Sejarah Kita dan Alur yang Monoton

512
Ilustrasi: Istimewa
T IDAK semua ‘a’ menjadi awal dari suatu realita. Perang tidak begitu saja dimulai hanya karena ada lecutan senjata. Ada himpunan titik dan garis, juga resonansi pengetahuan yang melengkapi sebuah pertemuan. Tidak, bukan seperti drama dengan awal perkenalan lalu puncak masalah, klimaks dan happyending. Pemikiran butuh proses, dan suatu diskusi selalu memerlukan masalah untuk tetap bertahan di batas pembicaraan. Realita tidak selalu happyending.

Mengutip kata-kata Bung Karno; Jas Merah, tidak muluk-muluk sebetulnya apabila pelajaran sejarah menjadi kurikulum wajib di strata pendidikan Indonesia. Pertanyaannya, apakah yang dituangkan dalam kurikulum itu sesuai dengan fakta ‘sejarah’? tanyakan pada Tuhan. Sebab saksi dan bukti sejarah seolah lenyap atau didistorsikan menjadi puzzle misterius tanpa penyesalan. Sejarah bukan hal yang patut dipercaya, tapi suatu bahan kajian pokok yang sepatutnya diunggah kebenarannya.

Berkubik-kubik kertas mencetak huruf dan kalimat, menceritakan arus drama masa lalu. Seolah-olah penulis mengerti betul kejadian saat itu. Sok tahu! Bahkan jika seseorang itu terlibat di dalamnya, tidak semua hal bisa dipahami dari satu sisi saja. Hanya ketika sebuah pena yang tegas mencoretkan nama-nama penuh darah dan tulisan tanpa nama tersebar di muka dunia.

Sejarah terbelenggu di balik rezim yang kotor dan udik, namun apakah semua itu berarti untuk pemikiran masyarakat luas? Tidak, anak-anak dan cucu-cucu kemerdekaan terlahir dan dipaku ke dalam ‘revolusi’ sejarah. Dibuat buta dan didengarkan pada dongeng kepemimpinan sakral yang ‘protagonis’. Indonesia melipat kenangan pahit, lalu waktu beruntun melahirkan detik-detik perlawanan sebab cerita kebenaran sesungguhnya memang ada. Tidak mati dan hilang.

Masih tercetak jelas jejak-jejak dan tulisan-tulisan yang ingin bergerak, kepingan sejarah Majapahit yang terbentuk kembali di bawah kaki-kaki Belanda dan tangan-tangan Jepang. Kekalahan dan manipulasi politik yang berulang. Pergerakan abad 18 hingga 19, peraduan fakta dan fiksi. Seolah kesempatan saat itu sedang Tuhan berikan supaya bangsa dapat memperbaiki sejarah. Tapi kemudian orang-orang tumpul dan lumpuh oleh kekuasaan, lawan-kawan bukan bentuk yang harus dipedulikan. Jiwa merdeka memberontak lalu terbungkam di sela jeruji. Berkali-kali, berpuluh-puluh badan dilumpuhkan. Tapi bodohnya manusia, sebab jiwa itu tidak pernah bungkam. Pahlawan tanpa nama masih terus ada, bahkan meski tanpa embel-embel kesatria atau menteri, mereka bersuara bersama tulisan-tulisan. Gajah Mada bangkit dalam versi pemuda 90-an. Mendobrak keadaan negara yang tetap berlutut di bawah anomali pemerintahan.

“Aku bukan artis pembuat berita” begitulah pembuka syair yang ditulis Wiji Thukul. “Tapi aku memang selalu kabar buruk untuk penguasa” lanjutnya. Belantara masa lalu selalu bisa mengusik sisi percaya dan ragu para pemikir serta pencetak sejarah. Korelasi logika dan realita serta paradoksal sejarah dalam drama beragensi Negri pertiwi. Ada ruang di bawah sekat-sekat perkuliahan yang mulai menggeliat, ingin bebas. Meragukan sistem dan merindukan keadilan. Bangsa tak berbentuk lagi, sistem porak-poranda sebab tak memiliki dasar maupun penyangga.

