Musik Memang Mengalun Sambil Berjuang

84
Gambar: Tribun.

Oleh: Fahri Hilmi*

D IWAN Masnawi sudah menjinjing kecapi sejak sore hari. Ia berencana melakukan latihan musik pengisi Teater Kujang yang akan memamerkan lakonnya 27 hari sejak sekarang. Mahasiswa jurusan Filsafat di Universitas Gajah Mada itu sudah aktif bermain musik sejak duduk di bangku SMA. Maka tak heran jika kini ia masih wara-wiri di dunia nada dan ketukan itu.

Baginya musik adalah lompatan besar dalam sejarah kebudayaan manusia. Kepada lpmrhetor.com ia mengungkapkan isi hatinya dengan begitu puitis dan filosofis tentang musik.

“Musik adalah lompatan besar dalam kebudayaan manusia. Musik selalu mampu mengisi keterasingan manusia dalam keterlemparannya ke bumi ini,” katanya.

Sembari mendengarkan Tears in Heaven milik Eric Clapton di laptop miliknya, Diwan melanjutkan, bahwa dengan kekayaan nada yang dimiliki oleh musik, musik mampu merangkum realita dalam alunannya dengan lembut dan ringkas.

“Musik mampu menceritakan apa saja dengan subtil. Mungkin musik adalah lukisan yang bernyanyi. Ia adalah keindahan yang mencapai titik sublim,” lanjutnya.

Apa yang dikatakan oleh Diwan nampaknya sejalan dengan keinginan Wage Rudolf Supratman, pencipta Indonesia Raya, yang tanggal kelahirannya, 9 Maret 1903, ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Musik Nasional (HMN) melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 10 Tahun 2013.

Dilansir dari Kompas yang terbit pada 9 Maret 2013, dikatakan bahwa pemerintah memiliki alasan bahwa musik adalah ekspresi budaya yang bersifat universal dan multidimensional, yang memrepresentasikan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Ditetapkannya HMN yang mengacu pada kelahiran W.R. Supratman memang bukan main-main. Dalam laporan Petrik Matanasi di Tirto berjudul W.R. Supratman dan Sejarah Indonesia Raya 3 Stanza disebutkan bahwa pernah sekali W.R. Supratman ditangkap pemerintah kolonial Belanda karena menggunakan kata “Merdeka” dalam Indonesia Raya. Boleh dikatakan bahwa Supratman ditangkap Belanda hanya karena alunan musik.

Dari peristiwa tersebut, terlihat bagaimana seorang musisi tidak hanya memiliki tanggung jawab terhadap keindahan semata, namun juga bertanggungjawab penuh terhadap arah kehidupan manusia di sekitarnya. Persis seperti apa yang dilakukan W.R. Supratman.

Masih dalam laporan Petrik, dikatakan bahwa pernah suatu kali Supratman membaca suratkabar Timbul terbitan Solo. Ada sebuah kalimat yang membuat anak band cum jurnalis itu tertantang. Isinya begini, “Alangkah baiknya kalau ada salah seorang pemuda Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, sebab lain-lain bangsa semua telah memiliki lagu kebangsaannya masing-masing!”

Apa yang ‘dikatakan’ Timbul seperti membuat Supratman bergairah. Dari situlah ia memutuskan untuk menciptakan lagu yang ‘perjalanan hidupnya’ tidak seindah alunan nadanya.

Indonesia Raya kemudian diperdengarkan di Kongres Pemuda II dengan instrumen biola melalui gesekan tangan Supratman. Seakan kebetulan yang luar biasa, lagu tersebut lahir beriringan dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Demikian Anthony C. Hutabarat dalam Meluruskan Sejarah dan Riwayat Hidup Wage Rudolf Soepratman: Pencipta Lagu Indonesia Raya (2001) seperti dilansir dari laporan yang sama.

Kini, di tanggal yang sama, buah tangan Supratman berdendang bebas di udara Indonesia. Tidak seperti berpuluh-puluh tahun lalu sebelum Ir. Soekarno meneriakkan proklamasi di udara Jakarta.

Beriringan dengan itu, musik Indonesia seperti mengalami degradasi. Ia mengalun tanpa isi dan maksud yang jelas. Kini musik hanya mengudara dan merasuk ke telinga setiap pendengarnya dengan hanya membawa rajutan lirik cinta dan keindahan yang kosong.

Apa yang diinginkan Supratman seperti dilupakan. Tentunya, sembari merefleksikan kelahirannya melalui Hari Musik Nasional, mengubah orientasi musik dari yang tadinya hanya bermakna keindahan, menjadi bermakna perjuangan, bukanlah sebuah kesalahan.

Selamat Hari Musik Nasional.

Fahri Hilmi. Mahasiswa LPM Rhetor yang aktif di organisasi UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Bagaimana Pluralisme Melihat LGBT

B ELAKANGAN, Lesbian Gay Bisexual Transgender (LGBT) ramai