Jurnalisme Itu (Harusnya) Mencerahkan

399

Tepatnya hari rabu, hari dimana terik matahari tak bisa dipungkiri panasnya. Ruangan kamar ku pun tiba-tiba mendadak panas dan terasa sesak. Tapi aku enggan beranjak pergi karena waktu itu free day. Aku yang tak kunjung gerak terlanjur membisu dan berdiam diri di kamar. Sampai lupa ada agenda wajib bedah film, terasa tak terhiraukan memang. Ini jelas akibat hibernasi Ramadhan yang berkepanjangan atau, aku mengalami mati suri? Saat aku bangun, ponsel ku menunjukkan angka 17.21 di layarnya. Ampun…

Ah, kemudian aku urungkan saja niat itu untuk pergi guna menghadiri agenda bedah film LPM Rhetor yang memang dijadwalkan pukul 15.00 WIB, aku terlambat, kalaupun tetap nekat pasti tak akan ketemu, dan paling-paling hanya akan ketemu pintu gedung Student Center dengan gemboknya yang sudah terpasang di gerbang. Karena biasanya di bulan Ramadhan, Student Center ditutup sebelum tarawihan.

Selang beberapa jam, ada pesan Whatsapp masuk, dan, ya ampun, pesan dari koordinator PSDM (Pengembangan Sumber Daya Manusia) LPM Rhetor, yang intinya, pesan itu menohokku dengan tugas meresensi buku Agama Saya Adalah Jurnalisme, terbitan tahun 2010, kitabnya Andreas Harsono. Tugas itu diberikan akibat ketidak-hadiranku di agenda bedah film sore tadi. Huh…

Niat awal aku menulis resensi ini memang sekadar untuk memenuhi tugas yang diberikan sang koordinator saja. Karena jika tidak dikerjakan, maka akan menumpuk di belakang, fuh… Alih-alih memikirkan hal itu, tiba-tiba muncul satu pertanyaan: Kenapa sekarang organisasi tersebut mulai doyan punishment? Mirip sekolah militer saja. Oops…

Namun, di balik pemberian tugas itu, aku disadarkan kembali. Seakan telah diruqyah, aku sadar bahwa, di dalam Agama Saya Adalah Jurnalisme-nya Andreas Harsono, ada sembilan jurus wajib yang harus diamalkan oleh seluruh wartawan di seantero dunia, tak terkecuali pula wartawan kampus. Sembilan jurus itu kemudian dinamai The Elements of Journalism. Suhu-nya tidak lain dan tidak bukan merupakan salah satu pembimbing Andreas Harsono, Bill Kovach, dengan ditemani temannya, Tom Rosentiel.

Terlepas dari The Elements of Journalism-nya Kovach dan Rosentiel, membicarakan buku ini memang penuh dengan ketidak-biasaan. Kita bisa lihat, dari judulnya saja sudah aneh begitu, anti-mainstream dan eksplosif, Andreas bilang: Agama Saya Adalah Jurnalisme.

Orang-orang normal pada umumnya akan bilang bahwa agama saya ya Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Buddha, dan lain sebagainya. Tapi ini lain, sejak kapan jurnalisme menjadi agama bung, jeng? Kenapa buku seperti ini tidak diberangus atau didemoi oleh para milisi Islam reaksioner di depan Istana Presiden (Kayak yang dilakukan murid-muridnya Wiro Sableng kemarin-kemarin, dengan jurus kapak naga 212-nya). Alih-alih buku ini malah dibiarkan beredar di pasaran. Mari kita selidiki.

 

infografik resensi buku

 

Judul buku yang cukup eksplosif itu tentunya tak perlu terburu-buru untuk kita mencela, atau bahkan memvonisnya sebagai sebuah penistaan lalu mendemoinya. Ya, ternyata Andreas bukan ingin membuat onar dengan bukunya yang seolah ingin mendirikan agama baru itu, karena tetap saja jurnalisme bukanlah agama.

Andreas memandang, jurnalisme merupakan satu-satunya senjata mematikan yang dapat mempengaruhi opini masyarakat. Pengaruh tersebut esensinya merupakan kebaikan, tapi memang, tidak sedikit oknum-oknum pelaku media malah menggunakannya untuk kepentingan yang tidak-tidak.

Jurnalisme sudah selayaknya agama, yang memberikan edukasi tentang kebaikan kepada masyarakat. Dengan memberitakan berita-berita yang bermutu, atau menginformasikan konten-konten pengetahuan yang positif, maka masyarakat pun akan mendapatkan berita atau wacana yang bermutu pula, sekaligus menyehatkan dan mencerdaskan. Mutu tersebut tergantung pada kepolosan jurnalisme dalam menyajikan berita yang positif.

Tentang Bill Kovach, sang guru besar The Elements of Journalism, Andreas sendiri memiliki bekal pengalaman yang intens bersamanya. Soal ke-jurnalisme-annya, Andreas jangan ditanya, ia sudah ngobrak-abrik Asia Tenggara sebagai seorang wartawan di berbagai media. Dimulai di The Jakarta Post, lalu terbang ke Bangkok dan bertemu The Nation, The Star di Kuala Lumpur juga pernah ia pacari, lalu Pantau di Jakarta menjadi salah satu labuhannya juga.

