Tips Bertahan Hidup Bagi Mahasiswa yang Dicekik UKT

268
Sumber: kabarkota.com

Hambatan finansial yang diakibatkan oleh UKT harus dapat disiasati dengan ciamik.

lpmrhetor.com, UIN – Rabu (15/11). Setiap hari Khaerul Muawan, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta berjalan sembari menggendong ransel gunung berkapasitas 45 liter. Bukan untuk mendaki gunung, Awan – begitu namanya akrab – menggendong ransel tersebut guna membawa barang-barang pribadinya kemana pun ia pergi. Ya, sejak awal semester ia tidak bertempat tinggal alias nomaden. Dengan begitu, ia dapat lebih berhemat ketimbang harus menyewa kamar indekost yang belakangan semakin mahal.

Awan adalah satu dari sekian banyak mahasiswa yang terpaksa mengorbankan kebutuhan primernya guna menghemat keuangan. Beriringan dengan itu, biaya kuliah dengan sistem subsidi silang a la Uang Kuliah Tunggal (UKT), malah semakin melambung nilainya dari tahun ke tahun. Tercatat sejak tahun 2016, rerata selisih kenaikannya hingga tahun ini berada pada angka Rp500.000.

Banyak mahasiswa yang menolak hingga mengajukan banding. Berdasarkan data yang dihimpun dari Senat Mahasiswa Universitas (Sema-U), dalam dua tahun terakhir rata-rata terdapat 150 mahasiswa yang mengajukan banding. Ini membuktikan bahwa sistem subsidi silang tidak benar-benar membantu keuangan mahasiswa kelas menengah ke bawah.

Penderitaan yang diakibatkan oleh UKT adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Inggit Ganarsih dalam Kuantar Ke Gerbang (1981) mengatakan, kehidupan Sukarno saat menempuh pendidikan teknik di Technik Hoge School (THS) Bandung pun bukan tanpa kesengsaraan.

Pernah suatu ketika ia kesulitan mendapatkan uang akibat banyak kebijakan pemerintah kolonial yang semakin mencekik. Menghadapi kenyataan itu, Inggit harus berusaha keras agar tidak kekurangan makanan. Inggit bahkan harus menjual gelang dan kalung miliknya untuk membeli berbagai kebutuhan.

“Keadaan kehidupan sedang sangat tidak menyenangkan. Terasanya susah sekali mendapatkan uang. Kami sendiri merasakannya. Tetapi kami berusaha keras tidak mengurangi makanan,” kata Inggit dalam buku yang Ramadhan KH, sang penulis, memilih menyebutnya sebagai roman itu.

Kegigihan Inggit membuktikan kepada kita, bahwa persoalan finansial bukanlah hambatan untuk tetap berpendidikan. Hambatan finansial yang diakibatkan oleh UKT pun demikian. Ia harusnya dapat disiasati dengan ciamik.

Lalu, bagaimana siasat tersebut anda susun? Bagaimana seharusnya anda dapat tetap bertahan hidup walaupun UKT menggerogoti keuangan anda? Berdasarkan penelusuran lpmrhetor.com, berikut kami sajikan beberapa tips yang dapat membantu anda bertahan hidup saat UKT semakin mencekik anda.

Makan nasi sayur plus telur, bantingan, dan makan di seminar       

Kebutuhan pangan adalah kebutuhan dasar manusia. Namun, dalam konteks berhemat, anda juga tidak dapat semena-mena mengurangi asupan energi yang anda butuhkan. Seperti dilansir dari Kompas, Samuel Oetoro, dokter spesialis gizi, mengatakan bahwa seukuran pria dewasa sehat membutuhkan asupan rerata 2.000 kilo kalori (Kkal) per hari.

Hitungan standar internasional itu bisa dengan mudah disiasati oleh anda. Bila anda memiliki sarana memasak seperti penanak nasi atau bahkan kompor, anda dapat membeli lima kilogram beras seharga Rp45.000 setiap bulannya untuk jatah makan anda dua kali sehari. Namun, bila tak punya, anda bisa membeli nasi kucing di angkringan-angkringan seharga Rp1.500 per bungkus yang setara dengan dua siduk nasi. Beli saja dua bungkus sekali makan.

Sebagai pelengkap, anda dapat menambahkan sayur yang dengan mudah dapat anda beli di warung makan di sekitaran kampus dengan harga Rp2.000 per bungkus. Tambahlah telur dadar seharga Rp3.000 sekali saja dalam menu harian anda. Dengan begitu anda telah melengkapi kebutuhan 1.050 Kkal dengan dua kali makan tiap harinya.

Sisanya, anda dapat menambal dengan gorengan tempe sebagai camilan. Dengan bahan dasar kedelai, tempe mengandung 75 Kkal setiap 50 gram, setara dengan dua potong gorengan seharga Rp500. Belum lagi ditambah dengan terigu yang mengandung 338 Kkal per 100 gram. Anda akan menemukan hampir 45 Kkal per potong gorengan. Makanlah gorengan tiga kali sehari per dua potong. Artinya, dalam sehari anda hanya menghabiskan Rp3.000 saja untuk asupan 270 Kkal.

Bila ingin lebih hemat lagi, anda dapat bersiasat dengan membudayakan bantingan bersama kelompok persekawanan anda saat makan. Selain bisa menghemat, budaya bantingan dapat menumbuhkan jiwa solidaritas di lingkungan persekawanan anda. Sulit mendapatkan kelompok persekawanan? Berorganisasilah.

Hal itu belum lagi dengan asupan tambahan yang bisa anda dapatkan secara cuma-cuma dari konsumsi seminar yang banyak diselenggarakan di kampus. lpmrhetor.com mencatat, di UIN Sunan Kalijaga saja rata-rata terdapat lima kali seminar yang digelar tiap minggunya. Selain asupan nutrisi, tambahan pengetahuan pun bisa anda dapatkan. Menggiurkan bukan?

