunculkan banyak kerisauan dan kegalauan terutama pada mahasiswa-mahasiswi baru yang kurang berkenan akan adanya program wajib mondok tersebut, dengan berbagai macam alasan alasan, mereka mengirimkan surat keberatan kepada bagian kemahasiswaan yang ditandatangani oleh orang tua masing-masing.

Menurut Waryono, tentang adanya program tersebut, pihak kampus akan menyelidiki lebih lanjut, “Yaa keberatannya itu karena apa, nanti kita akan cek. Nanti yang berasal dari Jogja misal tinggalnya dengan orang tuanya, itukan tidak harus mondok juga. Tapi nanti kalau kita sudah punya mahad wajib untuk semuanya mondok meskipun orang Jogja. Inikan karena masih nitip, kita kan masih kerja sama.”

Selain itu Waryono juga menambahkan jika mahasiswa keberatan dikarenakan factor biaya dan kondisi keluarga yang tidak mampu  maka lebih baik daftar bidik misi.

“Kalau memang betul-betul miskin mestinya dia daftar bidik misi atau beasiswa lain yang memang ada di Sunan Kalijaga kan banyak ada beasiswa PLN (Perusahaan Listrik Negara), ada BI (Bank Indonesia), ada BASNAS (Badan Amil Zakat Nasional),” tutup waryono []  

 

Reporter: Itsna Rahmah Nurdiani dan Indra Gunawan

Editor: Fiqih Rahmawati

Mengintip Nasib Pendidikan Sambil Berpagi Ria di Lereng Gunung Arjuna Probolinggo

“Pernikahan dini bukan menjadi hal tabu di sini. Ia menjadi faktor kurangnya minat bersekolah. Saat-saat menikmati masa belajar, malah sudah sibuk mengurus keluarga.”

[divider][/divider]

 

Pagi nampak sepi di sebuah desa yang indah, di Lereng Gunung Arjuna. Sekolah sudah terata rapi dengan segala keindahannya sebelum para siswa dan siswi sekolah berdatangan. Untuk menuju sekolah Nurul Mubtadi’in ini tidak mudah, kita harus melewati jalan yang naik turun. Beruntung, masih bisa diakses menggunakan kendaraan roda empat. Tepatnya di Dusun Mello’an, Desa Betek, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, lokasi ini termasuk desa yang jauh dari pusat kota. Maklum, daerahnya masih terpencil.

Sebenarnya, jadwal rutin masuk kelas adalah jam tujuh, namun sudah jam setengah delapan kelas masih sunyi dari kehadiran siswa, ketika dua anak laki-laki terlihat bersemangat dari arah timur menuju sekolah. Dua anak kecil itu terus saya ikuti sampai menuju kelasnya. Mereka sangat bersemangat, ketika kami ajak ngobrol, mereka selalu memberikan jawaban yang sumringah dan optimis dalam belajar, meskipun mereka hanya berempat dalam sekelas di kelas 6 MI. Kemudian hampir mendekati jam delapan para siswa dan siswi lainnya berduyun-duyun datang ke sekolah.

Gedung sekolah Madraah Ibtidaiyah ini terlihat sangat memprihatinkan, dari gentengnya banyak yang menerawang, juga dindingya banyak yang retak. Saking lamanya tidak direnovasi. Gedung sekolah yang ada pun belum memadai,  masih ada satu kelas yang menumpang di selasar masjid.

Namun demikian tidak menyurutkan semangat para siswa untuk bersekolah. Gedung Madrasah Ibtidaiyah yang sudah perlu untuk direnovasi ini, sangat membutuhkan dana, karena pada awal pembangunannya masih menjadi tanggungan keluarga Kyai Suhar Muhammad Ismail (Alm.). Namun setelah beliau meninggal, yang mengurus pondok pesantren tidak ada, jadi para santri yang juga siswa pun menjadi agak berkurang.

Muhammad Abdullah Rifqi, selaku penerus warisan Ayahnya. Ia menyayangkan ketika anak yang masih usia belajar enggan untuk menikmati pendidikan. Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia memang tak ada habisnya, apalagi mengenai kebijakan dan perundang-undangan tentang pendikan yang berlaku. Namun di sisi lain ada hal yang kurang dirasakan secara mendalam mengenai pentingnya mengenyam ilmu  oleh masyarakat dan remaja usia pelajar untuk membangun ghirah  bersekolah.

Padahal kalau dilihat dari layanan yang sediakan, fasilitas sekolah ini sangat mendukung, biaya sekolah gratis tanpa syarat, seragam sekolah dikasih secara cuma-cuma, peraturan sekolah pun tidak begitu menekan. Tidak memakai seragam sekolah pun jika mau dan asalkan mau bersekolah tidak masalah, mereka yang rumahnya agak jauh dari lokasi, ada yang menjemput. Namun yang menjadi persoalan lagi-lagi kemauan orang tua untuk menyekolahkan anaknya kurang begitu sadar. Juga kemauan anak untuk bersekolah masih minim.

