Kebenaran atau Nafsu?

217
Sumber : Hipwee.com

Oleh : Isti Yuliana*

Sejenak ku merebahkan diri. Lelah sekali rasanya, Namun, suasana pegunungan yang sangat tenang ini membuatku merasa nyaman. Mata ku terpejam dan kini telingaku menjadi lebih peka dari biasanya. Terdengar suara gemerisik ranting pohon yang sedang asyik bercengkrama, angin yang menyapa daun dengan hangat, dan burung yang sedang  menyampaikan beritanya.

Aaa, suasana yang sangat tepat untuk membuat fikiranku melayang-layang. Rasanya sudah lama, aku tidak merasakan hal seperti ini, hidup seolah tanpa beban. Yaa, meskipun ini hanya ilusi semata. Karena pada akhirnya, aku akan kembali ke Rutinitasku.

Hmm, aku merindukan masa itu, masa dimana aku berlari dengan bebas, tertawa dan hidup dengan bermandikan kebahagiaan. Masa kecilku yang luar bisa.

Aku dulu seorang gadis kecil dengan sejuta mimpi. 15 tahun yang lalu, aku  bermimpi untuk menjadi seorang dokter, tak ayal kemudian menjadi Polisi Wanita dengan pistol dan seragam coklat tua. Lantas berubah lagi, menjadi seorang guru yang dapat di gugu dan di tiru.

Jika mengingatnya, lucu sekali khayalku kala itu, maklumlah pikiran polos seorang anak usia 8 tahun. Terbayang olehku betapa menyenangkannya menjadi dewasa dan hidup sebagai wanita yang berfikir jauh kedepan. Tapi, setelah aku menjadi aku yang sekarang, fikiran itu tidaklah seperti yang aku kira.

Dunia ini penuh dengan tipu muslihat. Pendidikan yang katanya adalah hak setiap warga negara, hukum yang katanya tidak memihak, dan kebijakan ekonomi yang katanya untuk kebaikan seluruh lapisan masyarakat. Dunia ini hanyalah “kKatanya”, Kata mereka yang menutup sebelah mata dan Kata mereka yang mempunyai kuasa.

“Haaah” Aku terbangun dan tersenyum .

Di suasana yang teramat tenang ini, ternyata pikiranku tidaklah tenang. Aku terus saja berfikir tentang realitas yang ada di negeri ini. Sekilas pikiranku tertuju pada sebuah pertanyaan yang belum ku temukan jawabannya,

“Apakah aku juga termasuk orang yang menutup mata dari kebenaran? Apakah aku salah dalam berpihak ? Kebenaran seperti apa yang sejatinya aku cari ? ”.

Di tengah fikiranku yang sedang entah kemana larinya, tangan kecil nan hangat menyentuh pundakku dengan lembut.

“Apa yang sedang kau risaukan, nak ?” Tanya beliau pelan.

Ku tatap mata yang begitu menenangkan itu dan aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.

“Tidakkah cukup kamu berlarian mencari berita ? Kamu libur, tapi pikiranmu masih saja memikirkan pekerjaanmu. Ibu sangat iri.” Aku kembali tersenyum mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan dari beliau.

“Ibu, menurut ibu kebenaran itu seperti apa ? (hening sejenak) Dulu, aku tidak pernah bermimpi menjadi seorang Wartawan, tapi, ternyata takdir ini membawaku ke jalan yang benar-benar aku sukai.”

“Nak, Kebenaran adalah sesuatu yang kamu lihat dan memang seperti itulah kenyataanya. Kebenaran itu tentang makna, sayang. Bukan sebuah pernyataan. Ketika hati nurani dan akalmu jernih, bersih, kebenaran itu akan hadir di setiap langkahmu tanpa terkotori nafsu.”

“Aku selalu merisaukan hal ini, apa aku sudah menjadi wartawan yang baik, Apa aku tidak salah menyampaikan kebenaran yang ada dan aku selalu saja berfikir, bagaimana caraku agar aku bisa merubah dunia ini dengan beritaku.”

“Ini menurut Ibu yaa sayang, dunia ini mungkin tidak akan berubah hanya karena satu berita. Semua menjadi tidak berguna, ketika hanya satu tangan yang bekerja. Terlebih jika motivasimu membuat berita hanya untuk merubah dunia, motivasi seperti itu sebenarnya akan lebih mengotori hatimu, Nak. Bagaimana jika kamu menata ulang niatmu ? Hanya menyampaikan kebenaran saja misalnya, ketika niatmu bersih, hasilnya pasti akan mengikuti. Ketika niatmu membuat berita adalah menyampaikan kebenaran, Ibu yakin, kawan-kawan wartawanmu akan mengikuti jejakmu, dan bisa saja kebenaran itu yang akan mengubah dunia ini menjadi lebih baik.”

Aku hanya terdiam…

Sejenak aku merenungkan perkataan ibuku. Mungkin saja perkataan beliau memang benar. Selama ini aku terlalu fokus dengan tujuanku yang teramat jauh. Aku yang kecewa dengan ekspektasiku, aku yang terlalu berharap pada dunia yang indah, dan aku yang merasa paling tersakiti karena dunia yang sangat kejam ini. Aku mengesampingkan dasarnya, dan mengubah tujuanku yang seharusnya.

“Jangan difikir terlalu dalam, jalani saja… Ayo, sekarang kita makan dulu. Ayahmu mungkin sudah menunggu.” Ibuku beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan menjauhiku. Dan lagi perkataan beliau menyadarkanku, seolah beliau mengetahui apa yang aku fikirkan.

Aku mengikutinya, mengikuti langkah dan nasehatnya. Mulai sekarang apapun yang terjadi, sudah aku niati, aku hanya akan menyampaikan kebenaran yang terjadi di masyarakat. Ku ubah niatku, tidak lagi bermaksud untuk merubah tatanan yang ada saat ini, aku juga tidak akan menjadi agent of change seorang diri.

Aku yakin di luar sana, banyak orang dengan caranya yang akan membantuku menyampaikan kebenaran dan menjadi pelopor perubahan. Selama aku masih hidup, ini akan menjadi prinsipku. Kebenaranlah yang sejatinya akan mampu mengubah dunia ini. Dari sinilah perjalanan baru ku akan di mulai. Tugas yang mulia telah menantiku sejak lama[]

 

*Mahasiswi aktif (sedang tidak cuti) FDK, yang saat ini merupakan anggota Magang LPM Rhetor.

 

 

You may also like

Puisi Siti: Aku yang Tak Suka Baca Tulis

Aku tak tahu apa-apa Tapi tak mau baca