Warga Digusur, Kenapa Mahasiswa UIN Suka Sibuk Kampanye Pemilwa?

436
Sumber: karikaturkuindonesia.blogspot.co.id

Kehidupan itu sangatlah luas, beragam pemaknaan dan penafsiran tentangnya pastilah berseliweran di tiap masing-masing kepala. Baik di kehidupan masyarakat maupun di kehidupan kampus. Jika dikaitkan dalam roman Pramoedya Ananta Toer, seorang mahasiswa diposisikan sebagai Kaum Terdidik dan Kaum Terpelajar.

Apa itu terpelajar? Apa itu terdidik? Belajar dan terpelajar, mendidik dan terdidik. Saya kira itu adalah kata-kata yang saling berkaitan maknanya. Bagaimana bisa menjadi kaum terpelajar? Salah satu caranya yaitu belajar. Haruskah? Pastilah harus.

Baiklah, mari kita tengok kehidupan seorang mahasiswa yang dikatakan sebagai kaum terpelajar. Bagaimana berperilaku yang seharusnya? Pastinya berlaku adil sejak dalam pikiran, demikian kata-kata yang dituturkan oleh Pramoedya. Ya, menjadi seorang akademisi yang mencerminkan kewibawaan, dalam pemikiran maupun dalam segala laku perbuatan.

Pun juga dengan kaum terdidik, yang mana ia harus mau dididik, dan nantinya akan mendidik para generasi selanjutnya. Tak ayal jika apa yang terjadi pada tingkah laku dan tindakan seseorang juga tidak jauh dari didikan yang ia peroleh. Sebab esensi dari pendidikan yang diberikan oleh seorang pendidik kepada anak didiknya tak lain adalah agar menjadi manusia yang bisa memanusiakan manusia lainnya, baik dari cara berpikir maupun dalam tindakannya.

Ya, sangat rumit sekali kehidupan ini. Manusia hanya bisa memilih, menjadikannya semakin rumit, atau malah tidak memperumit kerumitan itu.

Berdoa saja semoga ini bukan tulisan yang rumit untuk dibaca. Walaupun si penulis sendiri sedang memperumit sebuah benang merah yang semula tak dimiliki tapi mencoba untuk memilikinya. Walhasil, marilah berpikir dan merenung.  Selesai? Tidak akan pernah selesai.

Mari bernostalgia sejenak, tepatnya hari senin 4 Desember 2017

Saat itu saudara kita di Kulon Progo sedang berada pada posisi di ujung tanduk. Tanah, sebagai modal dan sumber kehidupan mereka yang mayoritas petani, tengah terancam. Mereka hendak digusur dan pemukiman akan diratakan oleh PT. Angkasa Pura 1 untuk dijadikan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA). Mereka juga manusia yang sedang bertahan hidup, tapi justru mendapat perlakuan yang itu tidak mencerminkan sebuah kemanusiaan (baca beritanya di lpmrhetor.com).

Nah, sebenarnya siapa yang berhak disalahkan di sini? Perlukah kita mencari kambing hitam dari tindak kesewenang-wenangan tersebut?

Yah, tidak begitu juga. Coba kita tilik sistem dan pola pendidikan yang diterapkan, terutama di negara Indonesia ini, sudah ramahkah? Sudah merakyatkah? Sudahkah memanusiakan manusia kah?

Jika belum, bisa jadi itu adalah salah satu akar penyebab pola pikir manusia yang menghewankan diri. Terkait masalah penggusuran Kulon Progo, atau NYIA, kita bisa berselancar di beberapa media atau silahkan pilih lpmrhetor.com yang itu cukup untuk menjelaskan terkait kronologi peristiwa dan hal-hal yang menimpa para warganya maupun para relawan solidaritas yang berada di sana.

Tepat pada hari di mana Kulon Progo ‘diancam’ (4/12), Kampus UIN Sunan Kalijaga yang digadang-gadang sebagai kampus putih, kampus rakyat, dan  kampus perlawanan, sedang menyelenggarakan sebuah kampanye partai. Pada agenda ‘simulasi politik’ itu, seluruh partai sedang mengusung calon-calonnya, yang nantinya bakal menduduki kursi-kursi kekuasaan.

Para pembaca barangkali mampu menyimpulkan apa harmoni dari dua kejadian di atas. Saat di luar sana sedang diguncang kemanusiaannya, mahasiswa yang dikatakan sebagai agent of change, harus bersikap seperti apa? Kampanye-kampanyean kah?

