Chestnut dan Sebuah Kematian di Wanstead

Setiap yang akan mati barangkali mencoba meninggalkan tanda. Entah untuk sebuah wasiat, teka-teki hidup, kesedihan, atau sebuah cerita. Barangkali itu yang sedang coba kulakukan karena aku tahu, tak lama lagi mereka akan membunuhku—entah dengan cara apapun.

[divider][/divider]

Desember 1993—George Green, London.

[dropcap] J [/dropcap] EAN GOSLING dipecat dari pekerjaannya ketika dia mulai menghimpun pemuda-pemuda di zona 6 London Timur, sekitar 9 mil dari sungai Thames. Perempuan itu mengajak ayah, ibu, saudara, dan tetangganya untuk bergabung dengan orang-orang non-residen yang sudah lama berjuang di dekatku. Mereka ikut mempertahankan rumah dan lahan terbuka agar tidak dilindas roda-roda dan dicabik tangan-tangan besi sebesar gajah.

Itu adalah tahun ke dua puluh sejak pertama kali orang-orang di suburban Wanstead memulai protes terhadap pengalihan lahan hijau dan pemukiman menjadi terowongan penghubung. Aku mengingat itu sebagai sesuatu yang hangat dan berharga, meski harus melalui proses yang mengerikan.

Beberapa aktivis dari area satelit dengan dibantu orang-orang di wilayah penglaju, datang dan membuat poster-poster penolakan M11. Sebuah proyek besar pembangunan jalan lintas sepanjang 52 mil dari Noodford Selatan hingga wilayah barat laut Cambridge. George Green ada di antaranya, dan aku ada di dalamya bersama puluhan saudaraku.

Ingatan ini sangat rapuh, sebab kala itu orang-orang bilang usiaku sudah hampir 250 tahun. Usia yang sangat langka bahkan untuk kalanganku. Aku tak punya rambut, tubuhku sudah keriput, kulitku berwarna terlalu gelap sebab terlalu sering terpapar matahari. Mereka duduk melingkariku, saling menghangatkan badan dengan perapian seadanya. Musim dingin membuat perlawanan itu semakin menyakitkan sekaligus membanggakan.

Gosling bukan perempuan satu-satunya yang ikut dalam barisan itu, tapi dia adalah yang paling berkesan. Jean mengingatkan pada anak-anakku, yang selalu ceria dan bersemangat. Yang tidak takut meski orang-orang mungkin menghancurkannya berkali-kali dengan berbagai cara. Yang selalu menawarkan sebuah rasa nyaman dan hangat. Orang-orang menamai anak-anakku Chestnut.

Setiap tahun, ketika mereka lahir, rasanya tidak ada yang lebih bahagia dari itu. Melihat mereka terus tumbuh dengan rambut tegak lurus dan kulit coklat yang manis membuatku merasa hidup. Tapi itu sudah sangat lama, terlalu lama sampai aku lupa kapan terakhir kali aku bisa melahirkan buah hati.

“Aku akan melindungimu. Kami akan melindungimu!” bisik Jean padaku di suatu subuh yang dingin. Kawan-kawannya masih bergelung, beberapa sedang menghangatkan badan agar tidak terlalu kedinginan.

Ingin rasanya percaya pada kalimat itu. Bagiamanapun, mereka sudah bersusah-payah mempertahankan keberanian dan semangatnya selama bertahun-tahun. Aku ingin percaya meski sangat tahu betapa beresikonya mempercayai sebuah harapan.

Tapi nyatanya itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar dengan jelas dan tulus dari Jean, sebelum teriakan-teriakan dan derum mesin mendekat ke arah kami. Menjelang siang, ratusan petugas keamanan yang dikirim pemerintah datang dan menyerbu barak kami. Mereka merobohkan rumah pohon, memadamkan api unggun, dan membakar slogan-slogan yang dibuat para aktivis.

Tidak ada yang tersisa dari pertempuran, kecuali kehancuran. Tidak ada lingkaran orang-orang yang saling melempar canda, tidak ada marsmallow panggang atau pun beer. 7 Desember 1993 menjadi sangat beku setelah para aparat membawa pergi pahlawanku.

Para perempuan dijambak rambutnya, diseret menjauhiku dan lelakinya ditendang, dipukuli dan remuk badannya. Tidak ada yang lebih mengerikan dari pada hari itu. Rasanya ingin kutarik dan kulempar para aparat itu menjauh dari orang-orang, sayangnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Tubuhku bahkan tak bisa bergerak seinchi pun untuk sekedar melindungi seseorang. Tangisan mengudara bersama asap-asap dari sisa pertempuran mereka yang tak seimbang.

“Anda membunuh Bumi!”

“Kami adalah penjaga bumi. Kami ingin menghentikan usaha pembunuhan Bumi!” teriak mereka begitu lantang dalam ketidakberdayaannya, tidak merasa takut meski terancam mati kapanpun.

Jean menatapku dari kejauhan, tangannya diborgol dan badannya dihimpit di antara para petugas keamanan. Mereka membawa para aktivis dan pecinta lingkungan ke tahanan, entah untuk diapakan. Ketika pertempuran itu selesai, keheningan menyeruak seperti kegelapan yang tak pernah ingkar ketika malam datang.

Beberapa orang dari proyek datang melihatku, mengatakan bahwa ini akan menjadi suatu hal yang bagus. Terowongan lintas bawah seharga 230 juta poundsterling akan menjadi modal untuk regenerasi area Brownfield di wilayah Silvertown.

Beberapa hari setelahnya, tangan-tangan besi dari mesin yang dibawa para pekerja proyek mendekat dan mencakar badanku, meremukkan tulang-tulang dan membuatku tumbang tak berbekas.

