Siluet Kemerdekaan

631

Oleh : Alfarisi*

“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku menghadapi kemerdekaan tanpa cinta” – Rendra

 

Guyuran hujan mendadak mengejar dari arah belakang ketika Firman mengendarai motornya—hendak pulang. Sadar akan hal itu, secepatnya ia melajukan motor tak mau terkejar oleh keroyokan hujan meluruhi bumi di belakangnya.

Tapi rupanya, motor Yamaha matic-nya tak bisa menandingi kecepatan hujan yang dikendalikan oleh alam. Ya, pemuda itu terguyur oleh ribuan air langit dalam sekejap.

“Hujan sial.” umpatnya.

Niat ingin pulang ke kosnya pun jadi urung lantaran hujan yang semakin lebat. Firman lupa tidak membawa mantel hujan hari itu. Terpaksa, ia harus mencari tempat berteduh. Sambil berusaha mengendalikan motornya ditengah hujan, ia melihat satu angkringan di kiri jalan. Langsung ia arahkan motornya ke sana. Angkringan itu sepi tanpa pengunjung.

Kulonuwun..”

Monggo… Mas.. hujannya gede banget nggih, Mas..”

“Ho’oh eh, Buk. Makanya saya kesini sekalian neduh.” kata Firman sambil berusaha menaruh posisi helmnya agar bagian dalamnya tidak basah.

Angkringan yang dijaga oleh ibu setengah baya itu, rupanya tidak asing bagi Firman. Beberapa kali ia pernah mampir ke angkringan itu, walau sekedar memesan jeruk hangat dan menyulut sebatang rokok. Namun kali ini ia sedikit heran, karena letak angkringan itu yang pindah lokasi. Sebelumnya, Firman biasa menemui angkringan itu ada di samping pusat perbelanjaan elektronik dan restoran makanan cepat saji tepat di depan lampu merah kampus. Namun sekarang pindah lebih masuk kedalam gang jalan Papringan di depan sebuah petakan tanah yang dijadikan pembuangan sampah oleh warga, lantaran tidak terurus.

“Gorengan bakarnya kalih ewu sama jeruk hangat setunggal nggih, Buk.”

Njih mas”.

Kok angkringannya sekarang jadi pindah kesini eh, Buk?”

Njih mas, di sana tempatnya mau dipake jadi parkiran atau buat apa mboten ngerti saya, Mas. Yang pasti katanya saya suruh pindah untuk tidak buka angkringan disana lagi”.

“Lho kok bias, Buk? Alasannya kenapa?”

Nggak ngerti saya mas, padahal sebelum mall itu jadi saya sudah jualan duluan di sana. Tapi yaa namanya juga tanahnya bukan milik saya, yo wes… pas disuruh pindah yo pindah. Maklum pedagang kecil.” papar si ibu sambil memberi kecap pada gorengan yang sedang terpanggang di atas arang. Harum aroma gorengan bakar, semerbak mengelilingi angkringan.

Sambil menyeruput jeruk hangatnya yang telah dihidangkan di awal, sejenak Firman mendengus. Samar-samar ia melihat di jalan, seorang lelaki paruh baya tengah ripuh mengayuh gerobak es dawetnya. Hari ini mungkin menjadi hari sial lelaki itu. Alih-alih dagangannya laku di tengah cuaca panasnya kota Jogja, siang itu malah hujan lebat yang terjadi.

Firman terus memperhatikan lelaki itu sampai ia bersama gerobaknya menghilang di tengah lebatnya hujan. Bersamaan dengan itu, ia merenung diam. Kenapa bisa ada orang seperti itu? Seperti ibuk penjaga angkringan yang harus pasrah tempatnya di gusur. Seperti  lelaki pedagang es dawet itu. Atau pedagang jagung rebus yang ia beli jagungnya kemarin, tiba-tiba dagangannya harus diangkut petugas berseragam karena alasan berdagang sembarangan dan tanpa izin. Lalu, ada petani yang dipukul tentara karena mempertahankan tanahnya untuk tidak dijual ke pabrik, kenapa bisa ada?

Semenjak Firman bergabung di salah satu organisasi kampusnya, semenjak itu pula ia sering mendapatkan pantikan diskusi yang tidak jarang menyisakan selilit di benaknya. Selilit tentang terjadinya sistem kelas dalam kehidupan ini. Kenapa ia baru sadar bahwa ada sistem terorganisir yang kemudian menciptakan kelas dalam kehidupan sosial? Tuan dan majikan, kaya dan miskin, menduduki dan diduduki, merebut dan direbut, menindas dan ditindas.

Apakah dampak nyata setelah lama Negeri ini merdeka? Kenapa mereka tidak mendapatkan cinta dalam bentuk keamanan, kesetaraan setelah leluhur mereka berjuang meraih kemerdekaan itu sendiri? Apakan leluhur negeri ini tidak bermaksud memberikan kemerdekaan kepada anak cucunya? Atau mereka justru belum selesai memperjuangkan kemerdekaan negeri ini, lalu begitu saja diwariskan ke anak-cucu nya?

‘Ahh jancuk…’ umpat Firman dalam hati. Tanpa sadar, ketika ia melamun gorengan bakarnya sudah siap dihidangkan oleh si ibu.

“Oalah, Mas… kok hujan-hujan malah ngelamun tho, hehe.. ngelamunin siapa hayoo..”

“Ah ibu ini bisa aja, saya cuma kepikiran sama jemuran di kosan, Buk. Hehehe..” jawab Firman sekenanya.

“Oalah.. yo wes, dimakan dulu itu gorengan bakarnya. Hujannya sudah mulai reda tuh.” Kata si ibu yang belakangan Firman tahu bahwa dia merupakan pendatang asal Ponorogo, Jawa timur. Menikah dengan suaminya yang asli Bantul.

Sambil memakan gorengannya, Firman kembali terus berfikir pada banyak pertanyaanya tadi. Ya. Sekarang ia punya kegelisahan yang nampaknya harus segera diobati.[]

 

*Alfarisi adalah seorang mahasiswa UIN Jogja, penyuka kopi dan ampasnya

You may also like

Puisi Siti: Aku yang Tak Suka Baca Tulis

Aku tak tahu apa-apa Tapi tak mau baca