Kebanyakan dari mereka lebih memilih kerja di sawah, membantu orangtuanya mencari duit, karena menurut mereka yang tidak bersekolah, sekolah itu hanya membuang waktu dan menghabiskan duit.

Kalau kita lihat sekelilig desa ini masih banyak rumah warga, dan remaja usia sekolah, namun yang mau untuk bersekolah ini yang masih sangat minim. Seperti paparan Rifqi, saat mengobrol dengan lpmrhetor.com disela-sela pagi sambil meninjau lingkungan sekolahnya.

Di sisi lain, gedung sekolah ini dibangun di atas tanah wakaf (pemberian seseorang) pada tahun 2000, kemudian dibangun gedung sekolah Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 2009. Keberadaan gedungnya pun terpisah-pisah antara ruang kelas yang satu dengan kelas yang lainnya. Hal ini dikarenakan lokasiya yang terletak dilereng gunung, jadi membutuhkan tenaga ekstra yang lebih hati-hati untuk membangunnya. Tumpukan bebatuan yang tidak merata, justru membuat keindahan tersendiri, indah dan mengagumkan.

Sekolah ini terlihat indah ketika anak sekolah mulai berduyun duyun ke sekolah, mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), yang menjadi menarik ketika kami melewati gedung ini banyak ibu-ibu yang mengantarkan anaknya, bahkan mereka rela menunggu sampai anaknya pulang. Namun ketika mereka sudah memasuki usia Sekolah Dasar, kebanyakan dari mereka sudah berani berakat ke sekolah sendiri. Tak hanya ramai anak-anak saja, lingkungan ini juga sudah sampai pendidikan MTs dan MA. Madrasah Aliyah yang kelas IX (sembilan) ini pun baru pertama kalinya di tahun ini.

Rifqi berharap, suatu saat nanti pesantren dapat dibangun kembali, karena yang sangat mendukung di daerah ini adalah pesantren. Harapannya supaya anak-anak tidak telat pergi ke sekolah, dan juga malamnya bisa mengikuti ngaji. Semenjak meninggalnya abah, santri yang mondok di samping rumah sempat pulang dulu, mereka menunggu harapannya ada pengganti abahnya dalam memimpin pondok pesantren ini, dan mereka nanti akan kembali lagi. Juga sekolahnya dapat ramai lagi, banyak anak yang akan bersekolah lagi.

 

*Irfan Asyhari, seorang videografer lpmrhetor.com yang sedang berusaha mengeja angan-angan semu. Sungguh mulia!

Program Pesantren: “Kalau Nggak Mau Masuk Pesantren Nggak Usah Masuk UIN!”

lpmrhetor.com, UIN – Jumat (20/7), warung kopi seperti biasa begitu ramai, suasana terlihat terang benerang karena banyak lampu LED terpasang di langit-langit atapnya. Banyak anak muda yang saling berkumpul beradu rindu bersama kawan-kawan, saling bertukar pikiran hingga saling sibuk menatap handphone masing-masing entah sibuk mengabari sang kekasih atau hanya sekedar bermain game online yang sekarang banyak di gandrungi berbagai pemuda dari berbagai kalangan. Setidaknya demikian tradisi ‘ngopi’ bagi anak muda zaman sekarang.

Pukul 19.08 WIB, saya sampai di warung kopi Basabasi. Sebelumnya saya telah membuat janji wawancara dengan mahasiswa baru, Adelia Fridha Iffani. Saya mengenalnya dari Pemimpin Redaksi saya, Fahri Hilmi, karena Adel merupakan salah satu mahasiswa baru yang mengajukan keberatan atas program pesantren selama dua semester dan karena itu, ia mendapat sambutan yang kurang baik dari bagian kemahasiswaan.

Seperti malam-malam kemarin, Yogyakarta sedang dilanda hawa dingin yang begitu menusuk. Dengan ditemani segelas menuman hangat, saya menunggu Adel yang sebelumnya bilang datang sedikit terlambat.

“Aku masih jaga stand kak, aku masih belum selesai,” ujarnya via pesan Whatsapp.

Tepat pukul 20.00 Adel mengabari bahwa ia sudah menunggu di depan, “Kak, di mana? Aku udah di sini, pakek jaket jeans ijo.” Saya langsung bergegas meninggalakan kursi dan menengok ke arah tempat parkir, saya lambaikan tangan kepada gadis itu sebagai isyarat menunjukkan keberadaan tempat di mana saya berada.

Kami bertemu dan bersalaman, ia tampak begitu manis tak terlihat riasan neko-neko di wajahnya, tampak begitu natural dan gaya bicaranya yang cukup menyenangkan.

“Adel,” ia memperkenalkan diri sambil mengulirkan tangannya kepada saya. mahasiswa baru Fakultas Adab dan Budaya jurusan Sastra Inggris UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.  Gadis dengan dengan semangat juang tanpa batas.

“Kak, ini nanti bakal lama nggak, ya?” ucapnya sebelum duduk dengan ekspresi senyum malu yang terlihat begitu khas di raut wajahnya. Tak ingin membuang waktunya saya langsung melakukan wawancara.

