Arsip: Menuju Amar Makruf-Nahi Munkar yang Berpihak

Menuju Amar makruf-Nahi munkar yang BerpihakIlustrasi: Istimewa

Kedatangan bulan suci Ramadhan sudah tentu menjadi sebuah gerbang suka cita bagi seluruh pemeluk agama Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hanya saja, suka cita tersebut selalu diejawantahkan dalam bentuk perilaku konsumtif yang semena-mena dan sporadis tanpa kompromi dan tak kenal ampun. Dalam memaknai puasa dan suka cita, manusia selalu luput dengan nilai substantif yang coba ditawarkan oleh bulan keadilan tersebut.

Secara ubudiyah, puasa di bulan Ramadhan memang merupakan kewajiban individual di hadapan Sang Pencipta (Ilahiyah). Namun sayang, orientasi peribadatan dalam konteks hari ini seakan mendapatkan dikotomi antara relasi vertikal dengan relasi horizontal. Ibadah-ibadah Ilahiyah yang vertikal tersebut justru dianggap sebagai sebuah kontrak kalkulatif untung-rugi antara hamba dengan Tuhannya. Di mana sang hamba terpaksa menjalankan ibadah, dan Sang Khalik diminta untuk mengabulkan doa sang hamba.

Bila kita coba melihat salah satu upaya menahan derita haus dan lapar tersebut dengan pemahaman yang proporsional, maka praksis puasa di bulan Ramadhan, yang semula dipahami hanya sebagai sebuah kontrak kalkulatif untung-rugi antara hamba dengan Tuhannya, dapat dimaknai sebagai sebuah kewajiban ibadah berdimensi sosial, yang dilaksanakan dalam rangka melatih diri untuk dapat berlaku adil kepada seluruh umat manusia (Habl Min An-Naas).

Melalui puasa, tanpa mengenal status ekonomi, kelas sosial, atau kedudukan politik apapun, manusia akan merasa haus dan lapar secara kolektif dan merata. Maka, bukan suatu hal yang berlebihan bila salah satu jenis amar makruf tersebut dikatakan sebagai sebuah ibadah yang berorientasi keadilan.

Dalam rangka memperbanyak amal shaleh di bulan yang penuh dengan keberkahan ini, lpmrhetor.com melalui kolom edisi khusus Ramadhan ini, mencoba mengajak pembaca untuk dapat bersama-sama mendiskusikan benturan antara idealitas puasa yang berorientasi kepada keadilan tersebut, dengan pahitnya realitas yang masih mengamini adanya ketimpangan sosial dan penindasan manusia di atas manusia.

Sebagai pemantik, kami akan coba menampilkan kembali sebuah opini yang sempat dipublikasikan oleh lpmrhetor.com pada 9 April 2016 lalu. Opini tersebut berjudul “Menuju Amar Makruf-Nahi Munkar yang Berpihak” yang ditulis oleh salah satu awak media lpmrhetor.com, Ikhlas Alfarisi.

 

Menuju Amar Makruf-Nahi Munkar yang Berpihak

Oleh: Ikhlas Alfarisi

“Dan Hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.“ (Qur’an surat Ali Imron : 104).

 

Agama Islam merupakan agama pamungkas dalam sejarah peradaban manusia. Nabi Muhammad SAW sebagai penyampai wahyu terakhir, merupakan puncak dari diutusnya seorang utusan Allah SWT di muka bumi ini. Sehingga tidak ada lagi nabi dan rosul setelah beliau SAW.

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita menjadikan agama yang kita yakini menjadi suatu yang tetap. Tentunya Islam harus di bela dan di perjuangkan. Kebanggaan terhadap Islam, menjadi suatu keharusan bagi kita umat Islam.

Berangkat dari terjemahan satu ayat Al-qur’an diatas, bisa dipahami, urgensi kita sebagai muslim adalah agar kiranya kita menetapkan pada diri kita masing-masing sebagai orang-orang yang senantiasa belaku amar makruf-nahi munkar. Kita haruslah sadar bahwa di tangan kitalah syi’ar dakwah seharusnya kita emban.

Mengacu juga pada satu sabda Rasulullah SAW ; “Barang siapa yang melihat diantara kalian kemungkaran, maka gantilah. Dengan tangannya. Jika tidak bisa, maka dengan lisannya. Jika tidak bisa, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman.”(HR. Muslim), maka sudah se-yogyanya kita menjadi seseorang yang senantiasa berlaku seperti ayat dan hadits diatas.

Namun, yang ingin penulis garis bawahi adalah, bagaimana seharusnya kita melakukan langkah-langkah dalam melakukan amar makruf-nahi munkar tadi. Bagaimana, ketika apa-apa yang kita lakukan merupakan menjadi suatu yang maslahat bagi orang-orang sekitar kita, bahkan orang-orang yang bukan menjadi bagian dari kita.

Dalam pergerakkannya, apa yang dikatakan sebagai dakwah amar makruf-nahi munkar seharusnya mempunyai suatu keberpihakan. Dalam pandangan kritis, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang bersifat netral. Semua yang ada tentu mempunyai alur, tujuan, kepentingan, dan tentunya keberpihakkan.

Untuk itu, perlunya keberpihakkan itu di bangun oleh kita dalam melakukan amar makruf -nahi munkar tadi. Keberpihakkan jika mengacu kepada agama Islam sendiri adalah keberpihakkan kepada orang-orang yang tertindas. Nabi muhammad pun melakukannya demikian. Bagaimana perjuangan beliau dalam membela kesetaraan hak manusia yang kala itu marak terjadinya sistem kelas dan perbudakan di tengah-tengah kota mekkah.

Orang-orang yang tertindas adalah orang-orang yang termarjinalkan oleh lingkaran kekuasaan. Dimana mereka sendiri tidak mampu untuk melawan untuk bangkit lantaran tidak memiliki kekuatan secara moril maupun materil. Oleh karena itu, dakwah amar makruf-nahi munkar yang seharusnya kita arahkan sebelum lebih jauh pada penegakkan agama secara aqidah dan syariat, adalah pembelaan kita terhadap mereka yang tertindas.

Karena, apa yang dikatakan dakwah amar makruf-nahi mungkar ini lebih bersifat makro, yakni dilakukan secara menyeluruh tanpa memandang pada elemen lapisan masyarakat tertentu. Hal yang perlu di kedepankan adalah bagaimana agama yang kita yakini dan kita banggakan ini, kita jadikan rahmat bagi muka bumi ini.

Rahmat bisa juga di katakan sebagai anugerah. Kalau kita bicara anugerah, tentunya hal itu harus mengandung sesuatu yang bisa membuat semua orang bahagia. Kehadiran agama Islam di tengah-tengah masyarakat seharusnya bisa menjadi teladan bagi masyarakat itu sendiri. Tidak malah menjadi hal yang meresahkan seperti yang telah dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku melakukan amar makruf-nahi munkar.

Maka, keberpihakkan kepada mereka yang tertindas lantas akan menjadikan kita, terlebih agama kita menjadi teladan ditengah-masyarakat.

 

*Penulis adalah mahasiswa KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga. Saat ini penulis juga merupakan wartawan aktif LPM Rhetor.