Di saat seperti ini seharusnya pendidikan politik bermain. Kata politik di sini barangkali bermakna politik secara substantif. Lain lagi dengan politik secara praktis. Keduanya adalah hal yang berbeda yang tak bisa dicampuradukkan.

Politik secara substantif berarti cara berpikir dan bertindak. Alat untuk melakukan suatu hal dan taktik untuk bertahan hidup. Jadi, hidup ini tidak bisa terlepas dari yang namanya politik. Berbeda dengan yang praktis, yang itu sifatnya lebih ‘politis’. Politik di tataran praktis ini lebih pada soal pemangkuan posisi tertinggi wilayah, atau kursi-kursi kekuasaan, baik yang ada di negara maupun yang ada di kampus.

Pendidikan politik sangatlah penting untuk dipelajari dan dipahami oleh seluruh elemen. Baik mereka yang akan dan sedang memangku kursi jabatan, maupun masyarakat [kampus] pada umumnya. Bagi para aktor politik, agar ia mampu bersikap dan bertindak secara bijak, mampu membedakan antara hak dan kewajiban, mana yang kemanusiaan, dan mana yang kerusakan.

Itulah pentingmya, agar politik itu tidak dijadikan alat untuk saling menikam, serta mampu membuat kebijakan yang ramah kesamping dan tajam ke atas. Lain halnya dengan masyarakat. Masyarakat luas sangatlah perlu memahami politik. Agar ia tidak mudah dibohongi, dibodohi, ataupun dengan mudah dimanipulasi oleh kebijakan-kebijakan yang hanya mementingkan segelintir orang ataupun golongan. Pun agar mereka mampu pula melawan kebijakan-kebijakan yang itu sewenang-wenang terhadap kelas yang kecil.

Nah, itulah yang terjadi pada UIN Sunan Kalijaga, khususnya pada pemerintahan mahasiswa. Mereka seolah bangga selenggarakan kampanye tiga hari berturut-turut. Di saat saudara kita yang ada di Kulon Progo sedang menangisi tanahnya yang akan dirampas oleh orang-orang bermodal tak bertanggungjawab. Yang tak memiliki rasa empati dan simpati sama sekali.

Sebelum meyelenggarakan yang dinamakan pesta demokrasi, seharusnya oknum-oknum yang terlibat di dalamnya harus paham dahulu terkait apa itu demokrasi? Apa itu politik? Apa itu pemerintahan?  Dan yang terpenting, apa itu kemanusiaan?

Karena kita adalah seorang akademisi yang sedang belajar politik di kampus, bukan seorang politisi yang sedang memperebutkan tampuk kekuasaan.

Sudah seharusnya kita dapat membedakan kedunguan karena kurangnya pemahaman terhadap pengetahaun yang harus digali, bukan sebatas eksistensi atau malah upaya pelanggengan kekuasaan itu sendiri.

Perlu digarisbawahi pula, berpikir dahulu sebelum bertindak. Mampu membedakan mana yang untuk kepentingan umum, dan mana pula yang hanya untuk kepentingan golongan. Laiknya seorang akademisi.

Jika saja suatu pemikiran yang ditanam dalam otak sudah keliru dan malah terus dipraktikkan dalam tataran kecil, yaitu di pemerintahan kampus itu sendiri, lantas seperti apa jika sudah benar-benar terjun pada politik pemerintahan yang sebenarnya di masyarakat? Kebijakan yang baikkah, atau lebih buruk lagi? Mampukah menjadi pohon kelapa yang tiap bagianya bermanfaat bagi segi kehidupan? Atau malah menjadi benalu yang hidup di tengah hiruk-pikuknya kehidupan?

Selanjutnya, marilah kita berpikir bersama. Merenunglah besama. Apa yang sudah kita perbuat? Untuk apa dan untuk siapa tindakan tersebut? Apakah benar-benar ril untuk pembebasan kehiduan bersama atas rasa kemanusiaan, atau malah untuk memperpanjang garis penindasan? Atau malah hanya sebatas untuk eksistensi diri dan golongan semata?

Wallahua’alam.

*Septia Annur Rizkia. Penulis merupakan pegiat pers mahasiswa di LPM Rhetor. Menggawangi bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia di dalamnya. Ia juga aktif di UIN Sunan Kalijaga sebagai Mahasiswi KPI.

You may also like

Penutupan Jalan Daendels Ancam Isolir Warga

Setelah hancurkan lahan dan rumah milik warga, Bandara