Warga Bantah Tuduhan Polisi Sebut Aktivis Solidaritas Sebagai Provokator

419
Petugas AP 1 mengawal eskavator yang merusak lahan warga (4/12/2017). Dok. Rhetor/Fajril.

Angkasa Pura 1 dan sekutunya anggap relawan solidaritas sebagai provokator. Warga bilang kalau penolakan terhadap penggusuran sudah ada sebelum para relawan tiba.

lpmrhetor.com, Yogyakarta – Jumat (8/12/2017). Polisi telah menangkap 15 relawan solidaritas tolak bandara pada selasa lalu (5/12/2017). Penangkapan ini berawal dari ratusan aparat, yang terdiri dari kepolisian, Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP), dan TNI yang merangsek masuk ke dalam lahan warga yang menolak untuk menjual tanah dan bangunannya untuk kepentingan bandara.

Ratusan aparat itu masuk ke areal lahan warga sembari melindungi ekskavator dari PT. Angkasa Pura 1 (AP 1) yang coba merobohkan pepohonan milik warga.

Penangkapan ini diklaim oleh Kapolres Kulon Progo, AKBP Irfan Rifa’i dikarenakan polisi menganggap para aktivis ini sebagai ‘provokator’ warga penolak bandara.

Sebelumnya, AKBP Irfan Rifa’i menyampaikan bahwa sebelumnya warga penolak bandara memang sudah berpikiran untuk bersedia memberikan asetnya kepada apraisal. Namun, setelah para aktivis solidaritas berdatangan, para warga kembali menolak pembangunan bandara. Irfan menganggap ini merupakan ‘provokasi’ terhadap warga.

Selain itu, Irfan juga membantah kepolisian melakukan tindak kekerasan terhadap warga maupun aktivis solidaritas. Ia mengatakan di hari pertama dirinya sudah menekankan untuk tidak terjadinya kekerasan.

“Saat itu terjadi dorong-mendorong. Sehingga terkesan ada aktivis yang tercekik dan warga terluka,” bantahnya seperti dikutip dari Tribun Jogja (7/12/2017).

Di lain pihak, tuduhan provokasi terhadap aktivis solidaritas dibantah langsung oleh warga penolak bandara. Agus, salah satu warga penolak bandara menampik adanya provokasi yang dilakukan para aktivis solidaritas. Agus menyampaikan justru para aktivis yang berdatangan tujuannya untuk membela warga yang mempertahankan warga dari perampasan secara paksa oleh AP 1.

“Wong warga itu menolak bandara bukan karena relawan (aktivis solidaritas-red). Sebelum mereka datang, warga memang sudah menolak pembangunan bandara. Nah, mereka datang sebagai pejuang-pejuang untuk membela warga yang dirampas haknya oleh Angkasa Pura,” tegas Agus saat ditemui lpmrhetor.com disela-sela merapihkan bongkahan pepohonan yang dirusak AP 1 Selasa lalu (5/12/2017).

Warga lain, seperti Suminem, juga tidak membenarkan tuduhan polisi tersebut. Ia mengatakan, bahwa dirinya justru bangga melihat kehadiran para aktivis yang datang berbondong-bondong untuk membela hak warga atas tanah sendiri.

“Provokasi apanya? Justru yang provokasi itu mereka (AP 1 dan sekutunya-red). Membuat yang menolak bandara semakin sedikit.  Kalo para relawan di sini malah membantu kami. Dan saya doakan semoga terus bermanfaat bagi nusa dan bangsa,” kata Suminem pada Kamis (7/12/2017).

Klaim polisi yang kukuh tidak merasa melakukan kekerasan saat pengosongan lahan, dibantah oleh salah satu korban yang juga mengalami penangkapan oleh polisi Selasa lalu. Syarif Hidayat, mahasiswa yang turut bersolidaritas, mengatakan, bahwa ia mengalami pukulan oleh polisi ke arah wajah sehingga keluar darah cukup banyak di bagian hidung.

“Saat saya hendak mencegah niat aparat untuk masuk ke lahan warga yang menolak, justru malah saya dikeroyok oleh puluhan polisi. Mereka membuat lingkaran lalu memukuli saya. Lingkaran itu dibuat agar tak ada yang bisa merekam aksi mereka,” tuturnya pada Jumat (8/12/2017).

Selain itu, Fajar, salah satu warga yang telibat chaos pada Selasa kemarin, juga mengaku mengalami luka-luka akibat diseret dan juga dikunci lehernya dari arah belakang.

“Saya diseret dan dicekik oleh mereka (aparat kepolisisan-red). Dan ini ada bekas lukanya,” kata Fajar sembari memperlihatkan bekas lukanya pada Jumat (8/12/2017).

Peristiwa pemukulan warga dan aktivis, dan penangkapan 15 aktivis yang kemudian dibebaskan pada Selasa malamnya, membuat  kepolisian dan AP 1 mendapatkan banyak kecaman dari berbagai pihak.

Sebagaimana pantauan lpmrhetor.com sesaat setelah 15 aktivis ditangkap, segera banyak terposting berbagai kecaman di media sosial atas tindakan represif yang dilakukan AP 1 dan sekutunya kepada warga penolak bandara dan para aktivis solidaritas.[]

 

Reporter: Ikhlas Alfarisi

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Ingin Melerai, Jurnalis LPM Suaka UIN SGD Justru Dihajar Polisi

Niat melakukan kebaikan, justru dibogem oknum kepolisian. Pers