Aku tahu ini akan terjadi, tidak hanya di George Green, barangkali suatu saat nanti di suatu tempat yang subur macam rumahku, tetap akan dihilangkan juga. Entah untuk alasan perbaikan ekonomi, sistem hidup, atau apapun itu. Semuanya hanya omong kosong jika untuk membuat itu semua harus menghancurkan Bumi sedemikian rupa.

Orang-orang akan menanam dan menjadikan kami lebih kuat lagi. Percayalah, orang-orang macam mereka yang merantai diri padaku kala itu akan tetap ada dan tidak akan mati semangatnya sampai kapanpun. Mereka mungkin hanya beberapa orang, bahkan mungkin hanya berupa slogan-slogan. Namun setidaknya, Bumi tidak bertahan sendirian. Meski kalian membunuh kami berulang kali, kami akan terus bangkit.

Ini mungkin terlihat seperti gertakan tak berarti dari pohon kastanye tua macam aku. Kecuali ada keinginan untuk membuat simulasi neraka, silahkan bakar dan hancurkan setiap kalanganku. Barangkali dengan begitu kami akan menghantui dengan rasa penyesalan yang tak pernah usai. Sebuah rasa bersalah yang akan memakan seluruh sisa waktu kalian.

***

Terinspirasi dari kisah nyata perjuangan para aktivis di George Green dalam aksinya menolak proyek pembangunan jalan yang sekarang menjadi jalur A12, di Wanstead, London Timur. Mereka menolak proyek M11 sepanjang 52 mil dan sempat menjadi trending topik oleh media-media di Inggris sebab mempertahankan sebuah pohon chestnut berusia 250 tahun.

Semoga menjadi cerminan dari perjuangan para aktivis penolak NYIA di Kulonprogo. Pada akhirnya, seberapa kecilpun usaha kita, akan tetap mendapat tempat yang layak entah di mana dan kapan.

[divider][/divider]

*Ika Nur KhasanahWartawan LPM Rhetor yang juga aktif di UIN Sunan Kalijaga sebagai mahasiswi KPI.

Sejarah Kita dan Alur yang Monoton

[dropcap] T [/dropcap] IDAK semua ‘a’ menjadi awal dari suatu realita. Perang tidak begitu saja dimulai hanya karena ada lecutan senjata. Ada himpunan titik dan garis, juga resonansi pengetahuan yang melengkapi sebuah pertemuan. Tidak, bukan seperti drama dengan awal perkenalan lalu puncak masalah, klimaks dan happyending. Pemikiran butuh proses, dan suatu diskusi selalu memerlukan masalah untuk tetap bertahan di batas pembicaraan. Realita tidak selalu happyending.

Mengutip kata-kata Bung Karno; Jas Merah, tidak muluk-muluk sebetulnya apabila pelajaran sejarah menjadi kurikulum wajib di strata pendidikan Indonesia. Pertanyaannya, apakah yang dituangkan dalam kurikulum itu sesuai dengan fakta ‘sejarah’? tanyakan pada Tuhan. Sebab saksi dan bukti sejarah seolah lenyap atau didistorsikan menjadi puzzle misterius tanpa penyesalan. Sejarah bukan hal yang patut dipercaya, tapi suatu bahan kajian pokok yang sepatutnya diunggah kebenarannya.

Berkubik-kubik kertas mencetak huruf dan kalimat, menceritakan arus drama masa lalu. Seolah-olah penulis mengerti betul kejadian saat itu. Sok tahu! Bahkan jika seseorang itu terlibat di dalamnya, tidak semua hal bisa dipahami dari satu sisi saja. Hanya ketika sebuah pena yang tegas mencoretkan nama-nama penuh darah dan tulisan tanpa nama tersebar di muka dunia.

Sejarah terbelenggu di balik rezim yang kotor dan udik, namun apakah semua itu berarti untuk pemikiran masyarakat luas? Tidak, anak-anak dan cucu-cucu kemerdekaan terlahir dan dipaku ke dalam ‘revolusi’ sejarah. Dibuat buta dan didengarkan pada dongeng kepemimpinan sakral yang ‘protagonis’. Indonesia melipat kenangan pahit, lalu waktu beruntun melahirkan detik-detik perlawanan sebab cerita kebenaran sesungguhnya memang ada. Tidak mati dan hilang.

Masih tercetak jelas jejak-jejak dan tulisan-tulisan yang ingin bergerak, kepingan sejarah Majapahit yang terbentuk kembali di bawah kaki-kaki Belanda dan tangan-tangan Jepang. Kekalahan dan manipulasi politik yang berulang. Pergerakan abad 18 hingga 19, peraduan fakta dan fiksi. Seolah kesempatan saat itu sedang Tuhan berikan supaya bangsa dapat memperbaiki sejarah. Tapi kemudian orang-orang tumpul dan lumpuh oleh kekuasaan, lawan-kawan bukan bentuk yang harus dipedulikan. Jiwa merdeka memberontak lalu terbungkam di sela jeruji. Berkali-kali, berpuluh-puluh badan dilumpuhkan. Tapi bodohnya manusia, sebab jiwa itu tidak pernah bungkam. Pahlawan tanpa nama masih terus ada, bahkan meski tanpa embel-embel kesatria atau menteri, mereka bersuara bersama tulisan-tulisan. Gajah Mada bangkit dalam versi pemuda 90-an. Mendobrak keadaan negara yang tetap berlutut di bawah anomali pemerintahan.

