Melihat Wajah Politik Mahasiswa UIN Suka dalam Film Dokumenter Perdana JCM

315
Scene pembuka film dokumenter Demokrasi: Sebuah Refleksi (2005). Dok. Istimewa

Jangan bicara soal idealisme

Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita

Atau berapa dahsyatnya

Ancaman yang membuat kita terpaksa onani

– Iwan Fals dalam Jangan Bicara (1984) –

lpmrhetor.com, UIN – Selasa (21/11). Saat itu tahun 2005, tahun di mana Pemilihan Wakil Mahasiswa (Pemilwa) kembali digelar di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tepat menjelang habisnya masa pemerintahan Munir Che Anam sebagai Presiden Mahasiswa periode 2003-2005. Agenda dua tahunan itu merupakan agenda politik yang digelar oleh mahasiswa guna memilih pimpinan lembaga pemerintahan mahasiswa.

Pemilwa di UIN menerapkan mekanisme serupa Pemlihan Umum Negara. Kendaraan politik yang dipakai dalam kontestasi demokrasi tersebut pun menggunakan partai politik. Partai politik dibangun sebagai representasi dari para mahasiswa dengan pelbagai latar belakang, terkhusus latar belakang organisasi ekstra kampus. Merupakan rahasia umum, jika masing-masing dari mereka selalu bertarung setiap kali ajang tersebut digelar.

Sejak digelar pada era 90an, Pemilwa UIN baru menggunakan mekanisme partai politik pada tahun 2001. Saat itu hanya dua partai saja yang turut serta. Kemudian, pada 2003 jumlah partai peserta meningkat pesat menjadi delapan partai. Hingga pada 2005, Pemilwa UIN semakin riuh lagi dengan kehadiran sepuluh partai sebagai peserta.

Gelaran kontes demokrasi kampus di tahun 2005 tersebut sedikit banyaknya didokumentasikan dalam film dokumenter besutan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jama’ah Cinema Mahasiswa (JCM) berjudul Demokrasi: Sebuah Refleksi (2005). Menurut Arif Kurniar Rakhman, sang sutradara, film tersebut merupakan karya perdana JCM sejak didirikan pada tahun 1993.

Karya perdana sebagai bridging menuju film fiksi

Ditemui di ruang kerjanya, Arif Kurniar Rakhman bersedia berbincang dengan lpmrhetor.com mengenai latar belakang pembuatan film dokumenter tersebut. Mantan Sutradara JCM sekaligus mantan Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi UKM UIN itu mengatakan, bahwa garapan film ini merupakan awal dari produksi karya JCM.

Menurut Arif, saat itu JCM punya rencana untuk menggarap film fiksi, namun karena momentum kala itu adalah Pemilwa, maka timbullah inisiatif untuk mendokumentasikan pertarungan politik tersebut ke dalam sebuah karya dokumenter. Arif sendiri yang bertindak sebagai sutradara.

“Itu kan film pertama JCM. Waktu itu posisinya gini; abis workshop, terus ada keinginan buat produksi film, terus kita lihat analisisnya apa yang paling menarik untuk bikin film, mau bikin film fiksi, atau dokumenter. Nah, sebetulnya [ketika] dulu niatnya kita mau bikin film fiksi, [namun] karena momentumnya waktu itu adalah Pemilwa, maka ya udahlah kita coba bikin filmnya [dalam bentuk] dokumenter,” kata pria yang lebih dikenal dengan nama Jeki itu (13/11).

Arif melanjutkan, ia hanya berniat untuk mendulang pengalaman dan menjadikan momentum Pemilwa sebagai jembatan menuju karya-karya JCM selanjutnya.

“Jadi, sebetulnya itu sebagai brigding saja. Jembatan untuk menuju film fiksi,” tutur mahasiswa angkatan 2002 itu.

Tak menyangka Pemilwa bakal chaos           

Pada mulanya, Arif ingin film dokumenter yang disutradarainya sebatas mendokumentasikan penyelenggaraan Pemilwa. Bak berita di televisi, ia hanya ingin merekam urutan kegiatan penyelenggaraan Pemilwa.

Di awal film terlihat beberapa tokoh mahasiswa, tokoh partai politik, hingga birokrasi memberikan komentarnya terkait penyelenggaraan Pemilwa. Film itu bahkan sedikit menyentuh profil kampus UIN Sunan Kalijaga.

“Kalau dibilang kenapa dokumenter, ya, karena dulu itu sebetulnya kita niatnya hanya mendokumentasikan momentum Pemilwa saja. Jadi, kita hendak membikin film dokumenter yang, ya, biasa sajalah,” tutur Arif.

Namun, Arif tak menyangka, Pemilwa jadi kacau. Chaos antara mahasiswa tidak bisa dielakkan. Kerusuhan, kekacauan, hingga perkelahian antar golongan mahasiswa terjadi di pesta demokrasi mahasiswa itu.