Bicara The Elements of Journalism-nya Kovach dan Rosentiel, dalam bukunya, Andreas mengatakan bahwa ada sembilan elemen yang wajib diimplementasikan ke dalam seluruh kerja-kerja kejurnalistikan. Elemen-elemen tersebut kira-kira begini:

1.) Kebenaran. Kovach dan Rosentiel menerangkan bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut dengan kebenaran fungsional. Sebuah kebenaran yang senantiasa bisa direvisi dan dikritisi. Bukan dengan saklek-nya sebagaimana kebenaran dalam tataran filsafat.

2.) Loyalitas. Seorang jurnalis harus menaruh loyalitasnya secara utuh kepada masyarakat, warga, rakyat, atau siapapun yang tidak memiliki akses terhadap media. Wartawan memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat dalam rangka menyajikan kebenaran. Jangan sekali-kali mau untuk menundukkan wajah di hadapan korporat, politisi, atau siapapun yang memiliki akses kekuasaan yang lebih. Walaupun kepada sang pemilik media.

3.) Disiplin Verifikasi. Disiplin mampu membuat wartawan menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, atau yang sedang ramai saat ini: Hoax. Verifikasi wajib dilakukan guna mendapatkan informasi yang akurat. Kedisiplinan untuk melakukan verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, fiksi ataupun seni pada umumnya.

4.) Independensi. Wartawan boleh mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini (tidak dalam berita). Mereka tetap dibilang wartawan meskipun memiliki sikap yang mandiri dan keberpihakan yang jelas. Wartawan tidak sedikitpun dapat dipengaruhi oleh pihak manapun. Independensi ini bukan berarti menyuruh wartawan untuk bersikap netral. Namun, dalam sebuah pemberitaan, wartawan harus dapat bekerja secara mandiri tanpa ter-intervensi oleh pihak manapun. Berita yang ditulis oleh wartawan harus berdasarkan kebenaran yang ada dan keberpihakan terhadap masyarakat.

5.) Pemantau Kekuasaan. Kerja-kerja jurnalisme adalah juga ikut memantau kerja-kerja penguasa. Hal ini dilakukan dalam rangka ikut menegakkan demokrasi. Jurnalisme merupakan jembatan penghubung antara masyarakat terkuasa dengan penguasa masyarakat. Dalam pola hubungan demikian, wartawan harus ikut serta dalam proses penegakan demokrasi, dan memihakkan dirinya kepada masyarakat terkuasa.

6.) Terbuka Bagi Publik. Jurnalisme harus bisa memberikan ruang bagi masyarakat untuk dapat menyampaikan pendapat, kritik, saran, bahkan turut serta dalam proses pemberitaan. Jurnalisme juga harus mengakomodir proses dialektika publik dalam menentukan pendapat melalui kontradiksi-kontradiksi yang ada di tengah-tengah masyarakat. Tetapi, ruang yang terbuka ini harus dibedakan dengan Jurnalisme Semu yang hanya mengandalkan debat secara artifisial-provokatif, yang hanya bertujuan untuk menghibur atau provokasi belaka.

7.) Menarik dan Relevan. Singkatnya, enak dibaca dan dibutuhkan. Jurnalisme harus mampu mengetahui komposisi dan etika naik-turunnya emosi pembaca.

8.) Komprehensif dan Proporsional. Kovach dan Rosentiel mengatakan kebanyakan media tidak proporsional dalam menyajikan berita. Misalnya, banyak terdapat berita yang memiliki judul yang hanya mengedepankan sensasi daripada kebenaran. Judul sensasional tersebut lebih menekankan kepada aspek emosional pembaca saja. Artinya, berita tersebut sangat subjektif. Proporsional serta komperehensif memang tak dapat dikatakan ilmiah seperti skripsi. Walau menjunjung tinggi kebenaran, namun sebuah berita tak dapat semena-mena menyajikan informasi yang tidak seporsi dengan konsumsi masyarakat seharusnya. Misalnya, berita-berita tentang kehidupan pribadi seseorang. Atau, berita tentang mutilasi yang dengan polosnya menyajikan gambar-gambar potongan tubuh. Masyarakat akan ketakutan tentunya.

Terakhir, 9.) Mengikuti Nurani dan Suara Hati. Nalar nurani dan suara hati pada diri seorang wartawan harus mempertimbangkan etika dan tanggung jawab sosial yang ditanggung di atas pundak seorang wartawan itu.

Buku ini tentu sangat layak untuk dibaca. Apalagi media sekarang sudah kabur dari esensi ke-medium-annya, kehilangan arah bahkan hakikatnya. Buku ini setidaknya bisa menjadi obat penawar bagi kronisnya penyakit yang saat ini menjangkiti media-media kita.

 

*Penulis merupakan wartawan aktif lpmrhetor.com. Penulis juga merupakan mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga.

You may also like

Kopi; Secangkir Gembira Dalam Hidup Manusia

Oleh: Nur Rifqi K OPI merupakan salah satu