“Aku bukan artis pembuat berita” begitulah pembuka syair yang ditulis Wiji Thukul. “Tapi aku memang selalu kabar buruk untuk penguasa” lanjutnya. Belantara masa lalu selalu bisa mengusik sisi percaya dan ragu para pemikir serta pencetak sejarah. Korelasi logika dan realita serta paradoksal sejarah dalam drama beragensi Negri pertiwi. Ada ruang di bawah sekat-sekat perkuliahan yang mulai menggeliat, ingin bebas. Meragukan sistem dan merindukan keadilan. Bangsa tak berbentuk lagi, sistem porak-poranda sebab tak memiliki dasar maupun penyangga.

Kebenaran butuh suara, sebab kita masih berupa kata-kata saja. Itu sebabnya sejarah mesti diluruskan, cantumkan bahwa negeri ini sedang sekarat. Dongeng dan angan-angan idealisme tulisan kian bertebaran tanpa penghargaan yang berarti. Sastra dikaburkan oleh penguasa, sebab sastra tidak memihak mereka. Tulisan tidak memihak pada kebohongan, seharusnya begitu. Seharusnya memang seperti itulah sejarah terbentuk.

Mendewasakan akal lewat sepak terjang Gajah Mada hingga langkah patah-patah pejuang tahun 90-an. Dari Tan Malaka hingga Pramoedya, tahun 20-an redup lalu meledak lagi di 60-an. Sejarah berulang secara monoton tapi keadilan dan kesepakatan terhadap kebenaran sepertinya enggan memihak barang sekalipun. Bukan karena Tuhan berlaku jahat, melainkan ketidakmengertian pihak-pihak tak bertanggungjawab dan haus kekuasaan bahwa karma memang ada. Majapahit di era modern terasa lebih dramatis dan menggelikan.

Sebagai mahasiswa yang masih magang di LPM kampus, pemberian materi seperti itu bukan hal tabu. Meski riskan akan salah paham dan tingkah gegabah, tapi apa salahnya mengenal lebih jauh sisi lain sejarah? Walaupun memang, sisi-sisi buta yang masih mengerat di otak pasca SMA ternyata tetap kagok mengimbangi problema yang sejatinya sangat umum dan jelas. Tahun 1966 menjadi angkatan paling berpengaruh dalam sejarah kesusastraan sekaligus penentu sejarah paling rumit di Indonesia. Di mana simpang-siur kenyataan terasa seperti pseudo yang semakin tak berbentuk seiring sistem pemerintahan pasca reformasi ’98.

Pers tercekat, pena dipatahkan dan suara-suara kecil terus dibungkam. Jika masih ingat, ada ratusan bahkan ribuan orang yang dibantai pada peristiwa G30S1965, pertanyaannya; apakah para pembantai itu adalah orang yang benar dan berhak dibebaskan dari jerat hukum? Lalu seperti sebuah rangkaian tanpa akhir, Trisakti menyisakan genangan pertanyaan yang tak terjawab. 19 orang diculik pada tahun 1998—lenyap atau terlenyapkan karena kekhawatiaran tak berasalan dari suatu kelompok.Era pengguguran Soeharto menimbulkan banyak pertanyaan, kekhawatiran lain di masa depan. Sebab pergerakan seperti tunas yang tak bisa hilang begitu saja.

Saksi bisu dari pergerakan pemuda dan golongan marjinal saat itu adalah tebaran syair dan puisi dari orang-orang yang peduli tapi tak dipedulikan. Mahasiswa sebagai penggerak reformasi tertindas dedengkot politik yang dengan ringannya memutarkan arah pandang masyarakat dan menebar kebencian ‘muslim’ terhadap sesamanya. G30S1965 pecah, terbentuk sebagai ‘antagonis’ sejarah bangsa. Dipatenkan sebagai musuh negara tanpa penyebutan alasan yang logis.

Melihat sejarah, melihat drama politik, mendengarkan rintihan tulisan tanpa belas kasihan yang berarti. Parade puisi koruptor menjadi awal cerita yang baru di negeri yang sesak dengan pertanyaan dan kering keadilan. Sejarah tidak butuh dicatat, namun seperti tertulis di awal, sejarah butuh diluruskan alurnya. Namun, pertanyaan; siapa yang akan meluangkan waktu dan tenaga untuk itu? Atau; bisakah pelurusan itu tidak dihalangi? Hal-hal semacam itu bukankah lebih kompleks daripada momen balas dendam mafia?

Indonesia memang rumit, saudara. Itu sebabnya meski banyak hal yang buram, banyak darah yang ditumpahkan, sebagai penggerak via tulisan, sepertinya kutipan syair Wiji Thukul patut kita genggam. “Kata-kata itu selalu menagih  padaku, ia selalu berkata kau masih hidup. Aku memang masih utuh dan kata-kata belum binasa”.

 

*Ika Nur Lutfi. Adalah nama lain dari Ika Nur Khasanah, sekretaris Umum LPM Rhetor 2017-2018.

Molotov di Tepi Serayu

“Le, ngapain kau pulang?” laki-laki itu bertanya dengan nada sarkatis sambil mengambil sebatang rokok dari kotaknya. Jarinya mengapit batangan putih yang sarat tembakau itu dengan lihai, mengetuk-ngetuk ujungnya lalu menyulut api dari pemantik logam antiknya. Dengan seksama dan raut menikmati, seolah-olah asap dari dalam mulutnya itu hal terakhir yang bisa dia nikmati sebelum mati, lelaki itu mengintipku dari sipitan matanya.

“Hentikan itu, bajingan,” kibasku pada asap-asap yang sengaja dia hembuskan ke kepalaku, sebagian pasti meresap ke rambut dan lainnya mengalir lewat udara ke telinga hingga hidungku. Lelaki itu itu terkekeh lalu menarik kepalaku untuk dia bawa ke bawah ketiaknya.

