Dominasi di Kampus Demokrasi; Mengikis Nilai Persatuan, Lancarkan Kepentingan

354
Ekspresionline.com

Oleh: Abdul Majid Z

Ketika pertama kali membayangkan kampus (Perguruan Tinggi ), pada umumnya yang tergambar dalam benak seorang calon mahasiswa baru adalah kampus dengan segudang gambaran indahnya seperti, kuliah, pacaran, lulus cepat, dapat pekerjaan, menikah, mati masuk surga. Kurang lebih itulah yang digambarkan film-film, singkat dan indah bukan? Ternyata semua itu sangat kontras dengan apa yang terjadi sesungguhnya.

Kok bisa? Realitanya, pertama masuk dunia kampus biasanya maba (Mahasisa Baru) akan dikenalkan dengan kegiatan pengenalan akademik, selepas itu para maba disuguhi stand-stand ORMAWA. Disinilah seorang maba yang baru dalam tahap peralihan dari pelajar ke mahasiswa mulai dijaring oleh organ-organ ekstra maupun intra kampus. Bagi sebagian maba yang terjaring, apalagi pernah bergelut dalam organisasi sebelumnya, ini dianggap sebagai proses lanjutan walaupun tidak sedikit yang memilih karena sudah tahu orientasi dan corak organisasi.

Kemudian masuk pada proses pendidikan di masing-masing organisasi (setiap organisasi kampus mempunyai sebutan berbeda ), dimulai dari masa pendidikan ini seorang maba atau umumnya disebut kader, diberikan pemaham seputar sejarah visi maupun misi organisasi melaui materi-materi, bisa dibilang masa ini adalah masa ideologisasi.

Maba yang telah mengikuti masa pendidikan tadi (selanjutnya disebut kader) secara tidak langsung akan dituntut memahami dinamika dunia kampus. Disaat yang bersamaan pula, sikap para kader mulai terbentuk dari pemahaman realias yang ia tangkap. Sementara agenda kampus terus berjalan, mahasiswa baru yang dulunya seperti ulat bulu, sekarang telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, mulai membaca siapa lawan siapa kawan.

Biasanya melalui ajang politik kampus atau PEMILWA, kader-kader organisasi (khusunya organ ekstra) mulai bergerak bak jamur di musim penghujan, tak terkecuali kader-kader baru pula. Kampus yang awalnya digambarkan indah seperti di film-film berubah menjadi miniatur negara. Mengapa demikian?

Masing-masing organ mengibarkan bendera partai dan calon yang diusungnya, suasana kampus sebagai miniatur negara semakin begitu terasa, setiap kubu mulai memainkan startegi-strategi jitunya. Penulis sendiri pernah melihat langsug kegiatan pemilwa dari mulai proses kampanye sampai pemilihan, dimana penulis menemukan politik yang tidak sehat terjadi. Sangat disayangkan bagi organisasi-organisasi yang terlibat di dalamnya, karena politik yang dimainkan cenderung berorientasi pada kekuasaan semata.

Bentuk demokrasi kampus yang dimainkan mahasiswa telah tercederai dengan manipulasi politik yang terjadi, lucu bukan? Ketika sebuah pertarungan belum dimulai tapi sudah ada juara. Alhasil setelah ajang tersebut rampung, muncullah beragam sentimen yang terbangun karena kemenangan hanya ada di tangan kubu pendominasi. Sangat wajar sekali ketika benih-benih perpecahan tumbuh subur antar organ, disinilah penulis mengganggap titik saklek para manipulator politik.

Imbasnya gerakan mahasiswa dinina bobokan terhadap pesoalan kampus maupun luar, sekalipun ada hanya segelintir saja yang masih turut sarta, seperti yang disampaikan diatas titiknya kembali ke muara sentimen yang terbangun tadi. Jelasnya kita membutuhkan persatuan, kita membutuhkan power yang tidak hanya diemban oleh satu golongan, hanya karena dinilai memiliki banyak massa pendukung, tapi mungkinkah itu semua terwujud selama cara-cara kotor diprakterkkan?

Sahabat pembaca bisa menilainya sendiri. Penulis pernah mengemukakan pendapat dalam beberapa forum diskusi, tanggapannya cukup beragam, masih teringat betul ketika dalam salah satu forum ada yang mengatakan “Menilai politik jangan terlalu moralis”. Entah pemaham penulis yang salah atau memang beginilah praktek politik dengan kelicikannya, hantam libas tanpa pandang bulu. Terlepas dari semua itu, ingatanku melayang pada sebuah kutipan dari Emha Ainun Nadjib (Cak Nun ) “Politik diciptakan dan dimanifestasikan berdasarkan filosofi dan tujuan untuk menyediakan kebahagian dan kesjahteraan manusia, tapi yang terjadi adalah sama sekali kebalikannya”.

 

You may also like

Yu Sanah Sinih, Potret Kehidupan Termarginalkan

lpmrhetor.com, Yogakarta – Dua hari berturut sejak Jumat