Kebenaran butuh suara, sebab kita masih berupa kata-kata saja. Itu sebabnya sejarah mesti diluruskan, cantumkan bahwa negeri ini sedang sekarat. Dongeng dan angan-angan idealisme tulisan kian bertebaran tanpa penghargaan yang berarti. Sastra dikaburkan oleh penguasa, sebab sastra tidak memihak mereka. Tulisan tidak memihak pada kebohongan, seharusnya begitu. Seharusnya memang seperti itulah sejarah terbentuk.

Mendewasakan akal lewat sepak terjang Gajah Mada hingga langkah patah-patah pejuang tahun 90-an. Dari Tan Malaka hingga Pramoedya, tahun 20-an redup lalu meledak lagi di 60-an. Sejarah berulang secara monoton tapi keadilan dan kesepakatan terhadap kebenaran sepertinya enggan memihak barang sekalipun. Bukan karena Tuhan berlaku jahat, melainkan ketidakmengertian pihak-pihak tak bertanggungjawab dan haus kekuasaan bahwa karma memang ada. Majapahit di era modern terasa lebih dramatis dan menggelikan.

Sebagai mahasiswa yang masih magang di LPM kampus, pemberian materi seperti itu bukan hal tabu. Meski riskan akan salah paham dan tingkah gegabah, tapi apa salahnya mengenal lebih jauh sisi lain sejarah? Walaupun memang, sisi-sisi buta yang masih mengerat di otak pasca SMA ternyata tetap kagok mengimbangi problema yang sejatinya sangat umum dan jelas. Tahun 1966 menjadi angkatan paling berpengaruh dalam sejarah kesusastraan sekaligus penentu sejarah paling rumit di Indonesia. Di mana simpang-siur kenyataan terasa seperti pseudo yang semakin tak berbentuk seiring sistem pemerintahan pasca reformasi ’98.

Pers tercekat, pena dipatahkan dan suara-suara kecil terus dibungkam. Jika masih ingat, ada ratusan bahkan ribuan orang yang dibantai pada peristiwa G30S1965, pertanyaannya; apakah para pembantai itu adalah orang yang benar dan berhak dibebaskan dari jerat hukum? Lalu seperti sebuah rangkaian tanpa akhir, Trisakti menyisakan genangan pertanyaan yang tak terjawab. 19 orang diculik pada tahun 1998—lenyap atau terlenyapkan karena kekhawatiaran tak berasalan dari suatu kelompok.Era pengguguran Soeharto menimbulkan banyak pertanyaan, kekhawatiran lain di masa depan. Sebab pergerakan seperti tunas yang tak bisa hilang begitu saja.

Saksi bisu dari pergerakan pemuda dan golongan marjinal saat itu adalah tebaran syair dan puisi dari orang-orang yang peduli tapi tak dipedulikan. Mahasiswa sebagai penggerak reformasi tertindas dedengkot politik yang dengan ringannya memutarkan arah pandang masyarakat dan menebar kebencian ‘muslim’ terhadap sesamanya. G30S1965 pecah, terbentuk sebagai ‘antagonis’ sejarah bangsa. Dipatenkan sebagai musuh negara tanpa penyebutan alasan yang logis.

Melihat sejarah, melihat drama politik, mendengarkan rintihan tulisan tanpa belas kasihan yang berarti. Parade puisi koruptor menjadi awal cerita yang baru di negeri yang sesak dengan pertanyaan dan kering keadilan. Sejarah tidak butuh dicatat, namun seperti tertulis di awal, sejarah butuh diluruskan alurnya. Namun, pertanyaan; siapa yang akan meluangkan waktu dan tenaga untuk itu? Atau; bisakah pelurusan itu tidak dihalangi? Hal-hal semacam itu bukankah lebih kompleks daripada momen balas dendam mafia?

Indonesia memang rumit, saudara. Itu sebabnya meski banyak hal yang buram, banyak darah yang ditumpahkan, sebagai penggerak via tulisan, sepertinya kutipan syair Wiji Thukul patut kita genggam. “Kata-kata itu selalu menagih  padaku, ia selalu berkata kau masih hidup. Aku memang masih utuh dan kata-kata belum binasa”.

 

*Ika Nur Lutfi. Adalah nama lain dari Ika Nur Khasanah, sekretaris Umum LPM Rhetor 2017-2018.

You may also like

Musik Memang Mengalun Sambil Berjuang

Oleh: Fahri Hilmi* D IWAN Masnawi sudah menjinjing