“Kau ini,” katanya mengusak rambutku acak. Tanganku yang tidak terapit tulang rusuknya mencoba mengggapai tangannya, tapi gagal. Dia keburu melepaskan pitingannya yang main-main. “Apa di kota tidak ada orang merokok, eh?”

“Tentu saja ada, bodoh! Banyak, terlalu banyak malahan,” ucapku lirih di akhir kalimat. Kami diam selama beberapa saat, Wan sibuk dengan rokoknya, dan kakiku berayun-ayun menikmati angin kering yang mengalir di sela besi dan beton jembatan. Sesekali melempar kerikil kecil, yang kebetulan ada di dudukan besi tempat kami melihat asap-asap sisa ledakan molotov di lapangan tembak, ke sungai di bawah kami.

Tanpa sadar, pikiranku mulai mengawang-awang. Jika ini adalah tujuh atau sepuluh tahun lalu, maka tempat aku duduk sekarang berada di atas pelataran sungai Serayu yang penuh dengan batu kerikil bulat. Bukannya di atas air keruh dengan aliran lambat namun sangat dalam dan berpusar terlalu cepat di dasarnya, bekas ditambangi pasirnya.

Kalau ini bukan sekarang, maka warna air sungai di bawah jembatan peninggalan para kompeni ini begitu hijau hingga bebatuannya terlihat mengkilat sekalipun dilihat dari atas jembatan. Dan apabila ini bukan di bulan Juli tahun 2017, maka seharusnya tidak ada pagar berkawat besi setinggi dua setengah meter yang tertancap di sekeliling lapangan udara, atau plang milik PT KAI yang berisi klaim tanah dan garis batas kepemilikan mereka.

Aku menatapi satu dua burung dara yang melintas dengan suara peluit nyaring—terpasang di badan mereka. Lalu beralih menatap ke utara sebab suara ledakan granat terdengar menggema diikuti suara tembakan yang beraturan. Ulah para tentara di perbatasan.

“Kau belum menjawabku,” Wan menyenggol lengan atasku pelan, lalu menyesap rokoknya dalam-dalam. Kutatapi wajah teman kecilku yang sekarang jauh dari kata kecil. Tubuh separo cinanya itu bongsor, rambutnya lurus dan sengaja dipanjangkan sekitar sepuluh senti. Pipinya yang licin tanpa jerawat masih tembam dan dagunya, aku baru sadar kalau dia sedang beternak rambut jenggot. Ketika dia menonyor dahiku, aku tersadar bahwa sejak tadi mataku seperti bertamasya di wajahnya.

“Apa yang kau lihat, hah? jangan bilang kau jatuh cinta padaku sekarang, saat ini?!” matanya yang sipit dipaksa melotot dan itu sangat konyol. “Akhirnya kau dewasa juga, Le. Agh! Jantungku berdebar-debar!” dia terbahak-bahak sambil memegangi dada kirinya.

“Kalau pun aku jadi dewasa dan jatuh cinta, aku tidak mau menjatuhkan cinta semata wayangku pada bajingan macam kau.”

“Aku tau, ya Tuhan. Kau ini kenapa, hah? serius banget, lagi menstruasi?”

Meh! Sepertinya punya saudara perempuan sekali pun kau akan tetap bodoh soal perempuan.” Kataku sambil menarik betis kemudian menumpukan kaki di paha Wan dan bersandar di pagar besi kotak singgah jembatan.

“Aku pulang mau ngebom markas TNI, puas?!” Dia hanya geleng-geleng, menyentil puntung rokoknya ke sungai lalu bersiap mengambil batang rokok yang kedua. Aku mendengus keras lalu mencondongkan badan, berusaha menarik rokok dari sela bibirnya.

“Terakhir, aku janji…” jarinya menepis tanganku.

“Cih, pembohong! Nanti juga bakal ngerokok,”

“Denganmu, aku belum selesai—demi Tuhan—dengarkan dulu! Ini terakhir kali aku merokok di depanmu. Oke?” kami mengadu pandangan sengit, lalu dengan kompak memundurkan badan setelahnya. Bersaing dengan angin, Wan buru-buru menyulut rokoknya.

“Katanya kau dapat kerjaan di Jakarta?” kataku memastikan, dan dia mengangguk, jari-jarinya menarik batang rokok dari bibir. Torsonya yang berisi tercetak di balik kaos singletnya, memperjelas lipatan lemak yang aku berharap bisa memilikinya barang satu.

“Ikut Mbak Elin, sih,” ucap Wan merujuk pada kakak pertamanya. “Jualan gorengan. Haha,” Wan merebahkan punggungnya untuk menggapai bungkusan berisi kaleng-kaleng soda dan camilan di undakan belakangnya. Aku menyerobot satu kaleng soda yang baru dia buka tanpa peduli dengusannya terlihat mengeluarkan asap seperti animasi banteng marah.

“Iya, gorengan yang seporsinya bisa dituker HP,” sindirku yang membuatnya terkekeh geli.

“Kapan balik ke Jogja, Bu Dokter?” dia bertanya setelah menenggak sodanya, tapi aku yang tersedak.

“Dokter?!” dia mengangguk afirmatif lalu aku tergelak sampai sakit perut. “Sejak kapan orang yang kuliah jurusan komunikasi bakal lulus jadi dokter? Jangan bikin lelucon baru, deh.”

“Tapi kau kan pengin jadi dokter?” dia menyesap rokoknya, iris mata di dalam kelopak matanya yang paling hanya setinggi mata ngantukku itu seperti meminta kepastian. Aku tidak berani menantang matanya jika seperti ini, Wanjarang serius. Dia itu kakak laki-laki yang tak pernah kupunyai dengan statusku sebagai seorang anak pertama. Elwan Sandik, manusia yang jelas mengerti apa mimpi zaman kecilku dulu dan sedang mencoba mengungkitnya.

