Perempuan dan Politik

169
Iliustrasi: five2onemagazine.com

Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.

– R. A. Kartini

lpmrhetor.com, Yogya – Peranan perempuan di kancah politik sebenarnya telah dicatat dalam Undang-Undang No. 2 tahun 2008 tentang Partai Politik. Undang-Undang tersebut mengharuskan partai politik melibatkan seminimalnya 30% perempuan, sejak pendirian partai, hingga pelibatannya dalam kepengurusan. Namun, keterlibatan 30 % perempuan di partai politik seakan tidak berarti apa-apa. Di parlemen saja, tercatat sejak 1999 hingga 2014, jumlah perempuan yang menduduki kursi DPR-RI belum pernah mencapai angka 30%.

Menelisik ke belakang, pada tahun 1999, hanya ada 45 perempuan atau sekitar 9% saja. Setelah itu pada tahun 2004, jumlah tersebut meningkat 3,3%, sekitar 62 perempuan mampu berada di barisan wakil rakyat. Angka tersebut meningkat lagi pada 2009, ada 102 perempuan (18%) yang memberikan kontribusinya. Tahun 2009 itulah barangkali merupakan tahun dengan persentase tertinggi selama pemilu berlangsung, karena pada tahun 2014, peranan perempuan dalam parlemen mulai berkurang. Pada periode pemilu 2014 tercatat hanya ada 97 perempuan (17%) yang mampu duduk di kursi parlemen.

Pada dasarnya, perempuan dan laki-laki mempunyai ruang yang sama dalam politik. Namun, untuk saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa tantangan dalam pemenuhan kuota 30% tersebut. Salah satunya adalah ketidakmauan dan kurangnya kepercayaan diri perempuan untuk terjun lansung ke ranah politik. Hal ini sebagimana yang disampaikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Mamuju, Suraidah Suhardi, dalam sarasehan “Perempuan dan Parlemen” yang digelar oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Mandar Sulawesi Barat di Basabasi Café pada Kamis (23/11).

“Pandangan wanita yang harus di rumah itu tidak bisa lagi, itu adalah manifesto yang sudah sangat tua. R.A. Kartini kan hadir untuk menggebrak hal itu. Kita sudah hidup di zaman merdeka, maka, kita harus menghargai perjuangan R.A. kartini tersebut. Hal yang bisa kita (perempuan-red) lakukan adalah menjawab keraguan masyarakat dengan kemampuan diri dan terus bersosialisasi. Karena bagaimana kita akan menyampaikan suara-suara perempuan jika kita tidak pernah membaur dalam masyarakat,” kata Suraidah.

Ia juga menambahkan, bahwa peranan perempuan dalam parlemen itu sangat berguna untuk menyuarakan suara-suara perempuan, yang bisa jadi tidak akan dilihat oleh Kaum Adam. Seperti halnya pengadaan fasilitas-fasilitas umum yang memang dikhususkan untuk perempuan, contohnya saja adanya bis khusus perempuan dan ruangan khusus di gerbong kereta api bagi perempuan yang menyusui.

“Perempuan dan Parlemen adalah tentang kemauan, belajar untuk bagaimana bisa melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Kita bisa membantu pemerintah untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan kita (perempuan-red) ketika berada dalam jalur parlemen. Seperti yang kita lihat,” katanya lagi.

Sementara itu, Rifai Halim, ketua Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMB) juga menegaskan, bahwa perempuan itu harus maju, cerdas, dan harus menjadi eksistensi yang progresif dengan tidak hanya berada di belakang publik, namun juga dapat tampil dan berkarya.

“Ini masalah gender, ya. Kalau kita kembali pada perjuangan Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita, sekarang ini sudah sejajar. Namun, itu tadi, bagaimana caranya agar menumbuhkan peran wanita untuk berparlemen dan berpolitik,” katanya kepada lpmrhetor.com.

Rifai juga menambahkan, “Memang pada awal pelaksanaannya mungkin ada diskriminatif (diskriminasi-red), ya, dan anggapan ‘apa sih perempuan, nggak bisa apa-apa.’ Tapi, kenyataannya sekarang berbanding terbalik, banyak juga pemangku kekuasaan [dari kalangan perempuan] yang sangat eksis dan membuktikan peranannya,” katanya lagi.

Selain Rifai, Ketua Umum Ikatan Keluarga Mahasiswa Mandar Sulawesi Barat, Hairil Amri juga menambahkan, bahwa minimnya gerakan perempuan dalam ranah politik merupakan salah satu bukti bahwa perempuan saat ini masih belum bisa lepas dari zona nyamannya, dan masih bungkam terhadap masalah-masalah sosial dan politik dalam suatu masyarakat, terkhusus soal-soal keperempuanan.

Hairil juga menambahkan, bahwa partisipasi perempuan dalam bidang sosial dan politik itu masih perlu dipantik. Mengingat sejarah telah menggambarkan bahwa perempuan itu adalah kaum yang cerdik.[]

 

Reporter Magang: Naspadina dan Isti Yuliana

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Ingin Melerai, Jurnalis LPM Suaka UIN SGD Justru Dihajar Polisi

Niat melakukan kebaikan, justru dibogem oknum kepolisian. Pers