Jadilah takmir atau nomaden seperti Awan

Selain pangan, kebutuhan papan adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia juga. Hal ini tergantung perspektif anda bagaimana melihatnya. Apakah papan masuk dalam kebutuhan primer, atau kebutuhan sekunder, atau mungkin saja bukan kebutuhan sama sekali. Anda dapat merefleksikannya dengan mengaji ulang sejarah peradaban manusia.

Dengan meminjam teori Karl Marx tentang sejarah manusia dari perspektif corak produksi, kita dapat mengetahui bahwa manusia pernah mengalami era Komunal Primitif. Saat itu umat manusia hidup berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti Awan. Terlepas dari keputusan anda bertempat tinggal atau tidak, yang terang di sini adalah manusia membutuhkan tempat untuk beristirahat saat malam tiba. Pertanyaannya: bagaimana menyiasatinya?

Tips pertama telah disinggung di awal tadi. Anda dapat memilih untuk tidak bertempat tinggal seperti Awan. Kebutuhan istirahat malam dapat anda penuhi dengan tidur di warung-warung kopi, atau kamar kost teman. Gratis harganya. Paling anda hanya merogoh Rp6.000 saja untuk membeli kopi atau untuk menanggung biaya jajan pemilik kamar kost yang anda tumpangi, itupun dapat anda nikmati pula kopi dan jajanannya. Sekali lagi, dengan asas persekawanan, bisa saja anda tidur gratis sama sekali.

Untuk mencuci pakaian, jasa laundry murah banyak bertebaran. Atau mandirilah, cuci baju anda sendiri dengan meminjam kamar mandi di kamar kost teman anda. Sedangkan, untuk menaruh pakaian, anda bisa mengikuti gaya Awan dengan ransel gunungnya. Atau jika anda tidak memilikinya, anda dapat menaruhnya di kamar kost teman anda atau sekretariat organisasi. Ya, sekali lagi, berorganisasilah.

Bagi anda yang menganggap pilihan nomaden sebagai pilihan yang irasional, anda dapat memilih menjadi takmir. Pada pilihan ini, jangan berharap banyak terhadap materi. Refleksikanlah secara moralis, utamakan motif keberkahan dan pengabdian anda sebagai seorang Muslim. Asalkan anda dapat tinggal dan punya tempat untuk beristirahat, bersyukurlah. Lagipula ganjaran Tuhan terhadap pekerjaan ini tiada hingganya.

Terakhir, yang terpenting pilihlah tempat tinggal, baik masjid, warung kopi, atau kamar kost teman anda, yang berada dalam radius empat kilometer dari kampus. Karena ini akan berkaitan dengan tips selanjutnya.

Jadikan jalan kaki sebagai transportasi utama

Sejak rezim Orde Baru meliberalkan kendaraan bermotor pada tahun 1990, orang Indonesia mulai menjadikan kendaraan bermotor sebagai bagian dari gaya hidup. Hal itu mengakibatkan orang Indonesia malas untuk berjalan kaki, begitu pula mahasiswa.

Kini, kebanyakan mahasiswa lebih memilih menggunakan sepeda motor sebagai transportasi utama ketimbang berjalan kaki. Seperti yang dikatakan oleh Sosiolog UNY, Grendi Hendrastomo kepada Tirto.

Grendi kerap menyaksikan mahasiswa-mahasiswanya berseliweran keliling kampus memakai motor untuk berpindah dari satu fakultas ke fakultas lain meski jaraknya amat dekat. Sama seperti di UIN bukan?

Sebenarnya tidak salah juga bila anda memilih menggunakan kendaraan bermotor sebagai alat transportasi utama. Akses untuk pejalan kaki saja masih minim. Seperti dilansir dari laman resmi Kementerian Perhubungan RI, Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengembangan Kementerian Perhubungan, L. Denny Siahaan mengatakan, trotoar sebagai akses utama pejalan kaki telah banyak beralih fungsi menjadi tempat pedagang kaki lima, parkir kendaraan, dan bahkan digunakan oleh para pengguna sepeda motor.

Namun, dalam konteks berhemat, anda tentu tidak ingin menghabiskan uang untuk membeli bahan bakar kendaraan. Belum lagi biaya servis dan perawatan-perawatan lainnya. Selama jalan kaki tidak merusak kesehatan anda, mengapa tidak?

Laporan Detik mengatakan bahwa rerata manusia dapat berjalan sejauh empat kilometer per hari. Struktur kaki manusia yang terdiri dari 52 tulang, 214 ligamen (ikatan sendi), 38 otot, dan 66 sendi dapat menopang manusia untuk berjalan 8.000 hingga 10.000 langkah per hari. Itupun dapat meningkat lagi bila anda terus melatihnya dengan menambah jarak setiap minggu secara konsisten.

Maka dari itu, pada tips sebelumnya dikatakan: pilihlah tempat beristirahat dalam radius empat kilometer dari kampus. Percayalah, berjalan kaki setiap hari tidak akan mengganggu kesehatan anda sama sekali. Alih-alih terganggu, tubuh anda akan menjadi semakin bugar.

Terakhir,

Tetapkanlah diri anda sebagai oposisi setia kebijakan UKT. Dengan begitu anda akan terus mencari cara, bagaimana agar UKT tidak lagi mencekik anda atau generasi setelah anda.[]

 

Reporter: Fahri Hilmi

Editor: Fiqih Rahmawati

 

You may also like

Yu Sanah Sinih, Potret Kehidupan Termarginalkan

lpmrhetor.com, Yogakarta – Dua hari berturut sejak Jumat