“Wan, kenapa orang desa banyak yang betah ke kota, hidup di sana, bergaya seperti orang kota? Malah kadang enggak mau balik ke desa?” tanyaku yang enggan membahas cita-cita.

“Sekarang aku tanya, karena kau sudah dua tahun di kota. Kenapa orang kota banyak yang ingin ke desa? Beli tanah lalu bangun rumah di desa? Bergaya seperti orang desa yang kaya raya?”

“Astaga, kau! jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan!”

“Itu jawabannya, bodoh…” Wan melesakkan puntung rokoknya pada sudut besi di sisi kirinya. “Kau lihat itu?” telunjuknya yang panjang dengan tato kecil ‘N’ dari rangkaian ‘ALONE’ di pangkal ruas jarinya itu mengarah pada lapangan tembak di utara delta sungai.

“Orang desa macam kita mungkin terbiasa dengan suara ledakan, letusan proyektil laras panjang, atau ribut-ribut helikopter. Karena kita dekat dan hidup di sekitarnya, di perbatasan. Orang desa terbiasa dengan lahan pertanian, rombongan bebek, apalagi suara katak di sawah. Begitu juga orang kota yang betah dengan suara derum mesin mobil, juga klakson padahal masih pagi tapi sudah macet. Mereka terbiasa dengan makanan cepat saji dan obrolan tengah malam,” aku mengangguk-angguk ragu sambil memikirkan mau ke mana dia membahasnya. Mataku memerhatikan tangan gempal Wan yang sibuk membuka bungkus camilan.

“Tapi manusia itu gampang bosen, yang pinter keblinger, yang bodoh macam kau sama aku ini malah sok tau,” lanjutnya sambil menyodorkan keripik kentang berperisa rumput laut.  “Makanya mereka, kita juga—apa ya bahasanya?—Penasaran, nah! Abis itu bikin eksperimen, yang kota ke desa, yang desa ke kota. Yang kebanyakan teori malah suka bad judging, orang yang doyan makan buku tapi enggak diwadahi realita. Dan, Le, demi apapun, jangan gitu.”

Lelaki yang lahir dua bulan lebih awal dariku itu terkekeh saat aku hanya menatapnya dengan kerutan di tengah dahi. “Le, gini ya. Simpel aja, kau tau kan kalau manusia itu susah puasnya?” aku manggut-manggut, terlalu cepat sampai tangannya menahan dahiku.

“Sekarang aku tanya lagi, siapa yang paling tau batasan diri kita masing-masing?”

“Tuhan?” kepalaku meneleng ke kiri, ragu tapi juga penasaran.

“Ya, dan diri sendiri pastinya,” dia mengangkat kakiku dari atas pahanya lalu memutar badan untuk bersila menghadapku. “Saat kau tau kalau batasanmu terbatas batasan,”

“Tunggu! Gunakan kosa kata lain, tolong.”

“Dih, dasar mahasiswa lemot!” aku mendelik dan dia tertawa kecil. “Gini, Le. Kalau kau udah tau seberapa jauh kemampuanmu, dan itu ternyata terhambat oleh beberapa hal misal, lingkungan? Apa yang bakal kamu lakuin?”

“Cari cara, lah?”

Yes. Duh pinternya, Adek Manisku,” dia menoel daguku sambil menaik turunkan alisnya meledek.

“Sialan!” umpatku sambil menepis tangannya, “aku takut dibilang lupa asal.”

“Oleh?”

“Orang-orang kota,” kataku setengah tertawa. “Kau tau, jawabanmu itu penjabaran yang rinci buat sikapku, yang kadang aku susah ngomongnya,” tanganku mencomot keripik kentang dengan bungkus yang separuhnya berisi gambar cengiran di wajah entah siapa. “Kau benar, aku hanya perlu tau di mana batasku dan mengujinya sampai batas itu benar-benar mentok,” aku menghela nafas sebagai jeda, lalu menyumpal mulutku dengan beberapa keripik sekaligus. “Thafii merekha mehlih—uhuk!”

“Telan, bodoh!” Wan menitah sambil menyodorkan air mineral setelah menabok pipiku.

“Tapi mereka, Wan, kau harus tau, dengarkan baik-baik. Mereka melihat itu sebagai pelarian, seolah-olah kita sengaja lupa, tutup mata dari mana kita ada. Tapi enggak gitu.

“Dan kau sungguhan lari dari itu?” dia menyindirku, telak. Seperti melempar bom di wajahku sampai rasanya kebas karena malu. “Le, kita orang desa. Sama kayak kau yang jadi mahasiswa, aku juga haus bakat. Pengin tau sebenernya aku bisa apa buat disebut orang, dan cara kita sama. Pergi dari desa.”

“Bedanya, Le. Aku ke kota nyari duit, kau minta duit ke Mama,” dia tertawa lalu mencubit kedua pipi sampai mulutku kebas dan liurku hampir jatuh saking lamanya mendowerkan bibir. Aku tidak marah padanya karena apa yang dia ucapkan itu realita.

“Kau ini memang kurang ajar, sialan! Pipiku sakit, bodoh!” aku menggeplak kepalanya dan dia tambah tergelak sambil menggumamkan maaf berkali-kali. Setelahnya kami diam sambil mengatur nafas, kebanyakan tertawa.

“Aku, Wan, enggak mau abis kuliah langsung nikah,” tandasku beralih topik, yang dibalas raut meremehkan di muka Wan. “Aku enggak suka sama Kaki, dia liat perempuan ya seperti perempuan—jaman koloni dulu—budak! Makanya kadang aku pikir di kota, yang gendernya abstrak itu, aku ketemu sama diri aku sendiri. Aku bakal pulang saat udah punya bekal, enggak ngabisin duit aja terus pulang asal nikah. Bodo amat sih jadi perawan tua, tapi jangan, ding.” Laki-laki itu tergelak lalu merangkulku, membuat badanku ikut bergetar seiring tawa yang menghebohkan seluruh lemak badannya.