Film besutannya merekam dengan lengkap setiap detail kejadian yang terjadi saat itu. Arif menggebu-gebu, ia justru malah semakin ingin mengeksplorasi apa yang terjadi saat itu.

“Tapi tiba-tiba kok menjadi sangat heboh di akhir. Nah, itu poin penting malah. Yasudah, akhirnya kita setting konsep video yang arahnya kesana (mendokumentasikan konflik-red),” kenang Arif.

Kekacauan terjadi

Dalam film tersebut, terlihat perseteruan dimulai dari keputusan kontroversial Komisi Pemilihan Umum (KPU). KPU dianggap kontroversial karena hanya meloloskan calon tunggal dari dari banyak calon yang mendaftar. Calon lain dianggap tidak memenuhi persyaratan dan akhirnya ditolak. Keputusan itupun menuai kritik.

KPU, yang beranggotakan perwakilan dari masing-masing partai peserta Pemilwa, ternyata tak bisa melepaskan baju kepentingan mereka dan melebur sebagai lembaga penyelenggara Pemilwa yang independen.

Namun di sisi lain, pihak partai yang telah berhasil lolos calon presidennya beranggapan, bahwa calon lain tidak lolos verifikasi diakibatkan karena calon tersebut tidak memenuhi ketentuan syarat administrasi yang sudah ditetapkan. Mereka menilai KPU telah berjalan sesuai korudor hukum yang ada.

Aksi boikot KPU, bahkan boikot Pemilwa akhirnya tak terelakkan. Beberapa partai yang kecewa dengan keputusan KPU membangun koalisi dan memprotes KPU. Mereka menamakan diri Koalisi Untuk Perubahan (KUP).

Sebaliknya, lawan mereka adalah Koalisi Bintang Sembilan (KBS), koalisi yang dibangun oleh beberapa partai yang sepakat dengan keputusan calon tunggal, yang tetap ingin melanjutkan Pemilwa ke tahap pencoblosan.

Kedua koalisi besar ini melebur ke dalam medan pertempuran yang tidak sama sekali sehat. Berbagai intrik bertebaran di kampus. Satu sama lain mahasiswa saling tuding. Hingga puncaknya, mereka harus terlibat dalam kontak fisik pada saat pencoblosan berlangsung.

Akhirnya, walau dengan keputusan kontroversial KPU tetap melanjutkan rangkaian agenda Pemilwa. Mulai dari kampanye monologis, kampanye dialogis, hingga pencoblosan dilangsungkan seakan tanpa hambatan.

Agenda yang terakhir disebutkan tidak benar-benar berjalan mulus. KUP yang sejak awal sudah tidak lagi percaya kepada independensi KPU memboikot agenda tersebut. Mereka menyisir seluruh kampus dan menghancurkan berbagai atribut KPU. Tempat Pemungutan Suara (TPS) di setiap fakultas diobrak-abrik, surat suara disobek-sobek, kotak suara dan berbagai atribut lainnya hancur berantakan.

Namun nahas, saat mulai memasuki Fakultas Dakwah dan Komunikasi, KPU dan massa KBS menghadang mereka. Kedua koalisi ini pun terlibat perkelahian hingga menimbulkan banyak korban. Pihak kepolisian terpaksa masuk ke dalam kampus untuk meredam keadaan. Semua tentu bertanya-tanya; apa yang sedang terjadi dengan demokrasi kampus.

Dalam film besutan Arif, scene perkelahian tersebut ditampilkan dengan latar lagu Jangan Bicara (1984) karya Iwan Fals. Lirik dalam lagu tersebut seakan menjadi nasihat bagi perpolitikan kampus yang kacau itu.

Jangan bicara soal idealisme. Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita. Atau, berapa dahsyatnya ancaman yang membuat kita terpaksa onani,” sahutan lagu terdengar berbarengan dengan scene perkelahian antar golongan yang menamai diri mereka sebagai kaum terpelajar.

Menurut Arif, ihwal latar sosial pembuatan film tersebut, kala itu ada tiga kekuatan utama yang bertarung dalam kontestasi Pemilwa 2005. Kekuatan itu adalah kalangan modernis, dan tradisionalis.

“Ini subjektif ya cara pandangnya. Tapi, tak (saya-red) lihat, antara mereka (modernis dan tradisionalis-red) saling gempur satu sama lain. Cuma, ya menurutku, karena memang belum ada kemapanan secara emosional, jadi politik mereka pun terlihat sangat terbaca,” kata Arif.

Sementara kekuatan yang satu lagi, yang menurut Arif adalah kunci, berasal dari salah satu partai tertua di UIN, yakni Partai Solidaritas IAIN (PSI). Menurutnya, PSI lebih matang soal penempatan posisi.[]

 

Reporter: Ikhlas Alfarisi

Editor: Fahri Hilmi

You may also like

Yu Sanah Sinih, Potret Kehidupan Termarginalkan

lpmrhetor.com, Yogakarta – Dua hari berturut sejak Jumat