Ia menceritakan berbagai hal mengenai keberatannya terhadap program pesantren di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, seperti berikut:

Saat verifikasi terakhir (Adel lupa saat di tanya kapan hari dan waktunya)  untuk mengumpulkan berkas dan kesanggupan bayar UKT, ia tiba-tiba ditanyai asal sekolah oleh petugas verifikasi dan ketika petugas mengetahui bahwa Adel berasal dari sekolah umum, tiba-tiba ia dihimbau untuk mengisi namanya dalam sebuah blanko, tanpa ada penjelasan apa pun dari sang petugas.

“Pas Adel verifikasi terakhir buat ngumpulin berkas dan kesanggupan bayar UKT, itu ditanyain sama mbak-mbak, ‘Dari mana?’ Adel jawab dari SMK 5, terus tiba-tiba Adel di uruh ngisi, dan mbaknya nunjuk dan adel suruh ke sana buat ngisi yang katanya itu kertas buat pendaftaran pesantren tanpa di jelaskan apa pun. Di Pesantren Nawesa dan di kasih kayak brosur gitu. Adel di suruh ngisi tapi Adel nggak kumpulin. Kayak brosur pendaftaran gitu, di Jalan Wonosari, jauh tempatnya. Terus yaudah Adel pulang,” tegasnya.

Senin (16/07) sekitar pukul 09.00 pagi, ia kembali ke kampus untuk memberikan surat keberatan mengikuti program wajib pesantren selama 2 semester, Adel tak mendapat sambutan dan tak mendapatkan penjelasan apa pun  ketika datang di bagian kemahasiswaan UIN Suka.

“Saya ke bagian kemahasiswaan, itu tu ada 3 cewek, sama 1 cowok. Bapak-bapak kan sama ibu-ibu. Tapi yang satunya ibu-ibu nya kayak ke belakang gitu lho. Terus ditanya mau ngapain? Habis itu, Adel jawab,  mau ngasih surat keberatan terus habis itu, kenapa gara-garanya, saya jawab biaya, yang ibu-ibu itu ngomong gini, ‘Kalau misalnya nggak mau masuk pesantren nggak usah masuk UIN!”,  yaudah habis itu Adel cuma diem aja,” jelas Adel dengan wajah pucat pasi.

“Terus habis itu ibu-ibunya pokoknya ya ngomong kayak gitu terus, terlihat judes, dia maskeran si jadi Adel ga begitu tau,” imbuhnya.

Setelah menyerahkan surat keberatan yang telah di tanda-tangani ibunya, ia tak mendapatkan penjelasan atau pun jalan keluar yang bisa menjadi buah tangan untuk ibunya ketika pulang ke rumah.

“Pokoknya ibunya cuma jelasin kalo pesantren itu wajib, tidak ada penjelasan apa pun setelah itu. Belum ada pemberitahuan lagi. Jadi kayak Adel merasa ini itu gimana gitu. Sempet gimana yaa maksudnya kalau misalnya kayak gitu kenapa tindakannya dikeluarin setelah UKT keluar,” jelasnya.

Adel mengaku sebenarnya ia tak merasa keberatan dengan program wajib pesantren tapi karena faktor ekonomi dan kondisi keluarga tak mampu lagi untuk membayar.

“Adel nggak merasa keberatan sama program pesantrennya, cuma karena kondisi keluarga saja,” ungkapnya.

Kondisi keluarga yang kurang dalam perekonomian tak mematahkan semangat adel untuk dapat terus mengenyam pendidikan hingga bangku perkuliahan, meski harus di-sambi bekerja siang dan malam. Adel gadis pekerja keras yang tak ingin menyusahkan orangtuanya karena ia sadar, ia masih mempunyai 2 adik yang masih duduk di bangku sekolah dan pastinya membutuhkan biaya yang extra pula, ayahnya yang hanya driver ojek online dan ibunya bekerja di bidang admistrasi sekolah dasar di bagian tata usaha.

“Biar nggak nambahin tanggungan orangtua juga. Adek adel juga masih pada sekolah, yang satu SMK yang satu baru masuk kelas 1 SD mana semua swasta dan butuh biaya semua. Jadi, ya gitu extra, papa adel cuma driver, driver gojek tapi kalo ada panggilan nyupir yaa nyupir. Ibu kerja di bagian admistrasi TU di SD IT (sekolah dasar islam terpadu-Red),” ungkap adel.

Program wajib mondok selama 2 semester membuat Adel galau dan risau.  Bagaimana tidak? Ia sudah merencanakan bahwa ia akan bekerja sembari kuliah.

“Maunya itu kerja sambil kuliah. Lha ini karena ada program pesantren, mikirnya gimana ini, mana kan 1 tahun, 1 tahun kan juga nggak bentar to, satu tahun 12 bulan, 12 bulan udah bisa ngasilin berapa, mungkin Adel downnya di situ” tutup Adel []

 

Reporter: Itsna Rahmah N.

Editor: Fiqih Rahmawati