“Tapi, Wan,” aku menyingkirkan lengannya supaya bisa bernafas lega,  “cowok itu pada berengsek semua,” lanjutku, dan Wan diam saja dengan generalisasi yang kuucapkan terkait kaumnya. Dia toh paham alasanku. “Tapi kalo nikah sama cewek juga ogah, gini-gini aku perempuan normal, kok.”

“Iya, iya, astaga Aleid! Santai, sister. Kau ini, diajari apa sih sama dosenmu?” aku mengedikkan bahu acuh, Wan membuka satu kaleng soda lagi dan menyodorkan padaku.

“Jangan lari, Le.” Ucap dia kemudian meminum sodanya sendiri. “Realita enggak bakal bohong, kok, kalau kau benci pembohong.” Dia kembali duduk menghadap bibir kotak singgah jembatan, menatapi asap molotov yang membumbung mencapai pucuk mahoni. Kami sama-sama diam menatapi sebuah helikopter yang melintas rendah di atas jembatan, penerbangan terakhir sepertinya. Lalu membiarkan kebut sisa anginnya mengaburkan ujung kemeja masing-masing. Sodaku yang kedua sudah tandas lagi, membuat kerongkonganku serasa terbakar dan perutku seperti diisi gas-gas yang meletup-letup kecil.

Pulang itu perlu, tapi pergi untuk waktu yang lama juga bukan sesuatu yang salah. Kau punya rumah, itu sebabnya kau mesti balik. Seberapa lama atau bagaimana pun kau bersikap ketika pergi, pada akhirnya yang akan menyambut bukan mereka yang pergi denganmu. Tapi orang-orang yang menunggu kau pulang, Le.” Ada jeda cukup lama sebelum kami nyengir sama-sama, baru sadar dengan apa yang kami obrolkan.

“Wan, kau kesurupan Kyai mana?”

“Kayaknya arwah Raden Adipati tadi mampir, deh. Duh brengsek, lewat doang, Le! Sialan emang. Kau sendiri, Nyai mana yang mampir barusan?” Kami tergelak untuk ke sekian kalinya, membiarkan tatapan penasaran beberapa orang yang lewat di belakang kami.

Suara bom masih berdebum statis mengisi udara, proyektil-proyektil peluru juga terus melesat jauh—terdorong ledakan propelannya, meninggalkan selongsong-selongsong kosong untuk jatuh ke bumi. Serombongan burung terbang berputar di atas sungai, mengiring senja yang merekah di ujung mocong pesawat di sisi barat lapangan.

Itu senja langka, yang paling terjadi setahun sekali karena aku dan Wan akan saling sibuk di waktu lain. Setidaknya, kami pernah membahasnya meski dengan umpatan-umpatan sadis atau selingan candaan tidak bermutu. Membahasakan alasan kepergian, dan meminta Tuhan menyimpan kesempatan terbaik untuk kepulangan nanti.

 

 

 

Purbalingga, 9 Juli 2017.

 

*Penulis adalah Sekretaris Umum LPM Rhetor yang juga seorang mahasiswi KPI. Kini ia sedang berlibur.

Ajak Media Untuk Bertaubat

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

[Al Ahzab: 21]

Adakah sebuah kesalahan bila kita berusaha untuk menginternalisasikan sifat ke-suri-tauladan-an Nabi Muhammad Saw sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam ayat di atas? Bahwa manusia biasa, apalagi yang bertanggung jawab terhadap pengayaan wacana masyarakat (umat), atau bahkan mereka yang dapat mengendalikan konstruksi opini umat – semacam media, juga harus menjadi suri tauladan bagi mayoritas masyarakat sebagaimana disifati oleh Nabi Muhammad Saw. Bukan malah menjadi peralatan segelintir pihak untuk menyeragamkan pengetahuan, atau bahkan meracuni konstruk pemikiran umat.

Berangkat dari kondisi media saat ini yang sifatnya ‘biasa’ atau mainstream, tidakkah itu membuat kita merasa kurang nyaman dengan informasi dan pengetahuan yang kita dapat dari media? Katakanlah, sebagai media yang merupakan salah satu penyampai risalah kenabian, sebuah pemberitaan sudah seharusnya mematuhi kode etik dan aturan moralitas umat. Namun realitanya, berita hoax merebak, wartawan ‘kacang’ muncul dengan isu-isu murahan, belum lagi tercampurnya berita (baca: informasi) dengan dunia entertaintment. Lah, jadi infotaintment! Atau malahan di-mixed sedemikian rupa dengan agenda politik praksis. Tapi itu bukan suri tauladan yang baik, Kawan.

Kondisi seperti itu, Kawan, sebetulnya sangat tidak amanah bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan kita—apalagi jika sumbernya murni dari wacana media. Lalu bagaimana kiranya sebuah media itu akan menjadi tauladan dan menyehatkan bagi masyarakat?

Jawabannya adalah taubat. Media harus kembali pada apa yang telah diamanahkan, di mana media hanyalah sebuah media. Perantara, penengah, medium, jembatan, cukup sampai di sana. Taubatkan apa-apa yang dibawa dalam badan media pada substansi—yang oleh Bill Kovach dan Tom Rosentiel dirangkum ke dalam The Elements of Journalism, yang ada Sembilan itu (atau menjadi Sepuluh setelah direvisi dalam buku yang berbeda). Biarkan masyarakat mendapatkan apa yang shahih dan bersih untuk mereka cerna, tidak perlu dibumbui macam-macam, biar para pembaca, pendengar, dan pemirsa saja yang menabur bumbu sesuai tangkapan mereka.

