Chestnut dan Sebuah Kematian di Wanstead

166
Gambar: Istimewa

Setiap yang akan mati barangkali mencoba meninggalkan tanda. Entah untuk sebuah wasiat, teka-teki hidup, kesedihan, atau sebuah cerita. Barangkali itu yang sedang coba kulakukan karena aku tahu, tak lama lagi mereka akan membunuhku—entah dengan cara apapun.

Desember 1993—George Green, London.

J EAN GOSLING dipecat dari pekerjaannya ketika dia mulai menghimpun pemuda-pemuda di zona 6 London Timur, sekitar 9 mil dari sungai Thames. Perempuan itu mengajak ayah, ibu, saudara, dan tetangganya untuk bergabung dengan orang-orang non-residen yang sudah lama berjuang di dekatku. Mereka ikut mempertahankan rumah dan lahan terbuka agar tidak dilindas roda-roda dan dicabik tangan-tangan besi sebesar gajah.

Itu adalah tahun ke dua puluh sejak pertama kali orang-orang di suburban Wanstead memulai protes terhadap pengalihan lahan hijau dan pemukiman menjadi terowongan penghubung. Aku mengingat itu sebagai sesuatu yang hangat dan berharga, meski harus melalui proses yang mengerikan.

Beberapa aktivis dari area satelit dengan dibantu orang-orang di wilayah penglaju, datang dan membuat poster-poster penolakan M11. Sebuah proyek besar pembangunan jalan lintas sepanjang 52 mil dari Noodford Selatan hingga wilayah barat laut Cambridge. George Green ada di antaranya, dan aku ada di dalamya bersama puluhan saudaraku.

Ingatan ini sangat rapuh, sebab kala itu orang-orang bilang usiaku sudah hampir 250 tahun. Usia yang sangat langka bahkan untuk kalanganku. Aku tak punya rambut, tubuhku sudah keriput, kulitku berwarna terlalu gelap sebab terlalu sering terpapar matahari. Mereka duduk melingkariku, saling menghangatkan badan dengan perapian seadanya. Musim dingin membuat perlawanan itu semakin menyakitkan sekaligus membanggakan.

Gosling bukan perempuan satu-satunya yang ikut dalam barisan itu, tapi dia adalah yang paling berkesan. Jean mengingatkan pada anak-anakku, yang selalu ceria dan bersemangat. Yang tidak takut meski orang-orang mungkin menghancurkannya berkali-kali dengan berbagai cara. Yang selalu menawarkan sebuah rasa nyaman dan hangat. Orang-orang menamai anak-anakku Chestnut.

Setiap tahun, ketika mereka lahir, rasanya tidak ada yang lebih bahagia dari itu. Melihat mereka terus tumbuh dengan rambut tegak lurus dan kulit coklat yang manis membuatku merasa hidup. Tapi itu sudah sangat lama, terlalu lama sampai aku lupa kapan terakhir kali aku bisa melahirkan buah hati.

“Aku akan melindungimu. Kami akan melindungimu!” bisik Jean padaku di suatu subuh yang dingin. Kawan-kawannya masih bergelung, beberapa sedang menghangatkan badan agar tidak terlalu kedinginan.

Ingin rasanya percaya pada kalimat itu. Bagiamanapun, mereka sudah bersusah-payah mempertahankan keberanian dan semangatnya selama bertahun-tahun. Aku ingin percaya meski sangat tahu betapa beresikonya mempercayai sebuah harapan.

Tapi nyatanya itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar dengan jelas dan tulus dari Jean, sebelum teriakan-teriakan dan derum mesin mendekat ke arah kami. Menjelang siang, ratusan petugas keamanan yang dikirim pemerintah datang dan menyerbu barak kami. Mereka merobohkan rumah pohon, memadamkan api unggun, dan membakar slogan-slogan yang dibuat para aktivis.