Namun realita—yang dibangun sejak waktu-waktu lalu, yang saat ini sedang terjadi, atau yang akan membangun esok hari—tidak sesederhana itu. Media itu ada di badan lembaga, pers menjadi bagian dari korporasi—yang hidup dan memiliki banyak kehidupan di dalamnya. Maka substansi itu bukannya tidak bisa ditaubatkan, apalagi dengan Taubat An-Nasuha. Hanya cukup perlu dibekali dengan sesuatu yang (seharusnya) tidak merusak keasliannya.

Berbicara soal lembaga, manusia, dan realita, maka di situ ada sistem ekonomi dan manajemen media massa. Tanpa mencoba mengurangi keabsahan kode etik jurnalistik atau mengabaikan substansi berita yang Uswatun Hasanah, media memang perlu penghidupan. Bukan dengan menjual isi informasi kiranya, sebab itu hanya akan membuat media jadi rancu dan buram keberpihakannya. Bagi saya, komersialisasi media itu bisa disiasati, asalkan perlu digarisbawahi—media tidak menjual fitnah omong kosong dan produk politis!

Ada, kok, media yang tetap hidup bahkan sukses tanpa memperdagangkan amanah ke-shahih-an informasi dan berita yang mereka tabligh-kan. Media alternatif itulah namanya, yang perlu kiranya dikembangbiakkan supaya tidak sekadar bayang-bayang bias yang samar-samar dilihat masyarakat. Jika butuh dana, dapatkan saja dari iklan—dengan format yang terpisah dari pemberitaan, yang tidak melebur bersama karya. Kelola saja sudut-sudut dan celah kosong yang ada tanpa merusak badan beritanya. Tidak usahlah, ngomong-ngomong soal politik praksis hanya karena diiming-imingi promosi jabatan, atau malah menyediakan laman promosi eksklusif buat calon pemangku jabatan pemerintahan. Na’udzubillah!

Media masih bisa hidup, kok, meski hanya mengandalkan iklan ayam goreng atau toko kue di perempatan jalan—bukannya gambar muka nyengir dengan V sign sebagai simbol nomor calon parpol. Tidak akan bangkrut media, meskipun hanya ada sedikit pelanggan dan penyewa kolom iklan jual tanah kapling. Media punya ribuan cara untuk hidup dan menghidupi manusia. Prinsip ekonomi itu memang benar, tapi bukan berarti media tidak bisa kembali pada substansi fungsi yang sesungguhnya dan malah memunculkan kecacatan fungsional.

Bagaimanapun, memang, media tidak bisa lepas dari bisnis. Meski begitu, mempertahankan dan membenahi sudut pandang, keberpihakan, dan orisinilitas idealisme bukanlah sesuatu yang perlu digadaikan hanya karena mengejar tingkat rating semata. Media perlu dikembalikan ke rumahnya, dipulangkan pada idealismenya, diajak bertaubat kembali kepada amanah Uswatun Hasanah-nya, dengan oleh-oleh secukupnya saja. Media biarlah menjadi media, perantara yang tidak berpihak, yang tetap hidup tanpa menjadi parasit. Sebagaimana Rasul yang mendeklarasikan dirinya sebagai bagian dari kelas fakir maal (bukan fakir ‘amal), media cukup berharakah dengan cara-cara yang sehat dan fair saja.

 

*Penulis “insya Allah” juga sedang berupaya menuju Taubat yang Nasuha. Sebagai mahasiswi KPI dan salah satu awak media lpmrhetor.com, penulis juga harus menjadi Uswatun Hasanah sebagai bagian dari amanah risalah kenabian. Insya Allah.

Media, Seonggok Muntahan Kepentingan

Dalam suatu kurun waktu tertentu, sesuatu—kecuali Yang Abadi—tentu berubah. Ada perputaran arus yang ritmenya tak begitu abstrak namun seringkali tidak terbaca. Semua, termasuk media massa di Indonesia, (katanya) punya arah gerak mendalam, sekaligus luas dan mendunia. Media, yang katanya menampung aspirasi dari rakyat jelata hingga kaum priyayi, kalangan mustadh’afin hingga para ulama kaya (mumpung Ramadhan), yang menjadi jembatan buat informasi publik hingga yang berupa opini pribadi. Kata orang itu namanya media, iya, me-di-a.

Bahasan ini bisa jadi terlalu luas atau malah tidak terdefinisikan sama sekali saking banyaknya orang menafsirkan. Tapi mari kita mulai dengan suatu kesepakatan bahwa media yang akan kita bahas adalah sepotong dunia yang berisi gagasan, ide, segala abstraksi otak manusia dalam bentuk tulisan, gambar, suara, atau malah audio-visual sekalian.

Saya melihat dunia itu ada di mana-mana—kadang suatu lembah kemiskinan hanya cukup terkotak pada rubrik esai atau feature human interest yang rapi dan renyah. Sayangnya, tulisan bagus itu saya baca ketika membeli nasi kucing di angkringan, jadi bungkus nasi sambal teri. Kadang, ada ledakan dana korupsi yang gambarnya saja hampir separuh halaman, itu tergulung tidak beraturan di kotak sampah. Media itu ada di kotak sampah, tempat buat sampah, dibuang !.

Yang bentuknya bukan kertas cetakan, kadang cuma didengar saat sedang terjebak macet—seringkali malah diganti saluran musik dangdut atau yang muda-muda dialihkan ke channel K-Pop. Satu lagi, yang kata guru agama saya sewaktu SMA disebut blackbox neraka, sebab merekam segala jenis hal yang menjerumuskan akal sehat—itu juga media, lho. Tetapi lima, ah mungkin lebih dari lima tahun terakhir, setiap channel-nya penuh tayangan picisan. Opera sabun muncul setiap lima menit, malah sekarang jeda suatu tayangan diisi lagu propaganda politik. Aduh! Kok begitu, sih?

Mari duduk, kita ingat sebentar alasan keberadaan media. Kenapa yang terjadi hingga saat ini, media tidak lebih seperti remah-remah biskuit? Yang bertebaran di mana-mana tapi tidak membuat kenyang, tidak juga menyehatkan. Masih ada sih, fungsinya, buat makan ikan di kolam atau ayam di kandang belakang rumah—pun kalau mereka doyan.

Media massa, saudara, dongengnya dibuat untuk menjadi penyampai informasi. Saya dengar juga ada yang bilang media itu sarana edukasi, buat mendidik anak bangsa—entah dididik jadi apa sih. Lalu di buku lain ditambahi bahwa media ini diciptakan sebagai alat kontrol sosial, tapi untuk mengatur sosial yang bagaimana? Terakhir, malah yang bikin laris sekarang, media itu sarana hiburan masyarakat. Oh, satu lagi, sekarang media punya fungsi baru jadi lapangan pekerjaan, buat cari duit. Oalah…

Ini situasi macam apa?

Apakah semacam penyelaras kebutuhan masyarakat yang katanya sudah hidup modern? Apakah ini situasi dimana dunia media makin lama makin bias oleh intervensi ghaib pemegang saham perusahaan dan pemangku kebijakan? Atau situasi media sekarang ini adalah pelampiasan dari gagalnya kemerdekaan yang baru diantar sampai gerbang? Tidak adakah yang berkenan bangkit dari duduk santai di kursi goyangnya untuk kemudian menyusun struktur media seperti ketika idealisme itu kokoh didirikan?

Aih! saya lupa, media tadi itu yang umum, mainstream begitu. Substansi yang mereka angkat ya tidak jauh dari seberapa banyak ide itu dibeli orang. Media yang begitu itu didagangkan, yang seksi gayanya dan bergengsi tatarannya akan semakin laku dikomersialiasi. Pemilik saham media—yang belajarnya tentang politik apa saja, mungkin malah sudah khatam jurnalistik media—sekarang justru dimabuk rating. Redaksional sekarang menjadi kantor rekonstruksi fakta, kebenaran dan prinsip idealisme hanya berupa gantungan pigura dengan hologram berkilau. Itu kenapa?

Dalam dunianya, media merebak seperti jamur di musim hujan. Mereka yang dari awal sudah hidup, bukannya mati malah tambah besar, seringkali orientasi jadi terpusat ke sana dengan alasan pengalaman yang lebih banyak. Sedang media kecil yang baru tumbuh, malah jadi ikut-ikutan, seringnya jika kekurangan wartawan justru mengimpor bahan dari kantor berita yang dibeli oleh media kecil lainnya. Jadi, mau tidak mau isu yang diusung mereka akan serupa, seringkali malah seperti tidak punya pendirian, angle-nya, lho… itu-itu saja.

Memang, setiap media punya strukturnya sendiri-sendiri, tapi kok mau dibilang independen itu meragukan, ya? Soal keberpihakan, kebijakan, sudut pandang, tiap media punya garisnya masing-masing, tentu saja. Itu bisa dicerna, masih bermanfaat jika tiap media menerapkan kebijakan dalam porsinya di lingkup jurnalisme. Akan tetapi, entah kenapa sesuatu itu memang selalu berubah, media kebijakannya dicampur dengan kepentingan dan logika politik. Porsi penampilannya disusun berdasarkan tinggi rendahnya minat publik, bukan lagi besar kecilnya kebutuhan publik.

Kadang, jika kita membaca sedikit lebih detail, lebih telaten, dan lebih jeli lagi, setiap kata, suara, hingga gerak yang terlihat itu disusun amat halus dalam panggung sandiwara. Media membuat sebagian dari kita percaya bahwa kebenaran itu adalah apa yang media sodorkan. Kita kadang dibuat berjalan di rute  yang mereka selipkan lewat sihir kata-kata, melalui suara magis, atau video manipulasi. Media mainstream saat ini kurang lebih begitu, seringkali tidak terlalu jujur, yang muluk-muluk malah berakhir sebagai kebohongan. Membohongi pembaca, pendengar, dan pemirsa—media membohongi masyarakat.

Jadi sebetulnya, media sekarang itu memihak pada siapa?

Pelaku media—jika pertanyaan itu diajukan dalam seminar oleh seorang rakyat biasa—mungkin akan jalan pelan-pelan di barisan belakang, sambil menunduk, mencoba keluar dari seminarnya. Mereka mungkin enggan ditanyai, takut jawaban idealis mereka bertolak belakang dengan realitas yang mereka lakukan. Pelaku media yang jika sejarah menuntut ilmunya pernah bertemu dengan jurnalistik, pasti paham dimana dan bagaimana seharusnya media meletetakkan keberpihakannya.

Namun jika sudah begini rupanya, siapa dan bagaimana sepotong dunia itu akan sungguh-sungguh menjadi media? Realitanya, media mainstream yang dijadikan pusat informasi massa saat ini tak ubahnya perut yang dijejali kepentingan-kepentingan banyak pihak. Lama-lama jenuh, penuh, dan meluap jadi muntahan yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Iya, media sekarang ini sudah kebanyakan intervensi—saking banyaknya sampai basi.

 

*Penulis merupakan mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam. Soal keberpihakan, jangan ditanya, dia adalah “mantan” redaktur lpmrhetor.com. Kini naik jabatan jadi Sekretaris Umum-nya LPM Rhetor.