Tidak ada yang tersisa dari pertempuran, kecuali kehancuran. Tidak ada lingkaran orang-orang yang saling melempar canda, tidak ada marsmallow panggang atau pun beer. 7 Desember 1993 menjadi sangat beku setelah para aparat membawa pergi pahlawanku.

Para perempuan dijambak rambutnya, diseret menjauhiku dan lelakinya ditendang, dipukuli dan remuk badannya. Tidak ada yang lebih mengerikan dari pada hari itu. Rasanya ingin kutarik dan kulempar para aparat itu menjauh dari orang-orang, sayangnya aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Tubuhku bahkan tak bisa bergerak seinchi pun untuk sekedar melindungi seseorang. Tangisan mengudara bersama asap-asap dari sisa pertempuran mereka yang tak seimbang.

“Anda membunuh Bumi!”

“Kami adalah penjaga bumi. Kami ingin menghentikan usaha pembunuhan Bumi!” teriak mereka begitu lantang dalam ketidakberdayaannya, tidak merasa takut meski terancam mati kapanpun.

Jean menatapku dari kejauhan, tangannya diborgol dan badannya dihimpit di antara para petugas keamanan. Mereka membawa para aktivis dan pecinta lingkungan ke tahanan, entah untuk diapakan. Ketika pertempuran itu selesai, keheningan menyeruak seperti kegelapan yang tak pernah ingkar ketika malam datang.

Beberapa orang dari proyek datang melihatku, mengatakan bahwa ini akan menjadi suatu hal yang bagus. Terowongan lintas bawah seharga 230 juta poundsterling akan menjadi modal untuk regenerasi area Brownfield di wilayah Silvertown.

Beberapa hari setelahnya, tangan-tangan besi dari mesin yang dibawa para pekerja proyek mendekat dan mencakar badanku, meremukkan tulang-tulang dan membuatku tumbang tak berbekas.

Aku tahu ini akan terjadi, tidak hanya di George Green, barangkali suatu saat nanti di suatu tempat yang subur macam rumahku, tetap akan dihilangkan juga. Entah untuk alasan perbaikan ekonomi, sistem hidup, atau apapun itu. Semuanya hanya omong kosong jika untuk membuat itu semua harus menghancurkan Bumi sedemikian rupa.

Orang-orang akan menanam dan menjadikan kami lebih kuat lagi. Percayalah, orang-orang macam mereka yang merantai diri padaku kala itu akan tetap ada dan tidak akan mati semangatnya sampai kapanpun. Mereka mungkin hanya beberapa orang, bahkan mungkin hanya berupa slogan-slogan. Namun setidaknya, Bumi tidak bertahan sendirian. Meski kalian membunuh kami berulang kali, kami akan terus bangkit.

Ini mungkin terlihat seperti gertakan tak berarti dari pohon kastanye tua macam aku. Kecuali ada keinginan untuk membuat simulasi neraka, silahkan bakar dan hancurkan setiap kalanganku. Barangkali dengan begitu kami akan menghantui dengan rasa penyesalan yang tak pernah usai. Sebuah rasa bersalah yang akan memakan seluruh sisa waktu kalian.

***

Terinspirasi dari kisah nyata perjuangan para aktivis di George Green dalam aksinya menolak proyek pembangunan jalan yang sekarang menjadi jalur A12, di Wanstead, London Timur. Mereka menolak proyek M11 sepanjang 52 mil dan sempat menjadi trending topik oleh media-media di Inggris sebab mempertahankan sebuah pohon chestnut berusia 250 tahun.

Semoga menjadi cerminan dari perjuangan para aktivis penolak NYIA di Kulonprogo. Pada akhirnya, seberapa kecilpun usaha kita, akan tetap mendapat tempat yang layak entah di mana dan kapan.

*Ika Nur KhasanahWartawan LPM Rhetor yang juga aktif di UIN Sunan Kalijaga sebagai mahasiswi KPI.

You may also like

Puisi Siti: Aku yang Tak Suka Baca Tulis

Aku tak tahu apa-apa Tapi tak mau baca